
"Yakin nggak mau ikut?" tawar Ando saat ia hendak berangkat ke Kencana Cafe tempat ia akan bertemu dengan mama Indri.
Kebetulan hari ini Ando libur sekolah, jadi ia lebih banyak waktu untuk mengobrol dengan mama Indri.
"Nggak ah, aku dirumah aja, mau istirahat!"
"Yaudah, nanti kalau ada apa-apa hubungi aku ya." Ando sempat mengusap pelan puncak kepala istrinya sebelum ia menaiki motornya.
Setelah kepergian suaminya, Nada memutuskan untuk kembali beristirahat dikamarnya, karena tubuhnya masih terasa sangat lemas, morning sicknes yang dialaminya kini belum juga berhenti.
entah akan berapa lama.
*******
"Ma, udah lama nunggu ya?"
Ando meraih dan mencium tangan mama saat sudah sampai di Kencana Cafe.
"Nggak juga, Ando pesan dulu gih makanannya, mama udah nih!" tunjuknya pada makanan dihadapannya.
"Ando udah sarapan, jadi pesen minum aja!"
"Yaudah terserah Ando aja."
"Ngomong-ngomong mama mau ngomong soal apa?" Ando meletakan kembali buku menu yang di pegangnya, setelah memberi tahu pelayan, tentang pesanannya.
"Begini lho An-"
Mama terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
Ando menatap mama serius, menunggu kelanjutan dari ucapan Mama, dengan kedua tangan terlipat diatas meja.
"K-kalau mama N-nikah lagi boleh?" Ucapnya terbata, ia meremas jemari tangannya dibawah meja.
Ando diam tak bereaksi.
"Jika hal itu membuat mama bahagia, kenapa nggak, Ando akan dukung apapun keputusan mama."
"Lagi pula Ando rasa, mama masih muda, mama masih butuh sosok pendamping yang akan selalu menemani mama."
"Mama tahu sendiri, Ando juga udah punya istri, jadi Ando nggak bisa nemenin mama setiap saat."
"Juga karena, mama harus bisa buktiin ke papa, bahwa mama bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik darinya."
Mama tersenyum, menatap putranya yang kini terlihat lebih dewasa, ia tidak menyangka jika Ando akan mendukung keputusannya untuk menikah lagi.
"Boleh Ando tahu, calon papa baru Ando itu seperti apa ma?"
"Dia seorang pengusaha, dan juga pemilik sebuah Restaurant seperti mama."
"Mama udah lama kenal?"
"Kenal sih udah lama, tapi mama nggak pernah nanggepin, baru-baru ini aja mama mau deket!"
"Siapapun laki-laki yang mama pilih Ando dukung ma, tapi harus pastiin dulu dia nggak memiliki istri."
"Iya mama mengerti nak, awalnya mama memang tidak berniat menikah lagi, karena mama rasa, dengan memiliki kamu saja mama sudah merasa cukup."
"Dan lagi, soal keuangan mama punya penghasilan sendiri."
"Udah ma, sekarang mama Fokus aja sama masa depan mama ya!"
"Yaudah cuma itu yang mau mama sampaikan ke Ando, terimakasih nak sudah memberi Restu buat mama." menyentuh tangan putranya.
"Mama bahagia, Ando juga ikut bahagia ma!" balas menggenggam tangan mama.
"Kalau udah nggak ada yang mau mama sampein lagi, Ando pamit pulang dulu ma, mau cek keadaan Nada, abis itu Ando mau kebandung nengok papa."
"Yaudah hati-hati nak, sampai kan salam mama buat Nada ya,"
"Baik ma!" Ando beranjak dari duduknya menyalami mama, lalu bergegas pulang.
******
"Hai sayang!" Ando memeluk Nada yang sedang menuangkan susu Ibu hamil kedalam gelas, untuk di seduh.
"Ihs jangan peluk-peluk, aku lagi mau nuangin air panas." melepaskan pelukan suaminya.
__ADS_1
"Eh."
"Yaudah sini aku yang buatin." mengambil alih gelas yang berisi susu bubuk dari tangan Nada.
"Emang tahu takarannya?" Nada menatapnya tak percaya.
"Eh jangan salah, kemarin-kemarin juga aku yang bikin, cuma emang aku suruh bibi yang nganterin."
"Masa iya." Nada mencibir.
"Eh nggak percaya, nih liatin!"
"Selesai,"
"Coba, sama nggak rasanya kaya yang kemarin-kemarin?"
"Sama, kan kemarin juga Rasa vanilla."
"Eh maksud aku rasa manisnya pas nggak?"
"Nggak!" Ucapnya sembari menahan tawa.
Menyimpan kembali susu yang masih panas keatas meja, lalu detik kemudian ia pun berlari menuju kamar.
Ando yang merasa di kerjai istrinya langsung berlari mengejarnya.
"Eh, udah berani sekarang ya, ngerjain suami?" Ando mencium wajah istrinya bertubi-tubi.
"Ini sebagai hukuman, karena sudah mengerjai suami." ucapnya setelah puas menciumi Nada.
"Yang, aku mau ijin kebandung sekitar jam 10an naik mobil bareng mang Jajang, nggak apa-apa kan kalau aku tinggal?"
"Aku boleh ikut nggak?"
"Sayang, kamu kan masih lemes, masih mual juga, jadi nggak usah kemana-mana dulu ya!"
Namun Nada hanya diam, dan wajahnya berubah murung tak lagi ceria seperti sebelumnya.
