
Hari ini hari ke empat Nada dirawat, keadaan nya pun sudah berangsur membaik, bahkan Nada tak henti-hentinya merengek pada Ando meminta segera pulang.
"Aku nggak betah Ando lama-lama disini."
"Nggak tahan bau obat-obatan."
"disini membosankan!"
Dan masih banyak lagi keluhan Nada yang lainnya, selama ia berada di Rumah sakit.
Tetapi saat ini ia merasa kebingungan, karena tidak mungkin ia membawa Nada kerumah utama. ia tidak sudi lagi jika harus kembali serumah dengan papanya, setelah mengetahui semua keburukan sang papa.
Terlebih setelah Insiden Nada yang masuk rumah sakit karena ulahnya meski tak sengaja, membuat Rasa kecewanya kini kian bertambah.
Setelah pulang sekolah Ando sempatkan untuk pulang terlebih dahulu sebelum kembali ke Rumah sakit.
"Eh si Aden akhirnya pulang juga, kamana wae atuh den, bibi khawatir gimana keadaan si Non sekarang sudah baikan?" tanya bi mimin dengan raut cemas.
"Alhamdulillah Nada sudah mendingan bi, minta do'anya biar cepat sembuh ya bi."
"Iya den, Nggak harus di minta bibi udah doain semoga si Non geulis teh cepet sembuh biar cepet pulang kumpul lagi sama-sama."
"Makasih banyak ya bi, saya pamit keatas dulu ya bi."
"Iya sok den silahkan,"
Setelah sampai dikamarnya Ando membuka lemari tempat penyimpanan koper, lalu tangannya terulur meraih benda berbentuk kotak yang berisi kado pernikahan pemberian dari mama indri beberapa waktu lalu.
Lama ia memperhatikan desain rumah dengan gambar hitam putih di kertas yang digenggamnya.
Dan sebuah kunci mobil Range rover.
Hanya ini satu-satunya pilihan Agar jauh dari papanya, meskipun pada akhirnya ia harus mengalahkan rasa gengsinya yang sebelumnya menolak dan tidak peduli dengan kado yang diberikan mamanya tersebut.
Ini demi Nada, demi Nada batinnya berulang kali mengingatkan. ia tidak boleh lagi bersikap seperti anak kecil atau remaja labil lainnya.
Sekarang ia harus tegas dalam mengambil tindakan, karena ia tak lagi sendiri. sekarang ia mempunyai tanggung jawab yang besar, yaitu memberi tempat ternyaman untuk istrinya.
Setelah menghbungi mama sarah untuk meminta tolong menjaga Nada, Akhirnya siang ini ia memutuskan untuk mendatangi alamat yang tertera di balik sketsa rumah didalam kertas tersebut.
Rupanya alamat rumah tersebut tidak terlalu jauh dari rumah papanya, hanya menempuh kurang lebih 15 menit untuk sampai di depan Alamat itu.
Ando turun dari motornya menghampiri rumah yang persis seperti di dalam gambar. kemudian mengetuk gerbang yang tertutup rapat. yang memiliki tinggi kira-kira setinggi 2,5m.
"Den Ando ya?" Ucap seseorang laki-laki paruh baya dengan badan tinggi dan agak sedikit kurus yang membuka pintu gerbang tersebut. setelah mengeluarkan selembar foto dari dalam saku bajunya
Ando mengerutkan kening heran,
"Nih!" laki-laki dihadapannya seakan mengerti keheranannya, dan menunjukan foto dirinya, yang entah kapan diambilnya, bahkan ia sendiri tidak ingat sedang berada di mana, saat menggunakan baju tersebut.
__ADS_1
"Den Ando kan anaknya bu Indri?" ulangnya
Ando mengangguk, sembari menggaruk tengkuk yang sama sekali tidak gatal.
"Bu Indri membeli rumah ini udah sejak lama den, mungkin ada lah kalau satu tahunan, dia bilang kami disini harus menunggu den Ando sampai benar-benar datang, Ayo den silahkan masuk!"
"Istrinya nggak dibawa den?"
Lagi-lagi Ando menatapnya heran.
"Ibu bilang den Ando baru saja menikah," Ucapnya sembari berjalan menuntun Ando agar mengikuti langkahnya.
"Silahkan den," mempersilahkan Ando masuk, "di dalam ada ART yang akan mengurus kebutuhan den Ando,"
Ando bergeming ditempatnya, ia memandang pintu kayu coklat dengan perasaan Ragu.
"Mang eh pak?"
