
Selama mengikuti acara tahunan disekolahnya, Gilang hanya terdiam, bahkan berulang kali tak menghiraukan sapaan dari teman-temannya, ia asik dengan pikirannya sendiri.
Rasanya saat ini ia ingin kembali menumpahkan seluruh tangisnya, ketika mengingat kembali perkataan mama Riana tadi.
Saat ia bertanya tentang keberadaan sang ayah, ia harus menerima jawaban yang membuatnya bagai disambar petir disiang hari.
"Ayah sudah meninggal nak, maafkan mama, mama yang meminta agar semua orang merahasiakannya dari Gilang, mama tahu Gilang yang paling dekat dengan ayah, sedangkan Gilang harus fokus belajar, mama tidak mau kegiatan mu terganggu dengan kabar ini."
"Lagi pula, sekarang Gilang sudah bertemu dengan ayah kandung Gilang, bukan?"
Ucapan mama Riana tadi, membuatnya terasa tak berarti apa-apa, bagaimana bisa hal sepenting ini dirinya tidak diberi tahu.
"Ngelamun aja lu?" Bimo menepuk pundaknya.
"Mikirin pacar?" timpal Daniel, sembari tergelak.
"Apa baru ditolak?" keukeuh Ipang.
Namun, Gilang diam seribu bahasa, sama sekali tidak terganggu dengan ucapan ketiga sahabatnya.
Setelah acara usai, ia bergegas pulang, dengan berjalan kaki, meski kini langkahnya terasa hampa, ia tetap memaksakan diri menyeret kedua kakinya untuk terus melangkah, tanpa berniat memesan taxi online seperti tadi saat berangkat.
Dalam ingatannya kini hanya ada satu nama, yaitu Ayah.
Sedangkan dirumah Rendra dan mama Indri, mondar-mandir dengan dipenuhi perasaan cemas, menunggu Gilang yang tak kunjung pulang.
Mereka sudah menghubungi pihak guru sekolah serta sahabat Gilang, namun mereka mengatakan bahwa Gilang sudah pulang.
Disebuah taman yang sepi, Gilang duduk termenung seorang diri, tanpa berniat untuk pulang.
Saat ini ia sangat merindukannya, merindukan sosok ayah yang sudah bersama melewati hari selama 15 tahun lamanya, tidak mudah bukan, melupakan sesuatu yang sejatinya sudah melekat diingatan.
Padahal, ia sudah berjanji, jika libur sekolah panjang ia akan pulang dan menginap dirumah ayah selama beberapa hari.
Namun kini, rencana itu sirna seketika, setelah mengetahui bahwa ayah sudah pergi untuk selama-lamanya.
....
....
"Banyak banget Non belanjaannya, nggak seperti biasa." seru bi Mimin, sembari menata cemiln kering, sayur, buah-buahan, serta makanan lainnya.
"Iya bi, kan semenjak menyusui porsi makan dan ngemil saya bertambah banyak bi, hitung-hitung buat stok lah." balas Nada, tangannya bergerak cepat mengeluarkan beberapa macam cemilan dari dalam keresek besar.
"Iya sih, dulu bibi juga begitu Non, waktu lagi nyusuin si Farhan sama si Dinda, bawaannya pengen makan terus." ucapnya terkekeh.
"Sama dong, kita ya bi." ikut terkekeh.
"Oh iya Non, Non kan udah selesai Nifas, den Syahki nya bobo sama bibi aja ya, terserah mau berapa malam, bibi nggak keberatan kok, lagian kan ASInya banyak di freezer, bibi tinggal menghangatkan saja."
"Maksud Bibi?" Nada bertanya dengan kening berkerut.
"Ah si Non, masa nggak ngerti?" bi Mimin tersenyum menggoda.
"Biasanya kan kalau habis nifas itu, 40 hari pengantinan lagi Non, sama den Ando." bi Mimin semakin terkekeh, sembari menyatukan kedua telunjuknya.
Sedangkan Nada wajahnya sudah merona tersipu malu.
"Wah, bibi pengertian banget sih, boleh tuh bi, titip Syahki ya bi." dengan tidak tahu malunya Ando yang baru datang ikut menyahut.
Dan ia mengedipkan sebelah matanya, kala mendapat tatapan tajam dari sang istri.
