
Usai makan bakso, Ando dan Nada melanjutkan kembali perjalanannya.
"Jadinya mau jalan kemana yang?" Seru Ando saat dalam perjalanan.
"Terserah, aku ikut aja!"
"Aku mau kebengkel lho, nggak apa-apa?"
"Ya nggak apa-apa!"
"Ok."
..........
"Bang, sehat?" Ando menyalami bang Fajar, setelah turun dari motor, di ikuti Nada yang juga ikut menyalaminya setelah Ando.
"Alhamdulillah sehat gue, lo sendiri gimana,? tapi yang gue lihat lo tambah seger aja ya, bahagia lo ya!"
"Bahagia banget bang!" Balasnya sambil terkekeh.
"Elaahhh, Lo itu ladang duit punya, muka Ok, punya cewek mantep, nggak bahagia gimana coba!" Ucapnya seraya terkekeh.
"Abang bisa aja!"
"Ya bisalah, Ayo masuk dulu dah kedalem, ajak cewek lo, kasian kotor banget di luar."
"Nih, gue bawain jahe merah anget, doyan kan lo!" Bang Fajar menyodorkan nampan yang berisi 2 cangkir wedang jahe merah yang masih mengepulkan uap panas, saat keduanya sudah duduk di kursi Rotan.
"Makasih bang, duh mantep nih malam-malam begini!" meraih salah satu cangkir dihadapannya, menghirup Aroma khas jahe merah, yang terasa segar di indra penciumannya.
"Kamu suka wedang jahe nggak?" melirik kearah Nada yang sejak tadi memperhatikan kearahnya.
"Kalau nggak suka, Nanti aku bikinin yang lain!"
"Suka kok, mama juga sering bikin kalau cuaca lagi dingin."
"Samaan dong, sama-sama suka!"
"Sampe jam 10 pun bengkel masih luar biasa Rame, terutama siang hari, Gila! kadang sampe nggak ke pegang, tapi gue bersyukur banget Ndo." Ucap bang Fajar.
"Makasih banyak ya bang, Atas kerja kerasnya selama ini, bengkel ini nggak bakalan sampe begini tanpa kalian, gue berharap Abang dan yang lainnya selalu sehat semua ya!"
"Jangan terlalu larut bang kerjanya, udah waktunya tutup ya tutup Aja, kesehatan itu nomor satu, banyak uang tapi badan bobrok nggak ada Artinya."
"Iya iya, gue sama Anak-anak berusaha selalu jaga kesehatan kok, lo kalem aja, kita kagak ngerasa cape , justru dengan banyaknya pelanggan tuh malah nambah semangat buat kita-kita, lo nggak usah khawatir dah!"
"Buruan di minum dulu tuh wedangnya keburu dingin kagak enak!"
"Ok bang!"
"Gue sebenernya mau ngusulin mau nambah orang, kira-kira lo ijinin kagak, jadi maksud gue bengkel mau buka 24 jam."
"Maksud Abang mau di bikin 2 shift.?"
"Iya, itu juga kalau lo ngijinin!"
"Ok bang, Abang yang paling tahu urusan bengkel, jadi Atur aja gimana enaknya."
__ADS_1
"Ok, kalau udah minta ijin ke lo kan enak gue nya, secara elo pemilik bengkelnya."
"Mulai kapan tuh bang Rencananya?"
"Besok gue cari orangnya dulu, entar kalau udah dapet gue kabarin!"
"Ok bang, Gila bang Fajar makin kesini jiwa pengusahanya makin keluar, kereeenn bang kereeen, salut gue sama lo bang!"
"Gue juga belajar dari elo kan." Balasnya terkekeh.
Nada yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya, diam-diam ia tersenyum, lama-lama dalam lingkungan seperti ini semakin membuatnya merasa nyaman.
Sahabat dan teman-teman Ando yang menurutnya baik-baik, kocak, walaupun terkadang ceplas-ceplos, justru menambah kenyamanannya saat bersama mereka.
Ia sendiri seperti mendapatkan dunia baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Si cantik dari tadi diem aja, bosen ya dengerin obrolan beginian, maklum lah gue kalau udah ketemu sama laki lo ni, yang dibahas kagak jauh-jauh dari urusan bengkel." Ucapnya sembari terkekeh.
Nada hanya menanggapi dengan tersenyum canggung.
