Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Rasa yang menyakitkan


__ADS_3

"Apa karena hal ini yang membuat mu datang kesini menemui aku mas?" Ucap mama Indri dengan tatapan lurus ke depan.


Papa jordy suami atau mantan entah apa sebutannya, Yang jelas saat ini ia menganggap tak lagi punya ikatan yang pasti dengan laki-laki tersebut, satu jam yang lalu ia menghubunginya mengajak bertemu direstaurant milik mama Indri.


"Ando sudah tahu semuanya, dan Ando


marah besar padaku In, apalagi kemarin aku nggak sengaja melukai Nada."


"Ando udah tahu, dan N-Nada kenapa?" ucap mama Indri terkesiap.


"Aku nggak sengaja In,"


"Kamu apakan Dia, terus sekarang gimana keadaannya?" Mama Indri terlihat panik.


Papa jordy menggelengkan kepala lemah, "Aku nggak tahu, tapi kemarin dia mengeluarkan banyak darah."


"Apa? terus bagai mana bisa kamu sesantai Ini sih, aku harus lihat keadaan Nada sekarang." Mama Indri hendak beranjak dari duduknya.


"Tunggu In, aku mohon tolong bantu bujuk Ando agar mau memaafkan kesalahan ku." Ucapnya memelas.


Cih!


Mama Indri mendecih sebal, lalu menghela nafas beratnya.


"Kamu suruh aku memohon pada Ando atas kesalahan kamu mas, sementara kamu sendiri tidak ada Inisiatif meminta maaf secara langsung, terlebih setelah Ando udah tahu semuanya dan berakhir melukai Nada." Ucap mama Indri setengah tertawa.


"In?"


"Kamu tahu mas, selama 7 tahun aku dibenci putraku sendiri, menutupi semua kelakuan busuk kamu, dan selama itu juga aku harus mengobati lukaku sendirian, bahkan hampir 14 tahun, terhitung dari Ando umur 5 tahun bukan? aku fikir mungkin sekarang waktunya kamu ikut merasakan apa yang aku rasakn kemarin.


"In, aku-"


"Selama ini aku mengalah bukan karena kamu mas, tapi demi Ando anakku, meskipun pada akhirnya aku harus kehilangan dia, kamu nggak tahu rasanya dibenci oleh seseorang yang sangat kita cintai bukan?"


"Kamu tahu, Rasanya sangat menyakitkan,"

__ADS_1


"Aku seperti kehilangan dua orang yang penting dalam hidup aku sekaligus"


"Memiliki seorang suami tapi seperti tak memiliki."


"Mencari Nafkah sendirian."


"Berjuang sendirian."


"In?"


"Kenapa mas, apa kamu merasa belum cukup membuat aku terluka selama ini, kamu menduakan aku, menggantung hubungan kita." Ucap mama Indri dengan suara bergetar.


"Kalau kamu bertanya apa aku menyesal menikah dengan kamu, jawabannya Adalah sangat menyesal! seharusnya aku bisa mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari kamu dulu." Mama Indri mati-matian membendung Air matanya Agar tidak sampai jatuh.


Ia tak sudi lagi jika harus menangisi laki-laki bajingan di hadapannya, 7 tahun ini sudah cukup.


Tidak akan lagi!


Papa Jordy tertunduk lesu ditempatnya, Apa benar seburuk itu dirinya di mata mama Indri, dan apakah yang mama Indri utarakan semuanya barusan adalah bentuk dari rasa sakitnya selama ini, apa separah itu luka yang di Alami Istri pertamanya tersebut.


Lalu masih adakah pintu-pintu maaf baginya dari istri maupun putranya.


Ia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, membayangkan kembali kemarahan putranya beberapa hari yang lalu, Sebelumnya ia tak pernah melihat Ando semarah itu, bahkan selama ini putranya sangat penurut dan selalu menghormatinya.


Terbukti saat ia memaksanya menikah, ia pun tetap menuruti meski ada sedikit ancaman kecil didalamnya.


Di tambah dengan bayangan-bayangan Nada yang tergeletak dengan kepala berlumur darah menambah kesan buruk di hadapan putranya.


Dan satu tamparan yang mendarat di pipi Ando kemarin, adalah bukti nyata dari nilai minus bagi Ando, karena sejak kecil hingga usianya memasuki 19 tahun ini adalah kali pertama ia berlaku kasar padanya.


"Aku fikir semuanya sudah selesai, aku pamit pergi menengok Nada." Mama Indri beranjak dari duduknya mencangklong tasnya lalu mendorong kursi dengan kasar.


Ia menutup kedua telinganya rapat-rapat saat papa Jordy berulang kali memanggilnya. ia menganggap semua masalah ini sudah selesai.


...............

__ADS_1


Mama Indri berjalan tergesa-gesa saat memasuki sepanjang koridor rumah sakit, bahkan ia berulang kali bertabrakan dengan beberapa perawat yang sedang mondar-mandir menuju arah yang berbeda.


Saat di perjalanan sepulang dari restaurant, Ia menelpon mama sarah yang kebetulan nomornya sempat ia simpan saat bertemu di Akad nikah Ando dan Nada.


Ia menyebutkan nama rumah sakit serta ruang rawat Nada.


"Nada, yaAllah Nak, kenapa nggak kasih tahu mama sih kalau kamu celaka begini, bilang sama mama bagian mana yang sakit Nak?"


Dengan tiba-tiba mama Indri menerobos masuk kedalam ruang rawat Nada, tanpa menghiraukan expresi Ando yang sepertinya sangat kaget saat sedang memberikan minum dan obat pada Nada.


Nada menyentuh tangan mama Indri seraya tersenyum.


"Nada nggak apa-apa ma, besok juga udah boleh pulang, mama kok tahu Nada disini siapa yang ngasih tahu?" Ucapnya dengan kening berkerut.


"Mama minta maaf ya sayang,"


"Kok malah minta maaf sih ma!"


"Mama terlambat datang, bahkan mama juga nggak sempet bawa apa-apa, begitu tahu Nada terluka mama langsung menghubungi bu Sarah, dia bilang luka Nada cukup serius dan harus di oprasi!"


"Mama nggak usah mikirin hal lain, mama udah dateng juga Nada udah seneng banget."


"Cepet sembuh ya nak!" ucap mama Indri sembari mengusap kepala Nada sayang.


"Iya ma!" Balas Nada lalu mengangguk.


"Udah makan, minum obat?"


"Udah barusan ma, sama Ando!"


Mendengar Nama putranya disebut sontak Mama Indri menoleh kearah tatapan Nada, ia tertegun saat pandangan matanya bertemu dengan mata milik Ando.


Ia melihat raut wajah Ando yang terlihat rapuh dan terluka, melihatnya dengan keadaan seperti itu, ingin rasanya ia memeluk putranya saat ini juga namun tak bisa, karena batas dari dalam diri mereka belum terlenyapkan.


Namun diluar dugaanya Ando menghampirinya, meraih tangannya lalu menciumnya.

__ADS_1


__ADS_2