
Ando memandangi surat yang berada di genggamannya dengan tatapan Nanar.
Mengapa harus sedih, bukannya seharusnya ia merasa bahagia karena beban berat sang mama akan berakhir sampai disini. batinnya
Tapi di sisi lain hatinya merasakan pedih dan sakit yang tak bisa digambarkan, karena sejatinya tidak ada satupun seorang anak berkeinginan memiliki orang tua yang terpecah belah, termasuk dirinya.
Suara bisik-bisik dari beberapa pengunjung yang sedang memperhatikan sejak tadi, seketika membuyarkan lamunannya, yang melalang buana entah kemana.
Ia memasukan kembali surat tersebut kedalam tasnya, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut.
Sore hari pukul 16:47 Ando memarkirkan motornya di dalam garasi rumah barunya.
Ia berjalan kedalam rumah dengan sedikit murung, Bahkan dia mengabaikan sapaan dari Art barunya yang masih muda bernama Tiara.
"Yang!" ucapnya. membenamkan wajahnya di ceruk leher Nada yang sedang merias diri, duduk di depan Cermin.
"Katanya sampe malem!" ucap Nada mencibir.
"Nggak ah, lama-lama jauh dari kamu bikin aku uring-uringan tau nggak sih?" ujarnya
Membuat Nada mendelik kearahnya dengan raut muka sebal.
"Gombal terus!" ucapnya sembari menyisir rambutnya yang sudah beberapa hari Ini tidak menyentuh sisir.
"Beneran Nad!" Masih menyembunyikan wajahnya di leher Nada.
Hingga beberapa saat kemudian Ando tak kunjung beranjak, masih dalam posisi semula.
"Ando?" menyentuh tangan suaminya.
"Hmmm!"
Nada ingin bertanya mengenai sudut bibirnya yang berdarah. Namun urung, karena
Ando langsung beranjak menuju kamar mandi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Nada tahu, dari gelagatnya Ando terlihat sedang tidak baik-baik saja.
"Masih sakit?" Ucapnya Usai mandi, menyentuh kening Nada, yang lukanya terlihat sudah mulai mengering.
"Sedikit." balasnya singkat.
Ando mengangguk, kemudian melemparkan tubuhnya keatas kasur, tepat disamping istrinya.
Terdiam, menatap langit-langit kamar.
Nada menyentuh kening Ando, merapikan poninya yang mulai agak panjang dan berantakan.
"Kalau punya masalah tuh cerita, jangan disimpan sendiri, bagi keluh kesah kamu sama aku An."
__ADS_1
Ando menoleh kesamping Nada yang juga tengah menatapnya lembut, ia tersenyum kembali menenggelamkan wajahnya di dada Nada.
Nada mengusap punggungnya yang mulai bergetar, seperti sedang menangis, ia bisa merasakan lelehan air matanya terasa hangat mengenai dadanya.
Tak pernah ia melihat Ando serapuh ini, sebelumnya.
"Mama sama papa udah cerai yang!" ucapnya dengan suara tercekat.
Membuat Nada tertegun hingga beberapa saat.
"Kamu nggak rela mereka pisah hm?"
Ando menggelengkan kepala.
"Aku rela!"
"Terus kenapa ditangisin." ucapnya menggerenyit.
"Aku masih belum percaya aja, padahal selama ini mama sama papa emang udah pisah lama, tapi aku rasa kali ini berbeda yang!"
"Sabar ya, aku yakin semua kejadian ini pasti ada hikmahnya, kamu berdo'a aja semoga mama papa selalu dilimpahkan kebahagiaan,- meskipun udah nggak sama-sama lagi."
Ando mendongak, menatap manik cantik milik Nada, dengan air mata berurai di kedua pipinya. sekarang ia merasa sedikit lebih tenang dan lega, memiliki dukungan positif dari sang Istri.
