
"Sebenarnya apa yang terjadi sama papa?" Ucap Ando saat sudah mendudukan dirinya diatas kursi yang berjarak agak jauh dari kursi yang sedang di duduki Riana.
"M-mas Jordy mengalami kecelakaan," ia menoleh pada Ando yang memasang wajah datar, dengan tatapan lurus ke depan. bahkan saat Riana mengatakan papanya kecelakaan pun Ando tidak menunjukan reaksi apapun.
Hening...
Dan Ando tidak bertanya tentang hal yang mengakibatkan terjadinya kecelakaan yang dialami papanya.
Hingga suara bunyi handphone yang berada di saku celananya bergetar, membuyarkan lamunannya.
Ando menekan layar pintarnya, mengangkat sebuah panggilan dari bi Mimin, Art dirumah utama papanya.
"Hallo den, assalamualaikum?" suara bi mimin dari sebrang sana terdengar panik dan ketakutan.
"Waalaikum salam, eh ini bibi kenapa?" Ucap Ando tak kalah panik, beranjak dari duduknya.
"Anu den, bibi, Jajang, sama Daman di usir dari rumah, katanya rumah ini disita oleh pihak bank, karena bapak tidak membayar hutangnya dalam waktu yang sudah di tentukan, dan harus di kosongkan saat ini juga!"
Ando memejamkan matanya, memijit pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri, masalah apa lagi ini? batinnya frustasi.
"Bibi harus gimana den?"
bi mimin kembali bersuara, dengan nada yang terdengar gemetar.
"Gini aja bi, bibi sama yang lain datang ke alamat mama dulu, nanti saya kasih tau mama lewat chat, ok bi."
"Iya den iya!"
"Yaudah bibi jangan khawatir langsung aja datang kerumah mama, Ando tutup dulu telponnya bi, soalnya lagi di Rumah sakit."
"Aduh siapa den yang sakit?" lagi-lagi suara bi Mimin terdengar panik kembali.
"Nanti aja ceritanya ya bi, assalamu alaikum?"
"Iya den, waalaikum salam."
Setelah telpon terputus Ando segera menghampiri pintu ruang operasi yang baru saja terbuka, di ikuti Riana dan Gilang.
"Gimana keadaan papa saya dok,?"
"Anda putranya?"
"Betul dok,"
"Baik, kalau begitu tolong ikut keruangan saya sebentar, ada beberapa hal yang harus saya sampaikan mengenai keadaan papa Anda!"
"Baik dok!" ucapnya, seraya mengikuti Dokter tersebut menuju ruangannya.
"Jadi begini!" Ujar sang Dokter saat keduanya sudah sama-sama duduk.
"Papa Anda-." Dokter tersebut menjeda kembali ucapannya, sembari menghela nafas, entah kenapa ada rasa tak tega saat menyampaikan berita tersebut pada anak muda di hadapannya.
"Kenapa dok?" ucapnya tak sabar.
"Sebelah tangan kiri papa anda mengalami luka yang sangat serius akibat terjepit dengan hentakan yang kuat, bisa dikatakan seluruh jari-jarinya hancur, jadi saya terpaksa harus mengamputasinya, Agar tidak infeksi dan berakibat fatal pada organ lainnya."
"Tadi saya sempat berbicara pada Ibu anda sebelumnya, dan beliau menyetujui,"
Ando mengangguk, "Baiklah dok, jika memang itu yang terbaik buat papa saya!"
__ADS_1
"Sabar ya, kasus seperti ini sudah banyak sekali terjadi, semoga papa Anda lekas sembuh."
"Tapi selain dari itu, semuanya baik, dan mungkin sebentar lagi papa anda akan segera siuman."
"Terimakasih banyak dok!"
Setelah keluar dari ruangan Dokter, Ando menghampiri Riana yang masih menangis merangkul pundak putranya.
"M-maaf bu, apa seluruh administrasinya sudah di bayar?" Ando bertanya dengan ragu-ragu.
Riana semakin terisak, membuat Ando menggerenyit bingung.
"Kenapa, ada masalah?" lanjut Ando.
"S-saya tidak punya uang sebanyak itu, saya hanya mampu membayar Dp nya saja."
Ando menghela nafas, "Baik, saya yang akan melunasi kekurangannya!" Ucapnya sembari bergegas pergi menuju tempat administrasi.
.....
"Saya harus segera kembali ke Jakarta, Dokter bilang papa baik-baik saja, dan sebentar lagi akan siuman."
Ando meninggalkan Riana sebelum ia sempat mengatakan sesuatu padanya.
Dan sebelum ia kembali ke Jakarta, ia sempatkan menengok papanya yang sudah di pindahkan keruang rawat.
Ia menatap papanya dengan tatapan sendu, kepala papanya terdapat perban yang cukup tebal, dengan satu tangan yang juga terbalut perban.
