Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Sebuah pesan


__ADS_3

Jakarta


.


"Ngantuk banget gue!" seloroh Danang merangkul pundak Ando dari belakang.


"Kagak mandi kali lo, jadinya ngantuk." balas Ando melirik kearahnya sekilas.


"Enak aja, Tapi asli gue kagak kapok, pengen lagi malah, gue baru tahu nginep di Villa itu seseru itu ternyata ya !"


"Kalem bro, 2 minggu lagi kita kan mau nginep di Villa Almarhum kakek si Ando, disana lebih bagus pemandangannya." timpal Pandu.


"Iya nih, jadi nggak sabar gue!"


Dan kini ketiganya berjalan beriringan memasuki kelas.


Seperti biasa, Ando selalu jadi pusat perhatian anak-anak perempuan disana.


Yang seringkali mendapat senyuman serta sapaan hangat dari mereka, bahkan tidak segan-segan, dari mereka, banyak sekali yang diam-diam menaruh hadiah di meja Ando, Namun Ando selalu memilih cuek dan tak peduli.


Karena sedari dulu bagi Ando, disekolah adalah tempat belajar dan mencari ilmu, bukan untuk main-main atau pacar-pacaran.


Karena itulah, Nilai Ando selalu paling unggul dibanding teman-temannya.


Ia tidak perlu repot-repot memiliki pacar, pikirnya


Karena ia yakin suatu hari pasti sudah ada jodoh terbaik yang disiapkan sang kuasa untuknya.


Dan ketika ia dihadapkan dengan kenyataan bahwa harus menikah muda, ia sempat protes, namun pada akhirnya pasrah, setelah menyadari bahwa ia memang benar-benar sudah jatuh cinta pada seorang gadis yang tidak sengaja ditemuinya disebuah hotel.


Kehadiran Gadis itu benar-benar sudah mematahkan sikap konsistennya.


Menikah di usia muda.


Denada Sena Gantari, gadis pertama yang membuatnya terpesona, sekaligus membuatnya jatuh cinta berkali-kali.


..


..


Sepulang sekolah pukul 13:00, mau tidak mau Ando terpaksa harus kembali ke Bandung, usai mendapat telpon dari Riana, bahwa kondisi papa semakin memburuk.


"Tante mohon An, tolong kesini sebentar saja, keadaan papa kamu sangat mengkhawatirkan, dia terus menyebut-nyebut nama kamu, mungkin ada hal penting yang mau disampaikan." ucap Riana dengan suara yang terdengar terisak-isak seperti sedang menangis.


..


"Aku berangkat ya sayang, jaga diri kamu dan anak kita baik-baik, aku nggak akan lama." pamit Ando pada Nada, ketika hendak berangkat.


Ando melajukan motornya dengan kecepatan tinggi, entah kenapa kali ini ia memiliki firasat buruk tentang papa, meski sudah menepisnya berulang kali namun perasaan itu kian bertambah.


Ia segera mengetuk pintu dengan tidak sabaran ketika sampai di rumah milik papanya.


"Papa dimana?" ucapnya langsung, ketika Riana baru saja membuka pintu.


"Ada An, ayo masuk." Ajak tante Riana, berjalan memasuki kamar, dan diikuti oleh Ando.

__ADS_1


Ando terpaku ketika menyaksikan keadaan papa yang terbaring diatas tempat tidurnya, dengan tubuh yang kurus serta wajahnya yang terlihat semakin tirus.


"Kamu datang nak!" ucapnya lemah.


"Pa." Ando berjalan pelan menghampirinya, mengambil kursi plastik yang tersimpan dipojok kamar, lalu duduk disamping papa, setelah menyalaminya.


"Papa senang akhirnya kamu mau datang nak." papa Jordy memposisikan badannya untuk duduk bersandar di kepala ranjang.


"Gimana kabar Nada, sama calon cucu papa?" seru papa dengan suara serak sambil terbatuk-batuk.


"Nada baik pa, janinnya juga sehat."


"Papa seneng dengernya, dan papa harap kalian selalu berbahagia selamanya."


"Jangan ikuti jejak sibajingan ini!" tunjuknya pada diri sendiri.


"Papa sudah gagal dalam segala hal, terutama menjadi sosok ayah yang baik buat kamu."


"Kamu harus bisa menjaga kehormatan keluarga, terutama hati istrimu."


Lanjut papa, sembari terus berbatuk.


Ando yang semula menunduk mendengarkan, kini mulai khawatir, melihat papa Jordy yang terus menerus terbatuk-batuk.


"Pa, kayanya papa perlu ke Dokter deh, ini batuknya kaya udah parah gini, nggak bisa di diemin, kita ke dokter ya!" bujuk Ando.


Namun papa menolak, ia menggerakan tangannya mengisyarakatkan bahwa papa baik-baik saja.


