Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Hari Bahagia Mama Indri


__ADS_3

"Mulai sekarang, kamar ini resmi menjadi milik Gilang, terserah mau di desain seperti apa," seru Rendra, saat ia sudah membawa Gilang kerumahnya.


Hari ini Gilang benar-benar pindah kerumah Rendra, meski ia berusaha menolak dengan alasan memiliki Riana dan papa Jordy cukup baginya, sebagai pelengkap keluarganya.


Namun, diluar dugaan Riana justru malah memaksanya untuk ikut, dan tinggal dirumah Rendra.


"Gilang akan lebih baik kalau ikut sama papa Rendra, kehidupan Gilang akan tercukupi disana."


"Gilang juga akan menempuh pendidikan yang terbaik suatu hari."


"Sedangkan disini, hidup Gilang akan terlunta-lunta, karena mama dan ayah sudah tak mempunyai apa-apa."


Begitulah kata-kata yang diucapkan


Riana untuknya, hingga membuatnya memutuskan untuk ikut dengan Rendra.


meskipun berat!


Ia bukan takut miskin, atau takut hidupnya tak terjamin, tapi mendengar penuturan mama yang terakhir, membuatnya berpikir, bahwa ia sudah cukup menyusahkan mereka selama ini.


"Sini nak, papa mau ngasih tahu sesuatu sama Gilang," menepuk sisi ranjang disebelahnya, yang sedang ia duduki.


Dengan ragu, Gilangpun menghampiri dan mendudukan dirinya disana.


Rendra merogoh sesuatu dari saku jasnya, lalu menghela nafas berat, sebelum mengucapkan sesuatu pada Gilang.


"Ini, buat Gilang!" menyerahkan selembar foto lama ketangan Gilang.


"Siapa ini om, eh P-pa?"


"Foto mama!"


"M-mama?" Gilang melirik kearahnya sekilas, lalu ia memandangi foto tersebut dengan diam.


"Mama pergi nak, sewaktu Gilang masih bayi, bahkan mama juga yang sudah meninggalkan Gilang didepan sebuah panti." Ada perasaan sakit, dan tak tega, ketika ia harus menceritakan kenyataan pahit itu pada putranya.


Namun, ia tidak ingin menyembunyikan kebohongan pada Gilang, Gilang berhak tahu semuanya.


Gilang terdiam, dengan wajah yang berubah sendu, ia sama sekali tidak menyangka, bahwa kehadirannya sangat tidak diharapkan oleh sang mama.


"Papa tidak menikah lagi?" ucapnya tiba-tiba, yang sontak membuat Rendra syok, sekaligus bingung.


"Kenapa papa nggak nikah lagi aja, mama udah pasti nggak akan kembali kan pa?"


"Emang Gilang setuju, kalau papa nikah lagi?" Ucapnya ragu-ragu.


Gilang mengangguk, "Setuju aja kenapa nggak?"


"Gilang serius?" Rendra antusias.


"hmm!"


"Makasih sayang," Rendra memeluknya dengan perasaan bahagia.


"Yaudah, kalau gitu Gilang istirahat, papa keluar dulu sebentar, kalau butuh apa-apa, panggil aja bibi, mereka ada dibelakang ya!"


"Iya pa!"

__ADS_1


Setelah kepergian Rendra, Gilang merebahkan tubuhnya dengan berbantalkan tangannya, menatap langit-langit kamar, yang sudah tidak asing lagi baginya, mengingat ia pernah menempati kamar tersebut beberapa waktu lalu.


Sewaktu pertama kali ia bertemu Rendra.


Ayah kandungnya!


Semua yang secara tiba-tiba terjadi dalam hidupnya, membuat ia tak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kedepannya.


Orang tua angkat


Ayah kandung


Calon mama tiri


Kenapa juga papa Rendra tidak menikah saja dari dulu, batinnya.


Entahlah, ia tak mau pusing untuk memikirkannya.


*********


.


Dan setelah seminggu berlalu, kini telah sampai pada waktu yang ditentukan.


Yaitu, Pernikahan Rendra dan mama Indri.


Pernikahan sederhana itu, hanya dihadiri keluarga inti serta beberapa orang saja, atas permintaan mama Indri, yang tidak ingin berlebihan dan terlihat ramai.


"Malu mas, kita ini udah berumur, sekarang bukan lagi waktunya untuk terlihat seperti pengantin baru yang masih muda, yang harus terlihat seperti Raja dan Ratu, dan narsis ketika seseorang mengajak berfoto."


"Yang penting sah, dan menjadi keluarga bahagia kedepannya."


