
Setelah mencium tangan mamanya Ando memberanikan diri mengajak Mama Indri mengobrol di taman Rumah sakit.
Sudah 10 menit mereka duduk berdampingan di kursi panjang yang terbuat dari besi ber cat putih di sebuah taman yang disediakan pihak rumah sakit.
Namun hanya Hening dan rasa canggung yang tercipta diantara mereka.
Ando terdiam mencari kalimat yang menurutnya pas untuk memulai obrolan.
"Mama sehat? Ucap Ando memulai obrolan, yang terdengar sangat kaku di telinga mama Indri.
Mama Indri tersenyum "Alhamdulillah sehat, Ando sendiri?" melirik kearahnya.
"B-baik ma." jawabnya dengan suara bergetar.
Detik kemudian Ando berjongkok di hadapan mamanya dengan kedua lutut bertumpu di Atas rumput. tidak peduli banyaknya orang yang memandangnya dengan expresi berbeda-beda.
Membuat mama Indri menggerenyit heran kearahnya.
Perlahan Ando meraih tangan mamanya, lalu menggenggamnya.
"Ma!" ia mendongak, menatap dalam mata sang mama, kali pertama setelah 7 tahun lamanya tak lagi menatap mata Indah milik mama.
Sementara Mama bergeming, dengan wajah syoknya.
"Apa masih ada kata maaf untuk anak sepertiku ma, setelah 7 tahun lamanya membencimu tanpa sebab, memperlakukanmu dengan tidak Adil, lalu menganggapmu sebagai orang Asing,"
"Jika ada hukuman yang pantas untuk anak sepertiku, hukumlah aku ma, tapi sebelum hal itu terjadi ijinkan Ando bersujud dan mencium kaki mama." Ucapnya dengan wajah yang sudah menempel di kaki mamanya. Bahkan air matanya pun sudah membanjiri punggung kaki sang mama.
"Ando mohon ampun ma! atas segala ke durhakaan dan prilaku buruk Ando selama ini terhadap mama, Ampuni Ando ma."
Detik itu juga mama Indri tak lagi dapat membendung air matanya, jatuh terjun bebas dengan derasnya. ia memalingkan wajah menyembunyikan rasa haru dan bahagia yang tidak terkira.
Seperti mendapatkan kembali sesuatu yang telah lama hilang.
__ADS_1
Mama Indri mengusap lembut kepala putranya, lalu menuntunnya untuk duduk kembali.
"Dengar nak, tidak ada seorang ibu pun yang tidak memberi maaf bagi Anaknya, begitupun dengan mama. kamu harus tahu lautan maaf dari seorang Ibu tidak akan habis, dan tidak akan pernah ada habisnya!"
"Mama memaafkan semua kesalahan Ando, begitu pun dengan mama, mama minta maaf selama ini belum jadi Ibu yang sempurna buat Ando." Menyentuh wajah putranya dengan tangan bergetar.
Ando menggenggam telapak tangan yang terasa hangat menempel di pipinya, telapak tangan yang sudah merawatnya sejak ia bayi, telapak tangan yang memberi sentuhan penuh kasih.
"Makasih ma, tapi apa masih pantas Ando memanggil mama dengan sebutan mama."
Mama Indri menggeleng. "Selamanya kamu akan tetap jadi anak mama, tidak akan pernah tergantikan."
"Boleh Ando peluk mama?"
Mama Indri mengangguk penuh haru, dan detik kemudian keduanya berpelukan dengan eratnya. melepaskan kerinduan yang tertahan selama bertahun-tahun lamanya.
Perasaan marah, dendam, benci dan kecewa seakan hilang dalam sekejap, kini berganti dengan perasaan Hangat, nyaman, tenang dan lega, menjadi satu dalam sebuah pelukan.
Ando terdiam sembari memperhatikan beberapa pasien yang sedang berkeliling taman menggunakan kursi Roda, yang dibantu oleh para perawat wanita.
"Ma, kenapa nggak pernah cerita sama Ando soal semua yang terjadi antara mama dan papa."
"Mama fikir kamu nggak perlu tahu nak, mama hanya ingin Ando fokus sekolah dan semua kebutuhan Ando tercukupi."
"Dengan begitu Ando jadi salah membenci seseorang kan ma!"
"Seharusnya bajingan itu yang Ando benci ma!" ucap Ando dengan rahang mengeras.
"Ando, yang sudah terjadi biarlah nak, yang terpenting sekarang anak mama sudah tahu kebenarannya bukan.?"
"Tapi ini nggak Adil buat mama, pokoknya mama sama papa harus pisah."
"Selama ini kan mama emang udah pisah?"
__ADS_1
"Bukan pisah rumah ma, tapi status mama dan papa, udah ya ma cukup! Cukup selama beberapa tahun ini mama di khianati dan di sakiti papa, masih banyak laki-laki lain jika mama ingin menikah lagi, Ando akan selalu dukung mama, mulai sekarang mama harus bahagia, nggak boleh lagi berada dalam bayang-bayangnya papa."
"Nggak semudah itu nak, mama berulang kali telah memintanya, tapi papa kamu tidak mau."
Ando tertawa sumbang "Nggak mau ma, heuh enak sekali dia, dia bebas hidup bersama keluarga barunya, sedangkan mama?" ia menggelengkan kepala tak percaya.
"Mama harus tegas mulai sekarang, ingat ada Ando ma, yang akan bantu mama buat bebas dari dia ma."
Mama mengangguk. "Terimakasih nak, mama janji mulai sekarang mama akan lebih tegas lagi."
........
Setelah mengobrol lama keduanya kembali ke ruang rawat Nada, dan sore harinya mama Indri pun pulang, meski sebelumnya ia bersikukuh ingin menemani Nada sampai besok pagi.
"Gimana udah lega?" ucap Nada saat Ando mulai mendekat.
Ando mencium kening istrinya terlebih dahulu sebelum kemudian ia mengangguk.
"Ish kamu tuh, aku udah 5 hari nggak mandi, wajah aku juga berminyak."
"Emang kenapa kalau nggak mandi?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Ihs, aku bau!" ucapnya mengerucutkan bibir antara kesal dan malu.
"Nggak tuh, tapi ia sih dikit!" ucapnya sambil terkekeh.
"Tuh kaaannn... kamu ngetawain aku!" semakin mengerucutkan bibirnya.
"Eh Nggak nggak!" masih dengan terkekeh pelan.
.....
***
__ADS_1