Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Kebenaran


__ADS_3

"Nada keluar dulu ya pa," ucap Nada meninggalkan papa Jordy yang masih terbengong kaget mendengar suara pintu ditutup dengan kerasnya.


Nada membuka pintu ruang kerja papa Jordy, lalu menoleh kekanan dan kekiri. namun tidak ada siapapun disana, Ia pun akhirnya memutuskan untuk menuntun langkahnya berjalan menuju kekamar Ando.


Saat membuka pintu kamar, pemandangan yang pertama kali dilihatnya Adalah sosok Ando yang berdiri didepan jendela kaca menghadap keluar, dengan kedua tangannya yang terkepal sempurna.


Nada menghampiri Ando dengan sangat perlahan, bahkan suara sendal jepit yang digunakannya, semula berbunyi sangat nyaring beradu dengan lantai, kini tidak terdengar sama sekali.


Nada menarik nafas beratnya secara perlahan, sebelum kemudian memegang pundak Ando.


"A-ando?" ucapnya pelan, yang terdengar seperti sebuah gumaman.


Ando bergeming ditempatnya.


"Jadi kamu udah tahu semuanya!" Ucap Ando dingin tanpa menoleh kearahnya. tangannya bergerak menyentuh kaca jendela.


Deg!


Nada terdiam, dengan perasaan takut dan was-was.


"A-aku"


"Kamu tahu semuanya Nad, tapi nggak mau berbagi cerita sama aku, aku seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa tahu nggak." Ucapnya menunduk, dengan kedua tangan yang berpegangan erat pada kedua sisi jendela.


"Ma-"


"Kamu tahu kan semua ini juga penting buat aku Nad," Lanjut Ando tanpa memberi kesempatan Nada untuk bicara.


"Masalah sebesar ini kamu sembunyiin dari aku Nad."


"Kamu tega!" Ucap Ando sembari menggelengkan kepala, dengan tatapan kecewa.


"Ando, aku nggak bermaksud begitu aku cuma-"


"Kasian sama aku?" potong Ando cepat.


"Nggak gitu Ando,"


"Terus apa?" bentak Ando, membuat Nada memejamkan matanya takut.


"Aku bakal ceritain semuanya ke kamu Ando, tapi aku harus cari bukti yang kuat dulu untuk membongkar semuanya, aku nggak bermaksud rahasiain ini selamanya dari kamu, aku cuma butuh waktu sebentar lagi sampai semuanya jelas." ucap Nada dengan air mata yang mulai menetes.


Ando memukul keras dinding tembok, hingga buku-buku tangannya mengeluarkan bercak darah.


"Arrrrgggghhh..bajingan, sialan!" umpatnya, sembari memukul kembali dinding tembok dengan kerasnya, ia bahkan tidak mempedulikan kondisi tangannya yang mengeluarkan darah. badannya luruh, jatuh terduduk diatas lantai, memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Ando, aku mohon berhenti please! aku nggak mau kamu terluka kaya gini, lihat aku Ando!"


Ucap Nada memegang pipi Ando dengan kedua tangannya.


Nada memandang suaminya dengan tatapan Sedih, Suami jahil dan sok narsisnya kini terlihat rapuh dan lemah, bahkan sorot matanya terlihat tak berdaya.

__ADS_1


"Dengerin aku Ando,!" ucap Nada masih dengan menangkup wajah suaminya.


"Apapun yang terjadi di masa lalu, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima semuanya dan memaafkan kesalahan papa."


"Dan kamu harus meminta maaf sama mama, karena selama ini kamu sudah salah menilai mama."


"Apapun dan bagai manapun keadaan kamu, aku akan selalu ada disamping kamu, Aku sayang sama kamu Ando, jangan pernah lagi merasa kamu sendirian, ada aku disini!" ucap Nada dengan berderai Air mata.


Ando mengangguk lemah, memeluk erat tubuh istrinya yang terasa nyaman, dan menghilangkan sedikit beban berat yang tengah dirasakannya.


"Terimakasih sayang, maaf aku sempat marah-marah tadi!" ucapnya lemah. yang dibalas anggukan oleh Nada.


"Aku ngerti perasaan kamu sekarang, aku harap kamu bisa kuat menghadapinya."


ucap Nada sembari mengusap-usap punggung suaminya.


"Ando?"


Begitu suara dari milik seseorang yang familiar di indra pendengarannya, ia langsung mengurai pelukannya dan menatap seseorang tersebut dengan tatapan membunuh.


"Ando, papa M-"


"Nggak perlu dijelasin, semuanya udah jelas!" Potong Ando.


Ando tersenyum getir ke arah papanya.


