Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Gilang


__ADS_3

Bandung....


.


.


"Ma, sebenarnya bang Ando itu siapa,? kok manggil ayah Papa sih, terus mereka kaya Akrab gitu, apa Gilang punya kakak yang lain selain bang Devan ma." seru Gilang setelah kepergian Ando dan Nada beberapa menit yang lalu.


Riana menatap Gilang dengan tatapan sedih, anak laki-laki yang mulai menginjak usia remaja itu, kini sedang duduk dihadapan Riana menunggu jawaban darinya.


"Terus kakak cantik yang dipanggil Nada itu, bukannya dulu pernah kesini ya ma!" Lanjut Gilang mengingat kembali, saat pertemuannya dengan Nada.


Tangan Riana terulur mengusap rambut Anak bungsunya, hatinya menangis, perih bagai teriris, rasanya belum sanggup jika ia harus menceritakan yang sesungguhnya pada Gilang sekarang.


Namun ia yakin cepat atau lambat Gilang akan mengetahuinya, karena Gilang bukanlah anak kecil lagi.


"Mama nggak mau cerita sama Gilang ma?"


Sontak perkataan Gilang membuatnya terperanjat kaget.


Riana bahkan sudah menangis, meskipun belum sepatah katapun ia menceritakan kebenarannya pada Gilang.


"Kalau mama belum bisa cerita nggak apa-apa ma, tapi mama jangan sedih ya."


"Gilang mau janji sesuatu sama mama?" Ucapnya dengan berderai Air mata.


"Apa ma?"


"Janji apapun yang terjadi Gilang nggak akan pernah membenci mama, dan Gilang akan selalu disisi mama."


Dengan Ragu Gilang pun mengangguk.


"S-sebenarnya Kak Devan sama Gilang bukan Anak Ayah."


Deg...


"Dan Gilang sama Kak Devan bukan saudara kandung."


Deg...


"Bang Ando lah anak kandung ayah yang sebenarnya."


"M-maksud mama?" Tanyanya dengan suara tercekat.


"Mama lagi bercanda." lanjutnya.


Riana menggeleng. "Mama serius nak, Gilang bukanlah anak kandung mama dan Ayah."


"Mama minta maaf sayang, tapi percayalah nak, cinta mama dan Ayah sama besar, seperti cinta mama pada kak Devan." Suaranya kini semakin bergetar, dengan diiringi isak tangis yang juga kian kencang.


"J-jadi, Gilang anak siapa ma?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu anak mama sama ayah Nak," Riana berusaha meraih bahu Gilang hendak dipeluk.


Namun tanpa disangka Gilang malah menepisnya, dan berlari keluar Rumah.


*******

__ADS_1


Siang yang menjelang sore itu, seorang anak remaja terus berlari tanpa arah, melewati beberapa rumah, toko, bahkan sejumlah tempat lainnya.


Dan disaat yang bersamaan langit mendadak menumpahkan tangisnya dengan derasnya, Namun tak urung menghentikan langkah si remaja tersebut.


Ckiitttt....


Terdengar seseorang yang mengerem mobilnya secara mendadak.


Damn!


"Hampir aja!" Umpatnya kesal.


Dengan sigap ia pun turun dari mobilnya, dan terlonjak kaget ketika mendapati seorang anak remaja laki-laki yang terkapar lemas didepan mobilnya, dengan keadaan basah kuyup.


Ia pun segera berlari menghampiri anak tersebut, mengecek apakah ada luka ditubuhnya, karena ia yakin betul tadi kepala mobil miliknya belum sempat menyentuh anak itu karena ia sudah mengerem mobilnya terlebih dahulu.


Laki-laki paruh baya yang biasa di sapa pak Rendra itu, tanpa berpikir panjang ia langsung menggendongnya kedalam mobil, lalu membawanya kerumah sakit.


Sesampainya dirumah sakit ia langsung memanggil tenaga medis, untuk segera menangani anak tersebut.


"Bapak keluarga pasien?" seru Dokter saat selesai memeriksa Gilang.


"S-saya Om nya dok, apakah keadaan keponakan saya baik-baik saja!" ucapnya berbohong, tidak mungkin ia mengatakan tidak kenal bukan?


"Pasien hanya syok dan kecapean saja, sebentar lagi juga siuman."


Membuat Laki-laki paru baya tersebut bernafas lega.


