
"Dimana kamu membuang bayiku Lin?" Rendra menarik tangan Marlina yang sedang menenteng gagang koper, hendak pergi meninggalkan Rumahnya.
"Aku lupa..! kalau masih dibutuhkan cari aja sendiri." balasnya, menepis kasar tangan Rendra.
Rendra menggelengkan kepala melihat perubahan sikap Marlina yang menurutnya sudah keterlaluan.
"Aku rasa kamu yang sekarang bukanlah wanita yang selama ini aku kenal Lin, kamu yang sekarang seperti jelmaan iblis yang berwujud manusia."
Marlina tertawa sinis. "Kamu pikir aku begini karena siapa hah?"
"Semuanya karena kamu, kamu nggak bisa nafkahin aku, kamu nggak bisa kasih aku kebahagiaan selama ini, jadi mulai sekarang berhenti ganggu aku, aku mau cari kebahagiaan aku di luar sana." ucapnya sembari beranjak pergi meninggalkan Rendra yang terdiam mematung.
Rendra bersender di tiang Rumahnya, dan detik kemudian merosot dengan tubuh yang tiba-tiba melemas.
Perkataan Marlina barusan, adalah pukulan telak baginya, bagaimana bisa Marlina berkata seperti itu padanya, perjuangan dan keringat yang ia keluarkan selama ini, sama sekali tidak berarti bagi wanita yang sekarang bersetatus sebagai mantan istrinya tersebut.
Lalu bagai mana dengan bayinya, seorang bayi yang sudah dinantikannya selama bertahun-tahun, kini entah dimana keberadaannya.
Esoknya Rendra mencoba mencari di berbagai tempat untuk mencari bayinya, namun tidak membuahkan hasil.
Dan waktu ke waktu terus berjalan, Rendra bangkit dari keterpurukannya.
Mencoba memulai usaha apapun yang menghasilkan, ia bertekad ingin menjadi orang yang sukses, dan berharap kelak akan di pertemukan kembali dengan putra tercintanya.
*Flashback off*
.
.
Hari ini Rendra kembali bertamu kerumah papa Jordy dan Riana, bermaksud untuk mengajak Gilang jalan-jalan, sekaligus untuk menuntaskan rasa penasarannya.
"Boleh aja, kalau memang tidak merepotkan bapak!" seru Riana, saat sebelumnya Rendra sudah meminta izin untuk membawa Gilang pergi.
"Tidak sama sekali bu, justru saya sangat senang jika bersama Gilang, maklum lah bu saya kan tidak punya anak."
"Oh begitu." Riana mengangguk.
"Kalau begitu saya dan gilang permisi bu."
"Gilang sama om pergi dulu ya ma," Seru Gilang meraih tangan Riana dan menciumnya.
"Iya hati-hati ya!"
.....
"Kita mau kemana om?" seru Gilang saat sudah berada didalam mobil.
"Kemanapun Gilang mau Om anterin!" balas Rendra, sembari melajukan mobilnya meninggalkan halaman Rumah papa Jordy dan Riana.
"Yah kok gitu sih om, kalau Gilang sih terserah om aja, Gilang ikut aja."
Rendra menoleh kearah Gilang lalu tersenyum.
Hari ini Gilang terlihat sangat berbeda sekali dari Gilang yang kemarin-kemarin.
Hari ini ia terlihat lebih segar dan ceria, tidak seperti saat pertama kali bertemu, yang terus diam dan melamun dengan tatapan sendunya.
"Ke mall mau?"
Gilang mengangguk dengan mata berbinar, "Boleh emang om?"
__ADS_1
"Ya boleh dong, kita meluncur kesana ok!"
"Ok." balasnya penuh semangat.
Saat pertama kali mereka sampai di mall, Rendra memilih untuk masuk ke Cafe yang menyiapkan makanan cepat saji terlebih dahulu, karena perutnya sudah keroncongan minta diisi, karena sejak tadi pagi ia belum sempat sarapan.
"Gilang mau pesan apa?" seru Rendra saat sudah melihat-lihat buku menu di genggamannya.
"Spaghetty bolognese, sama delcolamocca."
"Kok sama kaya om, wah sehati kita ya!" Seru Rendra.
"Sebenarnya itu makanan Favorit Gilang sih om."
"Om juga!" balasnya, sambil tertawa.
Setelah menikmati makanan yang disajikan oleh Para pelayan Cafe Kinara, kini Rendra dan Gilang memasuki sebuah permainan yang terletak di lantai 2 mall tersebut.
Rendra dan Gilang bermain sambil bercanda layaknya seorang ayah dan anak, hingga mereka tak menyadari waktu sudah mulai sore.
