Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Resepsi pernikahan


__ADS_3

"Dia itu cuma temen masa kecil aku sayang, nggak ada yang istimewa."


"Dengerin aku, kamu tahu kan gimana besarnya rasa cinta aku ke kamu yang, semua yang sudah berlalu sama sekali nggak ada kaitannya, karena dimasa sekarang buat aku yang paling terpenting itu adalah kamu, dan juga anak kita."


"Begitupun di masa depan." lanjut Ando, menatapnya dengan tatapan serius.


"Terus, kenapa abang janji mau nikahin dia?" Nada kembali memukuli dadanya, bersamaan dengan rasa kesal, marah, dan cemburu kembali memenuhi hatinya.


"Sayang eh sayang." Ando menangkap kedua pergelangan tangannya yang terus membrontak.


"Waktu itu aku masih kecil sayang, baru 10 tahun, aku juga nggak kepikiran makna dari ucapanku sendiri."


"Udah ya sayang, aku mohon, kasian babynya, kalau bundanya sedih terus."


Nada terdiam, tidak lagi marah-marah, namun selama perjalanan ke rumah mama, ia sama sekali tidak bersuara, barang sepatah katapun.


Dan ketika sampai dirumah mama Sarah, ia langsung berlari menghambur kepelukan mama, dan setelah puas memeluknya ia memutuskan untuk beristirahat di kamar lamanya.


Sedangkan Ando, duduk sembari mengobrol di sofa ruang tamu, bersama mama dan papa Abidzar.


"Gimana tadi acara disekolah lancar?" seru papa, sembari menyesap kopi hitam favoritnya.


"Alhamdulillah pa, lancar!"


"Aduh, selamat ya, mantu mama sekarang udah bukan anak SMA lagi dong." timpal mama, yang baru saja datang dari dapur, membawa nampan yang berisi secangkir coklat panas untuk Ando.


Papa terkekeh, sementara Ando tersenyum sembari meringis malu.


"Maafkan Nada ya nak Ando, pasti sangat merepotkan sekali, terutama setelah hamil." seru mama, memandangi wajah lelah Ando.


"Eh nggak kok ma, sama sekali nggak merepotkan, lagian Nada udah jadi istri Ando ma, hidup Nada udah sepenuhnya jadi tanggung jawab Ando."


"Justru Ando yang harusnya minta maaf, karena sebagai suami, Ando merasa banyak sekali kekurangan, dan belum bisa membahagiakan Nada sepenuhnya."


"Nggak sayang, mama tahu selama ini nak Ando sudah berusaha buat anak mama selalu bahagia."


"Tapi mungkin, seperti yang selalu mama bilang, wanita hamil itu moodnya selalu berubah-ubah, kadang marah-marah, sensitif, dan mudah menangis, jadi nak Ando harus lebih sabar ya, menghadapinya."


"Ando sama sekali nggak keberatan ma!" balasnya.


"Oh iya, mengenai resepsi pernikahan kalian, mama ambil seminggu lagi ya, karena mau sekalian selametan 7 bulanan kandungan Nada, mungkin di adainnya diakhir acara resepsi, mama juga udah minta persetujuan dari mama Indri, dan dia setuju."


"Nak Ando nggak keberatan kan?"


Ando mengangguk, "Kalau Ando, ikut aja gimana baiknya." balas Ando.

__ADS_1


..


..


Tidak terasa hari berganti begitu cepat, dan kini telah sampai pada waktu yang di nanti-nanti, yaitu hari resepsi pernikahan Ando dan Nada, yang akan di susul dengan acara selametan tujuh bulanan kandungan Nada.


Seluruh tamu undangan hadir memenuhi gedung, dimana acara sedang dilangsungkan.


Hari ini Nada terlihat sangat cantik, menggunakan gaun pengantin berlengan panjang yang sangat simple, namun terlihat elegant.


Begitu juga dengan Ando, yang terlihat sangat rapi dan tampan, menggunakan setelan jas hitam, yang dipadukan dengan kemeja putih di dalamnya.


"Yaampun An, saya hampir syok, begitu tahu kamu udah nikah, serasa mimpi, nggak percaya sama sekali."


"Dan begitu saya dapat undangannya, saya sampai lihatin nama kamu berulang-ulang, untuk memastikan, dan ternyata itu benar nama kamu, barulah saya bisa percaya."


"Selamat ya selamat atas pernikahanmu, saya doakan yang terbaik." seru pak Tino, yang merupakan guru olah raga Ando sewaktu sekolah.


"Wah calon papa muda juga kayanya ni!" lanjut pak Tino, sembari tersenyum kearahnya.


