
"Nggak bisa Ra, walau bagaimanapun dia sudah seperti darah dagingku sendiri, jangan pernah berfikir kalau dia terlahir karena sebuah kesalahan yang tidak diinginkan."
Samar-samar terdengar seseorang yang sedang mengobrol di samping pintu dapur, Nada yang merasa haus dan hendak mengambil minum tiba-tiba menghentikan langkahnya.
Siapa yang sedang mengobrol di dapur malam-malam begini fikirnya. karena saat terbangun tadi ia sempat melirik jam dinding menunjukan pukul 1:17 dini hari.
Ia mencoba mengintip dari balik tembok pembatas menuju dapur, hal yang pertama kali dilihatnya adalah punggung seseorang yang membelakanginya sedang mengobrol lewat telpon.
"Papa?" ucapnya pelan, iya yakin itu adalah papa Jordy papa mertuanya. yang entah sejak kapan berada dirumah, karena setahunya beberapa hari kemarin ia sedang mengunjungi adiknya yang sedang sakit, yang berada di Sukabumi.
Ia menunduk sembari berfikir dalam, tanpa ia sadari sang papa mertuanya telah melangkah mendekatinya.
Bersamaan dengan kesadarannya yang sudah kembali dari lamunannya, ia melihat kearah depan. dan, ia hampir memekik kaget melihat papa mertuanya sedang menatapnya dengan expresi wajah yang tak ia mengerti, dengan tangan yang memegangi cangkir berisi kopi yang tersisa setengah.
"Nada apa kabar, gimana kabarnya sehat, dan apa Ando juga sehat? tanyanya dengan Nada suara yang terdengar bergetar ditelinga Nada.
"B-baik pa, papa kapan pulang?" tanya Nada sedikit terbata.
"Semalem papa pulang sekitar jam 9nan, dan dirumah sepi, papa fikir kalian sudah pada tidur, jadi papa pun memutuskan untuk segera masuk kamar dan beristirahat, Ngomong-ngomong Nada sedang mencari apa malam-malam begini?"
"Ohh..itu eumz N-nada mau ambil minum pa, haus. sore Nada lupa bawa pa." Ucapnya kaku.
"Yaudah sekarang Nada minum dulu, abis itu tolong temuin papa diruang kerja, ada yang ingin papa bicarakan. papa tunggu ya Nad!" ucapnya sembari berjalan meninggalkan Nada yang masih terbengong heran.
Tumben, ada apa ya? hatinya sudah berdebar was-was dengan fikiran yang dipenuhi dengan kegelisahan, apa samarannya kemarin ketahuan kah? Atau tante Riana ceritakah tentang dirinya yang diam-diam datang menemuinya kemarin!
Ia pun segera beranjak mengambil segelas air dingin dari kulkas, mudah-mudahan dengan begini bisa menyegarkan fikirannya yang berkecamuk tak karuan.
Setelah meneguk segelas air dingin hingga tandas tanpa sisa, Nada pun memutuskan untuk menemui papa mertuanya diruang kerjanya.
"Tok..tok..tok"
"Masuk aja Nad,!"
"Pa,?" ucapnya pelan saat telah membuka pintu.
"Sini, ayo duduk!" ucap papa jordy menyuruhnya duduk di kursi putar dihadapannya.
"Baik pa" ucapnya pelan dengan wajah sedikit menunduk. bahkan saat ia mulai duduk ia merasa seluruh tubuhnya mendadak menggigil panas dingin, ia seperti seorang terdakwa yang tengah menghadapi keputusan hakim.
__ADS_1
Ia berusaha menautkan jari- jemarinya untuk menghilangkan kegugupannya.
"Nada tahu kenapa papa panggil Nada kesini?" ucap papa dengan raut wajah yang berubah sendu.
Nada menggelengkan kepala sebagai jawaban, karena jelas memang ia tidak tahu kenapa papa Jordy mengajaknya bicara ditengah malam begini.
"Tadi sore papa nggak sengaja iseng membuka Cctv, dan papa jelas melihat ada Nada disana, 2 kali memasuki gudang."
Deg!
Mati gue! ucap Nada dalam hati.
"Dan papa rasa Nada sudah melihat semuanya!"
Nada terkesiap, mendongak menatap wajah papa mertuanya.
"Nada mau denger cerita papa nggak?" tanyanya dengan suara pelan.
Nada pun hanya mengangguk sebagai jawaban.