"Jadi begitu pa, kelakuan papa dibelakang aku selama ini, papa menikahi perempuan lain tanpa sepengetahuan mama. lalu papa juga pura-pura miskin, dan hampir menyerupai gelandangan dulu."


"Sedangkan istri baru papa, menikmati hidup tanpa harus bersusah payah bukan?" ucapnya tertawa kecut.


"Udah puas sekarang pa, ngehancurin perasaan Ando,?"


"Dulu Ando fikir papa adalah pahlawan terbaik Ando, super hero nya Ando, yang selalu ada kapanpun Ando butuhkan, bahkan Ando sampai berfikiran tidak membutuhkan siapa-siapa lagi termasuk mama. karena papa udah lebih dari cukup buat Ando."


"Tapi kenyataannya justru papa lah yang menciptakan masalah di keluarga kita,"


"Apa kurangnya mama, pa?" teriak Ando.


"Ando papa bisa jelaskan!" Ucap papa Jordy berusaha meredakan emosi putranya yang terlihat meluap-luap.


"Papa memaksa menikahi wanita hamil, dengan sebutan menolong menyembunyikan Aibnya, lalu bagai mana dengan Ando pa, bagai mana dengan perasaan mama, pernah nggak sih pa, papa fikirin perasaan kita. Ando kecewa sama papa!"


"Papa nggak punya pilihan lain Ando, semua yang terjadi sama dia atas kesalahan papa."


Cih!


Ando berdecih kesal, lalu tersenyum kecut kearah papanya.


"Ada dua kemungkinan yang harus dipertanyakan, papa mau menikahinya karena ingin menolong, atau karena papa memang masih mencintainya."


"Dia hidup sebatangkara Ando, siapa lagi yang akan menjaganya kalau bukan papa."

__ADS_1


Lagi-lagi Ando tersenyum kecut menanggapi


perkataan papanya yang sama sekali nggak masuk di akal sehatnya.


"Papa bisa sewain rumah buat dia, papa juga bisa sewa jasa ART buat jagain dia, nggak harus nikahin dia kan?"


"Nggak sesimpel itu Ando, kamu harus bisa dong ngertiin posisi papa, jangan egois!" bentak papa.


Ando tertawa sinis, "heuh Egois papa bilang? seharusnya kata-kata itu cocok buat papa, bukan buat Ando ataupun mama, bilang aja papa masih cinta kan sama mantan papa,"


"Cinta udah membutakan mata hati papa tahu nggak, papa bisa menjaga hati perempuan itu, tapi papa menghancurkan hati mama."


"Apa sih istimewanya perempuan itu, sampai bikin papa nggak bisa lepas dari dia," lanjut Ando.


"Cukup Ando, papa nggak suka kamu jelek-jelekin dia, terima nggak terima, dia juga istri papa. kamu nggak berhak menilai dia dari sisi manapun." ucap papa jordy mulai emosi.


"Papa tahu papa salah, papa minta maaf untuk semua itu, terutama untuk kamu dan mama." Ucap papa Jordy sembari menunduk.


Ando menggeleng, "Nggak semudah itu pa, kesalahan papa kali ini benar-benar fatal, aku nggak bisa nerima gitu aja, papa benar-benar keterlaluan." ucap Ando dengan Intonasi tinggi.


"Sekarang papa tinggal pilih, papa pilih perempuan itu atau Ando dan mama."


"Jangan beri papa pilihan yang sulit Ando,!"


"Siapa yang menyulitkan papa, Ando cuma ngasih pilihan, lagi pula papa lupa siapa yang membuat terciptanya keadaan seperti ini." ucap Ando dengan kening berkerut.


"Apa yang bisa papa lakukan agar kalian berdua mau memaafkan papa!"


"Pilih salah satu diantara kami, perempuan murahan itu atau mama!"


"Cukup Ando! Riana bukan wanita seperti itu!"


"Kenyataan nya memang seperti itu kan pa, Murahan!"


Plakkk!..


Satu tamparan keras menghantam pipi mulus Ando, membuat Ando memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.


Ando tersenyum getir,dengan Tangan terangkat mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Andooo?" teriak Nada menutup mulutnya kaget.


"Puas sekarang? Demi perempuan murahan seperti dia, papa rela Nampar Ando."


Tangan papa jordy pun kembali terayun di udara.


Plaakkkk!!..


Ando yang sudah memejamkan mata bersiap menerima tamparan selanjutnya dari papa jordy seketika membuka matanya lebar-lebar, mendengar suara tamparan keras tepat di hadapannya.


Sedangkan Papa jordy mematung ditempatnya.

__ADS_1


"Naaaaaadddd!" Ando berteriak histeris melihat keadaan istrinya yang berlumur darah di kepalanya. karena terbentur tembok, lalu mengenai ujung meja.


__ADS_2