
"Nggak apa-apa terlihat lusuh di depan laki-laki lain, yang penting di depan aku selalu terlihat cantik." Balasnya, sembari menghirup dalam-dalam aroma tubuh Nada, yang sudah menjadi candu baginya.
"Abang kok nggak cerita sih kalau mama mau nikah lagi?"
"Iya lupa yang maaf ya, kemarin aku sibuk terus, jadi lupa mau cerita ke kamu tuh." semakin menenggelamkan wajahnya dileher Nada.
"Tapi aku seneng deh kalau mama nikah sama om Rendra, secara dia tuh walaupun udah berumur tapi, masih terlihat gagah dan keren nggak sih?"
"Gimana waktu mudanya ya bang, pasti om Rendra ganteng banget deh, sekarang aja masih kelihatan tuh, sisa-sisa raut gantengnya."
"Ehmmm..terus aja, aku baru tahu kalau sekarang kamu punya hobi, muji om-om begini." raut wajah Ando terlihat tak suka saat Nada menyampaikan penilaiannya tentang Rendra.
"Ihs abang!" Nada mendesis sebal.
"Bukan gitu, aku kan cuma memberi penilaian dan pendapat aku tentang om Rendra, kalau dia itu cocok sama mama, secara mama juga masih terlihat muda dan cantik, pastinya!"
"Terus kayanya om Rendra juga orangnya baik, pas lah pokoknya buat mama."
"Aku harap juga gitu sih yang, kasian mama, mama berhak bahagia, selama ini mama udah banyak banget menderita, karena papa dan juga aku."
"Ngomong-ngomong om Rendra punya anak nggak sih bang?"
"Kalau punya, harusnya kan pas ketemu bareng tadi, anaknya di ajak kok ini nggak ya?"
"Nggak tahu juga sih yang!"
Bandung...
.
Sudah 2 minggu ini Gilang di sibukan dengan Aktifitasnya dirumah maupun di sekolah.
Pagi sampai siang hari ia disekolah, dan sepulangnya dari sekolah hingga malam hari ia membantu Riana mulai berjualan makanan di kios kecil yang Riana sewa 3 minggu yang lalu.
Begitupun di hari libur sekolahnya, Gilang menghabiskan waktunya disana.
Bahkan ia tak sempat untuk sekedar menyentuh handphone nya, karena rasa lelah dan kantuknya yang luar biasa membuat Gilang melupakan segalanya.
Papa Jordy yang sudah tidak lagi bekerja, karena kondisinya belum benar-benar fit, membuat Riana mau tidak mau harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
"Gimana kabar kak Devan sekarang ya ma, Gilang kangen, pengen ketemu." Ucapnya setelah selesai makan malam bersama.
Riana menghela nafas, menatap putra bungsunya. "Minggu depan kita tengokin kak Devan bareng-bareng." Seru Riana, membuat senyum Gilang kian terkembang.
"Wah, beneran ma?"
__ADS_1
"Beneran nak," balasnya sambil tersenyum mengacak rambut Gilang.
"Yaudah mama kekamar dulu, nganterin ayah!" ucapnya, yang dibalas Anggukan oleh Gilang.
Beberapa menit kemudian Gilang beranjak dari duduknya, menuju kamar miliknya yang bersebelahan dengan kamar Devan kakaknya.
Ia membuka pintu kamar, berjalan lalu duduk diatas tempat tidur, menepuk jidatnya, baru menyadari 2 minggu ini tak sempat menyentuh handphonenya.
Di sentuhnya layar benda pipih di tangannya, dan matanya terbelalak lebar, kala melihat ada 17 pesan chat, serta 25 panggilan tak terjawab masuk ke ponselnya, dengan nomor yang sama.
"Om Jordy?" gumamnya, lalu secepat kilat ia menekan tanda hijau di layar pintarnya.
"Om?" ucapnya, saat telpon sudah tersambung.
"Hallo, jagoan gimana kabarnya?" seru Rendra cepat.