"Kangen tahu!" bisiknya, membuat Nada semakin merona malu, melirik kearah bi Mimin yang sedang senyum-senyum sendiri.
"Abang ihs!" akhirnya ia pun mengeluarkan jurus ganasnya, mencubit perut Ando hingga mengaduh kesakitan.
Namun, bukannya marah, kini justru Ando semakin gencar untuk menggodanya.
Selesai menata belanjaan, kini Nada kembali kekamar, untuk melihat baby Syahki yang sedang tertidur dengan lelap dikamarnya.
Berganti pakaian, dengan yang lebih santai, berdiri didepan cermin untuk menyisir rambutnya, lalu diikatnya asal.
Bersamaan dengan Ando yang membuka pintu kamar, dan menutupnya kembali dengan pelan, khawatir berisik, dan membuat bayinya terbangun.
"Istriku makin cantik aja sih!" ucapnya memeluk pinggang ramping sang istri dari belakang, sedangkan wajahnya ia tenggelamkan di ceruk leher Nada.
"Gombal ah abang, basi tahu!" menepis pelan tangan Ando dari pinggangnya.
Namun tak berhasil, karena pegangannya terlalu erat.
"Udah siap?" ucapnya, dengan nafas memburu, bahkan ia sama sekali tak menghiraukan ucapan Nada selanjutnya.
__ADS_1
"Siap apaan?" Nada sempat menoleh kearahnya, yang justru membuat wajahnya semakin tak berjarak dan bahkan saling bersentuhan.
"Nanti malam titipin baby sama bi Mimin." bisiknya.
"Abang?"
"Please, sayang!" mata itu menunjukan sorot permohonan.
Ada rasa tak tega dalam diri Nada saat menatapnya, ia pun akhirnya mengangguk pasrah.
Karena memang itu adalah hak suaminya.
"Setuju nih?" lanjutnya girang.
"Biar aku yang ngomong ke bibi ya!" Ando pun hendak pergi, namun Nada terlebih dulu menahannya.
"Aku aja yang ngomong bang, sekalian mau nunjukin persediaan ASI dan cara ngangetinnya." tutur Nada.
"Beneran?"
Nada mengangguk, dan bergegas pergi.
...
Ketika sampai di dapur, selama beberapa menit, Nada hanya diam memandangi punggung bi Mimin yang sedang mencuci piring diatas kitchen sink.
Hingga kedatangan mang Jajang yang hendak membuat kopi, membuyarkan lamunannya.
"Non, kok bengong, butuh sesuatu bukan, kok malah diem aja?" seru mang Jajang, sembari mengambil gelas dan mengambil satu bungkus kopi hitam lalu diseduhnya, menggunakan air panas dari dispenser.
"Eh, saya ada perlu sama bibi sebentar mang."
"Oh yaudah atuh sok Non," mang Jajangpun bergegas kembali keluar, dengan membawa secangkir kopi ditangannya.
Bi Mimin pun mematikan keran, lalu menoleh kearahnya.
"Ada apa non, butuh sesuatu?"
"Emm, itu bi." ia terdiam sesaat, rasanya tidak enak dan memalukan bagi Nada.
"Nanti malam saya titip Syahki ya bi." ucapnya kemudian, sembari menggigit bibir bawahnya menahan malu.
"Makasih banyak ya bi, maaf merepotkan."
"Sama sekali nggak merepotkan Non, jangan lupa si adennya dikasih jamu kuat, biar tahan sampai pagi." lanjutnya masih dengan disertai tawa.
"Bercanda kok non." sambung bi Mimin, ketika melihat wajah Nada berubah merah merona.
Bi Mimin bisa memaklumi, wanita seusia Nada belum terbiasa bercerita apa adanya tentang hal yang berbau intim.
"Yaudah bi, kalau begitu saya permisi."
"Silahkan Non!"
....
"Abang aku malu!" keluh Nada ketika sudah kembali kekamarnya.
"Malu kenapa sih sayang hm?" Ando mengusap pelan pipi sang istri.
"Tadi bi Mimin godain aku terus." Nada mengerucutkan bibir.
"Godain gimana, maksudnya?"
"Bi Mimin bilang, abang suruh dikasih jamu kuat, biar tahan sampai pagi."
Mendengar ucapan Nada, sontak membuat Ando membelalakan mata, dan detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.
