
Rendra berulang kali menghubungi nomor handphone Gilang, yang sempat ia simpan beberapa waktu lalu, namun tak kunjung tersambung.
"Kemana kamu nak, ayah rindu, ingin mendengar suara kamu." ucapnya lirih.
Drrttt...Drrttt...
Tiba-tiba handphonenya bergetar, menampilkan satu nama spesial di layar pintarnya.
Calon istri Calling..
"Hallo mas?" suara dari sebrang sana terdengar merdu dan lembut bagi Rendra.
"Iya In, kenapa?" Rendra tersenyum sumringah.
"Bisa ketemu nggak?" suaranya terdengar malu-malu.
"Boleh banget dong, kapan, dimana?"
"Sekarang, Ditempat biasa, Aku mau ngenalin Ando sama istrinya mas!"
"Ok!"
Dengan hati berbunga, Rendra segera meluncur ketempat dimana Indri memintanya bertemu.
*****
.
"Bang, sebenernya kita mau kemana sih, mama kok tumben, siang-siang gini ngajak kita pergi!" seru Nada, menghampiri Ando yang sedang berdiri di depan cermin.
Menggunakan celana jeans berwarna Navy, serta atasan kaos putih yang dipadukan dengan kemeja kotak dibagian luarnya.
Ia sedang menyisir rambutnya yang setengah basah, sehabis keramas.
Lalu Ando meletakan sisirnya di meja rias, dan menoleh kearah istrinya, yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
"Ganti!" Ucapnya, membuat Nada mengerutkan kening tak mengerti.
"Buruan Ganti yang!" lanjutnya dengan suara yang terdengar lembut, namun memiliki Arti memerintah.
"Apanya sih bang, jangan bikin aku bingung dong, ganti ganti, apanya?"
"Ini sayang!" menyentuh ujung dress Nada yang berada diatas lutut.
"Emangnya kenapa?"
"Aku nggak suka kamu keluar pake baju kaya gini, aku nggak rela laki-laki lain diluar sana menikmati keindahan yang sudah menjadi milik aku."
"Tapi biasanya kan juga pake yang kaya gini bang."
"Mulai sekarang, jangan di biasain ya!" mengusap pipi Nada menggunakan punggung tangannya dengan penuh kelembutan.
"Aku nggak rela." sambungnya.
"Tapi kalau di dalam rumah boleh?"
"Boleh, apalagi didalam kamar, kalau berdua sama aku, lebih dari itupun sangat di bolehkan." ucapnya dengan senyum menggoda, sembari mengedipkan sebelah matanya.
Membuat Nada mendelik kearahnya, "Ihs, dasar mesum!"
Ando dan Nada terus beradu suara, hingga kedatangan mama Indri menghentikan aksi keduanya.
"Udah pada siap belum? mama panggil-panggil pada nggak denger, tahunya masih pada di kamar?" Seru mama Indri, pura-pura kesal.
__ADS_1
"Oh iya sayang, ini buat kamu nak, maaf banget kemarin mama nggak bisa datang, karena ada keperluan yang sangat mendesak, dan nggak bisa ditinggalkan." mama Indri memeluk dan mencium Nada, sembari menyerahkan sebuket bunga serta sebuah Kado.
"Selamat ya untuk kelulusannya, menantu cantik mama!"
"Makasih banyak ma, harusnya mama nggak usah repot-repot bawa hadiah segala."
"Udah nak, mama sama sekali nggak repot kok."
"Ngomong-ngomong dari tadi ngeributin apa sih?" Mama menatap keduanya dengan tatapan menyelidik.
"Ini ma, bang Ando katanya nggak suka aku pake baju kaya gini!" menatap mama meminta pembelaan.
Mama Indri mengulum senyum, mendengar panggilan baru Nada untuk Ando, lalu ia menghampiri Nada, kemudian menyentuh bahu menantu kesayangannya.
"Kenapa sih An, memangnya?" Mama Indri menatap Ando dengan tatapan bertanya.
"Aku cuma nggak suka Nada pake mini dress gitu ma." tunjuknya.
Mama Indri meneliti penampilan Nada dari atas sampai bawah, ok ok aja menurutnya, sama sekali tidak ada masalah.
"Apanya yang salah sih An, menurut mama Nada tuh justru malah terlihat cantik menggunakan dress ini, nggak terlalu pendek, ini standar lho nak, masih didalam batas wajar sih menurut mama!"
"Tapi ma, Ando pokoknya nggak setuju Nada keluar pake baju itu, apa lagi kita kan mau ketempat ramai ma,"
"Terserah kamu aja deh ah." mama Indri menggeleng-gelengkan kepala, heran dengan sikap putranya yang sekarang menurutnya terlihat lebih posesif pada istrinya.
"Yaudah deh, aku ganti dulu!" Nada memilih untuk mengalah saja kali ini, dari pada memperpanjang masalah dengan suami Sma nya tersebut.
"Sayang itu bajunya-"
"Iya nih apa-apaan sih An, kasian kan Nada jadi bolak-balik ganti baju." seru mama Indri menjadi penengah sepasang suami istri muda di hadapannya.
