
"Yakin mau keatas? cape nggak kira-kira."
Ando menatapnya dengan raut khawatir.
Pagi ini mereka ingin mencoba menjelajah mendaki puncak manik yang berjumlah 1200 anak tangga.
Bersama Revan, Vina, dan mang Badru. bi Imas tidak ikut serta, karena ia harus menjaga toko sembakonya, yang terletak tidak jauh dari basaga tempat tinggalnya di Ciracap.
Sedangkan Mang Jajang ijin beristirahat dirumah mang Badru, karena tidak enak badan.
"Nggak, bayinya kuat kok, iya kan dek?"
menunduk menyentuh perutnya.
"Yaudah, tapi pelan-pelan aja ya, kalau nggak kuat kita langsung balik kebawah."
"Siap bos."
"Cape lho teh naik keatas, Vina aja waktu itu di gendong sama a Revan, iya kan a?" Vina melirik kearah Revan yang sedang berjongkok mengikat tali sepatunya.
Revan mendengus. "Iya bener, dasar bocah ngerepotin tuh, harusnya nih a Ando sama teh Nada nggak usah ngajak-ngajak ni bocah."
"Ihs a Revan, kan Vina juga mau ikut!"
"Iya ikut, tapi jangan ngerepotin."
"Iya deh iya!"
Nada dan Ando hanya terkekeh melihat kelakuan dua kakak beradik dihadapannya.
Setelah mendaki setengah dari perjalanan menuju curug, Nada mengeluh cape, namun ia bersikukuh tidak mau berhenti sebelum sampai pada puncaknya.
1200 anak tangga, puncak manik
"Vina masih kuat?" Seru Nada.
"Kuat teh, tapi udah lemes-lemes dikit." balasnya sambil terkekeh.
Nada dan Vina melanjutkan menaiki anak tangga lebih dulu.
Sedangkan Ando dan Revan juga mang badru berjalan di belakangnya sambil mengobrol.
hampir 2 jam mereka sampai kepuncaknya, karena perjalanannya harus beberapa kali terjeda karena Nada berulang kali mengeluh cape.
"wahhh!" Nada berdecak kagum, melihat pemandangan dihadapannya.
"Kalau mandi disini seger kali ya!" lanjutnya sembari merentangkan kedua tangannya kedepan.
"Kamu udah pernah kesini?" melirik Ando yang bergeming menikmati angin sepoi-sepoi, poninya yang sedikit panjang ikut bergerak-bergerak diterpa angin.
"Tiap tahun aku selalu main kerumah mamang, tapi biasanya aku lebih sering mancing, ketimbang berwisata, di dekat sini juga ada lagi yang, pantai sekaligus tempat wisata, namanya Geopark Ciletuh."
"Aku mau dong kesana!"
__ADS_1
Ando menghela nafas, memberi tahu Nada, jelas adalah suatu kesalahan, ia tidak mungkin membiarkan istrinya itu terus melakukan aktifitas yang akan membuatnya kelelahan, dan berakibat fatal pada janin yang sedang di kandungnya.
"Kamu butuh istirahat sayang, jangan terlalu kecapean, besok lagi aja ya!"
Namun seperti biasa Nada akan membrengut kesal, jika keinginannya tak terpenuhi.
"Sebentar aja, aku janji abis itu kita langsung pulang kerumah mamang, plis ya plis!" mengatupkan kedua tangannya.
Bagai mana dengan Ando, laki-laki itu hanya bisa pasrah, jika istrinya sudah memohon.
Ia hanya bisa berharap dan berdo'a, semoga Nada dan calon bayinya selalu baik-baik saja.
"Di daerah sini masih banyak lho teh tempat wisata, pantai-pantai sama curug-curug juga banyak." seru Vina.
"Eh serius, jauh nggak?"
"Nggak kok, cuma beberapa menit aja, teteh jangan kaya a Ando, sering main kesini tapi nggak pernah mau ikut kalau di ajak wisata bareng-bareng!"
"Diamah apaan, jauh-jauh dari Jakarta, nyampe sini cuma buat mancing di empang ayah doang, kan nggak seru!" lanjut Vina.
Sementara Ando sudah pasrah, jika Nada menuntutnya menagajak kesana kemari, karena Vina telah menceritakan semua tempat wisata yang berada di daerah sekitar rumah pamannya.
"Hayu besok kita kesana," ucap Nada dengan mata berbinar.
"Aduuh teh, besok Vina nggak bisa kemana-mana, soalnya mau bantuin temen, mendekor acara ulang tahunnya, teteh berdua aja sama a Ando, nggak apa-apa kan teh, berdua kan lebih romantis." ucapnya menahan tawa.
"Eh anak kecil, udah tahu yang romantis-romantis, belajar dari mana?" Ando mencubit gemas gadis remaja yang merupakan keponakannya itu.
"Tahu dong, kaya yang di film-film gitu kan?"