"Mama cantik banget ya bang, berasa masih muda banget." bisik Nada, setelah mama Indri dan Rendra duduk berdampingan hendak memulai Ijab Qabul.


"Mama siapa dulu dong!" balas Ando, bangga. sembari mendudukan dirinya disamping Nada, setelah membimbing mama Indri dari kamar, ke ruang tengah.


Karena acaranya dilaksanakan di rumah mama Indri yang dibandung.


"Kayanya abang bukan anaknya deh," Nada terkekeh pelan.


"Sayang ah." menggenggam lembut tangan istrinya.


Usai melakukan Ijab Qabul, kini mama Indri dan Rendra, menyalami beberapa tamu yang hadir disana.


Dan kehadiran sepasang tamu yang datang paling terakhir, sukses membuat Mama Indri, merasakan kembali luka sayatan dihatinya.


Bukan karena ia masih cinta dan masih mengharapkan orang tersebut.


Bukan!


Melainkan karena, pengkhianatan yang dilakukannya di masa lalu, masih begitu membekas dihatinya.


****


"Abang, siapa yang undang papa kesini?" bisik Nada, ketika melihat papa Jordy dan Riana semakin dekat kearah mereka.


"Bukan aku sayang, aku juga nggak tahu kenapa mereka bisa ada disini."

__ADS_1


"Ihs, terus siapa dong," Buru-buru Nada menghampiri mama Indri yang sudah terlihat pucat memandang papa mertuanya tersebut.


"Mama tenang ma, mama jangan lagi ingat kenangan dimasa lalu, tapi sekarang tataplah om Rendra, yang akan menjadi kehidupan baru mama yang penuh kebahagiaan dimasa depan." bisik Nada.


Dan genggaman Nada ditangannya, membuat mama Indri sedikit tenang, dan ia mencoba memaksakan diri untuk tersenyum, betul yang dikatakan Nada, untuk apa ia melihat masa lalu, yang harus ia fokuskan sekarang adalah menata hidup barunya dengan Rendra. batin mama Indri.


"Eh pak Jordy, bu Riana, terima kasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang keacara bahagia saya." seru Rendra, saat mereka berjabat tangan.


"Ternyata dunia memang sempit ya, apa maksudnya coba ini?" gumam Nada.


"S-sama-sama pak." balas Riana dengan tangan bergetar, kala bersitatap dengan pengantin wanitanya.


Sementara papa Jordy, terdiam dengan tubuh yang menegang, setelah sekian lama tak bertemu, dengan wanita yang berulang kali ia sakiti, wanita dihadapannya kini, nampak cantik, anggun, dan terlihat lebih fresh dibanding saat terakhir ia bertemu sebelumnya.


Jika keduanya nampak canggung dan syok, namun justru sangat berbeda dengan mama Indri, yang terlihat biasa-biasa saja, senyum yang terkembang dibibirnya seakan menghiasi keseluruhan wajah cantiknya.


"Mereka orang tua angkat Gilang, putraku In." bisik Rendra.


Deg!


Ia kembali dikagetkan, dengan ucapan Rendra barusan, YaAllah mengapa dunia ini terasa begitu sempit, Batin mama Indri tak percaya.


"Bahagia selalu ya pak, bu, sampai maut memisahkan."


"Sakinah mawaddah warohmah."


"Langgeng ya,"


Dan banyak sekali, ucapan-ucapan dari tamu dan saudara-saudara lainnya, mendo'akan kebahagiaan kedua mempelai tersebut.


...


"Mama sama papa pulang duluan ya sayang, papa mau kekantor, mama juga mau ketoko, jaga baik-baik cucu mama, jangan lupa makan-makanan yang sehat."


Seru mama Sarah mencium dan memeluk Nada, ketika acara hampir selesai.


"Iya ma, hati-hati, Nada sama Ando juga bentar lagi pulang kok."


"Ok sayang!"


*******


.


"Pegel nggak kakinya?" seru Ando, ketika malam hari keduanya sudah berbaring diatas tempat tidur ternyaman milik mereka berdua.


Khawatir jika istrinya merasa kelelahan, setelah menempuh perjalanan jakarta-bandung, bolak-balik dihari yang sama.


"Dikit!"


Ando pun segera beringsut, dan menyentuh kaki Nada, lalu dipijitnya secara pelan dan perlahan.


"Bang, ternyata yang undang papa tadi, om Rendra ya, kok bisa kenal gitu ya?" rupanya Nada masih penasaran dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Mungkin om Rendra kenal kali sama papa, kan sama-sama dibandung." balas Ando.


.

__ADS_1


.


__ADS_2