"Terimakasih sayang." ucapnya sembari memeluk erat tubuh Nada erat.
Bahkan Art dan pekerja lainnya saling bergidik ngeri menyaksikan majikannya tersebut, seperti seseorang yang sedang kesetanan.
"Brengsekkk, kurang Ajar!" Umpatnya kembali meraih foto yang terpampang gambar dirinya, Ando dan juga mama Indri, membantingnya kearah dinding, hingga jatuh berkeping-keping.
Dan detik kemudian ia terjatuh pingsan, tergeletak tak berdaya.
........
"Apakah ada keluarga pasien?" ucap sang dokter usai memeriksa keadaan papa Jordy.
"Saya sudah menghubungi anak sama istrinya, tapi Nomor handphone nya tidak ada yang aktif Dokter."
"Lalu Anda siapanya pasien?"
"Saya Art dirumah pasien Dok." ucap bi Mimin yang ikut mengantarkan papa Jordy kerumah sakit bersama pak Jajang dan mang Daman.
"Baiklah, saya perlu bicara. tolong ikut saya keruangan saya ya!" Membalikan badan menuju ruangan yang di maksudkannya dan di ikuti bi Mimin di belakangnya.
"Begini bu," Ucapnya saat sudah sampai di ruangan Dokter tersebut, dan duduk berhadapan disana.
"Menurut diagnosa saya, pasien memiliki riwayat darah tinggi, cukup tinggi malah, jadi saya sarankan untuk menjaga tingkat emosi pasien ya!"
"Apa darah tinggi bisa berpengaruh pada kesehatan Pak Jordy Dok?" tanya bi Mimin ingin tahu.
__ADS_1
"Hipertensi bisa menyebabkan, pembuluh darah menyempit, bocor, pecah, atau tersumbat. Hal ini dapat mengganggu aliran darah yang membawa oksigen dan nutrisi ke otak. Jika hal ini terjadi, sel-sel dan jaringan otak pun akan mati dan menyebabkan terjadinya stroke."
Dokter menjelaskan.
"Ya Allah, begitu ya Dok?" ucap bi Mimin kaget.
"Betul, saya buatkan resepnya dan tolong obatnya ditebus di bagian depan ya!" Ucap Dokter tersebut tersenyum ramah, mengulurkan kertas resep obat pada bi Mimin.
"Baik Dok, terimakasih banyak," mengangguk dan bergegas keluar dari rusngan Dokter.
......
Sementara di Bandung, Davin ditahan didalam sel. karena tertangkap sekumpulan polisi saat ia dan teman-temannya terlibat tengah melakukan balap liar, disepanjang jalan Raya.
Tak henti-hentinya Riana menangisi putranya, di tambah nomor handphone suaminya tak kunjung aktif sejak keberangkatannya ke jakarta siang tadi.
..........
Di kamar Ando dan Nada.
"Yang, kalau kita punya anak lucu kali ya!" ucap Ando sembari menelusuri wajah istrinya menggunakan jemarinya.
Plaakk..
Nada memukul bahu suaminya gemas, membuat sang pemiliknya terkekeh-kekeh.
"Ihs kamu tuh nyadar nggak sih, Masih kecil, masih sekolah juga, udah mikirin Anak, jadinya Anak punya anak dong!" ucap Nada mencibir.
Ando tergelak, "Aku udah dewasa kali yang, buktinya udah bisa!" ucapnya dengan senyum menggoda.
"Bisa Apa?" tanyanya dengan tatapan bingung.
"Bikin Anak!" bisiknya, yang langsung mendapat pelototan dari Nada. membuatnya kembali tergelak.
"Udah enakan belum yang badannya?"
Tanya Ando. yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Nada.
"Aman dong berarti." Lanjutnya sembari menahan senyum.
"Aman apanya?" Nada menatapnya curiga.
"Ngelunasin yang 10 Ronde."
"Andoooooo!"
....
***
__ADS_1