"Gue ingetin lagi ni sama elo Ndo, jaga baik-baik ni ceweknya, jarang-jarang lho cewek bening begini mau dibawa-bawa ketempat kotor beginian."
"Iya bang, nggak bakalan di lepasin kok, entar gue tanam saham, biar dia nggak bisa lepas dari gue!" Ucapnya mengulum senyum.
Namun detik kemudian ia meringis, saat merasakan perutnya yang sedikit ngilu, akibat di cubit oleh Nada.
"Sakit yang!" bisiknya dengan nada Manja di kuping Istrinya.
"Biarin, salah sendiri ngomongnya nggak di filter!" Membuat Ando tergelak gemas.
"Kapan sih lo mau married, jan lama-lama lo, entar keburu di ambil orang!" ujar bang Fajar.
"Eh sumpah lo, seriusan, kagak percaya gue!"
Bang Fajar terlonjak kaget.
"Tapi jangan bilang-bilang ke yang lain dulu, lo tahu sendiri kan bang, setatus gue masih sebagai pelajar."
"Gila Gila, parah lo gue dilangkahin!"
"Elaahhh, tadi nyuruh buru-buru, sekarang malah bilang ngelangkahin!"
"Gue masih nggak nyangka aja sama elo, perasaan baru kemarin lo masih bocah, udah married aja, lah gue kapan!" Ucapnya sendu.
"Berarti lo udah E*a-en* dong ya!" Ujar bang Fajar dengan tatapan menuduh.
Ando meringis, melirik kearah istrinya yang terlihat gugup.
"Ngaku lo!" desak bang Fajar.
"Udahlah, kan udah halal, udah sering malah, bikin nagih bang!" Balasnya Vulgar, tanpa memperhatikan wajah istrinya yang sudah memerah seperti kepiting rebus.
"Duhhh, mendadak hareudang gue!" Ucap bang Fajar sembari tergelak.
"Harus lanjut mandi ni gue!"
Sedangkan Nada menatap tajam kearah suaminya.
__ADS_1
"Nggak apa-apa sayang udah halal ini!" bisiknya.
"Ihs, tapi nggak gitu juga kali ngomongnya, nyebelin!" Ketus Nada.
Sementara Ando terkekeh-kekeh sendiri.
"Pulang nggak?"
"Tahu!"
"Ngambekan,!"
"Bang gue pulang dulu!" Ando sedikit mengeraskan suaranya karena bang fajar sedang ke kamarnya, entah ngapain.
"Eh buru-buru amat sih, baru juga jam 9 sore!" Ujar bang Fajar yang baru saja keluar dari dalam kamar membawa handuk, sepertinya ia benar-benar akan Mandi.
"Kasian bini gue bang, baru sembuh dia."
"Oh gitu, yaudah hati-hati dah di jalan!"
"Ok bang!"
Keduanya berjalan beriringan menuju motor milik Ando, lalu kembali melanjutkan perjalanan menuju Rumah.
"Satu."
"Dua."
"Ngitung apaan?" Ando melirik istrinya terheran-heran, saat keduanya sudah sampai rumah dan berjalan menuju pintu utama.
"Biasanya kan kalau kamu abis pergi-pergi suka ada yang nyambut."
"Eh mas Ando?"
"Mas Ando udah pulang?"
Nada menirukan suara Tiara dengan gaya yang menyebalkan, membuat Ando tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala.
"Udah nggak ada sayang, Tiara udah di Ambil mama tadi sore."
"Nggak percaya?"
"Nih lihat!"
Ando menyodorkan hpnya yang berisi pesan chat dari mana Indri, tepat di depan wajah Nada.
"Mama udah ambil tiara, dan bi Mimin udah mama pindahkan kerumah kamu, s**ekalian tadi waktu jemput Tiara"
Nada pun tersenyum lega, dan mendengar bi Mimin disini, ia semakin lega.
"Udah lihat kan?" Menarik kembali hp nya lalu ia masukan kembali ke saku celananya.
"Jangan bahas lagi soal dia, aku nggak suka, lagian sebagai cowok normal aku juga bisa lihat yang, kamu tuh jauh segala-galanya dari dia!"
"Iya, makasih suamiku!"
Ando pun tersenyum sembari mengacak gemas rambut istrinya.
__ADS_1
******