
"Yang, tolong disimpan baik-baik ya!" ucap Ando, menyerahkan map bersampul coklat ke tangan Nada." membuat Nada menggerenyit dengan tatapan heran.
"Ini dari papa, anggap aja sebagai kenang-kenangan," sambung Ando seolah mengerti dengan raut bingung istrinya.
"Ini apa sih bang?" Nada mencoba bertanya, sembari menggenggam map tersebut, tanpa memiliki keberanian untuk melihatnya.
"Itu amanat dari papa sebelum dia pergi, dia bilang 50% saham buat aku, tapi aku rasa kehidupan kita udah cukup, nggak perlu menggunakan uang itu, jadi simpen aja ya buat si junior." sambung Ando, sembari merapikan dan memasukan buku-buku kedalam tas ransel miliknya, untuk sekolah besok.
Sedangkan Nada mengangguk-anggukan kepala sembari beranjak dari atas tempat tidur menuju rak buku, untuk menyimpan map tersebut.
...
"An, hari ini gue ijin kerja setengah hari." ucap Agil, ketika pulang sekolah Ando mampir ke Cafe miliknya.
Ando menatapnya tak percaya, pasalnya seorang Agil adalah karyawan teladannya yang sangat gila kerja selama ini, bahkan selama 4 tahun lebih ia bekerja dengannya tidak pernah bolos barang satu hari pun.
"Yakin lo, kagak salah denger kan gue?"
"Elaaahhh, beneran lah." balasnya sembari menyengir kuda.
"Ada acara apaan sih, gue kepo kan jadinya."
"Lo nggak tahu An, kalau si Agil lagi deketin cewek, masa-masa perjuangan banget ini tuh." timpal Ramon, yang datang membawa segelas jus melon pesanan Ando.
"Anjir, kok gue bisa kagak tahu ya."
"Lo sibuk mulu sih!"
Dan sore harinya Agil sudah berpakaian rapi, dengan menunggangi kuda besi miliknya yang baru saja lunas cicilan 2 minggu yang lalu, berdiri di depan gerbang rumah mewah berlantai dua, dengan perasaan gamang.
Ia sudah puluhan kali menelpon sang pemilik rumah namun, tak kunjung dijawab.
Dan kini Agil mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu gerbang yang setinggi 2,5 m tersebut dengan sedikit keras.
"Maaf cari siapa dek?" seru seorang laki-laki paruh baya yang mengenakan setelan lengkap security.
"Ehmm, itu ehmm, M-marissa nya ada?" ujarnya dengan suara terbata-bata.
"Dengan siapanya non Marissa ya dek?" tanyanya sopan.
"Bilang aja temen akrabnya datang pak, Agil namanya."
"Oh begitu, baiklah tunggu sebentar saya panggilkan dulu non Marissanya." ujar satpam tersebut.
"Ayo!" tiba-tiba Marissa muncul dari belakang satpam, dengan penampilan yang sudah rapi, dan sangat cantik menurut Agil.
Dan keduanya kini bergegas menaiki motor Agil ke suatu tempat.
"Lo yakin sa, mau sama gue!" seru Agil memastikan ucapan Marissa, ketika ia bertukar chat semalam.
"Gue belom terlalu yakin sih Gil, jujur di hati gue masih ada nama seseorang, yang mungkin susah untuk gue lupakan." balasnya, sembari menatap danau buatan yang terlihat indah dan sejuk dikelilingi pohon disekitarnya.
Agil mengangguk mengerti, iya tahu betul hati Marissa di berikan untuk siapa, tapi ia akan bersabar dan menunggu, hingga Marissa benar-benar membuka hati untuk dirinya.
"Elo mau kan, bantuin gue agar terlepas dari perasaan itu?" ujar Marissa melirik Agil, yang sedang menatapnya penuh kagum.
"Ok, gue bersedia!" jawabnya mantap.
Marissa tersenyum, menggenggam tangannya tanpa Agil duga.
__ADS_1
"Eh tapi Sa," Agil menunduk ragu.
"Kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.
"G-gue cuma orang biasa sa, orang tua aja kagak punya, S-sedangkan elo, punya segalanya, gue nggak yakin bisa bahagiain elo." balas Agil dengan nada suaranya yang terdengar sedih.
"Lo kok ngomong gitu sih Gil, lo pikir gue ini cewek matre apa, kalau lo nganggap gue kek gitu lo salah besar Gil!" Marissa hendak beranjak dari duduknya.
hingga Agil menahan tangannya.
"Tunggu dong sa, jangan ngambek gini, gue nggak bermaksud nuduh lo kaya gitu, nggak sama sekali, gue cuma ngerasa nggak percaya diri aja berada disamping elo, secara lo cantik dan dari keluarga berada."
Marissa menoleh, "Gue terima elo apa adanya Gil, dan gue harap lo juga bisa nerima seluruh kekurangan gue!" ucapnya hampir menangis.
.
.
Usai tahlil papa dimalam yang kedua, Nada terus memperhatikan Ando yang berulang kali membuka lembaran-lembaran album foto ditangannya, bahkan sudah tak terhitung, entah berapa kali.
Swdangkan jam di dinding sudah menunjukan pukul 22:01 Namun Ando enggan untuk beranjak, masih fokus memandangi album foto tersebut, seakan tak ada bosannya.
Akhirnya Nada memutuskan untuk mendekatinya, mengintip apa yang sejak tadi di lihat suaminya.
