
"A-ando maaf, papa nggak sengaja!" ucap papa jordy dengan suara bergetar.
"Lepas!" Bentak Ando. saat tangan papa Jordy menyentuh kepala Istrinya.
"Jangan sentuh Istri gue!" bentak Ando sambil menangis, mengguncang-guncangkan tubuh istrinya. lalu mengangkat dan membawa tubuh Nada keluar.
"Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Nada, Ando nggak akan pernah maafin papa!" ucap Ando datar. lalu kemudian bergegas melanjutkan langkahnya.
Ando mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, dan selama di perjalanan menuju kerumah sakit ia berusaha mati-matian menghilangkan kepanikannya.
Ia tidak sabar jika harus menunggu petugas Ambulance datang, karena ia takut terjadi sesuatu dengan Istrinya. karena terlambat penanganan.
Sesampainya dirumah sakit Ando berlari menemui petugas maupun suster Agar istrinya segera mendapat pertolongan.
"Sussh..!" ucapnya dengan nafas tersengal.
"T-tolong istri saya, barusan dia mengalami kecelakaan." Ucap Ando terbata.
"Pasien gawat darurat!", teriak suster setengah berlari menemui petugas Lainnya lalu bergegas membawa brankar mendorongnya kearah Ando yang sudah menggendong Nada dengan Raut cemas.
"Bertahan sayang, kuat demi aku ya!" ucapnya memegangi tangan Nada sembari berjalan tergesa mendorong brankar bersama para petugas lainnya.
Nada di masukan ke ruangan IGD, Untuk segera di tangani oleh pihak dokter. sementara Ando bergegas menuju ruang Administrasi.
Setelah mengobrol dengan dokter yang menangani Nada ternyata Luka dikepala Nada cukup serius, dan mengharuskan untuk segera ambil tindakan operasi.
Ando pun mengangguk setuju, " Tolong sembuhkan Istri saya dok, apapun caranya tolong." ucapnya memohon.
"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk Istri anda, mohon bantu do'a ya!" ucap Dokter yang bernama Farish tersebut sembari menepuk pelan pundak Ando.
"Baik dok, terimakasih!" ucapnya hampir menangis.
__ADS_1
"Ando bagaimana keadaan Nada?" Ucap mama Sarah setengah berlari menghampiri Ando yang sedang duduk di kursi tunggu didepan Ruang operasi.
Setengah jam yang lalu Ando menghubungi orang tua Nada, memberitahu keadaan putrinya.
"Masih didalam ma, belum selesai operasi." ujar Ando dengan wajah cemas.
"Ando minta maaf ma, nggak bisa jagain Nada, Ando udah bikin dia celaka, Ando udah gagal jadi suami." ucapnya dengan wajah tertunduk memegangi kaki mama mertuanya.
"Eh eh Apa ini, Ayo berdiri jangan begini, nggak enak dilihat orang." Meraih tubuh Ando agar berdiri.
"Semua ini terjadi karena kecelakaan Ando, mama tidak akan menyalahkan siapapun disini, dengan kamu membawa Nada tepat waktupun itu adalah sebuah tanggung jawab yang kamu lakukan buat Nada Anak mama, dan mama sangat berterimakasih untuk itu."
"Kamu nggak gagal Ando, justru mama bangga di usia kamu yang terbilang masig sangat muda ini, kamu udah berfikir sangat dewasa sekali menurut mama, soal keadaan Nada yang sekarang, kita sama-sama berdo'a aja untuk kelancaran operasi dan kesembuhannya." Ucap mama sarah, sembari mengusap kepala Ando.
"Makasih ma, Ando janji setelah ini tidak akan terulang lagi, Ini semua jadi pelajaran berharga Ando untuk kedepannya."
Mama menggenggam lembut tangan laki-laki muda yang berstatus menantunya tersebut, "Jangan berjanji, karena kadang kita sebagai manusia hanya bisa berencana. cukup buktikan aja ya!" ucap mama dengan senyum hangatnya.
Ando pun mengangguk mengerti, lalu beralih meminta maaf pada papa Abidzar.
"Nggak usah diteruskan, papa sudah memaafkan Ando. benar yang di bilang mama tadi, ini semua kecelakaan bukan keinginan atau kesengajaan." Ucap papa Abidzar sembari memeluk menantunya, memberi kekuatan serta kenyamanan.
"Yang harus kita lakukan sekarang Adalah, terus berdo'a untuk kesembuhan Nada." lanjut papa Abidzar.
"Baik pa." ucapnya sembari menyusut air mata nya yang jatuh tanpa ijin.
..................
Selama oprasi Nada, Ando mondar-mandir tak karuan, wajah putihnya begitu pucat, sangat terlihat sekali raut kekhawatirannya, berulang kali mama Sarah dan papa Abidzar menyuruhnya untuk tenang, tapi tetap tak bisa.
Setelah 3 jam menunggu Akhirnya pintu Ruang operasi pun terbuka, beberapa perawat dan Dokter keluar beriringan.
__ADS_1
"G-gimana istri saya dok?" Ucap Ando tak sabaran, yang disusul oleh kedua orang tua Nada yang sama-sama ingin tahu keadaan putrinya.
"Bagai mana keadaan putri saya dok?" ucap papa Abidzar dan mama Sarah bersamaan.
"Alhamdulillah operasinya berjalan dengan Lancar, mudah-mudahan saudari Nada segera sadar ya!" Ucap Dokter Farish sembari tersenyum.
"Alhamdulillah." ucap mama lega, dipelukan papa Abidzar, meneteskan air mata haru.
"Alhamdulillah, terimakasih banyak Dokter." ucap Ando dengan tawa yang dibarengi Air mata yang berlinang membasahi pipinya.
"Boleh saya menjenguknya sekarang dok?"
"Boleh aja, tapi jangan lama-lama. dan saya sarankan bergantian agar tidak mengganggu kenyamanan pasien ya!"
"Baik dok, sekali lagi terimakasih banyak!"
"Iya sama-sama."
Setelah kepergian Dokter, Ando menatap Mama Sarah dan papa Abidzar bergantian, mereka tengah tersenyum hangat kearahnya. sembari menganggukan kepala.
"Masuklah Ando, karena kamu yang lebih berhak atas Nada sekarang, Nanti biar mama sama papa gantian setelah Ando." Ucap Mama sarah.
"Baik ma pa, Ando temuin Nada dulu ya." ucapnya yang langsung berlalu pergi menuju Ruang dimana Nada berada.
.......
Ando membuka pintu memasuki ruang Inap Nada, menarik kursi lalu duduk tepat disamping istrinya.
Ia memandangi wajah istrinya dengan tatapan sedih, wajah yang biasanya Ceria, tersenyum hangat kepadanya, kadang juga terlihat judes dan menggemaskan, kini wajah itu terlihat sangat pucat, dengan perban yang tebal di bagian dahi dan kepalanya.
Digenggam nya tangan Nada, lalu di ciumnya tangan tersebut berulang kali.
__ADS_1
"Yang, bangun dong! Kamu nggak mau ingkar janji kan, kemarin kamu bilang mau temenin aku apapun yang terjadi, kamu bilang bahwa kamu akan selalu disamping aku." Ucapnya dengan Air mata yang sudah mengalir dengan derasnya mengenai kedua pipinya.
"Aku minta maaf sayang, udah lalai jagain kamu, aku memang suami yang bodoh dan nggak berguna." Lanjutnya semakin terisak.