Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Nada's graduation day


__ADS_3

"Hasil tes nya sudah keluar, dan boleh di ambil hari ini juga."


Kata-kata dari petugas pihak rumah sakit yang menelponnya tadi, terus terngiang-ngiang di kepalanya.


Dengan penuh semangat Rendra segera mengendarai mobilnya meluncur menuju arah Rumah sakit, bahkan ia tidak mempedulikan pekerjaannya yang masih menumpuk dan belum selesai.


Rasa penasarannya yang teramat tinggi, membuatnya lupa segalanya.


Ia sudah menunggu 2 minggu lamanya, dan akhirnya pada hari ini ia akan mendapat jawaban dari segala kegundahannya.


"Ini hasil tesnya pak." Dokter Adnan menyerahkan amplop berwarna putih yang berukuran lumayan besar, saat Rendra sudah berada di ruangannya.


Rendra mengulurkan tangannya menerima amplop tersebut, dengan tangan bergetar.


Perlahan tangannya bergerak untuk membuka amplop, dan mengambil selembar kertas yang terlipat di dalamnya.


Dan mata Rendra terbelalak lebar, saat membaca hasil tes DNA nya dengan Gilang, Bahkan matanya kini berubah memerah.


"Hasil tes menunjukan kecocokan 100%, jadi saya Rasa anak yang bapak ceritakan kemarin, memanglah anak kandung bapak."


Seru Dokter Adnan, memecah konsentrasinya pada selembar kertas yang sedang digenggamnya erat.


Beberapa saat Rendra hanya terdiam, dengan mata yang terus memandangi selembar kertas tersebut, entah sudah berapa kali ia mengulang untuk membacanya.


Ia seperti belum percaya dengan apa yang dilihatnya hari ini.


Hingga suara seorang perawat memanggil Dokter Adnan, kembali memecah lamunannya.


"Maaf pak, sepertinya ada pasien yang sedang menunggu pertolongan, jadi saya permisi dulu ya!"


"Eh iya dokter maaf, terimakasih banyak dok!"


"Sama-sama pak."


*****


.


.


Senyum Nada terus terkembang, bahkan dari saat pertama kali ia mengenakan toganya.


karena Hari ini merupakan hari wisudanya, hari yang sudah ia tunggu-tunggu selama ini.


Bagaimana tidak, perjuangan menempuh bangku perkuliahan dengan segala suka dukanya akan segera berakhir, dan digantikan dengan gelar yang Disandang.

__ADS_1


Pada momen ini, Yang merasakan euforianya bukan hanya sang wisudawan, namun juga keluarga lain, terutama dari keluarga inti.


Dan di hari itupun, menjadi hari yang sangat berkesan dan istimewa, dimana kebahagiaan terpancar dari seluruh wajah yang ia temui.


Dan beberapa orang diantara mereka, banyak yang membawa buket bunga serta hadiah lainnya, entah untuk pacarnya yang sedang wisuda, atau bukti cinta dari pihak keluarga untuk menyambut hari bahagia putra- putri, atau adik kakak dan saudara mereka.


"Selamat ya nak, atas kelulusannya mama bangga sekali sama Nada." mama Sarah tak lupa memeluk mencium putrinya, serta memberikan hadiah, dan do'a tulusnya.


"Iya sayang, selamat ya papa juga bangga sama Nada." sambung papa Abidzar.


Papa Abidzar dan mama Sarah tidak bertanya mengenai keberadaan Ando, karena semalam Ando sudah menghubungi mereka, untuk mendampingi Nada sampai ia datang.


Acara wisuda sudah selesai, dan keseluruhan tamu sudah bubar, termasuk Bianca dan Chaca yang sudah berpamitan terlebih dahulu setelah mereka puas berfoto-foto, bahkan mama Sarah dan papa Abidzar pun sudah pulang beberapa menit yang lalu.


Nada gelisah mondar-mandir berjalan kesana kemari, menunggu Ando yang sudah berjanji akan datang, namun ia berkata akan sedikit terlambat karena mengarahkan beberapa pelayan barunya yang bekerja di Denada Cafe, sebelum berangkat tadi.


Namun berulang kali Nada menghubunginya Ponselnya tak kunjung Aktif.


"Mustinya aku tadi nggak usah nyuruh mama pulang duluan, atau aku yang ikut mereka pulang, dari pada nungguin kamu nggak jelas disini, yang nggak tahu bisa datang atau nggak?" Ucapnya, dengan mata mulai memerah menahan kesal.


Saat ia hendak memesan taxi online, ia terlonjak kaget, kala tiba-tiba Ando datang dengan nafas ngos-ngosan, menunduk memegangi kedua lututnya yang terasa lemas dan pegal, dengan wajah yang memerah, rambut acak-acakan, serta keringat yang mengucur di dahinya.