"Aduh lang udah sore nih, pulang yuk, takut mama sama ayah nungguin." Ucapnya setelah melirik jam di pergelangan tangannya yamg menunjukan pukul 15:22.
"Ayo om!"
"Nggak kerasa ya om, udah sore aja." lanjutnya.
"Besok-besok kalau Gilang libur sekolah, om ajak main lagi ya."
"Ok, om!"
...
"Maaf ya pak bu, kesorean." seru Rendra merasa tidak enak, saat sudah sampai dirumah papa Jordy dan Riana.
"Sama-sama bu, kalau begitu saya permisi dulu ya!"
"Gilang om pulang dulu ya." mengacak rambut Gilang dengan gerakan kasar.
"Iya om hati-hati ya,"
Rendra mengangguk tersenyum kearah Gilang, papa Jordy, dan Riana.
Rendra membuka kepalan tangannya, saat sudah berada di dalam mobil.
Lalu ia menyentuh sehelai rambut yang menempel di telapak tangannya.
kemudian menggenggamnya kembali.
"Semoga dugaanku tidak salah!" gumamnya.
Lalu melajukan mobilnya kearah Rumah sakit.
*****
Dimalam yang terasa dingin itu, sepasang suami istri muda sedang menatap kelap-kelip bintang yang berhamburan memenuhi gelapnya langit malam, didepan balkon kamarnya.
"Yang!"
"Hmmm!"
"Aturan kita kemarin nggak usah pulang dulu dari hotel, aku masih pengen mengenang pertemuan pertama kita disana." Seru Ando semakin merapatkan pelukannya dari belakang tubuh Nada.
__ADS_1
Ck!
"Kan Abang besok udah mulai masuk sekolah lagi, gimana sih?"
"Ternyata bener kata orang ya yang!" ucapnya, sembari menempelkan bibirnya disekitar leher Nada, lalu menghirupnya perlahan, menciptakan gelenyar aneh pada sekujur tubuh Nada.
Bahkan hembusan nafasnya terasa hangat, menyentuh kulit lehernya.
"A-apanya!" jawab Nada gugup, karena tubuhnya kini terasa tak menentu.
Meskipun ini bukan yang pertama kalinya ia mendapatkan perlakuan intim dari Ando, namun masih saja sama persis seperti saat pertama kali Ando menyentuhnya.
"Pacaran setelah menikah!" balas Ando, sembari menggigit kecil ujung kuping istrinya.
"Kalau tahu rasanya seindah ini, udah dari dulu kali aku nikah!"
Plaakkk...
"Awww!" Ando meringis saat Nada memukul keras tangannya yang sedang melingkar di perutnya.
"Kok di pukul sih yang!" protesnya.
"Abis kalau ngomong tuh suka nggak di pikir dulu, inget! abang tuh masih sekolah."
"Lagian kalau nikahnya dari dulu, sama siapa? abang kenal sama aku aja baru 3 bulanan." Nada mendengus sebal.
"Eh iya ya, kalau aku nikahnya dari dulu, berarti nggak sama kamu dong ya."
"Yaudah, berarti ceritanya aku ubah ya, aku bersyukur banget ketemu kamu sekarang yang, meskipun pada awalnya kita menikah karena sebuah insiden yang aku buat sendiri."
"Tapi yang membuat aku lebih bersyukur, kamu hadir dalam hati aku, saat masih kosong dan belum terisi oleh siapapun sebelumnya."
"Haruskah aku merasa tersanjung dan beruntung!" Nada menatapnya sembari mencibir.
"Kamu nggak percaya yang."
"Gimana ya?" Nada mengetuk dagunya berulang kali, seolah seperti sedang menimbang-nimbang perkataan Ando.
"Sayangggg.." Ando terdengar seperti sedang merajuk.
"Iya deh iya, percaya."
"Gitu dong!"
"Selamanya nggak akan ada wanita lain yang bisa gantiin posisi kamu dihati aku yang, aku nggak akan berpaling pada siapapun, pada wanita manapun."
"Jika seandainya itu terjadi, tolong ingatkan aku segera yang."
"Kamu mau kan, terus dampingi aku?" Kini Ando memutar tubuh Nada, hingga menghadap kearahnya.
"Mau kan yang?" ulangnya.
Nada mengangguk, "Mau."
"Eh lihat deh, bintangnya bertambah terang ya." seru Nada, mencoba mengalihkan pembicaraan yang menurutnya terasa menegangkan.
"Menurut aku kamulah yang paling bersinar, diantara mereka semua."
"Abang ihs!"
.
__ADS_1
.
"