Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Tes DNA


__ADS_3

"Hasil test nya baru bisa keluar sekitar 2 mingguan pak, mohon bersabar ya!" seru Dokter Adnan, yang baru saja keluar dari ruangannya.


"Baik Dok, tidak masalah, terimakasih banyak saya permisi dulu."


"Baik."


"Dengan begini semuanya pasti akan jelas!" Seru Rendra saat sudah berada didalam mobil, sembari menghela nafas panjang, lalu menyenderkan tubuhnya di jok mobil.


"Maaf bu Rania, pak Jordy, saya lancang melakukan test Dna dengan Gilang tanpa sepengetahuan kalian." gumamnya, sembari memejamkan mata.


"Tapi aku harus pastikan ini, bagai manapun hasilnya akan aku terima, yang penting rasa penasaranku terhadap gilang terjawab." lanjutnya.


Setelah mendengar cerita papa Jordy waktu itu, bahwa gilang di adopsi dari salah satu panti asuhan Harapan Bunda di Jakarta, malam itu juga Rendra segera menuju kesana, menemui kepala panti yang bernama bu Rusmini.


Dan setelah mendapat penjelasan serta beberapa bukti, akhirnya ia berinisiatif untuk melakukan tes Dna, tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Gilang sendiri.


*******


Siang ini sepulang sekolah, Ando langsung mampir ke bengkel, tanpa pulang kerumah terlebih dahulu.


"Gimana bang, soal anak-anak yang gue minta, udah pada siap kerja belum?"


"Siap kok siap, lo tenang aja, mereka lagi di cuci bersih dulu biar kelihatan bersih dikit." balas bang Fajar.


"Elaahhh di kira baju apa, pake acara dicuci segala!"


"Lah, kan lo tahu sendiri, kalau kebanyakan anak pengamen itu kotor-kotor, masa iya pelayan Cafe kumel-kumel, yang ada pelanggannya pada kabur lah!"


"Iya juga sih bang."


"Seriusan ini, kagak mau pake pelayan yang ceweknya juga?"


"Nggak bang, gue udah pikirin baik-baik sebelumnya."


"Maksud lo apaan si, gue kagak ngarti asli dah."


"Ah abang jomblo sih, nggak bakalan ngerti sama yang beginian."


"Seettt dah, tuh mulut minta di sumpel sendal jepit kali ya," seru bang Fajar mendengus kesal.


"Eh sorry bro sorry, bercanda gue!" ucapnya sambil tergelak.


"Jadi gini maksud gue bang, gue tuh pastinya kan bakalan sering bolak-balik ke Cafe, kalau karyawan gue ada ceweknya, otomatis bini gue ngerasa curiga dan nggak tenang."


"Entar dikiranya gue seneng bolak-balik ke Cafe, karena banyak cewek, gue nggak mau hubungan gue dan Nada jadi renggang, cuma gara-gara masalah orang luar."


"Wah gila lo, sampai punya pemikiran kesitu, salut gue!" Seru bang Fajar menepuk bahunya pelan.


"Kayanya lo sayang banget ya, sama si cantik, Iyalah sayang cakep gitu!" bang fajar menjawab pertanyaannya sendiri, membuat Ando menggeleng-gelengkan kepala.


"Bukan sayang lagi bang, cinta mati gue!"


"Dasar bucin lo!"


"Gue do'ain suatu saat, kalau lo udah dapetin pujaan hati lo, kadar kebucinannya melebihi gue."


"Kagak bakalan."


"Alahhh, lo sekarang bisa ngomong kek gitu, coba aja entar kalau udah ngerasain sendiri."


"Apaan sih lo, jadi bahas beginian, tapi gue aamiinin dulu deh kagak apa-apa, kali aja do'a elo terkabul, terus secepatnya gue dapet jodoh."

__ADS_1


"Aamiin bang Aamiin."


"Soal calon karyawan Denada Cafe, ada kan bang sesuai permintaan gue."


"Lo tenang aja, siap kok 12 orang kan?"


"Umur berapa aja tuh bang?"


"kebanyakan sih seumuran sama lo, tapi ada juga yang baru berumur 16 17an."


"Yakin lo, kalau semua karyawan yang lo ambil berasal dari pengamen jalan semua." bang Fajar menatapnya tak yakin.


Ando meminum es jeruk yang disuguhkan bang Fajar, lalu menghela nafas.


"Yakinlah bang!"


"Lo nggak takut mereka bikin ulah, ya walaupun gue kenal baik sama sebagian dari mereka, tapi tetep aja kan."


"Bang!"


"Dengerin gue ya, lo tahu kan Arsenio Cafe yang gue bangun 4 tahun yang lalu dengan susah payah, hasil dari mengumpulkan uang jajan gue dari nyokap sama bokap gue, selama beberapa tahun kebelakang."


Bang Fajar mengangguk, dengan wajah khusyu mendengarkan.


"Dan saat pertama kali gue punya karyawan, yaitu si Agil, Ramon, dan Beny, abang jelas paling tahu kan, kalau mereka juga adalah pengamen yang gue ambil dari pinggir jalan."


"Dan selama 4 tahun kerja bareng gue, mereka Fine-fine aja, nggak pernah bikin ulah, justru mereka malah menjadi bagian dari The Arcturus band."