"Sok tahu!" timpal Revan.
"Oh iya a Revan mana tahu yang begituan, dia kan jomblo nggak pernah punya pacar, pacarnya a Revan mah gitar sama pancingan doang." ejek Vina.
"Eh eh, vina nggak boleh ngomong pacar-pacaran ah masih kecil juga!" Ucap mang badru menghentikan celotehan Vina.
"Hmmm.. mang, sayang banget ya, pemandangan seindah ini tapi letaknya berada ditengah hutan begini, coba kalau tempatnya di bikin rapi, rumputnya di bersihin gitu, mungkin bakalan lebih Indah, dan pengunjungnya lebih banyak."
"Kalau boleh tahu, kenapa di namain puncak manik mang?" lanjut Nada penasaran.
Mang badru menghela nafas, sebelum menjawab pertanyaan Nada.
"Ada beberapa mitos sih mengenai puncak manik ini, neng Nada mau dengar?"
Mang badru melirik Nada, yang sepertinya memang sudah siap mendengar cerita dari mang Badru.
"Mau mang!" Nada mengangguk dengan wajah serius, jiwa keingin tahuannya mendadak berlevel tinggi.
"Sebetulnya mamang juga nggak tahu pasti cerita persisnya bagaimana, karena yang asli orang sini kan istri mamang bi Imas, tapi waktu itu mamang pernah di ceritain temen yang asli orang sini."
"Mengenai mitos yang pertama, masyarakat sekitar percaya bahwa dahulu air terjun ini, sempat di kunjungi oleh nyai kentring manik."
"Kentring manik adalah istri dari prabu siliwangi, dan air terjun ini sempat di gunakan untuk mandi, oleh kentring manik, karena itulah curug ini dinamai sebagai curug puncak manik."
"Mitos kedua, menceritakan bahwa dahulu tempat ini, digunakan sebagai tempat untuk menimbun harta karun, saat zaman kerajaan."
"dinamakan sebagai curug puncak manik adalah karena siang dan malam hari, di puncak air terjun ini sering terlihat cahaya yang berkilauan seperti manik (perhiasan.)"
Berkat dari hasil timbunan harta karun tersebut."
__ADS_1
"Beberapa masyarakat yang pernah mengunjungi tempat ini, sering menemukan batu-batu cincin berwarna-warni, mereka percaya bahwa batu tersebut adalah sisa dari timbunan harta karun yang dulu pernah disimpan di tempat ini."
"Curug puncak manik ini sendiri adalah curug tertinggi di sungai Ciletuh, dengan ketinggian lebih dari 100m, ia berada dalam satu ringkasan dengan curug awang dan curug tengah."
"Terdapat dua danau di curug puncak manik ini yang belum di ketahui kedalamannya, karena belum ada yang berani berenang disana, airnya keruh seperti kopi susu, danau yang berada diatas namanya, leuwi ngoplak. danau yang berada dibawah namanya leuwi kaca."
Nada manggut-manggut mendengarkan cerita dari mang Badru.
Termasuk Ando, Vina, dan Revan yang juga baru mengetahui cerita tersebut.
"Hanya segitu yang mama tahu!"
"Nada sampai ngantuk ini dengerin cerita mamang," seru Nada, yang disambut gelak tawa oleh mang Badru.
"Iya nih Vina juga jadi ngantuk." timpal Vina.
"Yaudah sekarang mendingan kita turun terus pulang istirahat." lanjut mang Badru.
"Yah mang, jangan dulu pulang, Nada kan belum lihat geopark, bentar aja mang!"
"Yaudah ayo."
Mereka berlima pun bersiap untuk kembali menuruni anak tangga yang berjumlah 1200 tersebut.
"Masih kuat?" tanya Ando.
"Kuatlah, baby nya juga kuat ya dek?" lagi-lagi Nada menyentuh perutnya.
"Siapa dulu ayahnya ya dek?" Ando ikut mengelus perut Nada, sembari mengulum senyum.
"Ihs."
...........
Setelah dari puncak manik, kelimanya langsung menuju Geopark ciletuh, untuk melaksanakan keinginan sang tuan putri.
"Disini lumayan panas yang, jadi kita pulang sekarang aja ya." Ando mengusap titik-titik keringat di dahi Nada menggunakan telapak tangannya.
"Yaudah, tapi besok lanjut ke ujung genteng, atau minajaya."
"Iya sayang!"
Geopark ciletuh.
Apakabar Readers setia "SAS" semuanya😊
semoga selalu dalam keadaan sehat, ya!
Author mohon maaf, atas ketidak nyamanan kalian, untuk kesalahan di part sebelumnya, yang double-double, kemarin sempat eror, 1 hari proses review tidak berhasil, author ulang lagi, eh jadinya malah double😑
mohon maaf sekali lagi😊😊
Peluk jauh untuk Readers tersayang semuanya🤗😘
.
__ADS_1