
"Gila sumpah lo ya, inimah namanya ngerjain gue tahu nggak!" Seru Raffa menggerutu, dengan tubuh terkulai lemas, setelah memuntahkan seluruh isi perutnya.
Pagi tadi Nada terus merengek, meminta Ando agar membujuk Raffa untuk datang kerumahnya.
Entah apa yang dikatakan Ando pada Anak itu, hingga dia mau datang menemuinya, padahal ia tahu Raffa tidak akan mudah dirayu, jika ia sedang dalam keadaan sibuk di bangku perkuliahannya.
Dan ketika ia sampai dirumah Nada, Raffa dikejutkan oleh permintaan Aneh Nada, padahal Nada sendiri jelas sangat mengetahui apa saja yang tidak di sukai adik sepupunya tersebut.
Raffa disuruh menghabiskan sepiring besar udang Asam manis, favorit Nada.
Padahal ia tahu bahwa Raffa akan mual jika memakan makanan tersebut.
"Ini kan permintaan si baby Raff, kok lo jadi nyalahin gue, lo nggak ikhlas, ngabulin permintaan bayi kecil yang bahkan belum lahir ini." tunjuknya pada perutnya sendiri.
"Tapi kenapa musti gue yang harus lakuin, kan ada bang Ando laki lo!" tunjuknya pada Ando, yang sedang menatapnya dengan tatapan iba.
"Ya mana gue tahu, baby nya maunya lo yang lakuin sih, terus gue musti gimana?"
"Parah banget, gue jauh-jauh dateng kesini, cuma disuruh makan racun beginian."
"Awas aja lo dek, kalau sampai nggak sayang sama gue entar!" mengajak ngobrol pada perut Nada yang sedang duduk disebelahnya, memijit pelan tengkuknya setelah di olesi minyak angin.
"Iya om, dede bakal sayang sama om!" balas Nada, menirukan suara anak kecil.
"Om sama tante sehat Raff?"
"Sehat, Alhamdulillah.. gue doang yang kurang sehat!"
"Lo kurang sehat kenapa?" ucapnya tanpa dosa.
"Elaahhh, lo masih aja nanya, ini tengkuk gue sampe dipijit-pijit minyak angin gini, emang masih bisa dikategorikan orang sehat menurut lo!"
"Elaahh, cemen banget sih lo, timbang gitu doang, lebay lo dasar, moga aja anak gue nggak niru kelakuan lo, amit-amit ya dek." mengusap-usap perutnya.
"Nad?"
"Hmmm!"
__ADS_1
"Bikinin gue coklat panas dong!"
"Lo Nyuruh gue?"
"Iya, anggap aja lo menebus rasa bersalah lo, karena udah bikin gue kaya gini."
"Perhitungan banget sih lo sama gue Raff, lagian gue nggak ngerasa bersalah tuh." balasnya, sembari beranjak dari duduknya berjalan kearah dapur.
"Bang, Abang jadi suami Nada cape nggak sih, soalnya selama gue kenal dia, dia itu galak banget, cerewet lagi." ucapnya dengan suara pelan, takut-takut jika seseorang yang sedang digosipkannya tiba-tiba kembali dari dapur.
Ando terkekeh mendengar ucapan Absurd Raffa. "Nggak kok, baik, lembut, pengertian juga!"
"Kecuali waktu pertama kali ketemu sih." lanjut Ando.
"Kenapa bang,?"
"Judes!" balasnya dengan suara berbisik.
Yang disambut gelak tawa oleh Raffa.
"Emang bener tuh bang, tapi Aslinya emang baik sih, cakep juga, sebenarnya kalau bukan kakak sepupu gue, udah gue kawinin kali bang sebelum elo." balas Raffa, yang kemudian terkesiap melihat Nada yang sudah berdiri d ambang pintu, yang sedang menatapnya dengan tatapan horor.
Membuat Raffa kian menggaruk tengkuknya, kikuk.
"Tuh coklat panasnya, buruan minum."
"Eh makasih banyak lho Nad, akhirnya dibikinin juga, tapi maaf ni gue nggak bisa langsung minum."
"Lo mau ngerjain gue?" seru Nada dengan suara meninggi
"Nggak, Eh busyet bumil galak bats si, ya iyalah gue nggak bisa langsung minum, masih panas kali Nad!"
Nada hanya ber oh, kemudian kembali kearah dapur.
Sedangkan Raffa, mengelus dadanya berulang kali, lalu melirik kearah Ando yang seperti sedang menahan tawa.
"Lo ngetawain gue bang?"
__ADS_1
"Eh,"
"Sue banget deh gue!"
"Gue nggak nyangka juga sih kalau Nada bisa segalak itu sama lo, sabar ya Raff, mungkin bawaan bayi." ucapnya, menenangkan.
"Kalau bawaan bayi itu kan sekarang, tapi kan galaknya dari dulu." balas Raffa, dengan wajah bingung.
"Ya, berarti bawaan Nada." balas Ando, yang tak mampu lagi menahan tawanya.
....
***
"Yang!" seru Ando, ketika malam hari keduanya tengah duduk di sofa kamarnya, menonton acara komedi yang diperankan oleh salah satu pelawak terkenal, disalah satu stasiun tv.
"Hmmm!" balas Nada dengan kepala bersandar di dada Ando, dengan nyaman.
"Kemarin kok bisa ketemu lagi sama si brengsek itu." ucapnya kesal.
"Siapa sih bang?"
"Yang aku tonjok di deket parkiran mall."
"Dia punya nama bang, Kak Hendrik namanya."
"Terserah, aku nggak peduli!"
"Kemarin aku nggak sengaja ketemu, dia minta maaf juga soal kejadian yang nggak mengenakan dideket parkiran mall kemarin."
"Ada mama juga kok disana, kemarin lagi nganter aku beli peralatan ulang tahun buat abang."
"Jangan marah dong, abang sayang." mengelus dan m*ngec*p rahang Ando.
"Nggak marah kok, apalagi kalau disayang-sayang terus kek gini."
.
__ADS_1
.