
Saat sampai didalam kamarpun Nada masih diam membisu, enggan untuk membuka suara. meskipun berulang kali Ando berusaha menggodanya.
"Udahan dong yang ngambeknya!" ucap Ando ikut bergabung duduk dengan istrinya diatas tempat tidur.
"Ok, aku maafin. tapi anterin kerumah mama papa, aku kangen sama mereka."
"Sekarang?"
Ck!
"Besok! iyalah sekarang." ucap Nada ketus.
"Iya, iya ayok!" Ucapnya sembari berjalan keluar terlebih dahulu.
"Mama papa mau dibawain apa yang?" ujar Ando, saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tua Nada.
"Masa nggak bawa apa-apa kesana?" lanjut Ando.
"Nanti sebelum masuk gang rumah, berhenti dulu di tukang martabak."
"Ok!"
"Mang, martabak spesialnya 2 ya,?" ucap Nada pada penjual martabak yang biasa mangkal di depan Ruko dekat gang menuju rumah orang tua Nada.
"Siap neng!"
"Pantesan kamu suka martabak, nurun dari mama kamu ternyata." ucap Ando sembari terkekeh pelan.
"Iya, aku mama sama papa emang sama-sama suka martabak, kecuali kak burhan!" Ucap Nada sembari menguncir sembarang rambutnya, memperlihatkan leher putihnya.
"Kenapa dikuncir yang, panas?" tanya Ando sembari mengulurkan tangannya membantu merapikan rambut istrinya.
"Iya, gerah!" Balas Nada, bersamaan dengan penjual martabak yang mengangsurkan pesanannya yang sudah jadi.
"Ini uangnya mang, masih sama kan haraganya seperti biasa?"
"Iya neng, eh ngomong-ngomong itu cowok cakep siapa neng, mamang baru lihat soalnya."
"Eh, eumz ini suami saya mang, Ando namanya!" Ujar Nada memperkenalkan.
__ADS_1
"Oh si neng nya udah nikah, kok mamang baru denger ya!" ucapnya setengah tak percaya.
"Belum ada resepsi mang, belum banyak yang tahu jadinya." ucap Nada sembari menyerahkan uang 50 ribu pada mang Harun, penjual martabak.
"Cakep neng, masih muda juga! cocok banget deh sama si neng mah, eh tapi si Riko gimana itu neng?"
"Udah lama putus mang!" mang Harun pun mengangguk-anggukan kepala mengerti.
"Yaudah mang, makasih ya. saya lagi buru-buru mau kerumah mama, takut kesorean soalnya."
"Eh sok neng, udah kebiasaan sih kalau udah ngobrol suka lupa waktu." ucap mang Harun sembari terkekeh.
"Hehe, iya mang nggak apa-apa, saya pamit ya mang!" ucap Nada sembari menaiki motor, lalu duduk dibelakang Ando.
"Cieee, yang sering ngajak pacarnya kesini, sampai tukang martabak aja hafal banget tuh!" ujar Ando saat mulai melajukan motornya.
"Apa sih, mantan Ando mantan!"
"Iya sekarang mantan, dulu kan pacar!" ucap Ando mencibir, dengan Nada suaranya yang terdengar menyebalkan di indra pendengaran Nada.
"Udah deh Ando, aku lagi nggak mau ribut sama kamu." ucap Nada kesal.
"Mau tahu nggak caranya biar aku nggak marah?"
"Peluukkk!" Ucap Ando manja, sembari menuntun lengan Istrinya memeluk pinggangnya.
Karena tidak mau ribut dan memperpanjang masalah Nada pun hanya menurut patuh, memeluk erat tubuh suaminya.
"Udah nggak marah kan?" tanya Nada sembari menyenderkan kepala di punggung suaminya.
"Nggak!" ucapnya dengan senyum di kulum.
.....
Tok..tok..tok..
Setelah sampai di depan Rumah orang tuanya, Nada pun segera mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
ia sangat merindukan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Eh Nada, Anak mama! ada Ando juga, ayo masuk!" ucap mama Sarah riang, saat membuka pintu utama rumahnya.
"Aduh mau kesini kok nggak bilang-bilang sih Nad, mama belum sempat masak lho tadi, si bi lagi Cuti, anaknya lagi sakit katanya!" ucap mama saat berjalan beriringan menuju ruang tamu.
"Nada kangen banget sama mama!" Ucapnya manja, memeluk pinggang sang mama.
"Eh, udah punya suami juga, masih manja-manjaan gini!" Ucap mama balas memeluk putri kesayangannya.
Sementara Ando yang sejak tadi memperhatikannya, terkekeh geli. melihat tingkah laku istrinya, yang menurutnya sangat lucu dan menggemaskan.
"Ini martabak buat mama, tadi Nada yang beliin." ujar Ando menyerahkan keresek yang berisi 2 kotak martabak spesial pada mama sarah.
"Aduuhh, pengertian banget sih kalian berdua." ucap mama Sarah tersenyum senang, sembari membawa keresek tersebut kebelakang, kemudian mengeluarkan isinya dan menatanya di atas piring.
"Ayo martabaknya dimakan bareng-bareng." ucap mama Sarah, kembali keruang tamu dengan membawa 2 piring yang berisi martabak, serta 2 gelas jus jeruk.
"Udah pada makan belum tadi?" lanjutnya.
"Ando udah, Nada yang belum ni mah." tunjuknya pada Nada.
"Si nada ini emang bandel, makan nya susah kalau nggak di bujuk-bujukin, padahal dia itu punya penyakit maag, makanya mama titip sama Ando ya, tolong selalu diingetin Nada nya, kalau bandel marahin aja, atau kalau perlu jewer sekalian tuh kupingnya!"
"Siap ma." ucap Ando mantap.
"Ngomong-ngomong, Nada udah Ada tanda-tanda belum ?" ucap Mama Sarah sembari mengunyah martabak.
Ando menggerenyit dengan kening berkerut. "tanda-tanda apa ma?" tanyanya polos.
"Hamil lah." ujar mama santai.
"Uhukkk..uhukkk." Nada yang sedang meminum jus tiba-tiba terbatuk-batuk.
"Pelan-pelan dong minumnya kamu inj!" Ucap mama sarah, mengangsurkan air putih miliknya pada Nada.
Sementara Andi menepuk-nepuk punggung istrinya khawatir.
"Lagian mama ngomongnya ngaco deh!" Ucap Nada setelah merasa baikan.
"Lah, apanya yang ngaco? wong mama cuma nanya! mama sama papa udah pengen banget nimang cucu dari kamu dan Ando." lanjut mama. membuat Ando menyenggol paha istrinya.
__ADS_1
"Dengerin tuh yang, berarti kita harus sering-sering bikinnya, biar cepet jadi." Bisik Ando, membuat Nada mencubit pinggangnya keras-keras.
"Aww..sakit yang!" ucap Ando sembari terkekeh.