Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Arsha El-syahki Arsenio


__ADS_3

Menjelang malam, suasana diruang keluarga masih terdengar sangat ramai, karena masih dalam rangka menyambut kabar bahagia yang penuh suka cita.


Terutama mama Indri dan mama Sarah yang sibuk memperebutkan panggilan baby Syahki padanya, sedangkan Nada disuruh beristirahat ditemani Ando, selagi baby Syahki anteng bersama mereka.


"Saya mau dipanggil oma aja pokoknya, ya sayang ya!" seru mama Sarah, mengelus pipi mungil baby Syahki yang berwarna kemerahan, yang tengah berkedip gemas dipangkuannya.


"Saya juga mau dipanggil oma aja ah, berasa ketuaan aja kalau dipanggil nenek, nggak sih?" timpal mama Indri, yang sejak tadi tak berhenti menggenggam tangan mungil cucu pertamanya tersebut.


Dan merekapun tertawa bersama, ditengah kebahagiaan yang kini sedang melingkupi.


"Saya juga maunya dipanggil opa aja ah, karena 2 cucu pertama sudah memanggil saya kakek, biar kelihatan muda dikit gitu." timpal papa Abidzar dengan gaya Coolnya, yang tak mau kalah.


"Ah si papa, inget tuh ubannya udah banyak." mama mendelik kearahnya.


"Yaampun mama, besok papa cat deh rambutnya, biar kelihatan item lagi." balas papa, sembari menyugar rambutnya kebelakang.


"Cucu pertama anaknya Burhan ya pak?" seru mama Indri ingin tahu.


"Betul bu, tapi dua-duanya perempuan, jadi begitu tahu Nada anaknya laki-laki, wahh saya suenenggg sekali rasanya."


"Berasa seperti mengenang saat pertama memiliki cucu gitu, seneng banget saya!" lanjut papa, dengan raut wajah bahagia.


"Apalagi saya pak, karena baru pertama kali memiliki cucu dari anak saya satu-satunya pula, jadi gimana ya, sampai nggak bisa digambarkan dengan apapun, saking bahagianya."


"Dan yang paling membuat saya lebih bahagia lagi, karena sama sekali nggak menyangka, kalau saya bakalan punya cucu secepat ini, berasa kaya dapet kejutan tak terduga aja gitu." lanjut mama Indri terkekeh.


"Iya, saya mengerti sekali perasaan ibu bagaimana?, dan yang pasti kita semua sama-sama bahagia." balas Papa Abidzar.


Ketiganya kini masih asyik mengobrol, membahas tentang baby syahki, sementara Rendra, dari rumah sakit langsung pulang atas paksaan mama Indri, karena khawatir dengan Gilang yang sendirian berada dirumah, karena bibi Art dirumahnya sedang ijin pulang kampung.


Kini malam pun mulai larut, bahkan mama Indri dan mama Sarah sudah terkantuk-kantuk, bergantian menggendong baby Syahki yang enggan memejamkan mata, sedangkan papa Abidzar sudah terlelap diatas sofa.


Mama Indri dan mama Sarah yang semula sudah terkantuk-kantuk, kini kesadarannya kembali sepenuhnya, saat mendengar suara baby Syahki yang menangis kencang karena kehausan.


"Cup-cup sayang, haus ya nak?" mama Indri mencoba menenangkan.


"Saya anterin ke mamanya aja deh bu, dedenya haus kayanya." mama Sarah mengambil alih baby Syahki dari pangkuannya.


Bersamaan dengan mama sarah yang akan membuka pintu kamar, Andopun keluar menyembul dibalik pintu.


"Kenapa ma?" Ando menatap putranya yang tengah menangis digendongan mama.


"Haus kayaknya An, ini mama mau kasih ke Nada, biar di kasih ASI dulu gitu, kasian!" seru mama sembari menyelonong masuk.


Nada yang sudah tertidurpun terpaksa dibangunkan, karena baby Syahki tak mau berhenti menangis.


"Terpaksa mama bangunin kamu nak, babynya nangis terus, udah kehausan banget kayanya." seru mama Sarah, meletakan bayi tersebut kepangkuan Nada.


Dengan sigap Nada pun menerimanya dengan penuh kehati-hatian.

__ADS_1


"Haus ya nak he'em?" ujarnya, mengusap lembut kepala sang bayi, yang sedang lahap meminum ASI.


"Mama istirahat aja ma!" ucap Nada, yang melihat mama Indri beberapa kali menutup mulutnya yang menguap karena ngantuk.


"Mama nggak usah khawatir, soal jagain Syahki, nanti aku gantian sama abang!" lanjutnya, sembari menoleh kearah Ando yang sedang memperhatikan putranya menyusu.


"Betul ma! mama istirahat aja." ucap Ando cepat.


"Beneran nih nggak apa-apa, kalau mama tinggal?" seru mama menatapnya ragu.


"Iya mama!" Nada meyakinkan.


"Yaudah mama tinggal ya, kalau ada apa-apa hubungi nomor handphone papa aja, karena Nada deringnya lebih kencang," seru mama sembari terkekeh, berjalan kearah luar kamar.


Setelah kepergian mama yang hendak beristirahat, kini Ando menghampiri Nada setelah menutup pintu kamarnya terlebih dulu.