"Dan gue rasa, nggak ada salahnya juga kalau sekarang gue juga mengulang hal yang sama, gue tuh pengen menjadikan anak-anak seperti mereka mendapatkan tempat yang layak, pakaian yang bersih, makanan sehat, serta pekerjaan yang tidak membuat mereka harus panas-panasan di pinggir jalan setiap hari."


"Ando, lo bener-bener baek banget, dan gue juga adalah salah satu dari mereka yang udah lo bantu banyak mengenai hidup gue, gue salut sama elo, gue do'ain semoga lo sukses jadi pengusaha muda, sesuai cita-cita lo selama ini."


"Aamiin bang, duh makasih banyak lo bang, udah do'ain gue kek gitu, asli seneng banget gue!"


"Buru-buru amat, entar aja dulu, panas banget lho di luar!"


"Gue belum ganti baju bang," menunjuk tubuhnya sendiri yang masih menggunakan seragam putih abu.


"Ah biasanya juga lo nongkrong sampe sore, kagak masalah, alesan lo aja itu mah, palingan juga mau nemuin si cantik kan lo!"


"Eh pinter banget sih abang gue, tahu aja." balasnya sembari tertawa sumbang.


"Kagak ngomong aja, udah kelihatan dari gerak-gerik elo!" bang Fajar pura-pura mendengus kesal.


"Bisa aja lo bang!" ucapnya dan bergegas menaiki motor kesayangannya.


Saat perjalanan menuju pulang ke rumahnya, Ando tidak sengaja melihat toko bunga yang sedang ramai oleh pengunjung, dan tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.


Ia memarkirkan motornya di depan toko bunga, lalu melangkah menghampiri salah satu pelayan toko bunga tersebut.



Meskipun ia merasa sedikit risih terhadap anak-anak gadis serta wanita dewasa lainnya, yang sejak pertama kali ia turun dari motor, terus menatap ke arahnya.


Namun ia berusaha menepis rasa risihnya, mencoba mengalihkan pandangannya pada bunga-bunga cantik nan segar di hadapannya.


"Ada yang bisa di bantu kakak?" seru pelayan wanita muda dihadapannya, Ramah. sembari tersenyum-senyum sendiri.


"Oh itu mbak, kira-kira kebanyakan cewek suka bunga apa?"


"Mawar mungkin kak!"

__ADS_1


"Saya mau yang satu buket mbak."


"Baik kak, gimana kalau saya rekomendasiin, biasanya mix mawar sama lily, itu di sukai kebanyakan perempuan."


"Ok, saya ambil satu buket tolong ya mbak, pastiin jangan sampe layu dan rusak sebelum saya nyampe rumah, soalnya saya pake motor bawanya." tunjuknya pada si merah yang terparkir cantik di depan sana.


"Baik kak, tunggu sebentar ya!"


Sembari menunggu pesanannya jadi, Ando merogoh benda pipih di saku celananya, membuka satu persatu pesan chat, yang dikirimkan teman-temannya, yang belum sempat ia baca.


Dan beberapa detik kemudian, indra pendengarannya menangkap suara bisik-bisik dari gadis-gadis remaja di sampingnya.


"Ih ganteng banget, minta kenalan yuk."


"Panas-panas lihat yang gituan, meleleh adek bang!"


"Minta nomor hpnya aja yuk!"


Bersamaan dengan pelayan toko, yang memanggilnya memberi tahukan bahwa pesanannya sudah siap.


"Ini kak, jumlah pembayarannya!" menyerahkan struk total harganya pada Ando.


"Ini mbak, makasih ya!" menyerahkan beberapa lembar uang pada si pelayan toko.


"Sama-sama kak terimakasih, jangan lupa datang kembali di lain waktu."


Ando mengangguk, lalu memangku bunga tersebut.


"Gila ganteng parah! cewek mana yang beruntung dapetin cowok model begitu." gumam pelayan toko bunga, saat Ando sudah melajukan kembali motornya.


*****


"Selamat siang istriku!" mencium kening Nada yang sedang duduk bersila diatas tempat tidur, membaca novel Favoritnya.


"Kemana dulu, kok baru pulang?" meraih tangan Ando dan menciumnya.


"Tadi mampir kebengkel dulu yang, oh iya aku punya sesuatu lho buat kamu yang!"


"Apa?"


"Taraaa!"



"Suka nggak?"


"Suka banget, kamu kok tahu bunga kesukaan aku?" seru Nada sembari menciumi sebuket bunga pemberian Ando.


Ando menggaruk tengkuknya. "Sebenarnya, aku cuma ngira-ngira aja sih yang, nanya juga sama pelayan tokonya, tapi syukurlah kalau kamu suka yang!"


"Makasih Abang!" memeluk pinggang Ando, yang lebih tepatnya dibagian paha, yang masih berdiri, di pinggir kasur.


"Sama-sama sayang, tapi jangan gini meluknya dong yang, aku jadi haus nih."


"Haus, mau minum? aku ambilin dulu ya!" Nada hendak beranjak dari duduknya.


"Eh tunggu sayang, bukan minum yang itu."


"Terus?" Nada menatapnya dengan kening berkerut.


"Yang ini!" menyentuh lembut bibir Nada dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Dan detik kemudian, Ando m*lum*t bibir Nada, dengan dalam dan lembut.


.


__ADS_2