
"Kamu udah pernah kesini?" seru Nada, menghirup udara pagi di pantai ujung genteng.
"Baru pertama kali." balasnya santai, sembari mulai memetik gitar yang sengaja ia bawa.
Hari ini Nada dan Ando kepantai hanya pergi berdua saja, karena yang lain sedang sibuk dengan urusannya masing- masing, sedangkan mang Jajang masih kurang enak badan.
"Aku heran deh sama kamu, masa sering main ke Sukabumi tapi nggak pernah kemana-mana, rugi banget!" celoteh Nada.
"Tapi sekalinya pergi langsung bareng istri!" balas Ando, sembari memeluk tubuh Nada dari belakang, hal yang merupakan bagian hobinya saat bersama Nada.
"Kamu wangi banget yang!" Ando menyembunyikan wajahnya di leher Nada.
"Ihs kebiasaan di dalem kamar nggak usah dibawa-bawa ke tempat umum dong!" Nada mencebik kesal, sedangkan Ando terkekeh, enggan melepaskan.
"Nggak ada orang ini yang, masih sepi, cuma kita doang yang kepantai pagi buta begini." seru Ando.
"Ini udah jam 7 pagi, pagi buta dari mana?"
"Iyadeh iya."
Ando merangkul bahu Nada, membawanya untuk duduk di bangku kayu kecil yang sudah terlihat usang, namun masih kokoh untuk di duduki berdua.
"Yang!"
"Hmmm."
Ando meraih jemari Nada, dan di kecupnya jemari itu satu persatu seakan tak ingin terlewati.
"Istri aku kok makin hari makin cantik sih, bawaannya jadi pengen nempel terus!" ucapnya dengan senyum dikulum.
Blushhh..
Seketika wajah Nada merona, padahal ini bukan pertama kalinya, Ando memujinya dengan kata-kata manis dan gombalan receh lainnya.
Namun bagi Nada, semua hal manis yang di ucapkan Ando, selalu membuat jantungnya melompat tak karuan.
"Ihs gombal terus!"
"Eh serius ini yang, dari hati yang paling dalam tahu, nih dari sini!" tangannya menggenggam tangan Nada menuntunnya memegangi dadanya.
Membuat Nada berulang kali menelan salivanya dengan susah payah.
Lalu Ando meraih gitar yang dibawanya tadi dan mulai memetiknya, sembari tersenyum hangat kearah Nada.
Dan detik kemudian ia mulai menyanyikan sebuah lagu yang sesuai dengan perasaannya saat ini.
****
Dengan dirimu kini 'ku bahagia
Tak henti kau berbagi canda tawa
Hilangkan gairah lelah hatiku
__ADS_1
Hadirmu mengubah arti hidupku
Jadilah aku tawanan cintamu
Kuserahkan seluruhnya untukmu
Kupenuhi semua yang kau inginkan
Tiada yang penting selain dirimu
Sepanjang hidupku hanya ingin bersamamu
Di setiap waktu
Di setiap waktu
Sepanjang hidupku telah kurelakan dirimu
'Tuk tinggalkan aku
'Tuk tinggalkan aku
Pilot-sepanjang hidupku.
Seiring saat Ando menyanyi, beberapa pengunjung pantai sudah berdatangan, Dan kebanyakan dari mereka adalah anak-anak remaja yang sedang menikmati libur sekolahnya.
Sebagian dari anak-anak gadis remaja, menatap gemas pada Ando, sedangkan pada Nada mereka merasa sangat iri.
Diperlakukan manis di tempat umum bukanlah sesuatu yang biasa, tapi luar biasa!
Karena jarang sekali ada laki-laki yang bersikap begitu manis pada pasangannya seperti Ando, bukan jarang lagi, mungkin tidak Ada, di pandangan anak-anak remaja tersebut.
seru Ando saat selesai menyanyi, meletakan gitarnya tepat disamping tempat ia duduk.
Ando bahkan sama sekali tidak peduli pada beberapa gadis remaja yang menatap kagum padanya.
Bagi Ando tidak ada wanita tercantik diluar sana, selain istrinya.
Dimanapun ia berada seolah membutakan pandangannya terhadap wanita lain.
Karena dalam mata maupun hati Ando hanya ada satu nama yang tersimpan kokoh yaitu. Denada Sena Gantari, tidak ada yang lain, dan tidak akan pernah ada yang lain.
"Hmmmmz gimana yah."
"Kok gitu sih yang!"
"Bagus, aku bangga punya suami kaya kamu!" Nada memeluk Ando menenggelamkan wajahnya di dada hangat milik Ando.
Dan detik kemudian Ando tersenyum.
"Aku yang lebih bangga memilikimu." balasnya mengecup puncak kepala Nada berulang kali.
"Tahun ini kita berdua, tahun depan kita udah bertiga ya!" ucap Ando saat sudah mengurai pelukannya.
"Kata siapa berdua?"
__ADS_1
Ando menggerenyit tidak mengerti dengan ucapan istrinya.
"Disini!" seru Nada, menuntun tangan Ando mengarahkan kearah perutnya.
Ando yang mulai mengerti maksud istrinya tersenyum, " Oh iya ayah lupa ya dek, kan udah ada dede ya di perut bunda."
Ucapnya sembari menunduk, mencium perut Nada yang masih terlihat rata.
"Sehat selalu anak ayah, tumbuh yang sehat disana, biar cepet ketemu sama ayah dan bunda." lanjutnya, sembari tersenyum mendongak menatap wajah Nada.
"Ando!"
"Kenapa?" Ando menatap Nada, sembari menunggu kelanjutan ucapannya, berulang kali merapikan rambut panjang Nada yang terkena Angin.
"K-kamu mau aku panggil gimana biar lebih sopan." wajahnya menunduk, sembari menggigit bibir bawahnya.
"Sayang mungkin, cinta, ayang!" seru Ando.
"Ihs, bukan gitu!"
"Terus apa?"
"Panggilan yang pantas buat suami."
"Iya yang tadi aku bilang!"
"Ihs, kaya orang-orang gitu, manggilnya mas, ayah, papa, aa masa nggak ngerti-ngerti," Nada mendengus sebal.
Ando mengulum senyum, "Apa aja yang, gimana enaknya aja kamu manggilnya."
"G-gimana kalau abang?"
Ando menggerenyit, sebelah alisnya terangkat pura-pura tidak mengerti, padahal dalam hatinya bersorak girang.
"Abang ya, boleh juga!"
"J-jadi mulai sekarang aku manggilnya abang aja ya!"
"Iya sayang, makasih istriku." Ando kembali memeluknya gemas.
Seakan tidak ada bosannya berdua menikmati waktu bersama istrinya, sambil menatap indahnya ciptaan sang kuasa yang lainnya, yang kini terbentang luas dihadapan matanya.
Pantai ujung genteng.
"Abang mau kesana!" tunjuknya pada perahu yang berjejer rapi dipinggir pantai.
Dan tanpa menunggu persetujuan dari suaminya ia segera lari kearah bibir pantai.
memainkan pasir disana.
Ando menggeleng-gelengkan kepala, melihat tingkah istrinya yang terkadang terlihat seperti anak kecil.
"Untung Cinta!" gumamnya, dan bergegas menghampiri istrinya.
__ADS_1
*****
.....