Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Berterus terang


__ADS_3

"Ini anak kebiasaan banget ya, pergi nggak pernah bilang-bilang dulu," Nada Menjewer kuping Raffa saat ia baru saja sampai didepan pintu rumahnya.


"Adudududuhh, ampun Nad, sakit woyy," Raffa meronta-ronta minta dilepaskan.


"Gue tuh khawatir tau nggak sama elo, keluar nggak bilang-bilang, ditelponin nggak aktif, rese emang ya lo!" mencubit perutnya gemas.


"Aduuh sakit Nad, busettt deh! lama-lama elo kaya Zombie ya, serem gue!"


"Lagian!"


"Iya sorry, gue abis nginep dirumah bokap nyokap lo semalem,"


"Ngapain, tumben amat lo mau nginep disana tanpa gue." Nada menatapnya curiga.


"Hehe biasa, minta tambahan uang jajan."


"Dapet?"


"Dapetlah, secara om Abidzar sama tante Sarah kan sayang sama gue."


"Kepedean lo!"


"Ayo buruan masuk, udah sarapan belum lo?"


"Belom sempet, tadi gue bangun kesiangan, om sama tante udah pada berangkat, tahu kemana, jadi gue males mau sarapan sendiri."


"Mau sarapan apa?" ucapnya saat Raffa sudah duduk manis di meja makan.


"Apa aja deh, gue makan!"


"Ngomong-ngomong sepi banget, bang Ando kemana?" Raffa celingukan menoleh kekiri dan kekanan.


"Udah berangkat." balasnya, sembari menyodorkan sepiring nasi goreng dengan telor ceplok diatasnya.


"Sekolah?" tanyanya sembari mulai memasukan satu suap nasi ke mulutnya.


"Iya."


"Bang Ando keren ya Nad, cakep!"


"Gue yakin, pasti banyak banget saingan lo nih, secara dia cowok paling terpopuler disekolahnya."


"Sok tahu!"


"Tahulah, tapi gue yakin sih, cowok model Ando tuh, tipe cowok setia terhadap pasangannya, kelihatan dia itu sayang banget sama elo, apalagi di perut lo udah ada baby kecil."


"Iya lah dia setia, emangnya elo?" balasnya bangga.


"Lah kapan gue mendua, pacar aja kagak punya!"

__ADS_1


"Kasian banget sih lo."


"Lo rencananya mau ngapain Nad, mau lanjut kuliah apa kerja?"


"Tadinya gue pengen lanjut kuliah diluar negri, tapi setelah gue nikah, gue lebih milih dirumah aja, apalagi gue udah mau punya baby, mungkin kedepannya mau coba di dunia bisnis kulineran kaya mama Sarah sama mama Indri aja gitu."


"Ide bagus tuh, cewek karier emang keren, tapi menurut gue sih, istri dirumah aja gitu, nyambut suami pulang kerja, mijitin, dandan yang cantik, ngurus anak, ngasih vitamin full tiap malem, beuuhhh impian gue banget itu!" seru Raffa sembari membayangkan.


"Eh, masih kecil lo, nggak usah mikir yang aneh-aneh!"


"Iya gue tahu, ini kan cuma menghayal, yang suatu saat bakal terwujud."


*******


.


"Beri saya waktu pak." seru Riana dengan suara bergetar, menahan tangis.


"Saya baru saja kehilangan putra sulung saya Devan, rasanya saya tak sanaggup jika harus kehilangan Gilang juga." lanjut Riana.


Rendra terdiam sesaat, lalu menghela nafasnya, ia tidak tega melihat seorang wanita yang sudah mengasuh putranya, kini tengah menangis dihadapannya.


"Maafkan saya bu Riana, saya tidak bermaksud menyakiti perasaan bu Riana dan pak Jordy, saya sempat berpikiran untuk membiarkan hal ini, untuk beberapa waktu, tapi ternyata saya tidak bisa."


"Rasanya untuk tidurpun, saya sangat kesulitan, karena pikiran saya selalu dipenuhi dengan hal ini."


"Saya mengucapkan beribu terimakasih pada ibu Riana dan pak Jordy, karena sudah bersedia merawat, dan memberikan cinta tulusnya untuk putra saya selama ini."