"Hai sayang, anak ayah kenapa belum bobo hm?"Ando mencolek pipi mungilnya yang bergerak lucu, karena sedang menyusu dengan rakusnya.


Namun, baby Syahki hanya menoleh sekilas kearahnya, seperti tidak peduli dengan ucapan sang ayah, dan terus menghisap kuat sumber kehidupannya, seolah tidak merasa terganggu sedikitpun.


"Sisain buat ayah dong nak!" seloroh Ando, membuat Nada mendelik, dan mencubit perutnya gemas hingga ia mengaduh kesakitan.


"Ampun sayang!" ucapnya sembari tergelak.


"Lagian!"


"Abangggg!" Nada memukulinya dengan bantal secara bertubi-tubi, membuat Ando kewalahan menghadapinya.


"Eh nggak sayang, ampuunn, aku cuma bercanda!" ucapnya sembari menahan serangan dari istrinya.


"Asli yang, sekarang aku percaya apa yang dikatakan orang-orang, kalau wanita itu benar-benar mahluk tangguh." ujarnya, ketika Nada sudah menghentikan pukulannya.


"Maksud abang?" ketus Nada, mendelik menatapnya.


"Ini buktinya aku lihat sendiri, istriku yang belum genap sehari melahirkan, udah bisa mukulin suaminya."


"Makanya jangan macam-macam sama mahluk bernama wanita."


"Iya deh iya, maaf ya, sekarang baikan ya sayang, aku pengen lihat dedenya." ucap Ando yang terdengar sendu, beringsut mendekatinya.


Nadapun hanya mengangguk, karena ia sudah merasa sangat lelah, jika harus terus-terusan berdebat dengan suaminya.


"Abang, aku mau pipis, jagain Syahki ya!" Nada hendak turun dari atas ranjang.


"Aku bantu sayang," Ando mendekati dan memapahnya dengan sabar, menuju kamar mandi.


"Pasti sakit banget ya?" Ando menatapnya kasihan, ketika Nada keluar dari dalam kamar mandi.


"Nggak kok, bang." Nada tersenyum tulus, senyuman yang sangat melenakan bagi Ando.

__ADS_1


Rupanya Ando benar-benar menepati janjinya pada mama Sarah, terbukti dari jam dua malam hingga jam 5 subuh, Ando menjaga dan menemani putranya, tanpa merasa lelah dan protes sedikitpun, justru ia sangat menikmati moment tersebut.


Ia terkadang tersenyum-senyum sendiri menatap wajah mungil sang bayi, membuatnya tidak merasakan mengantuk sama sekali, ia masih tak percaya bahwa saat ini dirinya benar-benar sudah menjadi seorang ayah.


Dan Sesekali ia menoleh kearah sang istri yang sedang tertidur lelap dengan posisi bersender diantara dua bantal dipunggungnya.


Tangan kanannya terulur mengusap kepala sang istri, dan tak lupa memberi kecupan ringan di keningnya.


Ingatannya masih melekat jelas, pada saat ia menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa Nada merintih kesakitan, ketika ia sedang berjuang keras melahirkan buah cintanya.


Ia tak bisa membayangkan rasa sakit itu seperti apa, dan kini ia hanya bisa mengucapkan terimakasih yang teramat besar pada perjuangan mulia sang istri.


...


...


Siang hari, baik sahabat Ando maupun Nada berdatangan kerumahnya, termasuk Danang, yang jauh-jauh dari Jogja hanya untuk melihat bayi tampan Ando, yang semalam di unggahnya di sosial media, dengan Caption Welcome to the world my baby handsome Arsha El-syahki Arsenio



"Anjirrr, cakep banget anak lo, calon bintang ini mah." seloroh Pandu ketika melihat baby Syahki yang sedang tertidur digendongan Ando.


"Iyalah cakep, siapa dulu dong ayahnya, gue gitu lho." balas Ando bangga.


"Gue kagak nyangka sumpah An, kalau lo bakal secepat ini jadi bapak." timpal Danang, dengan raut wajah tak percaya.


"Gue do'ain lo semua pada nyusul." balas Ando.


"Aamiin!" ucap mereka bersamaan.


"Gantian dong, cowok-cowok udahan ya, kita-kita pengen juga gendong baby handsome." ujar Bianca dan Chaca, menghampiri Ando.


"Yaudah, kalian ngobrolnya dikamar aja sama Nada." balas Ando, sembari berjalan kearah kamarnya.


"Yang, aku keluar dulu ya ada teman-teman aku didepan, oh iya teman-teman kamu juga pada datang tuh, jenguk kamu sekalian pengen lihat baby katanya."


"Siapa?" seru Nada.


"Ini kita Nada sayang." ucap Chaca dan Bianca diambang pintu dan berlari menghambur memeluknya.


"Yaampun Nad, selamat ya, udah punya jagoan, gila! gue nggak nyangka banget Nad." heboh Bianca.


"Iya nih, jadi pengen punya juga gue, gemes banget!" timpal Chaca.


"Iya, gue do'ain lo berdua cepat nyusul deh!" ucapnya, dan seperti biasa jika mereka sudah berkumpul ada banyak hal yang mereka lakukan, termasuk berbagi cerita kehidupan masing-masing.


.


.

__ADS_1


__ADS_2