
"Hallo Gilang, kita ketemu lagi?" ucap Maya dengan senyum sumringah.
"Eh, ibu."
"Sibuk nggak?" Ucapnya, setelah menoleh kekiri dan kekanan, dan tidak ada siapapun disana, kecuali beberapa orang yang sedang mengantri didepan pangkas rambut, yang terletak disamping warung nasi milik Riana.
"Nggak kok bu, sebentar lagi warungnya mau tutup, karena dagangannya juga hampir mau habis." balas Gilang sembari mulai menumpuk beberapa nampan serta piring kotor bekas makanan yang telah habis terjual.
"Berarti kalau ngobrol diluar bisa?" lanjut Maya dengan wajah sumringah.
Gilang berpikir sebentar, sebelum kemudian mengiyakan ajakan dari Maya.
Dan setelah berpamitan pada Riana, Gilangpun akhirnya mengikuti Maya yang akan membawanya entah kemana?
"Kemarin Gilang belum sempat jawab pertanyaan saya lho!" seru Maya, ketika sudah mulai mengemudikan mobilnya.
Hari ini ia ingin benar-benar bebas pergi dan mengobrol berdua saja dengan Gilang, maka dari itu ia tak membawa serta pk Imam, supir pribadinya.
"Yang mana ya bu, maaf saya lupa." seru Gilang, meringis bingung.
"Nama ayah Gilang." sambung Maya cepat.
"Oh itu, kalau Ayah namanya Jordy, kalau papa namanya Rendra."
Ckitttt....
Tiba-tiba Maya, mengerem mendadak mobilnya, membuat tubuhnya dan tubuh Gilang terdorong kedepan.
"Eh, yaampun maaf dek, maaf saya nggak sengaja." seru Maya khawatir.
"Iya iya, nggak apa-apa bu." balas Gilang, sembari mengusap-usap jidatnya yang terasa ngilu.
Sedangkan Maya, kini hatinya sedang berkecamuk tak karuan, memikirkan segala kemungkinan-kemungkinan yang ada, bahkan kini tubuhnya pun sudah gemetar.
"Ibu nggak apa-apa?" menyentuh tangan Maya, karena terbengong sangat lama.
"Oh eh, saya nggak apa-apa, cuma kaget aja, maaf ya, Gilang nggak apa-apa kan?" tanyanya balik.
"Nggak kok bu,"
"Ada yang lagi ibu pikirin ya, kok saya perhatiin dari tadi ibu ngelamun terus?"
"Emmm, kita ngobrol di Cafe depan aja ya, biar lebih enak ngobrolnya." balas Maya, kembali melajukan mobilnya hingga beberapa meter menuju tempat yang ia maksud.
"Gilang pesen aja apapun yang Gilang suka," seru Maya, ketika keduanya sudah memasuki Cafe dan memilih tempat duduk yang enak disana.
"Saya udah makan bu, jadi saya pesan minum aja." balas Gilang, karena 1 jam lalu ia baru saja selesai makan siang bersama Devan.
"Beneran udah,? pesan cemilan aja ya, kalau gitu."
"Nggak usah bu, saya masih kenyang!"
"Yaudah deh." Maya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Ehmm, Gilang sekarang tinggal sama papa atau sama ayah? " Maya memulai kembali obrolannya.
"Sama papa bu, kalau ayah udah meninggal."
"Ayah meninggal? "
"Karena apa? " lanjut Maya ingin tahu.
"Kira-kira kalau siang papa sibuk nggak? "
"Emangnya kenapa bu?" Tanya Gilang, dengan wajah bingung.
"Ibu pengen ngobrol sebentar."
"Ibu kenal sama papa?"
"Sangat kenal!"
"Tapi dulu." Lanjut Maya, tersenyum kecut.
__ADS_1
Sedangkan Gilang yang tidak mengerti apa-apa, hanya bisa mengangguk-anggukan kepala.
"Papa jarang dirumah bu, kecuali hari libur."
"Wah.. Berarti kalau besok ada dirumah dong." Maya berbinar senang.
"Iya bu, biasanya hari minggu papa menghabiskan waktu dirumah, bareng mama!"
"Mama?" Ucapnya tak percaya.
Gilang mengangguk, "iya mama."
"Di minum dulu jusnya." ucap Maya, menyodorkan satu gelas jus yang baru saja diantarkan oleh pelayan padanya.
"Makasih bu."
"Siapa nama mamanya, kok ibu nggak tahu ya, kalau papa kamu udah nikah lagi."
"Sekitar 5 bulan yang lalu bu."
Maya terdiam, ada perasaan tak rela dalam hatinya, ketika mengetahui kenyataan bahwa Rendra, mantan suaminya sudah menikah lagi.
