
"Pan, lo ajak dia juga!" Ando berbisik dan menunjuk nya dengan isyarat mata, perasaan kesal benar-benar sudah menyelimuti hatinya.
"Lo tenang aja, dia nggak se bar-bar kemarin kok, abis gue bingung musti gimana, nyokap gue nyuruh ngajak si steffy, secara kan dia anak sahabat nyokap gue, lah terus mana gue tahu kalau dia juga bawa dua buntutnya kesini, bukan sepenuhnya salah gue dong!" balas pandu, menjelaskan.
"Ok deh, tapi lo harus bantu gue, jangan sampai dia bikin kerusuhan, apalagi bikin masalah sama cewek gue, jujur ya Pan, kalau gue tahu bakalan ada dia juga disini, gue kagak bakalan ikut, males gue!"
"Eh jangan dong bro, lo harus tetap nginep disini bareng-bareng, udah lo percaya aja sama gue, si nenek sihir sama dayang-dayangnya, kagak bakalan deh gangguin elo, lo tenang aja, Ayo ajakin si cantik masuk kasian, mukanya sampe merah gitu." lanjut Pandu, sembari merangkul pundaknya.
"Iya lo tenang aja bro, gue jamin dia kagak bakalan berani gangguin cewek lo." bisik Danang, ikut menenangkan kecemasan yang sedang dirasakan sahabatnya.
Weekend kali ini mereka benar-benar berlibur kebandung, menginap di Villa Mahkota, milik nenek Pandu.
"Abang, marissa sama temen-temennya ikut juga?" seru Nada, ketika Ando mengantarnya untuk beristirahat dikamar milik bi Ijah.
"Maaf yang, aku bener-bener nggak tahu, jangan marah ya!" Berjongkok dihadapan Nada, yang duduk disisi ranjang dengan kedua kaki menggantung.
"Yaudah nggak apa-apa, sana gih abang gabung sama temen abang aja didepan, nanti kalau kelamaan berdua dikamar, nggak enak sama yang lain bang."
"Mereka kan nggak ada yang tahu, tentang status kita."
"Padahal masih pengen berduaan sama kamu yang." menempelkan telapak tangan Nada di pipinya, lalu diciumnya berulang kali.
"Ihs abang!" Nada mendengus.
"Iya-iya tuan putri, pangeran pamit kedepan ya!" mencium kening Nada dan bergegas pergi.
..
"Sa, lo nangis?" Selli menatapnya iba.
"Gue nggak nyangka, kalau Ando bakal bawa ceweknya juga kesini, gue pikir dengan gue ikut berlibur kesini, gue punya kesempatan buat deket sama Ando, tapi nyatanya nol besar."
"Rasanya, diantara gue dan Ando, semakin terhalang oleh pembatas yang kokoh, pembatas yang nggak akan mampu buat gue tembus."
"Ya,ampun Sa, jadi selama ini lo masih ngarepin si Ando, Gila lo ya Sa, gue pikir lo udah bener-bener move on dari tuh cowok,"
"Gue tahu, si Ando tuh ganteng, pinter, keren, bahkan satu sekolah kita hampir nggak ada cowok yang seperfect dia, tapi lo harus sadar sa, inget! si Ando kagak pernah suka sama elo, sampai kapan sih lo begini terus, move on dong sa, move on!"
"Apaan sih lo berdua, terus lo Sel, ngapain sih teriak-teriak sampe kenceng gitu, gue aja yang dikamar mandi, sampe kedengeran jelas banget." seru Steffy, yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Gue tuh kaya gini karena kasian sama si Marissa, lo tahu, sampai saat ini dia tuh masih ngarepin si Ando, yang jelas-jelas, nggak mau ngelirik dia sedikitpun, bahkan terang-terangan udah nolak dia berkali-kali."
"Dihadapan umum pula, gila nggak sih?" Selli terlihat emosi.
Steffy menatap kasihan pada Marissa, yang sedang terisak menatap keluar jendela kamar, ia pun sama tidak menyangkanya dengan Selli, bagaimana bisa dia masih mengharapkan Ando, yang jelas-jelas sudah menolaknya berkali-kali.