"Papa panggil kamu kesini, karena papa ingin ngomong sesuatu yang penting, papa takut terlambat."


"Pa, kok ngomongnya kaya gitu sih, papa nggak boleh pesimis gitu dong, papa harus yakin, kalau papa bakalan sembuh, Ayo kita ke Dokter sekarang pa?" Ando hendak bangkit dari duduknya.


"Nggak An, kamu duduklah lagi, dengarkan dulu papa ngomong sampai selesai."


Papa mengulurkan tangannya meraih map bersampul coklat, yang sudah ia sediakan diatas Nakas, sebelum kedatangan Ando.


"Tolong simpan ini baik-baik." menyerahkan map tersebut ketangan Ando.


"Ini apa pa?" Ando menatapnya bingung.


"Itu saham terakhir yang papa miliki di Jakarta, sebuah pabrik yang saat ini sedang di kelola oleh anak kepercayaan papa."


"Masing-masing 10% untuk Gilang dan Devan, karena walau bagaimanapun papa menganggap mereka Anak papa juga."


"30% untuk tante Riana, selaku istri papa."


"Dan sudah papa pindahkan atas nama kamu sebesar 50%."


"Papa sudah berunding sama tante Riana, dan dia setuju."


"Papa tidak menerima penolakan, jika kamu tidak berkenan menerimanya, tolong simpan untuk cucu papa suatu hari, karena mungkin papa tidak akan sempat bertemu, bahkan untuk sekedar menimangnya." Ucap papa, sembari menyusut sebulir bening dari sudut matanya yang hampir terjatuh.


"Pa?!"


"Tolong suatu hari katakan pada cucu papa, bahwa papa sangat mencintainya." lanjut papa.

__ADS_1


"Maafkan papa, karena sudah melewatkan waktu berharga kamu selama ini,"


"Uhukk..uhuk.."


Ando terperanjat ketika melihat tangan kanan bekas menutup mulutnya saat terbatuk dipenuhi darah.


"Pa, ayo ke Dokter, ini nggak bisa di biarin." Ando segera mencari bantuan, dan membawa papa sesegera mungkin ke sebuah Rumah sakit terdekat.


"Ando mondar-mandir di depan ruang IGD, sedangkan Riana terus menangis dengan wajah tertunduk di kursi tunggu."


Dan ketika seorang Dokter yang memeriksa papa nya keluar, ia langsung bergegas menghampiri Dokter tersebut.


"Gimana keadaan papa saya dok?"


"Keluarga pasien?" seru Dokter tersebut.


"Iya Dok, saya anaknya."


"Mari ikut saya," ucapnya sembari berjalan menuju ruangannya.


"Pak Jordy ini pasien saya, beliau sudah berulang kali melakukan pengobatan, tetapi tiba-tiba beliau menghilang begitu saja kurang lebih selama 4 bulanan, saya kira dia berobat dengan Dokter yang lain, tetapi ternyata sepertinya tidak sama sekali."


"Disini justru saya melihat, bahwa kondisi pak Jordy semakin memburuk, dan sudah memasuki stadium akhir." lanjut Dokter tersebut, dengan raut wajah menyesal.


" Apa Dok, memangnya kenapa dengan papa saya?" Ando terlihat panik.


" Memangnya pak Jordy selama ini tidak memberi tahukan perihal penyakitnya terhadap Anda?" seru Dokter tersebut dengan kening berkerut.


"Ng-nggak Dok!"


"Papa Anda mengalami kangker paru-paru stadium akhir."


"Beliau dulu memang sempat memohon pada saya, agar berjanji tidak memberitahukan penyakitnya ketika istrinya ikut mengantar ke Rumah sakit selama pengobatan, karena beliau masih punya semangat juang yang tinggi untuk sembuh." lanjut Dokter.


"Apa Dok, papa saya ng-nggak mungkin." Ando tak sanggup mengucapkannya, justru kini ia malah mulai terisak.


...


"An, papa ingin ketemu mama kamu, sebentar saja!"


"Tapi pa?"


"Papa mohon!" ucap papa dengan suara lemasnya, membuat Ando semakin tak tega melihatnya.


"Baik pa, sebentar ya, Ando telpon dulu." ia pun kemudian merogoh benda pipih dari dalam tas selempangnya dan langsung mencari kontak mama.


"Ma, tolong datang ke Rumah sakit Citra Medika, bandung sekarang!"


Sedangkan mama Indri, sudah terlihat bingung dan khawatir, terlebih Ando sudah lebih dulu mematikan telponnya tanpa menunggu jawaban darinya.


Ia sudah menduga-duga berbagai hal buruk dalam pikirannya, membuat tubuhnya gemetar sepanjang perjalanan ke Rumah sakit.


..


..

__ADS_1


__ADS_2