"Seharusnya ini tidak terjadi bukan pa, tapi semua itu sudah menjadi pilihan papa sendiri, Ando nggak bisa cegah."
"Ando datang pa, meskipun papa berulang kali menyakiti Ando, tapi Ando tidak bisa untuk tidak peduli, Ando sayang papa!" setetes air mata jatuh mengenai pipinya.
"Ando harap papa bisa bertahan, dan bisa menerima kenyataan ini."
"Ando pamit pulang ya pa!"
........
Setelah menutup pintu ruangan tempat papanya di rawat, Ando melirik ke Arah Riana.
"Titip papa!" Ucapnya, dan langsung bergegas pergi.
.......
"Gimana tempatnya Nak Ando, sangat strategis bukan?"
saat pulang dari Bandung, Ando tidak langsung pulang dulu kerumah. ia langsung meluncur ke lokasi dimana Cafe barunya akan di bangun, karena sudah ada temu janji dengan sang pemilik tanah.
Ando mengangguk, memandangi tanah di hadapannya yang masih di tumbuhi beberapa pohon mahoni dan pohon jati.
Suasana di kawasan ini memang belum terlalu padat oleh penduduk. bangunan-bangunannya pun masih tergolong kecil dan sederhana.
Dan poin utamanya adalah, belum ada satu Cafe pun yang berdiri di sekitar sini.
Jadi, besar kemungkinan akan Ramai pengunjung nantinya.
"Ok deal!" ucap Ando pada pak Raksa, saat sudah puas melihat-lihat lokasi tersebut.
Membuat Pak Raksa tersenyum sumringah.
__ADS_1
"Terimakasih, senang bekerja sama dengan Anda, jika sewaktu-waktu di butuhkan kembali jangan sungkan hubungi saya lagi!" ucap pak Raksa menjabat tangannya.
"Baik pak, saya juga ingin mengucapkan banyak terimakasih, setelah Cafe nya jadi, jangan lupa mampir!" Ucapnya seraya tersenyum.
Yang dibalas kekehan kecil oleh pak Raksa.
Setelah dari lokasi, Ando memutuskan pulang kerumah, karena jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 17:47 pertanda magrib akan segera tiba sebentar lagi.
17 menit Ando sampai dirumahnya, karena letak lokasi untuk pembangunan Cafe barunya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya sekarang.
"Woyy bang kagak jadi nginep?" Ucap Raffa menghampirinya saat hendak masuk ke kamar Nada.
Ando menoleh kearahnya "Nggak."
"Kucel amat lo bang, beda aja kaya pertama ketemu siang tadi, Udah kaya sayuran layu aja tahu nggak!" Ujar Raffa dengan gaya ceplas-ceplosnya.
Ando tidak mempedulikan ucapan Raffa, memilih memasuki kamar, saat ini ia butuh mandi dan makan, karena sejak pagi perutnya sama sekali belum terisi apapun.
"Gue tunggu bang, lanjut ngobrol lagi!" teriak Raffa saat Ando sudah menghilang di balik pintu kamar.
"Ngomong sama siapa lo?" tanya Nada.
"Laki lo lah, lo kira gue ngomong sama demit."
"Kali aja, lo kan temennya begituan semua!" Ucapnya sembari menahan tawa.
"Eh tunggu, maksud lo laki gue, Ando bukan?"
"Ya iya lah, emang lo punya berapa laki, pake Nanya segala!" Tangannya terulur mencomot roti bakar di atas piring yang dibawa oleh Nada.
"Enak juga ya makan roti bakar malam-malam begini!" Ucap Raffa hendak mengulurkan tangannya kembali keatas piring, Namun urung karena Nada terlebih dulu menahannya.
"Lo ambil sendiri gih di dapur, gue bikinnya banyak kok tadi, jaga-jaga ada monster rakus di rumah gue!"
"Eh busyett, gue di katain monster rakus, jahat lo jadi kakak." Ucapnya sembari melangkah pergi.
"Udah pulang, kirain mau nginep!"
Ucap Nada meletakkan Roti bakar yang dibawanya diatas Nakas.
Lalu ia duduk memperhatikan suaminya yang sedang mengancingkan kancing kemejanya satu persatu.
Ando menoleh kearahnya mengangguk lalu tersenyum.
"Tapi abis ini aku mau pergi lagi, kerumah mama!"
"Tumben?"
"Ada urusan sedikit sayang, kenapa? kangen ya, nggak mau di tinggal?!" Ucapnya dengan senyum menggoda.
Refleks Nada memalingkan wajahnya kearah lain.
"Udah makan?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Belum!"
"Kebiasaan, Makan dulu gih sana."
"Makan kamu boleh?" Ucapnya dengan senyum di kulum.
__ADS_1
Dan detik kemudian ia meraih tengkuk Nada, menyatukan bibirnya, lalu ********** penuh gairah.
.......