
Setelah selesai makan, Ando kembali menghampiri Ruang rawat Nada.
Ia menarik kursi dan duduk disamping Istrinya. Menggenggam tangannya lalu menuntunnya untuk diletakan di pipinya, dan menciumnya berulang kali.
"Sayang bangun dong, kamu nggak cape apa tidur terus, aku kangen sama suara kamu, kangen di jutekin kamu, dan semuanya tentang kamu, aku kangen!"
"Aku butuh kamu yang!" Ucapnya dengan mata memerah menahan tangis, lalu menyembunyikan wajahnya di samping istrinya.
"An..do!"
Ia terkesiap mendengar suara lirih menyebutkan Namanya, matanya berbinar bahagia, menangis haru memeluk tubuh istrinya erat.
"Aww.." Nada meringis sembari menyentuh kepalanya.
"Sayang, mana yang sakit?" Tangannya bergerak meraba bagian tubuh luar istrinya. "Kepalanya sakit, pusing?" tanyanya Cemas.
"Aku panggilin Dokter ya!"
Nada menggeleng, seraya tersenyum kecil. "Aku nggak Apa-apa, papa Jordy dimana?" ucapnya dengan suara lemah.
"Sayang, kamu baru aja siuman, nggak usah mikirin hal lain dulu ya! aku panggilin dokter dulu, tunggu sebentar ya."
Tidak butuh waktu lama, Ando kembali dengan Dokter Farish, yang diikuti satu orang perawat wanita dibelakangnya.
"Gimana masih pusing?" Ucap Dokter Farish setelah selesai memeriksanya.
"Masih dok, dan sedikit agak berat!" balasnya lemah.
"Baik, sebenarnya itu terjadi karena efek dari pasca operasi kemarin, kalau 2 3 hari tidak Ada perubahan Nanti saya sarankan untuk CT scan ulang ya!"
"Di usahakan istrinya makan dan minum obat yang teratur Ya sodara Ando," menepuk pelan bahu Ando.
"Kalau ada apa-apa boleh langsung hubungi saya!" lanjut Dokter Farish.
Ando mengangguk, "terimakasih banyak dok!"
"Baik, kalau begitu saya permisi dulu."
"Sodari Nada, istirahat yang cukup dan jangan lupa obatnya di minum." ucapnya tersenyum, yang dibalas anggukan oleh Nada.
"Makan dulu ya yang, abis itu minum obat." tangannya terulur meraih Nampan yang berisi makanan khusus pasien yang di sediakan dari pihak Rumah sakit, yang baru saja di antar oleh petugas.
__ADS_1
Nada menggeleng, " Aku haus mau minum!"
Ando pun mengambil segelas Air putih lalu meminumkannya pada Nada.
"Makan dulu dikit ya, kan harus minum obat yang, biar cepat sembuh ya!" meraih kembali nampan berisi makanan yang sempat diletakkannya tadi.
"Aku suapin ya, Aaaaa!" mengarahkan sendok yang berisi bubur dan sayuran ke mulut istrinya, dan dengan susah payah Nada menelan makanan tersebut.
Setelah 3 suapan Nada mengeluh dengan Alasan kenyang.
"Baru juga 3 sendok yang, entar nggak sembuh-sembuh lho kalau nggak mau makan."
"Nggak enak Ando!"
"Mau yang lain?"
Nada menggeleng. "Mama tahu nggak aku disini?" ucapnya tiba-tiba.
Ando mengangguk "Tahu, tadi mama sama papa pulang dulu buat mandi dan ganti baju." ucapnya sembari meminumkan Nada obat.
"Tapi belum tahu kalau kamu udah siuman, sengaja nggak aku kasih tahu dulu, biar mama sama papa bisa istirahat, kasian dari kemarin belum sempat tidur."
Nada mengangguk mengerti," Terus papa Jordy?"
"Tapi dia tetap papa kamu Ando, kamu nggak bisa membenci dia seperti itu, aku tahu Ando suamiku ini berhati lembut, dan aku tahu saat ini kamu hanya emosi."
"Dulu dia papa ku Nad, tapi sekarang udah nggak lagi!"
"Mana bisa begitu, nggak ada yang namanya mantan Ayah, Ando!" ucap Nada tak suka.
"Kamu boleh marah padanya, tapi jangan sampai membencinya, sampai kapanpun dalam diri kalian mengalir darah yang sama.!"
"Aku nggak peduli!"
Ck!
Nada memalingkan muka, sebal. Suami Sma nya ini terkadang memang keras kepala dan menyebalkan batin Nada.
Hening
"Yang, aku minta maaf!" Ando kembali berucap memecah keheningan yang tercipta diantara mereka.
__ADS_1
Nada bergeming.
"Aku minta maaf, gara-gara aku kamu jadi begini,!" Ucapnya menunduk penuh penyesalan.
"kenapa sih yang, kemarin kamu musti melindungi aku segala, kemarin aku hampir gila tahu nggak sih yang, aku panik lihat keadaan kamu kaya gitu." Meneteskan kembali air matanya.
Rasanya Akhir-akhir ini ia selalu cengeng, seperti bukan dirinya saja. atau memang beban berat yang dialaminya akhir-akhir ini sangat berpengaruh pada perasaannya.
Nada menatap Ando dengan kening berkerut, tak disangka jika seorang laki-laki juga bisa terlihat rapuh seperti ini. Batinnya.
Tangannya terulur meraih tangan Ando, berusaha menggenggamnya menggunakan sebelah tangannya.
"Aku nggak apa-apa, aku cuma nggak mau kamu terluka."
"Justru dengan keadaan kamu yang seperti ini, malah membuat hati aku semakin terluka Nad, sebagai suami aku sudah gagal menjaga kamu," ucapnya semakin menunduk.
"Ando!" Ucap Nada tak suka jika suaminya terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.
"Kamu nggak gagal, dan ini terjadi bukan karena siapapun, aku mohon jangan salahkan diri kamu lagi ya!" mengeratkan genggamannya.
Nada berusaha untuk bangkit, mencoba memposisikan dirinya untuk duduk berselonjor.
"Mau ngapain sih yang, kamu belum boleh kemana-mana, inget kan kata Dokter tadi kamu harus banyak Istirahat!" ucapnya sembari membantu Nada untuk duduk.
"Pusing nggak?" tanyanya.
Nada menjawab dengan menggelengkan kepala.
"Tangan kamu udah di obatin?" ucapnya saat menyadari tangan Ando terbungkus perban.
"Udah."
Ando kembali duduk di sampingnya, memandangnya lekat, dengan tatapan Redup. Nada tahu saat ini perasaan suaminya sedang tidak baik-baik saja, ia pasti masih merasa syok dengan kenyataan yang sebenarnya.
Namun dari cara ia bersikap selalu menunjukan bahwa ia seperti tak memiliki masalah apapun.
"Kamu mau ketemu mama Indri?"
Ando menggeleng. "Aku belum siap, terlalu banyak dosa aku sama dia, aku bingung harus memulainya dari mana, aku butuh waktu."
Nada mengangguk mengerti, seandainya ia yang berada di posisi suaminya, ia pun pasti akan melakukan hal yang sama. Fikirnya.
__ADS_1
...................................
*****