"Sa, gue mohon, tolong belajar move on dari si Ando, masih banyak kok cowok yang lain, lo nggak boleh terus-terusan kek gini dong, ikhlasin si Ando, dia udah bahagia sama ceweknya, lo liat sendiri kan tadi, gimana perlakuan si Ando ke ceweknya, yang jelas memperlihatkan kalau dia itu bener-bener sayang sama ceweknya."
"Gue yakin, dan gue bisa lihat, kalau si Ando itu tipe cowok yang bener-bener setia sama cewek, dan gue yakin elo nggak akan pernah dapat celah sedikitpun."
"Lo harus tahu gue ngomong kaya gini, karena sebagai sahabat, gue sama Selli tuh sayang banget sama elo, bukan bermaksud membuat elo berkecil hati." seru Steffy, lembut.
"Elo berdua nggak tahu rasanya, patah hati kan? jadi bisa ngomong segampang itu ke gue, sakit Stef, sakit banget, gue udah berusaha mati-matian lupain dia, tapi semakin gue mencoba, dan ternyata gue nggak bisa."
"Gue udah mencoba berdamai dengan diri gue sendiri, mencoba akrab sama ceweknya si Ando, tapi setiap kali gue ngelihat tuh cewek, perasaan gue jadi semakin sakit, gue selalu ngerasa dia udah rampas Ando dari gue!" balas Marissa semakin terisak.
"Kata siapa gue nggak pernah ngalamin patah hati, sering kali Sa, elo aja yang nggak tahu, tapi gue lebih milih diam, gue simpan sendiri, karena gue rasa, cukup kita sendiri yang tahu, nggak perlu ada orang lain yang tahu."
__ADS_1
"Dan gue selalu mikir dengan apa yang dikatakan orang banyak, kalau cinta itu nggak harus memiliki, dengan kita lihat orang yang kita cintai bahagia, itu udah cukup buat gue!"
"Mungkin, belum saatnya gue memiliki, tapi gue selalu positif aja, kalau suatu hari bakalan ada yang bener-bener tulus sayang sama gue."
"Lagi, nggak ada yang rampas Ando dari elo Sa, lo harus inget, dari dulu elo sama Ando kan emang nggak pacaran, elo aja yang selalu nganggep dia pacar."
"Dan sekarang, terserah lo deh Sa, gue udah ingetin, gue juga udah nasehatin lo, semampu yang gue bisa, selanjutnya terserah lo." sambung Steffy, lalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
"Tuh kan Sa, gue juga bilang, apa? udah deh, lo lupain si Ando." seru Selli, yang kemudian ikut menyusul langkah Steffy.
...
"Nemplok terus kek cicak di dinding lo lama-lama." seru Pandu, yang melihat Ando baru saja keluar dari kamar Nada.
"Apaan sih, ngiri aja lo!" balas Ando, yang ikut mendudukan dirinya disamping Pandu dan sahabatnya yang lain, mencomot keripik kentang yang disediakan bi ijah didalam toples diatas meja.
"Eh ngomong-ngomong, si nenek sihir kemana, jem?" seru Pandu bertanya pada Steffy, yang duduk bersebelahan dengan Selli.
Sementara Steffy, saling pandang dengan Selli, sebelum kemudian menjawab pertanyaan nya.
"Apa sih jam-jem, jam-jem, lo pikir nama gue ijem apa?" Steffy hendak berdiri tak terima, namun urung, karena Selli sudah menahan lengannya terlebih dahulu.
"Sorry, lupa gue!"
"Eh tapi, seriusan gue nanya, kemana dia?"
"Lagi Nangis tuh dikamar," balas Steffy apa adanya, membuat Ramon, Agil, Danang dan Beny, menatap kearahnya, sedangkan Ando, memilih acuh tak peduli, bagi Ando Marissa bukanlah sesuatu yang menarik untuk dibahas.
"Hah nangis, nangis kenapa?" ucap Pandu tak percaya.
