Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Liburan (part 3)


__ADS_3

Pukul 19:30 saat Ando, Revan, mang Jajang dan mang Badru sedang mengobrol santai didepan teras, segerombol anak-anak seusia Ando mengahampiri.


Meskipun mereka hanya bertemu satu tahun sekali dengan Ando, rupanya tak menjadi penghalang untuk mereka menjalin silaturahmi yang baik.


Ando sendiri masih sangat hafal betul wajah mereka, diantaranya adalah, Andri, Iman, Iqbal, Gio dan Farhan.


"Sehat Ando,? main atuh kesebelah hayu, rame pisan disana mah." seru Gio.


Tunjuknya pada sebuah lapangan besar, yang sudah dipenuhi oleh pemuda-pemudi, yang sebagian dari mereka menggunakan kaos Grasstrack yang bermotif sama.


"Eh sehat-sehat, Ada acara apa disana?" tanya Ando.


"Ada grasstrack bentar lagi mau mulai, hayu lah lihat bareng-bareng!"


"Bentar, tungguin ya!"


Ando masuk kedalam rumah untuk meminta ijin pada istrinya menonton Grasstrack yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal pamannya.


Dilihatnya Nada sedang asik mengobrol dengan Vina, dan sesekali mereka tertawa bersama.


Lalu Ando menghampiri Nada dan Vina.


"Aku ijin keluar sebentar ya!"


"Kemana?" tanyanya.


"Keluar sama temen-temen, sebentar aja kok ya!"


"Yaudah, jangan lama-lama."


"Iya." mengacak pelan rambutnya.


Setelah kepergian Ando, Nada dan Vina kembali melanjutkan obrolannya.


"Teh, teteh mau lihat Grasstrack nggak seru lho teh."


"Beneran gitu ada grasstrack malam-malam begini?"


"Ada lah teh, tuh di lapang depan sana, deket kok teh, sekalian jajan hehe." lanjut Vina sembari cengengesan.


"Emang cewek dibolehin nonton.?"


"Ya boleh atuh teteh, emang siapa yang larang." Vina beranjak dari duduknya, menarik tangan Nada.


"Ijin dulu dek, sama mama, di bolehin nggak?"


"Pasti dibolehin teh, biasanya juga Vina mah nonton terus."


"Ijin dulu aja, teteh takut di marahin."


"Ok sip." ucapnya sembari berlari kearah mamanya yang sedang melipat baju.


...


"Hayu teh udah, boleh kata mama, asal pulangnya jangan lebih dari jam 9."


"Oh gitu, yaudah ayo berangkat."


"Disini kalau malem dingin ya dek?" Melirik kearah Vina yang terlihat biasa aja, dengan cuaca malam yang baginya terasa menusuk hingga ke tulang.


"Iya teh, kalau lagi kemarau, malam harinya emang disini tuh dingin banget, tapi kan Vina pake jaket, teteh nggak bawa jaket emang?"


"Lupa dek."


"Eh kaya nya a Ando juga kesini deh, soalnya tadi Vina denger suara a Gio di depan."


"Ah curang dia mah nggak ngajakin."


"Nggak apa-apa teh, kan udah ada Vina yang ngajakin." ucapnya sembari terkekeh.


Nada hanya tersenyum, menanggapi celotehan Vina, Gadis remaja yang berjalan disampingnya tersebut, memang sudah bisa di ajak ngobrol layaknya orang dewasa, asik dan seru.

__ADS_1


"Teh, acaranya kan belum mulai, gimana kalau kita beli cimol dulu."


Nada menggrenyit, "Cimol apaan tuh?"


"Makanan yang dibuat dari aci, di goreng gitu teh, terus nanti dikasih bumbu sesuai selera, ada kentangnya juga, teteh mau coba?"


Nada mengangguk. "Boleh deh!"


Lalu keduanya menghampiri tukang cimol, yang menggunakan gerobak dari bahan Alumunium, serta kaca dibagian atas gerobak, memperlihatkan tumpukan kentang dan cimol yang sudah matang.


"Teteh mau beli berapa?"


"Emangnya harganya berapa dek?" bisiknya


"Terserah teteh, mau 3000 atau 5000."


Nada melongo, "Apa semurah itu harganya?"


Vina mengangguk, sembari mengulurkan uang 5000 kearah si amang cimol.


"Mang meser 5000, bumbuna balado jeung Asin hungkul." (bang beli 5000, bumbunya balado sama asin doang.


"Hayu neng." jawab si amang cimol.


Sembari menunggu Antrian cimol, Nada melirik kekiri dan kekanan mencari-cari keberadaan suaminya.


Sedangkan Vina asik mengobrol dengan Amang Cimol, menggunakan bahasa yang ia tidak mengerti.


"Nuhun mang," seru Vina.


"Makasih." Nada mengangguk, pada siamang cimol.


Keduanyapun kini melanjutkan melangkah kearah pinggir lapangan.


"Enak nggak teh." seru Vina melirik kearah Nada. "Kalau di kampung mah jajan nya ya beginian, kalau dijakarta mah lain lagi ya teh?"


"Enak kok, enak banget malah," balas Nada dengan mulut penuh.


"Hah."


"Teteh suka?"


