
Ando berulang kali salah menyanyikan tiap bait lagunya, bahkan suara emasnya mendadak fals. Kelima sahabatnya Danang, Pandu, Agil, Beny dan Ramon saling beradu pandang bertanya-tanya Ada apa dengan sahabatnya yang satu itu.
Sejak dulu Ando selalu fokus setiap melakukan latihan vokal atau apapun itu, tapi kali ini ia terlihat kalut dan berantakan.
"lo lagi ada masalah bro, kita perhatiin dari tadi lo nggak fokus dan salah mulu." ucap Pandu tiba-tiba.
"Sorry banget bro, gue nggak profesional. jujur gue lagi pusing banget." balas Ando menyugar kasar rambutnya hingga berantakan.
"Ok bro, lo istirahat aja atau cari apapun hal yang bikin lo bisa lebih tenang dan lega, masalah latihan kapan-kapan masih bisa dilanjut!" Danang menimpali, yang diikuti anggukan oleh yang lainnya.
Ando menatap kelima sahabatnya penuh rasa haru, ia bersyukur memiliki sahabat yang sangat pengertian seperti mereka.
"Thanks bro, atas pengertiannya. gue keruang ganti dulu." ucapnya yang langsung berjalan lesu menuju ruang ganti.
"Brengsekkk!" umpatnya, menonjok dinding tembok hingga buku-buku jarinya lecet. Badannya luruh merosot dibalik dinding. mengacak rambutnya frustasi.
"Apa kurangnya aku buat kamu Nad, kapan kamu bisa balas perasaan aku, Aku cinta sama kamu Nad."ucapnya pelan bersamaan dengan air matanya yang mulai menetes membasahi pipi putihnya.
Ia berjongkok, menelungkupkan wajahnya diatas kedua lututnya menangis dalam diam.
"Bro lihat tuh si Ando." Ucap Agil pelan sembari menunjuk dengan dagunya.
"Gila, selama gue kenal sama tuh bocah, kagak pernah gue ngelihat dia sekacau ini, iya nggak sih?" tanya Danang.
"Iya lo bener, Apa karena ceweknya si Ando yang namanya Nada itu apa ya?" ucap Pandu.
"Kaya gimana sih ceweknya si Ando, sampe bikin si Ando frustasi gini?" Ramon ikut menimpali.
"Iya, penasaran gue!" lanjut Beny.
"Cakep sih, cakep banget malah! gue rasa si Ando udah tergila-gila sama tuh cewek, tapi yang jadi pertanyaannya, kenapa Si Ando kalut begitu, masa iya diputusin. setahu gue mereka jadian juga belum lama." Ucap pandu dengan raut bingung.
"Yaudahlah bro, biarin si Ando nyelesain permasalahannya sendiri, gue rasa si Ando cukup bijak dalam bertindak. biarin dia sendiri menenangkan fikirannya dulu, kita sebagai sahabat doain dia yang terbaik aja."
Ucap Danang kemudian. lalu diangguki oleh yang lainnya.
__ADS_1
"Yok cabut latihan." Ucap Pandu sembari melangkah kembali memasuki ruang studio musik. diikuti yang lainnya.
.................
Nada mondar-mandir didalam kamar, menunggu Ando yang tak kunjung pulang sejak semalam dan hingga sore ini.
Cklekk..
Suara pintu kamar terbuka, bersamaan dengan kepala Ando yang menyembul dibalik pintu. ia sempat bertatapan dengan Nada, lalu kemudian melengos memalingkan wajah, mengambil satu setel baju santai dan Handuk lalu masuk kekamar mandi.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Ando mengambil bantal lalu merebahkan dirinya diatas sofa.
Nada menunduk sedih, rupanya Ando masih marah dan enggan untuk membuka suara.
Pukul 22:10 Nada terbangun dari tidurnya lalu meraba sebelah sisi kasurnya dengan mata masih setengah terpejam.
Setelah kesadarannya mulai kembali, ia melirik kearah sofa, dimana Ando tertidur waktu sore, Namun kini tak lagi berada ditempatnya.
Nada menyibak selimutnya, hendak beranjak dari atas tempat tidur.
Saat melihat bayangan Ando berdiri didepan kaca jendela dengan wajah menatap lurus kedepan.
Nada bergegas menghampiri Ando memeluk tubuhnya dari belakang, hal yang beberapa hari kemarin sering dilakukan Ando padanya.
Memeluk erat tubuhnya, yang ia rindukan 2 hari ini, menghirup dalam-dalam Aroma khas Ando menyenderkan kepalanya dipunggung Ando, yang baginya terasa hangat dan nyaman.
"Aku tahu aku salah kemarin, aku minta maaf." ucapnya yang diiringi dengan isak tangis. bisa Ando rasakan tubuhnya yang bergetar naik turun diatas punggung Ando.
Membuat tubuh Ando menegang seketika, tak menyangka jika akhirnya Nada mengakui kesalahannya lalu meminta maaf padanya.
Hal sederhana, namun sangat berarti untuk Ando.
"Maafin aku,!" ucapnya lagi karena Ando tak kunjung merespon ucapannya.
Ando membalikkan tubuhnya menatap lekat wajah istrinya yang berurai Air mata. perlahan tangannya menyentuh dan mengusap air mata Nada menggunakan ibu jarinya.
__ADS_1
Ia tersenyum hangat, lalu mencium kening Nada sangat lama. seolah melepas kerinduan yang telah lama menggunung.
"Kenapa Nangis hmm?" tanyanya.
"Aku minta maaf?" ucapnya dengan air mata yang masih terus menetes.
"Buat?" tanyanya. dengan kening berkerut.
"Buat soal kemarin, aku nggak sengaja ketemu sama Riko dia bilang ini pertemuan kita yang terakhir."
"Dan kamu setuju buat jalan bareng sama dia!" Ucap Ando dengan raut wajah datar.
Nada mengangguk.
"Pergi dengan laki-laki lain tanpa seizin suami begitu?" lanjut Ando, menekankan kata suami.
"Jalan dengan laki-laki lain, lalu nggak berterus terang siapa aku?" Tanya Ando dengan tangan bersidakep.
Nada gemetar ditempatnya, bahkan suara isak tangisnya kian bertambah kencang, namun Ando seperti tidak peduli.
"Aku tahu Nad, dari awal kamu memang nggak suka dengan kehadiran aku disamping kamu, apa lagi untuk sayang dan Cinta, aku sadar aku tidak akan mendapatkan hal seistimewa itu dari kamu, tapi bisa kan, hargai aku sebagai suami Nad?"
"Bisa kan?" ucap Ando dengan intonasi tinggi.
"Kamu tahu kan Nad, dari Awal perasaan aku ke kamu kaya gimana, Aku cinta sama kamu Nad, Dan aku cemburu kamu pergi dengan laki-laki lain disaat status kamu udah sah jadi istri aku."
Ando beranjak hendak kembali merebahkan tubuhnya di sofa, Namun urung karena Nada kembali memeluk tubuhnya.
"Aku minta maaf Ando, aku janji nggak akan mengulanginya lagi."
"A-aku sayang sama kamu, aku nggak mau kamu pergi, aku nggak mau kehilangan kamu." ucapnya dengan suara tercekat.
Tubuh Ando kembali menegang, apa katanya? ia tidak salah dengar bukan, Batin Ando.
"Aku sayang kamu Alby Orlando Arsenio."
__ADS_1