"Gara-gara temen elo tuh," tunjuknya pada Ando, sedangkan yang ditunjuk, sama sekali tak bereaksi, masih sibuk memandangi benda pintarnya tersebut.
"Lah kok gara-gara dia?" balas Pandu dengan kening berkerut.
"Punya hutang kali si Ando sama tu cewek!" seloroh Ramon polos.
"Kagak mau bantuin ngerjain PR kali." timpal Agil
"Ngaco lo berdua!" Danang ikut bersuara.
"Gara-gara si Ando bawa ceweknya kesini, si Marissa sakit hati, dia nggak terima keknya." Seru Selli dengan suara pelan, yang langsung dihadiahkan injekan dikakinya oleh Steffy.
"Lo ember banget sih Sell, biar gimanapun kan Marissa sahabat kita, lo jangan cerita kek gitu ke mereka." bisik Steffy kesal.
"Sorry, gue nggak bermaksud bikin siapapun sakit hati karena gue, lo pikir gue tahu kalau dia juga bakalan kesini, kalau sebelumnya gue tahu, kagak bakalan juga gue ikut kesini." seru Ando tiba-tiba, lalu beranjak dari duduknya.
"Dimana dia?"
"L-lo mau ngapain An?" Steffy ikut beranjak.
"Gue cuma mau ngomong sesuatu sebentar sama dia, ada yang perlu gue lurusin, biar masalah ini nggak berkepanjangan." balas Ando.
"Lo percaya sama gue, gue nggak bakalan apa-apain temen lo, gue cuma mau ngobrol sebentar." lanjut Ando, ketika melihat raut wajah Selli dan Steffy yang terlihat khawatir.
"Dimana dia, gue tanya sekali lagi?" sambung Ando, dengan suara sedikit meninggi.
Membuat tubuh Steffy sedikit meremang.
__ADS_1
Diluar Ando, memang memiliki sifat yang cuek dan dingin, kecuali pada orang-orang yang dekat dengannya.
"A-ada An, dikamar!"
Dan setelah Steffy baru saja menyelesaikan kalimatnya, Ando bergegas pergi.
...
Tok..tok..tok..
"Iya masuk, nggak dikunci." sahut Marissa dari dalam, dengan suara yang terdengar serak.
Ando membuka pintu kamar tersebut, tanpa menutupnya kembali, berdiri tepat dibelakang Marissa yang masih setia memandangi jendela kaca dari sejak tadi.
Hening...
....
Hingga Akhirnya Marissa memutuskan untuk berbalik dan menoleh kearah belakang tubuhnya.
Dan..
Deg!
"A-ando?" ucapnya, yang terdengar seperti sebuah gumaman.
"Kita perlu bicara sa." ucapnya Datar.
"M-mau bicara apa?" balasnya dengan suara bergetar, rasanya ia ingin menangis bahagia, bisa bertatap secara dekat dengan laki-laki yang sangat dicintainya.
"Gue minta maaf, jika selama ini udah bersikap nggak adil sama elo, gue akui, selama ini gue terlalu kasar dan emosian sama elo, tapi gue harap lo bisa ngerti Sa."
"Cinta nggak bisa di paksain, elo harus bisa terima kenyataan, please!" Ando berusaha berbicara selembut mungkin.
"Gue yakin, suatu hari pasti bakalan ada laki-laki yang bisa mencintai lo apa adanya, seperti elo mencintai dia, gue ucapkan makasih banyak sa, lo udah ngasih cinta yang besar selama ini ke gue."
Ando menghela nafas pelan, sebelum melanjutkan kembali ucapannya.
Dilihatnya Marissa yang sudah kembali meneteskan air matanya, membuatnya kian merasa bertambah bingung.
"Gue Sama Nada udah nikah!"
Jderrrr...
Bagai terkena petir di siang bolong, tubuh Marissa melemas, tulang-tulang kakinya, serasa copot dari tempatnya.
.
.
Jangan lupa likenya sayang, biar author semakin semangat nulisnya, karena dukungan dari Readers tersayang, adalah mood booster bagi author😊
terimakasih😘😘😘
.
.
__ADS_1