"Terimakasih banyak pak, sudah menyempatkan waktunya untuk datang ke pernikahan saya dan istri." balas Ando.


"Si Ando, pantesan pengen cepet-cepet nikah, istrinya cakep gini, iya nggak bu Ita?" seru bu Rini menoleh kearah bu Rita yang berjalan dibelakangnya menyalami Ando dan Nada.


"Takut di ambil orang kali bu, kalau nggak cepet-cepet di halalin." sambung bu Rita sembari terkekeh.


Ando ikut terkekeh, sementara Nada meringis malu.


"Ibu kaget tahu An, ibu kira cuma mau ngePrank, eh ternyata kamu malah nikah beneran!" seloroh bu Yasmin, dibelakang bu Rita.


"Iya bu, terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk datang, kepernikahan saya dan Istri."balas Ando.


Dan kini mereka mengabadikan moment tersebut dengan berfoto bersama, bersama guru-guru, serta sahabat dan teman-teman Ando, yang hadir disana.


Begitu juga dengan kedua sahabat Nada yaitu Bianca dan Chaca, yang tak mau kalah, mereka melakukan sesi foto hingga puluhan kali.


"Gila, pake baju ginian, elo makin cakep aja Ndo, asli ngiri banget gue, apa lagi bini elo, beuuuhhh udah kaya bidadari aja, coba kalau gue yang ada di posisi elo, pasti bahagia banget hidup gue!" ucap Pandu, ketika mendekat kearahnya.


Sedangkan Ando hanya terkekeh, menanggapi tingkah konyol sahabatnya.


"Selamat ya bro, turut berbahagia gue, doain gue biar cepet sukses, dan nyusul lo ke pelaminan." ucap Danang memeluknya.


"Eh, ngomong-ngomong gue punya berita hangat nih, elo mau tahu nggak?" bisik Danang.


"Apaan, mendingan jangan di dengerin deh Ndo, kagak penting, gue udah tahu dia mau ngomong apa, paling dia mah mau cerita soal si Metta anaknya ceu Odah, tukang warung di persimpangan jalan, udah bosen gue dengernya."

__ADS_1


"Anjirrr, dengerin gue dulu ngapa, kali ini serius, bukan mau ngomongin anaknya ceu Odah, elahh!"


"Ini tentang si Marissa bro!"


"Ah, itu lebih parah, ngapain juga bahas si nenek sihir, lebih nggak penting, dan nggak berfaedah." ketus Pandu.


"Anjir, itu mulut kagak pernah disekolahin banget ya, dengerin dulu ngapa gue ngomong!" Danang mendengus kesal.


Sementara Ando dan Nada, menggeleng-gelengkan kepala, pusing melihat tingkah keduanya.


"Yaudah, buruan kenapa?"


"Elo belum pada tahu kan, kalau si Marissa sama Si Agil jadian,"


"Anjirrr, serius lo" balas Pandu, dengan suara meninggi, membuat para tamu undangan menatapnya dengan tatapan heran.


"Mulut lo, kondisiin bro, malu-maluin banget kampret!" umpat Danang, kesal.


"Eh tapi, lo serius? kagak percaya gue sumpah!"


"Serah ah, lama-lama ngomong sama elo, bikin tenggorokan gue kering, haus gue!" ucap Danang, sembari melangkah pergi dari hadapannya.


"Mau kemana woyy, lo belum selesai cerita sama gue!"


Namun, Danang memilih tidak peduli, hanya melambaikan tangan tanpa menoleh, berjalan cepat menuju tempat minuman.


"Elo percaya An, sama yang dibilang si kunyuk tadi, nggak kan?"


"Sama gue juga!" ucap Pandu, menjawab pertanyaannya sendiri.


Dan beberapa saat kemudian Marissa datang sembari menggandeng tangan Agil, untuk menyalami Ando dan Nada.


"Selamat ya Nad, semoga selalu berbahagia." Marissa memeluk Nada, tidak ada lagi tatapan sinis, dan raut benci seperti dulu dari Marissa.


Mungkin ia sudah benar-benar, moveon dari suaminya pikir Nada


"Makasih sa, udah datang!"


Marissa mengangguk sambil tersenyum.


"Selamat ya An, bahagia selalu, doain gue biar cepat nyusul." ucapnya sembari terkekeh.


sedangkan Ando hanya mengangguk, dengan wajah datarnya.


"Itu kondisiin dong mukanya, jangan dibikin datar terus." lanjut Marissa masih dengan kekehannya.

__ADS_1


.


__ADS_2