"Ma.h..maaf s-hyang, akh aku terlambat." ucapnya dengan suara terputus-putus.


"Sayang aku minta maaf." Ucapnya dengan raut wajah menyesal, lalu Ando berjongkok di hadapan Nada, menyerahkan sebuket bunga mawar putih yang ia bawa untuknya.


"Happy graduation day my dear wife, hopefully this is the begining of happiness to your Happiness." meraih dan mencium tangan istrinya, lalu memeluknya.


Kemarahan yang sejak tadi sudah menggunung, tiba-tiba hilang begitu saja.


Entah kemana?


Dengan satu pelukan hangat dari laki-laki yang sangat dicintanya, mampu meredam seluruh amarah yang tercipta.


"Maaf ya sayang, ini bukan bagian dari keinginan aku yang, nggak bisa menyaksikan hari bahagia kamu, dan sangat terlambat untuk datang, sayang berhak marah kok, aku akui kali ini aku benar-benar salah." ucapnya sembari menunduk pasrah, menunggu hukuman yang akan diberikan oleh istri tercintanya.


"Kenapa bisa telat?" Nada menatapnya dengan tatapan bertanya, tangannya ia lipat di dada, bersidakep.


"Tadi pas aku ngasih arahan anak-anak baru di Cafe, tiba-tiba aku kedatangan tamu, aku yakin dari penampilannya mereka orang-orang dari kalangan atas."


"Dia pesen beberapa menu di Cafe, mereka bilang rasanya beda dari yang lain, terus mereka berencana mau pesan dengan jumlah banyak, untuk acara ulang tahun perusahaannya."


"Mereka juga ngajak aku ngobrol lumayan panjang lebar, mengenai bisnis,"


"Bisnis?" Nada menatapnya dengan kening berkerut.

__ADS_1


"Iya, aku sendiri nggak ngerti sih bisnis yang mereka maksud tadi, nggak konsen juga dengerinnya, pikiran aku tuh cuma di penuhin sama kamu doang yang,"


"Aku takut terlambat, dan nyatanya iya!"


"Terus tadi kenapa ngos-ngosan gitu?"


Ando menghela nafas, menatap wanita cantik di hadapannya yang mendekati sempurna.


"Waktu perjalanan kesini ban Motor aku bocor yang, dan karena waktunya udah mepet, di tambah jalanan cukup macet, dan aku yakin nggak memungkinkan untuk bergerak dalam waktu singkat."


"Jadi, aku putusin buat jalan kaki aja, berharap sampe tepat waktu, eh tapi-" Ando tidak melanjutkan ucapannya, bahkan raut wajahnya, mendadak berubah sendu, sembari menundukan wajahnya.


"Abang, udah ih nggak apa-apa!" Nada menggenggam tangan Ando, berharap bisa mengurangi rasa bersalah Ando terhadapnya.


Tadi Nada memang sempat marah, bahkan berulang kali menggerutu atas keterlambatan suaminya, namun melihat tubuh dan wajah Ando yang penuh keringat, membuatnya tak tega untuk memarahinya.


"Maaf!"


"Iya di maafin."


"Yaampun, sampe keringetan begini, rambutnya acak-acakan lagi." Nada menyentuh rambut yang menutupi kening Ando.


Sementara Ando yang diperlakukan manis oleh Nada, tak bisa untuk tidak terus menatap wajah cantik sang istri.


Tangannya terangkat menyentuh tangan Nada yang masih merapikan poninya yang sedikit basah karena keringat, lalu menuntun tangan istrinya untuk ia turunkan kebawah.


"Kenapa?" Nada menatapnya heran.


"Nanti tangan kamu kotor sayang, lengket kena keringet aku."


"Emang apa masalahnya?"


"Masalahnya, aku nggak mau tangan kamu kotor, sayang cantik begini, kalau di bikin kotor."


Ando melirik kekiri dan kekanan, keadaan didepan gedung wisuda sudah sepi, hanya tinggal beberapa orang yang masih sibuk berfoto, 3 orang yang sedang bersih-bersih, serta 2 orang penjaga yang ikut membantu merapikan sisa-sisa bekas acara.


"Terus, kalau motor abang di bengkel, kita pulangnya naik apa?"


"Naik taxi, tapi kamu yang pesen ya yang, hp aku mati, kehabisan daya kaya nya."


"Pantesan dari tadi di telponin nggak aktif terus."


"Yaudah bentar, aku pesenin dulu."


"Ok sayang."

__ADS_1


__ADS_2