Karena Selama ini ia selalu berpikir bahwa hanya dirinya lah satu-satunya wanita yang dicintai mantan suaminya tersebut.
Dan ia selalu berpikir, bahwa Rendra tak bisa hidup tanpa dirinya, karena cinta Rendra dulu padanya amatlah besar, dan tak mudah terbagi pada wanita manapun.
Namun, setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut seorang anak laki-laki remaja dihadapannya, seketika mematahkan perkiraannya selama ini.
"Bu, bu?"
Suara Gilang yang memanggilnya berulang-ulang, membuyarkan lamunannya.
"Eh, kenapa dek?"
"Ibu sakit? dari tadi kok ngelamun terus, wajahnya juga kelihatan pucet, apa sebaiknya kita pulang aja bu." ucap Gilang khawatir.
"Enggak nggak, jangan pulang dulu dong, saya kan masih mau ngobrol, maaf ya, ibu cuma kepikiran sesuatu, tapi udahlah lupain aja, sekarang kita lanjut ngobrol lagi ya!"
..
..
Gilang sempat menoleh pada sang papa yang sepertinya belum menyadari kehadirannya.
"Pa?" akhirnya ia menyentuh lengan sang papa, agar menoleh kearahnya.
"Eh, kenapa jagoan?" ucapnya, sembari mengusap kepala Gilang sayang.
"Emmz."
"Mau ngomong apa, coba papa mau denger?"
"Itu pa," Gilang sempat menoleh kearah mama Indri yang sedang sibuk memasukan beberapa bolu buatannya kedalam mika besar.
"Kenapa sih?" ucap Rendra tak sabaran, karena tidak biasanya Gilang mengajaknya bicara terlebih dulu.
"Ada yang mau ketemu papa?"
"Siapa?" tanyanya dengan alis bertaut.
"Tante Maya."
"Maya, Maya siapa?" ucapnya dengan tatapan bertanya.
"Katanya kenal sama papa, besok minta ketemu, papa bisa?"
"Maya, Maya, Maya, siapa sih?" Rendra bergumam sendiri, mengingat-ingat satu nama yang disebutkan putranya.
.
.
.
__ADS_1
"Yang,?" ucap Ando, mendongakan wajahnya menatap wajah Nada, ketika ia sedang merebahkan kepalanya dipangkuan Nada yang tengah duduk berselonjor diatas kasur.
"Hmmm!" balasnya sembari membelai rambut Ando sayang.
"Kamu kok makin hari makin cantik sih?" godanya.
"Gombal!"
"Eh serius sayang, aku nggak bohong!" mencolek dagunya pelan.
"Ihs abang apaan sih!" ia mencebik kesal.
Membuat Ando semakin gencar untuk terus menggodanya.
"Yang?"
"Hmmm!"
"Kira-kira, kalau nambah anak lagi, seru kali ya yang.?"
Lanjut nya, sembari memainkan jemari Nada, dan sesekali menciumnya gemas.
"Syahki masih kecil abang, lagian abang pikir ngelahirin itu nggak sakit apa,?"
"Iya iya, tapi kan rumah kita jadi rame yang, kalau banyak anak kecil."
"Yaudah, asal abang ya, yang ngelahirin nya."
"Kok aku sih sayang, mau di keluarin lewat mana coba?" ucapnya sambil terkekeh.
"Ya dari itunya abang lah!" ucap Nada dengan wajah merona.
Membuat Ando gemas, hingga secepat kilat bangkit dari rebahannya.
"Itunya apa, hm?" ujarnya dengan senyum dikulum.
"Ihs abang tahu ah," ia pun hendak bangkit dari duduknya, namun urung, karena Ando terlebih dulu menahan tangannya.
"Jelasin dulu, baru aku lepasin!" lanjut Ando, sembari menahan tawa.
"Atau mau aku yang jelasin?"
Nada bergeming, dengan wajah yang semakin merona,
Meski usia pernikahannya dengan Ando, sudah memasuki ke satu tahun, namun membahas soal yang berbau intim masih saja terlalu memalukan bagi Nada.
"Denger ya sayang," menarik tangannya dan mengangkat tubuh Nada ke pangkuannya.
"Nggak mau dengerrrrr!" teriak Nada.
.
.
Hallo readers tercinta☺🥰
bagaimana kabarnya, sudah lama Author tidak menyapa😁
semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia ya, aamiin😊
.
.
Terimakasih buat Readers tercinta, yang sudah mengikuti perjalanan cinta Ando dan Nada dari awal hingga saat ini.
.
Mungkin cerita ini beberapa part lagi akan segera tamat, kenapa?
Karena kalau terlalu panjang, nanti ceritanya akan ngalor ngidul nggak karuan, ☺☺
.
__ADS_1
.