"Baik dok, terimakasih banyak."


"Sama-sama pak."


Ia masuk, dan duduk tepat di sebelah Gilang, menatap anak remaja yang kini tengah berbaring dengan kedua mata yang masih tertutup rapat.


Diperhatikannya lekat wajah Gilang, rasanya ia pernah bertemu, tapi dimana? batinnya.


Ada perasaan lain saat ia memperhatikan lebih dekat wajah Gilang.


Ia tiba-tiba teringat akan Anaknya yang hilang 15 tahun yang lalu, mungkin kalau sekarang masih ada, seusia dengan anak yang berada di hadapannya kini.


Ia memperhatikan kedua kelopak mata yang perlahan terbuka.


"S-saya dimana?" Ucapnya hendak bangun, namun urung, karena Rendra menahannya.


"Jangan dipaksakan dek, kamu baru saja siuman, kamu sedang berada dirumah sakit, tadi saya menemukan kamu dalam keadaan pingsan, dan sebelumnya hampir tertabrak oleh saya."


"Apa yang kamu rasain, apakah pusing?" lanjutnya.


Gilang menggeleng, "saya tidak apa-apa pak, terimakasih sudah membawa saya kesini."


"Bener?"


Gilang mengangguk.


"Rumah orang tua kamu dimana, biar saya antar pulang!"


Gilang mengingat kembali kejadian tadi siang, yang membuatnya berada di tempat sekarang ini.

__ADS_1


"Saya juga nggak tahu orang tua kandung saya dimana."


Membuat Rendra menatapnya dengan tatapan bingung.


"Terus, selama ini tinggal dimana?"


"Dirumah orang tua angkat saya."


"Yasudah saya antarkan kesana saja ya, takut mereka khawatir dan mencari kamu."


Namun Gilang menggeleng.


"Saya nggak mau kesana lagi pak, saya mau mencari orang tua kandung saya."


"Tapi dek?" Rendra berusaha membujuknya.


"Saya tidak akan pulang kesana lagi."


Rendra berpikir sebentar, tidak mungkin juga ia meninggalkan anak itu sendiri, apalagi ia bersikukuh tidak mau pulang.


"baik, saya tidak akan lagi memaksa kamu untuk pulang kerumah orang tua angkat kamu."


"Tapi tolonglah ikut dengan saya, karena saya tidak mungkin meninggalkan kamu sendiri tanpa siapa-siapa disini."


"Mau ya?" lanjutnya dengan tatapan memohon.


"Tenang, tidak usah takut, Saya bukan orang jahat."


Gilang menatap Rendra, lalu kemudian mengangguk.


..


Setelah membayar seluruh Administrasi perawatan Gilang, Rendra pun memutuskan untuk segera pulang membawa Gilang kerumahnya.


"Ini rumah saya, ayo saya antarkan kamu ke kamar." Seru Rendra saat sudah sampai rumah.


"B-bapak tinggal sama siapa?" tanyanya Ragu-ragu, apakah mungkin dirumah sebesar ini hanya tinggal sendiri.


Karena sejak tadi ia tidak melihat siapapun disana, kecuali security pribadi yang sedang bertugas berjaga di depan.


"Saya tinggal sendiri, saya tidak punya anak istri, tapi sebentar lagi saya akan menikah lagi." balasnya sembari tersenyum, saat tiba-tiba mengingat calon istrinya.


"Kalau senin sampai sabtu dirumah rame kok, ada 7 orang pekerja perempuan, tapi kalau hari minggu sengaja saya liburkan."


"Biar mereka punya waktu untuk refreshsing atau beristirahat yang cukup."


"Ini kamar kamu sekarang, memang tidak terlihat khusus khas remaja, karena tidak direncanakan sebelumnya, tapi mulai sekarang saya serahkan ke kamu, mau diubah seperti apa sesuai selera."


"Istirahatlah, untuk baju ganti nanti akan saya belikan setelah saya selesai mandi, sekalian beli makanan buat makan malam kita Nanti."


"B-baik pak, terimakasih banyak."


"Jangan sungkan," ucapnya dan bergegas pergi meninggalkan Gilang yang masih mematung menatap kamar mewah yang dipijaknya saat ini.


Gilang dilema, disisi lain ia merindukan mamanya.


tapi disisi lain ia merasa sangat kecewa, dan belum sanggup bertatap muka dengannya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2