"Bang!" ucapnya pelan, rupanya sejak tadi Ando menandangi foto-fotonya dengan papa dari kecil hingga sebesar sekarang ini.
"Iya sayang, belum tidur.?" menoleh kearah istrinya sembari tersenyum, senyum yang sepertinya di paksakan, Nada mengerti, Ando masih dalam suasana berduka, dan kehilangan.
Nada menggeleng, "Nungguin abang."
"Eh, maaf ya sayang, sampai lupa." Ando mencium keningnya.
"Abang pasti masih sedih ya?" memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aku ngerti kok, abang yang sabar ya, nggak apa-apa, pelan-pelan aja, karena melupakan seseorang yang kita cintai itu nggak mudah."
"Termasuk melupakan mantan!"
Nada menatapnya kesal, "Abang ihs, lagi serius juga malah bahas yang itu."
"Iya deh, aku kan nggak punya mantan, jadi nggak tahu rasanya kesusahan melupakan mantan."
"Abaaangg ihs!"
Ando beranjak dari duduknya, menyimpan album foto yang berada ditangannya, lalu ikut bergabung dengan Nada di atas kasur.
"Hallo anak ayah, lagi ngapain, sempit nggak di dalem?" Ando menempelkan kupingnya di perut Nada.
"Katanya kalau lagi hamil bayinya suka nendang-nendang gitu, ini si dede kok nggak ya?" seru Ando dengan raut khawatir.
"Abang suka aneh-aneh deh, janinnya baru 3 bulan abang, masa iya udah nendang-nendang, emang bayi model apaan?"
"Oh gitu." Ando hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya.
Ck!
Nada berdecak, perasaan Ando sudah berulang kali bertanya seperti itu pikirnya.
"Abang?" ucapnya, memainkan dada Ando dengan telunjuknya sembari tiduran dengan berbantalkan lengan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa sayang?"
"Abang udah punya planning belum, mau masuk kuliah dimana gituh?"
"Emangnya kenapa sih yang?" Ando melirik Nada yang wajahnya berubah sendu.
"Aku nggak mau pisah sama abang, nggak mau jauh-jauh." ucapnya jujur, yang seketika membuat Ando mengembangkan senyumnya.
"Nggak jauh kok sayang, aku ngambil yang deket-deket aja, biar bisa ketemu istri terus tiap hari." balasnya sembari mengelus pipi Nada.
"Aku sayang sama kamu Denada Sena Gantari, sayang banget!" ucapnya, kemudian memeluk tubuhnya erat, hingga keduanya terlelap bersama, saling memberi kehangatan.
Dan menyelami mimpi indahnya.
.
.
Menjelang kelulusan sekolah, Ando memilih berlibur di Villa kakek, yang sudah ia renovasi sebaik mungkin, terlihat modern, namun tidak merubah keseluruhannya, karena ia ingin tetap mempertahankan keaslian model bangunan tersebut.
Seluruh sahabatnya ikut serta, termasuk Agil, Ramon dan Beny, yang sudah ia anggap sebagai saudara.
Ando ingin menciptakan momen indah bersama mereka, sebelum akhirnya mereka lulus, dan mulai sibuk dengan dunia barunya masing-masing.
"Kalian semua boleh pilih kamar sesuka hati, kecuali kamar utama," ucapnya ketika sampai di Villa tersebut.
"Siap," balas mereka serempak, dan bergegas memilih kamar masing-masing.
Nada berlari menuju jendeka kaca, ketika ia masuk dikamar utama. "Bang, kamarnya bagus banget, Rapi, harum juga, siapa yang ngurusin?" seru Nada melirik kearah Ando yang duduk selonjoran diatas kasur.
"Ada yang, bi Minah sama mang Hanan namanya,
tapi mereka kerja di siang hari aja, kalau malam mereka pulang kerumahnya."
Nada mengangguk mengerti, matanya tak berhenti melihat-lihat setiap sudut kamar tersebut, yang sangat jauh berbeda ketika pertama kali ia menginjakan kakinya disana, sebelum Ando merenovasinya.
Ando beranjak dari duduknya ikut berdiri dibelakang Nada dengan kedua tangan memeluk perutnya yang sudah mulai membuncit, karena kini usia kandungan Nada memasuki bulan ke 6.
"Sekarang kalau meluk gini serasa ada yang beda ya, ngeganjel gimana gitu." ucapnya sembari terkekeh.
Nada menoleh, membuat matanya saling bersitatap, "Abang nggak suka ya kalau aku gendut?" matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
Ando menggeleng keras, "Nggak sayang, nggak sama sekali, siapa yang bilang begitu, apapun keadaan kamu, sumpah! aku tetep cinta kok." balas Ando, karena bagi Ando baik dulu maupun sekarang bentuk tubuh Nada, tidak banyak berubah, kecuali perutnya yang semakin membesar.
Dan jika Nada harus mengalami perubahan badan yang meningkatpun, Ando tidak mempedulikannya, baginya Nada tetaplah Nada, wanita yang sama didalam hatinya.
.
.
Hallo Readers tercinta, bagaimana keadaannya?ππ
Semoga selalu dalam keadaan sehat yaπππ
Maafkan Author yang akhir-akhir ini tidak update dengan teratur..π
Karena Author sedang banyak sekali kesibukan, tapi Author akan berusaha update yang lebih banyak setelah kesibukan Author selesai semuaπ
Terimakasih yang masih setia menungguπππ
__ADS_1
.
.