
Siang hari acara demi acara selesai, berjalan dengan sangat baik, begitupun dengan acara pelepasan siswa-siswi SMA kelas X11, serta pertunjukan seni yang ditampilkan oleh siswa-siswi kelas X dan X1.
Senyum Ando terus terkembang, meski dalam hati merasa sedih, karena harus berpisah dengan sekolah tercintanya, terutama dengan sahabat-sahabatnya.
Karena hari ini merupakan hari perpisahannya, hari terakhir dimana ia bisa berkumpul dengan keseluruhan teman seangkatannya.
3 tahun melewati waktu bersama, bukanlah waktu yang singkat baginya, dimana ia menikmati masa-masa remaja penuh makna disana, meski ia tergolong siswa yang cuek terhadap teman wanitanya, namun dalam hati ia menyimpan memory tentang indahnya kebersamaan.
Ia yang hampir menangis, karena terbawa suasana haru, terlebih mendengar isak tangis teman-temannya yang saling berpelukan seolah berat untuk berpisah dan belum siap kehilangan, memancing sebuah rasa yang teramat dalam.
Dan diiringi sebuah lagu yang dinyanyikan oleh siswa-siswi kelas X dan X1 membuat suasana terasa semakin haru.
..
..
Tiga tahun telah kita bersama
Jalani kisah yang indah
Bersama telah dilalui semua
Suka duka telah kita rasa
Bagiku kau teman terbaikku
Tempatku tuk berbagi luka
Walau kini kurasa aku resah
Karena kita akan berpisah
Angel 9 band-masa SMA
Setiap pertemuan, pasti ada perpisahan..
Dan mungkin jika suatu hari bertemu kembali, keadaannya sudah berbeda, semuanya tak lagi sama.
Dipintu gerbang sekolah, mama tersenyum seraya melambaikan tangannya, dengan di temani om Rendra yang berdiri disampingnya.
Kelulusan kali ini terasa sangat berbeda bagi Ando, meski mama sudah hadir mendampinginya, namun tetap terasa ada yang kurang, karena ketika kelulusan SD dan SMP ia selalu ditemani papa, yang selalu memberi semangat serta tatapan bangga terhadapnya.
Jelas, tak bisa ia pungkiri, sosok papa adalah hal yang penting juga yang selalu ia harapkan setiap waktu.
Seburuk apapun dia, baginya ia tetaplah pahlawan dalam hidupnya.
Tanpa ia sadari mama telah mendekat menghampirinya, bahkan mengusap air matanya yang juga tak terasa, mengalir begitu saja tanpa seizinnya.
Mama memeluknya, bersama isakan tangisnya yang mulai terdengar rapuh di telinga Ando.
"Selamat ya sayang, selamat anak mama, kamu adalah yang terbaik, mama bangga padamu nak!"
"Dan diatas sana, papa juga pasti merasa sangat bangga memiliki putra seperti kamu nak!" lanjut mama, yang semakin terisak.
__ADS_1
Begitu juga dengan om Rendra, yang ikut memeluknya sembari menepuk-nepuk pelan pundaknya.
Mama Indri tahu betul perasaan Ando saat ini, ia yakin bahwa sejak tadi Ando banyak melamun, seperti sedang berusaha mengingat-ingat sesuatu hal yang sempat terlupakan.
"Acaranya udah selesai kan nak, kita pulang ya?"
Ando mengangguk, pagi tadi ia tidak membawa motornya, karena diantar oleh mang Jajang, menggunakan mobil.
...
...
Ando memasuki rumahnya masih dengan perasaan haru, sedangkan om Rendra dan mama Indri usai mengantarnya pulang, mereka langsung berpamitan untuk kembali ke Bandung.
"Aduh si Aden kasep, yang sudah nggak berstatus lagi anak SMA, cie selamat ya den, bibi teh ikut seneng banget den!" Ucap bi Mimin, ketika berpapasan di anak tangga.
"Eh iya bi, makasih banyak bi."
"Oh iya Nada lagi ngapain bi?" lanjut Ando ketika hampir sampai diujung anak tangga terakhir.
"Lagi baca Novel den, tapi tadi sempat ngeluh pinggangnya sakit katanya."
Tanpa bertanya lagi, secepat kilat Ando berlari kearah kamarnya.
"Sayang!" ujarnya, ketika pintu kamar sudah terbuka.
"Eh, abang udah pulang?" ia menutup dan meletakan Novel yang sedang dibacanya, bergegas turun dari ranjang, dan menghampiri Ando.
"Udah sayang, tadi kata bibi pinggangnya sakit, sebelah mana?" ia membolak balikan pelan tubuh Nada.