"Saya tahu, ibu pasti sangat berat untuk melepaskan, tapi kalau boleh saya memohon, saya juga ingin merasakan merawat Gilang, sebagaimana seharusnya seorang ayah yang menjaga serta mendidik putranya."


"B-baiklah pak!" balas Riana, dengan suara tercekat.


"Saya relakan Gilang untuk Anda bawa, jujur semua ini memang sangat berat untuk saya pak, tapi saya akan berusaha untuk mengikhlaskan."


"Tapi tolong ya pak, ijinkan saya menemui Gilang, dikala saya merindukan dia." ucapnya dengan tatapan memohon, sembari memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Baik bu, kapanpun ibu mau bertemu Gilang, saya tidak akan larang."


"Terimakasih banyak bu, kalau begitu boleh saya bertemu Gilang sekarang?"


Riana mengusap sisa-sisa air di ujung matanya, "Gilang masih disekolah, belum pulang, tadi sebelum berangkat dia bilang mau futsal."


"Oh, kalau begitu saya permisi ijin jemput Gilang kesekolah ya bu."


"Baik, silahkan pak!"


Setelah kepergian Rendra, Riana kembali menangis dengan perasaan sesak, rasanya ia tak sanggup jika harus kehilangan Gilang.


Kini ia tak bisa lagi menahan Gilang, untuk selalu didekatnya, Rendra berhak atas Gilang, sebagai ayah kandungnya.

__ADS_1


Awalnya Riana tak percaya, bahkan ia hampir memaki Rendra, ketika Rendra datang dan mengutarakan maksud dari kedatangannya hari ini.


Rendra langsung berbiacara to the point, mengatakan bahwa Gilang, anak kandungnya.


Namun setumpuk bukti yang Rendra bawa, membuatnya tak bisa mengelak, hanya bisa menelan ludah, kenyataan menyakitkan, bahwa Gilang benar-benar putra kandung Rendra.


Pantas saja, kalau dilihat baik-baik, Rendra dan Gilang memang sangat mirip, batin Riana.


Dengan hasil tes DNA yang positif, serta data dari panti asuhan tempat ia mengadopsi Gilang dulu, tertera dengan sangat jelas nama dirinya dan papa Jordy, selaku orang tua angkat, Baby Andra yang ditinggalkan ibunya didepan panti, yang kemudian ia beri nama Satria Gilang Anugerah.


.....


"Nak?"


Rendra mengusap kepala Gilang, dengan mata yang sudah berkaca-kaca, saat keduanya sudah berada didalam mobil.


"Iya O-om." Gilang menatapnya bingung, melihat perubahan raut wajah Rendra, yang terlihat sedih.


"Gilang, Nak, mulai sekarang panggil om Rendra papa ya!" sebulir air mata mulai menjatuhi pipinya, meski ia sudah berusaha menahannya, namun air krystal tersebut tetap terjun juga.


"K-kenapa harus papa Om?" Gilang semakin mengerutkan kening tak mengerti.


"Karena om, papa kandung Gilang."


"Om bercanda? ih om bercandanya nggak lucu tahu!" seru Gilang, sembari tertawa kaku.


"Om serius nak, om ini papa kandung Gilang, Gilang anak papa, yang hilang 15 tahun lalu." memeluk tubuh Gilang yang menegang.


"Besok Gilang ikut papa, pulang ya!"


"Om serius?"


Rupanya Gilang, masih belum benar-benar percaya, Rendra meraih tas kerja yang terletak di jok belakang, dibukanya tas tersebut, lalu diberikannya pada Gilang.


"Gilang boleh lihat semua bukti yang ada disana." tunjuk Rendra, sembari mulai mengemudikan mobilnya.


..


"Ini rumah papa nak, dan mulai sekarang, akan jadi rumah Gilang juga." seru Rendra saat tiba dirumahnya.


"Om?"


"Panggil papa nak!"


Namun Gilang hanya tertunduk lesu, ia sama sekali belum percaya dengan kenyataan ini, semuanya terlalu cepat bagi Gilang.


Kenyataan bahwa dia bukan anak kandung Riana, dan lagi kenyataan, bahwa Rendra adalah ayah kandungnya.


Ia tidak tahu harus bagaimana, entah harus senang atau sedih, ia sungguh bingung.

__ADS_1


.


.


__ADS_2