Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Cemburu


__ADS_3

"Cemburu nih ceritanya." Seru Ando dengan senyum menggoda, mensejajarkan langkahnya dengan Nada, yang terus berjalan terlebih dahulu.


"Siapa bilang cemburu, nggak tuh!" Balasnya dengan wajah memerah.


"Kok gitu sih yang!"


"Berarti boleh dong ya, kapan-kapan aku ajak si marissa lagi jalan bareng kesini."


Dan ucapannya sontak membuat Nada menghentikan langkahnya, sembari mendelik sebal kearahnya.


"Oh jadi gitu, berarti selama ini abang udah bohong sama aku soal perasaan abang ke marissa, ok mulai sekarang terserah abang aja, aku nggak peduli."


"Loh..loh, kok jadi gini! Niat mau menggoda, malah marah beneran, apa emang semua ibu hamil itu sensitif kali ya,?" Gumamnya pada diri sendiri.


Ck!


"Salah ngomong lagi, auto nggak dapet jatah ini mah." Sambungnya, mengacak rambutnya frustasi, sembari bergegas mengejar Nada, yang sudah mulai menghilang dari pandangannya.


.


Sementara Nada, terus berjalan dengan mata berkaca-kaca menuju parkiran, tidak peduli dengan beberapa orang yang tidak sengaja ia tabrak.


dan


Brukkkk....


"Eh S-sorry, mbak nggak apa-apa kan?" seru si penabrak, sembari menyentuh bahu Nada, untuk membantunya berdiri.


"E-eh, I-iya nggak apa-apa." balas Nada.


"Lhoo, kamu? ini beneran kamu, Nada kan?"


Ucapnya sumringah.


"Kak Hendrik ya?" balas Nada dengan mata terbelalak.


"Iya ini aku, Hendrik masih inget kan?"


Gila! Cantik parah sih ini namanya, Batin Hendrik, meneliti penampilan Nada dari ujung kepala, hingga ujung kaki.


"Kak Hendrik bukannya kuliah di london, kapan pulang kesininya kak?"


"Aku udah lulus kali Nad, setahun yang lalu, sekarang aku lagi belajar jadi Ceo baru di perusahaan papa."


"Wahh, keren banget kak!"


"Ah nggak juga,"


"Eh by the way, kamu kesini sama siapa?" melirik kekiri, kekanan, dan belakang Nada.


"Sama-"


"Yaampun ternyata kamu disini yang, aku khawatir banget tahu." tiba-tiba Ando datang memotong Ucapan Nada, sembari menggenggam tangannya, tanpa mempedulikan Hendrik yang menatapnya bingung.


"Eh," Nada meringis, sembari tersenyum kikuk.


"Anda siapa?" ada rasa tak suka saat Ando menggenggam tangan Nada.


"Harusnya saya yang tanya Anda siapa? saya ini suaminya Denada Sena Gantari, kalau Anda mau tahu!" balasnya sarkas.

__ADS_1


"Suami, oh ya?" Ucapnya, dengan diiringi tawa.


Ando yang sudah tersulut emosi, dari sejak Hendrik menyentuh bahu istrinya, kini rahangnya mengeras, dengan kedua tangan yang terkepal.


"Nggak percaya? apa perlu saya tunjukin surat nikahnya!"


"Abang udah ih, malu dilihatin orang." berbisik di telinga Ando, berharap bisa meredakan sedikit emosi suami Sma nya tersebut.


"Kak Hendrik, yang dikatakan dia itu benar, bang Ando emang suami aku, kami udah nikah 3bulan yang lalu."


"Kamu pasti bercanda kan Nad, mana mungkin kamu mau nikah sama bocah kaya gini." tunjuknya kearah Ando.


"Kak, aku serius, dia suami aku!"


"Nggak, nggak, aku nggak percaya, aku tahu Nad, tipe cowok idaman kamu seperti apa?" Hendrik menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.


"Kamu dulu pernah bilang, mau nungguin aku, sampai aku lulus kan Nad?" memegang tangan Nada yang ditepis kasar oleh Ando.


"Jauhin tangan lo dari istri gue!" seru Ando dengan suara meninggi.


"Lo diem dulu, bocah!"


"Brengsek!" Ando langsung melayangkan bogem mentah kearah wajah Hendrik.


"Abanggg!" pekik Nada.


"Woyyy bocah, santai dong!" mengusap sudut bibirnya yang terasa ngilu.


"Ngomong sama orang kek lo tuh, nggak bisa pake cara santai."


"Abangg udah, ayo kita pulang!" berusaha sekuat tenaga menahan Ando dengan cara memeluk tubuhnya dari belakang.