"Beneran? apa kita cek ke Dokter aja yang, biar tahu penyebabnya apa, aku takut dedenya kenapa-napa." ucapnya khawatir.
"Ih nggak apa-apa." balasnya sembari memeluk tubuh Ando.
"Selamat ya suamiku atas kelulusannya."
"Terimakasih sayang, ingat ya, sekarang suamimu ini udah bukan anak SMA lagi." ucapnya sembari terkekeh.
"Iya deh iya." Nada balas tersenyum.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Ando tertidur dengan nyenyaknya, sedangkan Nada yang berada disampingnya terus memandangi wajah lelah suaminya tersebut.
Wajah tampan yang terkesan imut, dari pertama ia bertemu, rupanya sampai saat ini tak berubah sedikitpun bagi Nada.
Dan tiba-tiba suara nada dering yang terdengar nyaring dari ponsel Ando, membuyarkan lamunannya.
0812711xxxxx.... Calling
....
"Abanggg, dress putih aku dimana?" teriak Nada, sembari mengacak-acak isi lemarinya dengan tidak sabaran.
Karena sore ini Ando mengajaknya berkunjung kerumah orang tua Nada, untuk membahas soal acara resepsi pernikahannya.
__ADS_1
"Udah dicari?"
"Udah, tapi nggak ada."
"Yaudah entar suruh nyariin bi Mimin aja ya."
"Nggak bisa entar-entar, aku maunya sekarang, mau dipake!"
"Pake yang lain aja dulu sayang, kan dressnya bukan cuma itu, masih banyak tuh yang lain."
"Nggak mau, maunya yang itu." bentaknya hampir menangis.
"Yaudah."
"Yaudah apanya?" Nada menatapnya jengah.
"Aku panggilin bi Mimin, biar bantu nyariin."
"Ihs, nggak peka banget sih jadi cowok." Nada semakin membrengut kesal.
Ando yang bingung dengan sikap Nada hanya garuk-garuk kepala, bingung harus bagai mana?
"Yaudah, aku bantuin deh."
"Terserah."
...
"Mau makan dulu atau gimana?" seru Ando, ketika keduanya tengah berada didalam mobil, menuju rumah mama Sarah, dan papa Abidzar.
"Aku nggak mau makan!"jawabnya ketus.
"Kenapa sih sayang, dari tadi marah-marah terus, cemberut terus, aku ada salah apa sih?" Ando yang penasaran dengan perubahan sipat istrinya, menepikan mobilnya terlebih dahulu.
"Pikir aja sendiri!" Nada memalingkan wajah, enggan menatapnya, lebih memilih membuang muka menatap jalanan melalui kaca mobil di sampingnya.
"Hei sayang, kenapa sih? coba lihat aku, bilang ada apa, jelasin semuanya, biar aku ngerti salah aku dimana,?" ucap Ando lembut, sembari mengangkat dagu Nada agar menghadapnya.
"Ada apa, bilang sama aku?" lanjut Ando, tak ingin berlarut-larut bermasalah dengan istrinya.
Sedangkan Nada matanya mulai berkaca-kaca, ketika bersitatap dengannya.
"Abang selama ini udah bohongin aku kan, abang bilang nggak pernah punya pacar sebelum nikah sama aku?" memukul dada Ando kesal.
Ando yang merasa bingung dengan ucapan istrinya sesaat hanya terdiam, sembari membiarkan istrinya melampiaskan kekesalannya dengan cara memukuli dadanya.
"Udah lega?" seru Ando ketika Nada menghentikan pukulannya, dengan wajah yang tertunduk.
"Coba, sekarang jelasin, siapa yang bilang kalau aku punya pacar dulu?" lanjut Ando, ketika Nada terlihat sudah lebih tenang.
Ando menarik Nada kedalam pelukannya, sembari merapikan rambutnya yang terlihat sedikit kusut, akibat menangis.
"S-semalam ada yang nelpon ke handphone abang, dia bilang, dia nggak mau pisah sama abang, dia pengen sama-sama kaya dulu lagi, dia mau nagih janji abang yang dulu, katanya abang mau nikahin dia, maksudnya apa?" Nada kembali memukul dada Ando, bersamaan dengan rasa kesalnya yang tiba-tiba muncul kembali.
__ADS_1
"Sshhhtt! tenang sayang, biar aku jelasin semuanya, ini sama sekali tidak seperti yang kamu pikir sayang."
Ia merutuki kebodohannya sendiri, yang tidak langsung memblokir Nomor Juwita setelah beberapa hari lalu sempat menelponnya.