Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Belajar menahan emosi


__ADS_3

Ando meninggalkan rumah, dari siang hingga larut malam, ia lebih memilih mencari kesibukan diluar, dari pada terus dirumah, yang hanya akan membuat emosinya kembali menjadi.


Dan ketika ia pulang, rupanya Nada pun sudah tertidur pulas, dipandanginya lama wajah istrinya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian.


Ando menghembuskan nafas pelan melalui mulut, ada kelegaan yang terpancar dari keadaannya, sekalipun gelisah masih menjadi dominan.


Ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 23:49, ia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur, dengan tubuh miring menghadap kearah Nada.


Dipandanginya sekali lagi wajah Nada, yang terlihat damai saat tidur, bahkan wajahnya saat ini terlihat lebih cantik berkali lipat, menurut Ando.


Tangannya terulur menyentuh dan mengusap lembut rambut Nada, yang menutupi sebagian wajah cantiknya.


"Aku nggak akan biarin siapapun merebut kamu dari aku." ucapnya pelan.


"Aku cinta sama kamu yang, aku bisa gila jika harus kehilangan kamu, tolong bertahan dan sabar sebentar lagi, aku akan berusaha menjadi laki-laki seperti yang kamu idamkan selama ini." mencium kening, dan perut Nada.


Dan detik kemudian ia pun tertidur.


******


Suara alarm di pagi hari yang berasal dari jam weker di sampingnya, terdengar sangat nyaring memenuhi ruang kamarnya.


Ando meraba sebelah sisi tempat tidurnya, dengan mata terpejam, mencari-cari keberadaan istrinya.


Kemudian ia membuka matanya, dengan mulut menguap beberapa kali.


Dirabanya kembali kasur tempat dimana semalam istrinya tertidur, rasanya dingin, sepertinya Nada sudah lama pergi.


Namun detik kemudian, ia terperanjat kaget, dan sontak membuat kesadarannya kembali sepenuhnya.


Ia berlari kekamar mandi untuk membasuh muka, dan menggosok gigi, lalu kemudian menyambar kunci motornya yang tergeletak diatas nakas, dan berjalan dengan langkah lebar.


"Aden mau kemana?" sapa bi Mimin, saat Ando berada di anak tangga terakhir, saat ia baru saja turun dari lantai 2.


"Mau cari Nada bi."


"Eh ari si Aden, emang tahu gitu non Nada pergi kemana, udah dicariin sekitar rumah?" Seru bi Mimin, ia tahu Ando sedang panik saat ini.


"B-belum bi."


"Ih selow atuh Aden, jangan panik gitu, kelihatannya si aden mah meni kasieunan pisan, tadi subuh Non Nada teh pergi, katanya mau kerumah orang tuanya, Aden nggak usah cari dia katanya, Aden fokus aja sama sekolahnya."


"K-kerumah orang tuanya bi?" balasnya, dengan harap-harap cemas.


"Iya den, udah sana Aden mandi, ganti baju, terus berangkat sekolah." Bi Mimin mendorong pelan tubuh Ando, agar kembali menaiki anak tangga.


...


Pukul 6:05 Ando sudah berangkat sekolah, lebih pagi dari biasanya, dengan mengendarai motor merah kesayangannya, dan melewatkan sarapan paginya begitu saja.


Rasanya ia tak berselera untuk sarapan, walau sekedar meminum susu hangat yang disediakan bi Mimin di meja makan.


.


.


Saat setengah perjalanan, kilasan matanya tidak sengaja menangkap bayangan Nada yang sedang mengobrol dengan seorang laki-laki di pinggir jalan, namun tidak lama kemudian mama Sarah menghampiri keduanya.


Dengan di dorong rasa penasarannya yang kuat, Ando mulai mendekati 3 orang tersebut tanpa mereka sadari.


Ia hendak menepikan motornya, namun urung, kala hati kecilnya terlebih dulu mengingatkan, bahwa jika ia sampai turun maka semua tidak akan baik-baik saja, mengingat emosinya yang kadang tak terkendali.


Ando tahu, meskipun laki-laki yang berbicara dengan istrinya tengah berdiri dengan tubuh yang membelakanginya, tapi ia yakin laki-laki itu Adalah Hendrik, orang yang sama, yang kemarin sempat ia hadiahkan 1 bogem mentah, didekat parkiran mall.


Akhirnya, Ando memilih melanjutkan perjalanannya menuju sekolah, sembari berusaha menenangkan perasaannya sendiri.


Lo harus tenang Ando.


Lo harus tahan.


Lo harus kuat.


*Lo jangan cari masalah.


Lo harus percaya Nada tipe cewek setia*.