"Nggak, aku mohon." menggelengkan kepala di balik punggung Ando.


"Lepas, aku bilang!"


"Abang jangan kaya gini dong, aku mohon kita pulang sekarang ya, abang ingat kan, kalau sore ini ada jadwal kontrol baby."


Mendengar kata Baby, yang diucapkan Istrinya, sontak membuat emosi Ando mereda seketika, sebuah kata umum dan terdengar sederhana, namun bermakna besar bagi Ando.


"Kak hendrik, aku minta maaf, atas perlakuan kasar bang Ando barusan, dan aku harap ini menjadi pertemuan kita yang terakhir, dimasa lalu kita nggak ada hubungan apapun, begitupun di masa sekarang."


"Dan soal yang dikatakan kak Hendrik barusan, benar!"


"Aku nggak suka laki-laki muda, apa lagi umurnya dibawah aku, aku lebih suka cowok yang mapan dan dewasa."


"Tapi itu dulu kak, sebelum aku ketemu sama bang Ando, sebelum aku tahu bahwa kedewasaan seseorang itu bukan di lihat dari umur atau fisiknya."


"Juga karier nya."


"Dan aku minta maaf atas semua yang telah terjadi."


"Aku permisi." menggenggam tangan Ando, meninggalkan Hendrik yang diam membeku dengan lidah kelu.


Ingin berucap namun tertahan.


********


"Seneng ya, abis di pegang-pegang cowok lain?" Mendorong pelan tubuh Nada, hingga terduduk diatas kasur.

__ADS_1


Setelah Insiden di dekat parkiran mall tadi, baik Ando maupun Nada tidak ada lagi yang berminat untuk melanjutkan shopping ataupun sekedar makan ice cream lagi disana.


Mereka memutuskan untuk pulang, karena mood mereka masing-masing sedang dalam keadaan tidak baik.


"Abang kok ngomongnya gitu?"


"Emang iya kan?"


"Abang itu salah paham, tadi aku tuh jatoh, dan dia berusaha bantuin aku."


"Terus apa tadi maksudnya?"


"Yang mana?"


"Si brengsek itu bilang, kamu mau nungguin dia sampe lulus kuliah, itu maksudnya apa hm?"


"I-itu, itu masa lalu bang!"


"Kamu pernah bikin janji apa sama dia, dia nagih tuh sekarang!" Emosi Ando mulai naik kembali.


"Aku-"


"Jawab yang bener, kamu jujur sama aku sekarang." bentak Ando tak sabaran.


"Kak Hendrik, kakak kelas aku dulu bang, aku kenal dia jauh, sebelum aku mengenal Riko dan juga Abang." ucap Nada sembari menautkan jari-jarinya, berharap bisa mengurangi sedikit kegugupannya di hadapan Ando.


"Kalau Abang mau aku jujur, aku bakalan jujur."


Nada menelan ludahnya gugup, sebelum kembali melanjutkan ucapannya.


"Kak Hendrik cinta pertama aku bang!" sambungnya dengan suara pelan.


Sedangkan Ando masih setia mendengarkan, berdiri dengan tangan bersidakep.


"Dulu waktu pertama ketemu, aku baru duduk di kelas 10, sedangkan dia udah mulai kuliah di salah satu universitas terdekat, dan saat aku naik kelas 11, dia berpamitan ingin melanjutkan studynya di london, atas permintaan papanya."


"Dan dia minta agar aku mau berjanji, menunggunya kembali, tapi setelah 1 tahun dia disana, tiba-tiba dia menghilang gitu aja, dan nggak ada kabar."


"Stop, aku nggak mau denger lanjutannya." berlalu pergi meninggalkan Nada yang menatapnya dengan tatapan bingung.


Sementara Ando memilih untuk kedapur, mengambil air dingin dari kulkas, menuangnya kedalam gelas, lalu di teguknya air tersebut hingga tandas.


Ia paling sensitif, jika ada seseorang laki-laki yang menyukai istrinya, meskipun dari masa lalu.


.


.


Hallo readers tercinta, 😘😘 terimakasih bagi semua readers tercinta, yang masih setia menunggu kelanjutan dari Suamiku Anak Sma.


Akan ada sedikit konflik ya, nggak berat sih😁 cuma sebagai bumbu di rumah tangga Ando dan Nada aja, karena sejatinya hidup berumah tangga itu tidak selalu mulus bukan?😊😊


.


.


Semoga Readers tercinta selalu dalam keadaan sehat ya! Aamiin😊😊


.

__ADS_1


.


__ADS_2