*Flashback on*
Seorang gadis muda berparas manis dan cantik, dengan menggunakan dres bunga-bunga berwarna biru dibawah lutut dengan rambut panjang sepinggang yang ia biarkan tergerai indah, duduk di sebuah bangku taman, menunggu kedatangan kekasihnya.
Ia pun memutuskan untuk menunggunya sebentar lagi, khawatir kekasihnya mencarinya jika ia tak ada disini, saat kekasihnya tiba-tiba datang.
"Hai Ri, sendirian aja ni, mana pacar kamu yang sok cool yang selalu kamu banggain itu, udahlah Ri dia nggak bakalan datang, mendingan kita senang-senang yuk!" Ajaknya sembari menjawil dagu Riana.
Riana yang merasa kesal pun, menepis kasar tangan Marco.
"Jangan macam-macam Marco!" teriak Riana kesal. ia berusaha mendorong tubuh Marco yang lagi-lagi mendekatinya dengan tidak tahu malunya.
"Terus kamu mau apa, teriak??" ucapnya dengan nada mengejek.
"Silahkan teriak, tidak akan ada yang mendengar, asal kamu tahu sayang disini tidak ada satu orangpun yang lewat!" ucapnya sembari tertawa. sebuah tawa yang terdengar menakutkan ditelinga Riana.
"Toloonnggg.. toloongggg..." teriak Riana kemudian, sementara Marco masih dengan tawanya dengan tangan bersidakep.
Marco pun akhirnya memeluk paksa tubuh Riana. meski Riana tak henti-hentinya berontak minta dilepaskan.
__ADS_1
"Cewek kurang ajar, Cih, sok jual mahal!" Tangannya bergerak menampar keras pipi Riana. hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Riana mulai histeris menangis sekeras mungkin, berharap Marco mau melepaskannya.
Marco yang hatinya sudah tertutup aura jahat, tanpa mempedulikan tangisan dan permohonan Riana, ia pun menyeret Riana kedalam semak-semak di pinggiran taman yang hampir tak terawat itu, dan ia melancarkan Aksi bejad nya terhadap Riana disana.
"Ri...Riana..!" Teriak jordy, saat mendapati gadis pujaan hatinya tak ada disana.
"Hahaha." tiba-tiba gelak tawa dari seseorang yang seperti di paksakan muncul dari balik semak-semak.
Membuat Jordy menggerenyit heran.
"Lo datang terlambat man, hahaha!" ucapnya masih dengan tawa dipaksakannya menepuk bahu Jordy.
"Gila lo!" ucap Jordy jengah. "Apa maksud lo?"
"Gue nggak bisa dapetin cintanya, tapi barusan gue dapetin milik berharganya hahaha." tawa Marco kian mengeras.
"Apa maksud lo berengsekkk!" jordy menarik kuat kerah baju Marco.
"Gue senang lihat lo hancur, seperti elo yang udah hancurin hidup Adek gue!" ucapnya tepat dihadapan wajah jordy.
"Lihat kekasih tercinta elo baik-baik." tunjuknya pada Riana yang sedang menangis tersedu-sedu, dengan keadaan baju yang sudah sobek dimana-mana serta rambut yang sudah acak-acakan tak karuan.
Jordy melotot tak percaya, menatap sedih keadaan kekasihnya yang terlihat mengenaskan.
"Lo apakan cewek gue!" teriak Jordy menatap Marco dengan tatapan membunuh.
"Menurut lo?" ucapnya tersenyum sinis.
Bugh..bugh..bugh..
Jordy memukuli Marco membabi buta. dan disaat Marco mencoba melarikan diri, dengan sigap jordy pun segera mengejarnya.
Disaat keduanya saling berkejaran, dari Arah yang lumayan jauh dari taman. tiba-tiba sebuah mobil yang sedang melaju kecepatan tinggi menabrak tubuh marco hingga terpental jauh.
Jordy melihat Ada begitu banyak darah bersimbah disekujur tubuh Marco, dan disaat supir pengemudi truk tersebut turun, bersamaan para warga sekitar yang ikut menyaksikan, dan memeriksa Marco.
"Inna lillahi wa inna illaihi raji'un" ucap salah satu warga yang turut menjadi saksi kecelakaan maut yang menimpa Marco.
__ADS_1
"Sepertinya dia sudah meninggal, apa kamu mengenal orang ini?" tanya warga pada Jordy yang sempat melihat ia berkejaran sebelum kecelakaan terjadi.
***