Nggak usah khawatir, istri Lo aman sama mertua lo! batinnya.


...


.


"Njirrr, itu muka lusuh amat! ibarat kaya jemuran nggak kena panas, nggak di setrika pula, tahu nggak lo!" seloroh Danang, menepuk pundak Ando, yang berjalan gontai, menuju kelas.


"Layu sebelum berkembang kali!" timpal Pandu.


"Lebih parah, mati sebelum berdaun." balas Danang.


"Njir kembaran gue, kalau ngomong suka bener!" timpal pandu, lalu kemudian mengajak Tos pada Danang.


"Sumpah ya lo berdua, emang bener-bener duo bintang redup, nggak jelas banget!"

__ADS_1


ucap Ando, yang kemudian bergegas masuk kedalam kelas terlebih dahulu, meninggalkan mereka yang masih sibuk berceloteh, sembari tertawa riang.


...


"Mau kemana lo siang ini?" seru Pandu, menghampiri Ando yang hendak menyalakan motornya.


"Balik!" jawabnya singkat.


"Gimana kalau siang ini kita ke studio musik, gue tahu elo lagi bad mood, siapa tahu dengan elo nyanyi-nyanyi, terus treak-treak, bisa bikin elo happy lagi."


"Males! gue mau kebengkel aja."


"Eh, tunggu dong bro!" Pandu menahan tangan Ando yang bergerak hendak melajukan motornya.


"elo kok jadi cemen gini sih, pasti gara-gara cewek kan lo, gara-gara Nada?"


"Bukan urusan lo Pan, gue lagi males ngomong, mendingan lo minggir deh."


"Ndo lo inget kan, 3 hari lagi kita ada manggung di acara syukuran pernikahan anaknya kong Gani, lo yakin kagak mau ikut latihan?"


Ando terdiam sejenak, sembari membenarkan tasnya yang merosot dari bahunya.


"Ok, ayo!"


"Seriusan lo, asyekk..nah gitu dong, itu baru namanya Ando sahabat gue." menepuk pelan bahu Ando.


"Woyy Nang, meluncur ke studio!" teriak Pandu pada Danang yang berjarak agak jauh dari mereka berdua.


"Ok!" balas Danang mengangkat kedua jempol tangannya keatas.


Akhirnya mereka bertiga berangkat ke studio musik bersama.


...


"Ah elo payah An, kalau udah urusan cewek, pasti mendadak lemah kek gini!" seloroh Pandu.


"Lo belum ngerasain sih, gimana rasanya patah hati sama cewek, jadi kagak ngerti sakitnya kek gimana, kagak heran sih tapi, lo kan Jomblo akut, karatan malah!" Timpal Danang santai.


"Sialan lo, ngatain gue jomblo akut, lagian emang lo tahu masalah si Ando yang sebenarnya, lo tahu dari mana kalau dia lagi patah hati."


"Ya ngira-ngira aja sih!" balasnya sembari mengangkat bahu.


"Sok tahu!"


"Emang gue tahu."


"Dasar kanglor!"


"Apaan tuh kanglor?"


"Njirr, sialan banget lo, tampan gini dibilang kang kolor, gak matching banget, kualat lo jadi temen, gue do'ain semoga cepet dapet hidayah lo!"


Yang di ajak ngobrol, hanya mengangkat bahu acuh, sembari menenggak air mineral dingin, dalam kemasan botol.


Sementara Ando tenggelam dalam pikirannya sendiri, yang melanglang buana entah kemana.


"Beneran nih si Ando, badmood parah keknya." Pandu berbisik ditelinga Danang.


"Ya terus percuma dong, kita kesini, ngomongnya mau latihan, tapi malah ngelamun terus noh," tunjuk Danang menggunakan Dagunya.


"Kalau ngelamun doang mah dirumah juga bisa kali! nggak harus datang kesini." sambung Danang.


"Udahlah, tugas kita kan sebagai sahabat buat menghibur dia, biarin aja, mungkin emang kali ini masalahnya si Ando, lebih berat dari yang kemarin-kemarin."


"Iya juga sih, yaudah kita temenin sampai dia sadar."


"Lo pikir tuh bocah pingsan, pake acara nunggu sampe sadar segala."


"Bukan itu maksud gue, elaaahhh salah mulu gue!"


**********


Pukul 16:45 Ando memutuskan untuk pulang kerumah.


"Bi, Nada udah pulang?" seru Ando, saat membuka sepatunya diteras rumah.


"Belum den." balas bi Mimin, yang baru saja membuang sampah didepan rumah Ando.


"Serius bi?" ucapnya dengan wajah sendu.


"Coba sama den Ando telpon aja, atau di chat gitu den?"