"Baik om, om sendiri gimana kabarnya, maaf ya Om beberapa hari ini Gilang nggak sempet pegang Handphone, soalnya sibuk sekolah sambil bantuin mama jualan."
"Jualan?" suara Rendra meninggi.
"Iya om."
"Jualan apa?"
"Nasi sama lauk pauk om, di warteg!"
"Ayah belum sehat bener, sedangkan tabungan kami udah mulai menipis, jadi mau nggak mau, mama harus jualan om." seru Gilang dengan suara bergetar.
Rendra yang mendengarnya, merasa sangat sedih, matanya sudah memerah menahan tangis, tidak seharusnya Gilang kecil mengalami hal sesulit ini pikirnya.
Dia bisa memberi apapun yang Gilang inginkan, termasuk untuk mencukupi kehidupannya dengan layak.
"Besok libur kan, bisa ketemu nggak?
"Ehmm..besok Gilang usahain ijin ke mama, tapi maaf, mungkin nggak bisa lama kaya biasanya om!" balasnya merasa tak enak hati.
"Ok, nggak masalah buat om."
...
..
Jakarta..
Sore ini Ando mengajak Nada jalan-jalan, ke salah satu mall yang terkenal di daerah jakarta selatan.
__ADS_1
Di sela kesibukannya, Ando ingin menyempatkan untuk membawa Nada jalan-jalan, memanfaatkan waktu sebaik mungkin, sebelum perut istrinya membesar, hingga mengharuskan Nada untuk selalu berada dirumah dan dilarang bepergian.
Ando menggunakan celana panjang chino berwarna mocca, dengan atasan menggunakan kaos panjang putih polos.
Sedangkan Nada menggunakan dress putih dibawah lutut, dengan rambut tergerai, tanpa make up, sesuai keinginan suaminya.
"Yang lihat deh, baju babby nya lucu-lucu ya, beli yuk!" seru Ando saat melewati sederet pakaian bayi didalam mall tersebut.
"Ihs abang, belum waktunya! ini janinnya juga masih kecil, pamali kalau kata mama."
"Oh gitu ya," Ando manggut-manggut.
"Abang dulu kalau ke mall sama siapa aja?" Seru Nada saat keduanya masih menelusuri area didalam mall tersebut.
"Ehmm biasa, sama anak-anak, si Pandu sama si Danang."
"Kalau sama marissa?" tanyanya penuh keingin tahuan.
"Nggak usah bahas dia yang!" merangkul bahu Nada.
"Aku kan cuma nanya, iya apa nggak, tinggal jawab doang apa susahnya sih." menepis tangan Ando dari bahunya, dan berjalan terlebih dahulu.
"Tunggu dong sayang." meraih tangan Nada dan di genggamnya.
"Kalau aku jawab jujur, nanti kamu malah marah lagi sama aku?"
"Ih ribet deh, kalau nggak mau jujur yaudah!" Nada mendesis sebal, akhir-akhir ini kesalahan yang dilakukan sekecil apapun oleh Ando, membuatnya marah dan kesal tak karuan.
Ando menggaruk tengkuknya bingung.
"Iya deh aku jujur, aku pernah kesini sama marissa, itu juga karena di paksa sama dia, bukan aku yang minta yang!"
"Sering?"
"Nggak kok, cuma 3 kali."
Jawaban Ando sontak membuat Nada mendelik kearahnya. "Nggak sering, tapi 3 kali, itu namanya sering lah."
"Katanya nggak pacaran, tapi sering banget jalan berdua, katanya kepaksa, kepaksa kok sering!"
"Eh nggak gitu yang," Ando menarik tangan Nada memasuki sebuah Cafe, mungkin jika di belikan ice cream, marahnya akan sedikit reda. pikir Ando.
Hallo Readers tercintaπ
Dimanapun kalian berada, Semoga selalu dalam keadaan sehat ya,π
__ADS_1
Selamat hari raya idul Adha, Minal aidzin walfaidzin mohon maaf lahir dan batin.ππ