"Ok, kamu ikut, tapi kalau nanti ada keluhan, kamu harus langsung bilang ke aku ya!"
Dalam sekejap matanya berubah berbinar senang, lalu memeluk erat suaminya.
"Eh sering-sering aja yang meluk gini." Ucapnya dengan senyum di kulum.
"maunya kamu itumah, udah ah aku mau siap-siap, eh tapi aku harus gimana nanti didepan tante Riana." Seru Nada lemas, mendudukan tubuhnya disisi ranjang.
"Apanya yang harus gimana?" Ando berucap dengan kening berkerut.
"Kan waktu itu aku nemuin dia, ngakuinnya sebagai keponakan papa, bukan sebagai menantunya, terus aku ngenalin diri aku pake nama tengah aku Sena."
"Udah biarin aja, aku malah bersyukur banget yang, berkat inisiatif kamu membongkar rahasia papa selama ini, aku jadi tahu semuanya sekarang."
"Mungkin jika kamu nggak senekat itu, sampai kapanpun aku nggak akan tahu semua kebusukan papa dibelakang aku."
"Makasih sayang, atas usaha kamu selama ini."
"Tapi aku takut tante Riana jadi benci sama aku?"
"Nggak usah peduliin, kamu udah melakukan hal yang benar."
"T-tapi?"
"Udah sayang, nggak usah khawatir, ada aku disamping kamu ya!" Ando memeluk Nada, berusaha untuk menghilangkan kekhawatirannya.
....
"Pusing nggak, mual?" tanyanya saat sudah dalam perjalanan menuju bandung.
Ando duduk di jok belakang menemani Nada, takut sewaktu-waktu istrinya kembali lemas dan mual.
Sedangkan mang Jajang duduk sendiri di jok paling depan, tepat dibelakang kemudi.
"Nggak kok, tapi aku ngantuk." ucapnya dengan nada manja.
Tanpa pikir panjang Ando menarik tubuh istrinya lalu di rebahkannya diatas pahanya.
"Tidur ya, Nanti kalau udah sampe aku bangunin." mengelus-elus pelan rambut istrinya hingga tertidur.
__ADS_1
Setelah sampai di halaman Rumah papa Jordy, Ando pun membangungkan Nada dengan cara menepuk pelan pipi istrinya.
Nada mengerjapkan matanya, lalu perlahan duduk dibantu oleh Ando.
"Udah sampe?" Ucapnya serak, suara khas bangun tidur.
"Iya sayang, Ayo!"
Ando memapah Nada berjalan kerumah papa Jordy, sedangkan mang Jajang ijin untuk menunggu di dalam mobil saja.
Tok..tok..tok..
"Assalamu alaikum?"
Ando mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tidak lama pintu kayu tebal berwarna coklat tersebut terbuka, menampilkan sosok anak laki-laki remaja yang menyembul di balik pintu.
"Cari siapa?"
"Papa Jordy."
Gilang menatapnya dengan kening berkerut.
Papa jordy? batinnya.
"Iya, boleh saya ketemu?"
"A-ayah.."
"Dimana?" ucap Ando tak sabaran.
"Ayah lagi di kamar, tunggu sebentar saya panggilkan mama dulu."
Tidak berada lama kemudian, Gilang kembali menghampirinya bersama Riana.
"A-ando?"
"Apakabar tante, maaf mengganggu waktunya, saya kesini ingin menjenguk papa."
Seru Ando, to the point.
"Boleh saya masuk?" lanjutnya,
Karena sejak tadi Riana hanya diam mematung, tidak menanggapi perkataannya atau mempersilahkannya untuk masuk.
"Oh, eh ayo silahkan masuk, duduk dulu ya, saya panggilkan mas jordinya dulu." menunjuk sofa yang terletak di ruang tamu.
Riana menatap Nada sekilas, sebelum ia berjalan kearah kamar.
Ando dan Nada beranjak dari duduknya untuk menyalami papa Jordy yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sehat pa?" Seru Nada menatap papa Jordy yang wajahnya terlihat lebih tirus, dibanding saat terakhir mereka bertemu.
Tubuh Papa Jordy membeku, ia tak menyangka jika menantunya masih sudi untuk datang menemuinya.
Mengingat perlakuan buruknya beberapa waktu lalu pada gadis tersebut, bahkan ia belum sempat meminta maaf atau sekedar menjenguk saat gadis itu tengah dirawat akibat ulahnya.
"P-papa sudah lebih baik, bagaimana keadaan Nada sendiri sehat?" balasnya sedikit tergagap.
"Alhamdulillah sehat pa."
Riana yang tidak sengaja mendengarkan obrolan suami dan gadis yang pernah bertamu kerumahnya, beberapa minggu yang lalu, membuatnya bingung.
Papa,? lalu Nada, siapa gadis itu sebenarnya, Batin Riana.
"Papa minta maaf atas kejadian waktu itu, dan papa juga meminta maaf belum sempat menjenguk dan menemui Nada." ucap papa Jordy dengan wajah menyesal.
"Nggak apa-apa pa, yang lalu biarlah berlalu pa, Dan Nada juga mau minta maaf sama tante Riana."
Ia melirik Riana, yang juga tengah menatapnya penuh tanya.
"Tante, saya minta maaf, waktu itu pernah berbohong pada tante, kalau saya mengaku keponakan papa, sebenarnya saya menantu papa Jordy, istrinya Ando."
Deg..
Riana terkesiap, mendengar pengakuan dari gadis yang saat ini tengah menatapnya.
__ADS_1
.
.