"Panggil saja saya mang Asep den, biar sama seperti yang lain." ucapnya terkekeh.
"Mama sering kesini?"
"Oh Ibu, nggak pernah den, tapi dia sering menelpon akhir-akhir ini, menanyakan apakah den Ando sama non Nada sudah datang atau belum." ucap mang Asep sembari membukakan pintu untuk Ando.
"Ayo den masuk!"
Sejenak Ando mengamati seisi rumah tersebut, yang terasa nyaman dan mewah, yang seperti sudah di desain dengan sedemikian Rupa.
Ia pun dengan perlahan mengikuti langkah mang Asep menuju lantai Atas.
"Nah, ini den kamarnya semoga suka ya, den Ando kalau mau lihat-lihat dulu silahkan, dan kalau ada apa-apa hubungi si inem aja." tunjuknya pada seorang wanita yang masih terlihat muda sedang membersihkan rumah.
"Baik mang, makasih banyak ya mang!"
"Eh si Aden teh jangan sungkan gitu atuh, yaudah mamang ke bawah dulu ya!"
Ando pun mengangguk sebagai jawaban.
Ando berdiri mengamati kamar tersebut dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana, tanpa sengaja kilasan matanya menangkap gambar dirinya yang tergantung didalam bingkai ukuran besar, lengkap dengan Nama dirinya yang tertulis dibagian bawah foto.
Alby Orlando Arsenio.
Ia ingat betul, foto itu di ambil saat terakhir mamanya mengajaknya jalan-jalan ke taman Safari.
Lalu disebelahnya terdapat foto saat Akad pernikahannya dengan Nada istrinya.
Seketika wajahnya memanas, merasakan hati yang tiba-tiba terasa sesak, Apa sebegitu pentingnya ia bagi sang mama sampai hal-hal kecilpun ia mengingatnya. dan ia baru menyadarinya sekarang.
Selama ini mama memang tidak luput memenuhi kebutuhannya walau secara tidak langsung. dan mama pun selalu menyempatkan pulang saat ia berulang tahun.
__ADS_1
Tapi rasa kecewa yang keliru membuatnya menutup mata dan telinga rapat-rapat mengenai jasa mama.
Lalu seberapa besar dosanya selama 7 tahun ini pada sang mama, apakah masih bisa termaafkan. batin Ando menangis.
Setelah hampir setengah jam ia bergelut dengan fikirannya sendiri, ia pun memutuskan untuk kembali ke Rumah sakit. khawatir Nada mencarinya, atau sudah waktunya mama sarah pulang.
"Hei sayang, udah makan?" tanyanya saat sampai dirumah sakit dan berada di ruang rawat Nada.
Nada mengangguk.
"Kapan jadi pulangnya, aku bosen!" ucapnya sembari mengerucutkan bibir kesal.
Ando menghampiri Nada dan mengusap kepala Istrinya sayang. "Emang udah sembuh, kepalanya udah nggak sakit hmm?"
"Udah nggak, ini buktinya udah lepas perban juga kan, tinggal bekasnya doang dikit lagi, entar juga dirumah sembuh sendiri."
"Iya iya, besok aku usahain biar kamu bisa pulang ya!" membuat mata Nada berbinar lucu, lalu memeluk Ando kuat-kuat.
Ando tersenyum jahil. "Kalau udah sembuh berarti udah kuat juga yang itu dong yang!"
"Apa?" tanyanya dengan wajah polos.
"Melunasi yang10 Ronde sayang," bisiknya dengan senyum menggoda.
"Ish!" Nada mendelik sebal, dalam keadaan seperti ini pun suaminya masih membahas yang berbau intim.
"Itu kenapa bajunya nggak ganti sekalian sih!" ucap Nada saat menyadari suaminya masih menggunakan seragam Sma, dengan rambut sedikit Acak-acakan, dan dengan dua kancing baju terbuka bagian Atasnya.
Ando meringis, menggaruk tengkuknya.
"Lupa yang!"
"Kebiasaan,"
.............
Di tempat lain,
"In, aku minta maaf.. aku sudah berdosa banyak sama kamu dan Ando, aku sudah menyia-nyiakan kalian berdua."
"Terlambat mas, semuanya sudah terjadi. lagian bukannya dulu pilihan kamu berat pada Riana kan, bukan aku ataupun Ando?"
Ucap mama Indri dengan tangan bersidakep.
"Tapi-"
"Disini aku yakin Ando yang paling terluka mas!"ucapnya dengan suara bergetar.
__ADS_1
bonus pict bang Ando😊