"Oh iya, ya bi, saya kok nggak kepikiran sampai kesitu."


"Ah si Aden bisa wae."


"Yaudah bibi permisi kedalem dulu atuh ya, mau manasin makanan den, jangan lupa Aden teh makan ya, karena tadi pagi juga nggak sarapan dulu kan, nanti sakit lho."


Namun, Ando hanya mengangguk, sebagai jawaban.


Ando bergegas kekamarnya, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur, tanpa membuka seragamnya terlebih dahulu.

__ADS_1


meraih ponselnya, Dan segera menekan tombol hijau dilayar pintarnya tersebut.


Berulang kali ia mengulangnya, namun Nada tak kunjung menjawabnya, membuat perasaannya di penuhi kegelisahan yang tak karuan.


Terlebih tadi pagi ia menyaksikan sendiri, istri tercintanya tengah mengobrol santai dengan laki-laki lain.


Ia menghembuskan nafasnya pelan.


"Dimana kamu sayang, lagi ngapain, aku rindu!" gumamnya lirih.


Pukul 19:11 Ando memutuskan untuk menjemput Nada, kerumah mertuanya.


Drrtt..Drrtt..


Ando melihat ponsel yang digenggamnya dengan mata terbelalak, dengan perasaan berdebar, kala mendapati satu nama yang tertera di layar pintarnya.


My Wife Calling...


Tanpa menunggu lama lagi, ia segera menekan tanda hijau, lalu menempelkan benda tersebut di kupingnya.


"Hallo sayang!" Ucapnya dengan wajah tersenyum.


"Ini mama Ando, mama sama papa mau bicara penting, sama kamu."


Terdengar helaan nafas dari sebrang sana.


"Ini tentang Nada."


Deg!


Perkataan mama mertuanya, terdengar sangat serius bagi Ando.


"Mama harap Ando bisa datang kesini sekarang, secepatnya, mama tunggu!"


"B-baik ma!" balasnya lemas, bersamaan dengan telpon yang ditutup secara sepihak.


Ando menyeret kakinya melangkah dengan harap-harap cemas.


Lalu mengendarai motornya secepat kilat.


Setelah sampai dirumah mertuanya, Ando bergegas mengetuk pintu.


"Buka aja den Ando, pintunya tidak dikunci, bu Sarah dan pak Abidzar sudah menunggu didalam." seru mang Arif memberi tahu.


"Oh gitu, yaudah makasih mang, saya masuk dulu."


Ando membuka pintu dengan tangan bergetar, bahkan ia berulang kali menghembuskan nafasnya, untuk mengurangi sedikit rasa gugupnya.


Hal pertama yang ia lihat saat pintu terbuka adalah.


Gelap, sangat gelap.


Dan klik..


Tiba-tiba lampu menyala, bersamaan dengan seluruh sahabatnya yang berada disana, termasuk, papa Abidzar, mama Sarah, mama Indri dan om Rendra, yang sedang tersenyum kearahnya, sembari menyanyikan sebuah lagu.


Selamat ulang tahun..


"Happy birth day to you, Happy Birthday to you, happy birt day to you."


"Happy birthday bro," semua sahabat Ando memeluknya, sembari melempar dan menangkap kembali tubuh Ando bersamaan.


"Happy Birthday Ando, panjang umurnya, sehat selalu, mengalir rezekinya, serta menjadi sosok laki-laki yang lebih dewasa." Seru mama Sarah, memeluk menantu mudanya.


"Jadi maksud mama tadi itu-?"


Mama Sarah hanya tersenyum menanggapi wajah bingungnya Ando.


"Selamat ulang tahun juga dari papa ya, papa percaya kamu adalah laki-laki hebat." timpal papa Abidzar menepuk-nepuk pundaknya pelan.


"Selamat ulang tahun sayang," Mama Indri tidak banyak bicara, melainkan lebih banyak menangis, sembari memeluk erat tubuh Ando.


"Selamat ulang tahun Ando!" seru om Rendra setelah mama Indri melepaskan pelukannya.


"Makasih om."


"Ini kuenya biar mama aja yang tiup ya, Ando tiup yang lain aja" seloroh mama Sarah menunjuk kue tart yang berada ditangan Pandu.


Yang lain? batinnya.


Dan ia mulai menyadari, kala melihat sekeliling ruangan, tidak ada istrinya disana.


"Nada dibelakang!" seru mama Sarah yang seakan mengerti apa yang dicari-cari menantunya.


.


Hallo Readers tercinta😘


jangan lupa Like, Komen, dan dukungannya, biar Author lebih semangat nulisnya ya 😁


terimakasih😊😊😊😊

__ADS_1


.


.


__ADS_2