"Abang ihs, nggak lucu tahu!" Nada semakin mengerucutkan bibirnya kesal, melihat tingkah laku suaminya.
"Serius bi Mimin bilang gitu?" Ando berbicara masih dengan disertai tawanya.
"Tahu ah, malah berisik ihs, nanti dedenya bangun abang!"
"Terus gimana,?"
"Gimana apanya?" Nada memandangnya kesal.
"Saran bi Mimin, mau dicoba nggak?" mendorong pelan tubuh Nada dan memepetkannya di dinding.
"Saran apa?"
__ADS_1
"Minum jamu kuat." mengedipkan sebelah matanya, rasanya ia sudah lama tidak menggoda sang istri dengan candaan seperti itu.
"Abaaaangggg!"
...
...
..
Pukul 21:00, Setelah menitipkan baby Syahki pada bi Mimin, kini Nada mendadak gugup dan gelisah dikamarnya.
rasanya sama seperti ia akan melakukan malam pertama dulu.
Akhirnya ia pun memutuskan mandi lagi, untuk menghilangkan perasaan gugup yang membuat kepala dan hatinya sama-sama berdenyut.
Setelah selesai mandi, Nada menggunakan gaun tidur tipis, berwarna peach.
lalu memoles wajahnya dengan sedikit riasan make up.
Pukul 21:26 Ando masuk kamar, wajahnya terlihat sangat lelah, karena tadi habis membantu karyawannya yang keteteran di bengekel.
"Abang udah pulang?" Ando yang hendak masuk kekamar mandi menoleh kearah suara.
Ia yang semula merasa lelah, tiba-tiba badannya terasa segar seketika, kala melihat penampilan sang istri yang tidak biasanya.
Wajah Nada terlihat lebih segar dan bersinar, dan yang membuatnya terlihat lebih menawan adalah, gaun tidur tipis yang sedang dikenakannya.
Bahkan kini dirinya harus menelan ludah berulang kali dengan susah payah.
"Sayang?" ucapnya dengan suara parau, hendak menghampirinya.
"Mandi dulu, baru mendekat, bau tuh!" cibir Nada.
dan berhasil membuat langkah Ando terhenti.
"Ok aku mandi, tunggu aku sayang!" ucapnya, secepat kilat melompat kearah kamar mandi.
Usai Mandi Ando keluar menggunakan handuk yang melilit dipinggangnya, mendekat kearah Nada, yang sedang duduk diatas kasur dengan setengah badan terbalut selimut.
"Pake baju dulu gih." Nada kembali menahan tubuh Ando yang hendak mendekat.
"Kok pake baju sih yang ngapain?"
"Nanti juga dibuka?"
"Tapi-"
Ucapan Nada terpotong, karena Ando sudah lebih dulu membungkam bibir Nada dengan bibirnya.
Seakan tak ada puasnya, Ando terus melahap bibir mungil sang istri, seolah sedang melampiaskan hasrat menggebu yang ia tahan, selama hampir dua bulan ini.
"Sekarang, boleh kan?" ucapnya ketika sudah melepas pagutannya, meski sedikit tak rela, ia bertanya untuk memastikan kesiapan sang istri untuk kembali disentuhnya.
Sorot mata menawan itu berhasil membuat Nada tersihir, tanpa ia sadari ia mengangguk patuh dibawah rengkuhannya.
Tanpa menunggu lama lagi, Ando pun segera melancarkan aksinya, menyentuh bagian-bagian sensitif sang istri dan menjelajahi tempat favoritnya.
Membuang kain tipis di tubuh istrinya, hanya dalam satu kali tarikan.
Sedangkan Nada hanya bisa memejamkan mata, menerima setiap sentuhan Yang diberikan Ando, yang membuatnya kini lupa segalanya, selain perasaan menggebu dan bergelora.
Dan ia semakin tak bisa terkendali, kala Ando mulai melakukan penyatuannya.
Berulang kali ia hanya bisa menjerit, menikmati desakan dari Ando yang terasa memabukan..
Dan kini tubuhnya semakin tak berdaya, kala Ando memintanya.
Lagi, lagi dan lagi.
.
.
Hallo Readers tercinta, salam sayang untuk kalian semua😘😘😘
Semoga sehat selalu🤗
.
.
__ADS_1