
Berbagai macam kesibukan telah Nada coba, seperti: memberi makan kelinci, membantu bi Mimin masak, membantu mang Daman menyiram tanaman dan terakhir mengobrol dengan mang Jajang.
Namun semua itu tidak mengurangi rasa jenuhnya seharian berada dirumah, karena sebelum menikah dia lebih banyak menghabiskan waktu bermain, shopping dan jalan-jalan bersama teman-temannya.
"Bi, itu ruangan apa sih?" tanya Nada pada bi Mimin yang sedang mengelap meja makan.
"Itumah gudang Non, jangan kesana kotor, banyak kecoanya, tikus juga!" ucap bi Mimin mengingatkan.
"Tapi aku penasaran, boleh masuk nggak sih bi?"
"Ya boleh aja, tapi kotor Non, Selama 7 tahun bibi tinggal disini, bibi juga pernah masuk sekali doang, yakin Non Nada mau masuk kesana!"
Nada mengangguk dengan mata berbinar.
"Nggak apa-apa bi, saya mau."
"Yaudah Non tunggu sebentar disini, bibi ambilkan dulu kuncinya ya!"
"Iya bi."
__ADS_1
Tidak berapa lama bi Mimin membawa kunci ditangannya lalu bergegas membuka pintu gudang tersebut.
Dengan tidak sabaran, Nada pun segera masuk, sesampainya didalam gudang ia melihat-lihat barang yang sepertinya sudah tak terpakai. dan dipenuhi debu yang sudah menebal. ia terus berkeliling melihat-lihat seisi gudang tersebut yang memang lumayan besar.
Lalu tangannya terulur membuka kain penutup yang membentang menutupi tumpukan lukisan yang terlihat menarik dimatanya.
Ada begitu banyak berbagai macam lukisan yang berada disana, diantaranya ada lukisan hewan-hewan seperti: kuda putih, harimau, dan singa, siraja hutan.
Namun matanya tertuju pada satu lukisan perempuan yang sedang tersenyum manis, yang berada ditumpukan paling bawah. perlahan tangannya terulur mengambil dan mulai mengamati lukisan tersebut lalu membaliknya.
Kekasih tercinta, Rania dwi lestari.
Begitulah tulisan yang tertera dibelakang lukisan tersebut.
"Perasaan nama mama Indri, Aira indriana. terus ini siapa?" tanyanya pada diri sendiri.
Tak ingin pusing memikirkan tentang Nama sipemilik lukisan tersebut, Akhirnya Nindy memutuskan untuk melanjutkan melihat-lihat seisi gudang.
Hampir setengah jam berkeliling melihat-lihat isi gudang yang kebanyakan barang kuno didalamnya, persis seperti yang ada di Villa kakek kemarin. selanjutnya ia melihat-lihat buku-buku yang berjejer rapi di dalam rak yang sudah lapuk dan usang.
__ADS_1
Kemudian tangannya terulur mengambil salah satu buku yang bersampul coklat tua, ia membuka lembar demi lembar buku tersebut. yang sudah lengket dan bolong kecil-kecil di setiap sisinya, akibat termakan usia dan lama tak tersentuh.
Pluk!..
Sebuah Amplop jatuh, dari sela-sela buku yang dipegang Nada, saat hendak mengembalikannya ketempat semula.
Nada meraih Amplop tersebut dengan tubuh yang setengah berjongkok. lalu kembali berdiri, dan menimbang-nimbang isi Amplop tersebut.
Karena didorong rasa penasaran yang kuat Akhirnya Nada membuka isi Amplop tersebut yang ternyata sudah terbuka tanpa perekat.
Perlahan ia membuka lipatan kertas dari isi Amplop tersebut lalu membacanya.
^^^Teruntuk kekasihku, Rania dwi lestari.^^^
*Rania sayang, meskipun aku telah menikah dengannya. Namun, cintaku untukmu tidak akan pernah hilang, selamanya namamu Akan tersimpan rapi dihati!
tunggu aku kembali menjemputmu, dan hidup berbahagia bersama anak kita*.
...jordy pratama...
__ADS_1
Nada mencoba menajamkan penglihatannya, membaca isi surat tersebut berulang kali. Nafasnya terasa berat, beriringan dengan degup jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Mama Indri?" gumamnya, setetes Air mata jatuh di pipi Nada.