Nada mengangguk, bahkan cimol di dalam plastik yang dipegangnya tinggal tersisa sedikit.


"Yaudah besok kita kesini lagi, atau kalau kurang teteh ambil punya Vina aja, mau?" mengulurkan plastik yang berisi cimol miliknya.


"Nggak dek kenyang, kan tadi sore abis makan, besok lagi aja."


"Iya teh, ayo udah mau mulai tuh kayaknya." vina menunjuk beberapa orang bersetelan baju jersey panjang yang sama, serta memakai helm, yang sudah menaiki motor tingginya masing-masing.


"Seru ya kayanya Ayo dek,"


Nada dan Vina berdiri disamping sekumpulan anak muda laki-laki tanpa mereka sadari.


Lalu Samar-samar ia mendengar perkataan dari laki-laki disampingnya.


"Awewe mana eta, beuuh anjir meni herang pisan!" (Cewek mana itu, bening banget).


"Heueuh bener nya, datang timana eta?" (Iya bener ya, datang dari mana itu?).


"Jigana etamah lain budak asli didieu, budak Jakartaan etamah, yakin!" (Kayanya itu bukan anak asli disini, anak Jakarta an itu, yakin!)


"Tanya-tanya."


"Hai cewek, boleh kenalan nggak?" ucap salah satu cowok, berbadan tinggi kurus.


Namun Nada diam tak menggubris, ia lebih Fokus pada permainan ditengah lapangan.


"Hallo neng cantik, boleh dong kenalan sama abang?" lanjut pemuda lainnya.


"Apaan sih!" seru Nada dengan suara lirih.

__ADS_1


"Ayo Dek, pindah jangan disini, teteh risih." bisiknya.


"Ayo teh."


Namun saat ia hendak melangkah, seseorang memegang tangannya.


Greppp...


"Tunggu dulu dong neng, kenalan bentar!"


"Maaf a, tolong jangan gangguin Istri saya," seru Ando tiba-tiba dengan suara pelan.


"Oh eh sorry sorry, kirain belum punya suami."


Anak muda itu menatap Ando, dari ujung rambut hingga ujung kaki, di lihat dari wajah dan penampilannya pun ia yakin Ando bukanlah orang didaerah sekitarnya.


Lalu Sekelompok anak muda itu pun langsung pergi, tanpa mempermasalahkannya lagi.


Sedangkan Ando menatap Nada dengan tatapan yang susah di artikan.


"Pulang!" ucapnya terdengar pelan namun penuh penekanan.


"T-ttap-"


"A Revan dimana a?" Vina yang mengerti dengan situasi yang tidak mengenakan, langsung memilih jalan aman.


"Disana, sama teh melly." tunjuknya, pada Revan yang sedang meminum kopi didepan warung teh melly di pinggir lapang.


"Yaudah Vina kesana dulu ya a, teh!"


Setelah kepergian Vina, tatapan Ando kembali terarah pada Nada.


"Pulang!" ucapnya, berjalan terlebih dahulu, sedangkan Nada pasrah mengikuti Ando, berjalan sembari menunduk.


"Ngapain malem-malem diluar kaya tadi?" seru Ando saat sudah berada di dalam kamar.


Suaranya, tatapannya, terdengar dan terlihat mengerikan bagi Nada.


"T-tadi sama Vina_"


"Jawab yang jelas, bisa?"


Bentak Ando, Rahangnya terlihat mengeras.


"Bisa nggak sih nggak usah bentak," balasnya lirih, bahkan matanya sudah berkaca-kaca, menggenang dikedua pelupuk matanya, yang siap meluncur kapan saja.


Entah karena keadaannya yang tengah mengandung atau bagaimana, akhir-akhir ini perasaan Nada lebih sensitif, dan mudah menangis.


Ando mendudukan dirinya di sisi tempat tidur, mengusap wajahnya kasar, lalu menghela nafas panjang.


Ia lupa istrinya tengah hamil muda, dan seharusnya ia bisa mengontrol emosinya.


Ando kembali beranjak dari duduknya, memeluk erat tubuh Nada.


"Maaf sayang maaf, aku nggak bermaksud buat kamu takut, aku cuma nggak mau kamu kenapa-kenapa tadi."


"Kamu tahu sendiri kan yang, aku paling nggak suka ada cowok yang deket-deket sama kamu selain aku."


"Lagian kamu tuh ngapain sih tadi keluar, nggak bilang dulu sama aku."


"Gimana aku mau bilang, kamu nya juga lagi diluar, kamu juga nggak bawa hp kan tadi!"


"Aku kan juga pengen lihat suasana malam diluar sama Vina, salah sendiri kamu nggak ngajak."


Nada membrengut kesal, bahkan setitik air mata sudah jatuh mengenai pipi putihnya.


Ando menatap mata Nada dalam, kemarahan yang sempat menguasai pikirannya tadi, seketika buyar, pergi hilang entah kemana.


Hatinya kalah, hatinya lemah, jika melihat wanitanya meneteskan air mata, terlebih jika dirinyalah penyebab dari terciptanya sebuah kesedihan yang dialami istrinya.


Ando mengusap air mata sang istri menggunakan ibu jarinya, lalu menyatukan dahinya.

__ADS_1


"Aku minta maaf, belum bisa mengontrol diri yang!"


__ADS_2