"Lagian ni ya, kapan berangkatnya kalau begini terus, kasian om Rendra udah nungguin dari tadi."
"Tuh kan, abang sih!" Nada mendesis sebal.
"Iya deh ayo, berangkat sekarang!" merangkul bahu Nada, meski sang pemilik berulang kali menepisnya, karena kesal.
**********
Mama Indri memberhentikan Taxi yang ditumpangi mereka di depan Cafe yang sangat familiar bagi Ando dan Nada.
Kencana Cafe.
Sebuah Cafe yang sering mereka datangi, baik berdua maupun dengan sahabatnya masing-masing, dari Ando dan Nada.
Udara di Cafe itu memang jelas sangat nyaman di banding Cafe lainnya, termasuk Cafe milik Ando.
Bukan soal dari bentuk Cafenya yang mewah, tetapi dari lingkungannya yang Asri, membuat Area Cafe tersebut terasa sejuk dan nyaman, baik siang maupun malam.
Jadi tak heran jika Cafe tersebut selalu ramai pengunjung.
Dimulai dari Anak-anak sekolah, para pekerja kantoran, termasuk ibu-ibu sosialita yang sedang mengadakan janji temu.
"Maaf mas, udah lama nunggu ya!"
Seru mama Indri saat menemukan sosok Rendra yang sedang duduk di meja paling ujung.
"Eh, nggak kok santai aja!" ia pun mempersilahkan Indri, Ando, dan Nada untuk duduk.
__ADS_1
"Kenalin mas, ini Ando, dan ini Nada istri Ando!" mama Indri menunjuk Nada dan Ando, memperkenalkannya pada Rendra.
"Hallo om Ando!"
"Nada!"
Ucap keduanya bersalaman secara bergantian pada Rendra.
"Rendra, panggil aja om Rendra, eh Ayah juga boleh." ucapnya sembari terkekeh pelan.
"Jadi ini yang namanya Ando, mama kamu sudah cerita banyak lho tentang kamu ke saya, yang katanya diam-diam udah punya usaha sendiri, om turut bangga untuk itu ya, bangga sekali."
Ando melirik kearah mama Indri, yang tengah menatapnya dengan tenang, sembari tersenyum hangat.
"Ehmm..makasih om!" balas Ando kikuk, ia merasa canggung pada Rendra, mungkin karena baru pertama kali bertemu.
"Dan ini si cantik istrinya Ando ya,?" melirik kearah Nada.
Nada mengangguk, "Iya om." balasnya pelan.
"Selamat atas kelulusan nya ya, saya dengar kemarin abis wisuda ya,?" sambung Rendra.
"Iya om, terimakasih banyak!"
"Sama-sama, oh iya ngomong-ngomong mau pada pesan apa ni, pasti belum pada makan siang kan?"
"Sama saya juga!" lanjutnya sembari terkekeh.
Akhirnya mereka ber empat memesan menu makanan, sesuai selera masing-masing.
dan menikmatinya dengan dengan diam, tanpa ada yang berbicara satupun.
"Ehmmm..begini lho Ando, tujuan Om mengajak bertemu, ada hal penting yang ingin om sampaikan sama Ando, selaku putra mama Indri satu-satunya." seru Rendra setelah mereka semua selesai makan.
Rendra menghela nafas, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.
Sedangkan Mama Indri menunduk, sembari meremas jemarinya yang bertautan di bawah meja.
"Om meminta restu, untuk menikahi mama kamu."
"Secepat mungkin!" sambungnya.
Nada terperanjat kaget, mendengar penuturan om Rendra yang terdengar sangat tulus dan serius.
Sedangkan Ando tidak menunjukan reaksi apapun, karena sebelumnya mama Indri sudah berbicara terlebih dahulu perihal rencana mamanya yang akan menikah lagi.
"Baik om, saya akan merestui pernikahan om sama mama, saya percayakan mama sama om."
"Titip mama!"
"Tolong bahagiakan mama saya, jangan buat kecewa."
"Mama sudah melewati masa-masa pahit selama bertahun-tahun, dan saya harap om adalah orang yang tepat untuk memberi warna baru pada hidup mama saya kedepannya."
Mama Indri menelan ludahnya susah payah, melirik Ando dengan mata berkaca-kaca, tidak menyangka putra kecilnya kini sudah tumbuh menjadi laki-laki dewasa, dan bijaksana.
.
Usai mengobrol dengan Rendra mengenai hubungannya dengan mama Indri, serta rencana pernikahan mereka yang akan dilangsungkan 2 minggu lagi , Ando dan Nada memilih pulang berdua menaiki taxi online.
Sedangkan mamanya ia tinggalkan berdua bersama Rendra calon ayah barunya.
"Lain kali kalau keluar nggak usah dandan kaya gini ya!" Seru Ando, memeluk Nada yang sedang membuka beberapa jepit kecil di rambutnya.
__ADS_1
"Terus aku harus gimana, emang Abang mau, punya istri yang terlihat kumel dan lusuh?" menoleh hingga hidung mereka bertabrakan, karena posisi Ando yang memeluknya dari belakang.