
Tidak terasa satu minggu begitu cepat terlewati, bagi bang Fajar.
Hari ini ia sudah rapi, dan terlihat gagah, mengenakan kemeja putih yang dibalut jas hitam menambah kesan gagah dan elegant.
Resepsi pernikahan yang sederhana itu, di adakan dirumah mempelai wanita, yang jaraknya memang tidak jauh dari bengkel tempat tinggal bang Fajar.
Seluruh karyawan Cafe maupun bengkel, hari ini sengaja Ando liburkan, agar mereka ikut serta memeriahkan acara bahagianya bang Fajar.
mengingat ia tidak punya orang tua maupun saudara.
"Wihhh si abang, mukanya santai dong bang, jangan di bikin tegang begitu," seloroh Pandu, yang memang selalu gemar menggoda bang Fajar.
"Iya bang, jadi serem tahu nggak sih, aura premannya kek keluar gitu." sambung Beny sambil terkekeh.
"Anjirr, bukannya nyemangatin, elo malah tambah bikin bang Fajar nervouse tahu nggak sih!" timpal Agil, menoyor kepala kedua sahabatnya.
Sedangkan Marissa, hanya terkekeh menyaksikan ke Absurd an yang dilakukan oleh kekasihnya tersebut.
Setelah acara akad selesai, mereka semua duduk tertib di kursi yang sudah disediakan, dan beberapa dari mereka menyantap hidangan yang telah tersedia.
Ando yang juga ikut hadir disana, tidak lupa membawa serta sang istri dan baby Syahki, putra tercintanya.
"Hai Nad, apa kabar?" Marissa menghampirinya, dan memberikan sapaan hangat pada Nada, yang juga disambut baik oleh Nada.
"Lho kok sendirian, Si Andonya kemana,?" tanya Marissa sembari celingak-celinguk mencari-cari keberadaan orang yang dimaksudnya.
"Ada kok, lagi ngambil makan."
"Oh gitu," ia pun duduk disebelah Nada tanpa rasa canggung.
"Hallo ganteng, sama aunty yu, gendong." Marissa mengusap pipi baby Syahki yang semakin hari semakin terlihat bulat, dan menggemaskan.
"Ganteng banget sih anak lo Nad, buat gue aja ya!" ucap Marissa, ketika sudah berhasil mengambil baby Syahki dari gendongan Nada.
"Iyalah ganteng, lihat dulu dong, emak bapaknya kek gimana!" sergah Agil, yang baru saja datang, setelah berfoto bareng dengan pengantin, serta yang lainnya.
"Hai ganteng, gendong om yu." Agil merentangkan tangannya, yang langsung ditepis oleh Marissa.
"Ih ayang, apaan sih, aku baru aja gendong tahu!" keluh Marissa.
Sedangkan Nada tersenyum geli, memperhatikan pasangan bucin disampingnya.
Namun, dalam hati ia merasa sangat bersyukur, karena kini diantara ia dan Marissa tidak ada lagi kecanggungan, dan permusuhan.
"Cepet nyusul dong kalian, biar Syahki ada temennya."
"Kalau gue sih, terserah Agil aja kapan siapnya!" balas Marissa malu-malu.
"Kode keras tuh Gil, kapan mau di halalin."
Agil meringis, "pengennya sih secepatnya, tapi lo tahu sendiri kan, keadaan gue, gue tuh bukan cuma pengen sekedar nikahin doang, tapi gue juga pengen bikin sesuatu yang sedikit terlihat waw gitu, buat orang yang gue sayang."
__ADS_1
"Sosweet!" ujar Nada dengan senyum menggoda.
Sedangkan Marissa, hampir menangis, dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan mau di peluk-peluk kalau belum dihalalin!" ujar Ando tiba-tiba, mengagetkan sepasang Insan yang tengah berpelukan penuh haru.
Mengambil baby Syahki dari pangkuan Nada, lalu menyodorkan semangkok bakso yang diambilnya dari meja perasmanan.
"Makan dulu sayang!"
Nada tersenyum hangat, sebagai ucapan terimakasih.
Marissa menarik tubuhnya dari pelukan Agil, lalu menyusut air mata yang terlanjur jatuh mengenai pipinya.
Ia menoleh kearah Ando, dengan perasaan malu, "Doain, biar bisa halal secepatnya."
"Iya, gue doain pasti!" ucap Ando, sembari menciumi pipi gembul putranya.
...
"Woyy keknya seru nih, lagi pada ngobrolin apaan sih, kok kayaknya pada serius banget!" ucap Pandu yang baru saja datang, dengan Danang, dan juga yang lainnya.
"Si Agil mau kawin!" jawab Ando santai, yang langsung mendapat cubitan keras diperutnya.
"Abang ihs, ngomongnya!"
"Doain aja bro, semoga bisa ngehalalin pacar secepatnya." ucap Agil tiba-tiba membuat mereka menatapnya tak percaya.
"Wah gila, keren nih bocil, udah mau married aja," ucap Pandu sambil berdecak.
"Anjir, temen bang sad, lo emang!" ucap Pandu yang dibalas gelak tawa oleh seluruh sahabatnya.
..
Setelah menyumbang beberapa lagu yang mereka janjikan pada bang Fajar di akhir acara, mereka pun satu persatu berhambur pulang, kerumahnya masing-masing.
.
.
Rizal..
Setelah mendapatkan informasi dari orang suruhannya agar selalu mengikuti kemana Maya pergi, akhirnya menyusul ke Bandung tanpa sepengetahuannya.
Ia terus memperhatikan gerak-gerik Maya dari kejauhan, Hampir setiap hari Maya memasuki sebuah restaurant yang sama, dan pada akhirnya membuat Rizal menyimpan banyak kecurigaan.
"Mas, aku udah ninggalin semuanya buat kamu, tapi kenapa kamu tega begini sama aku, aku nggak butuh uang!" ucap Maya, sembari menangis sesenggukan.
Rendra tersenyum kecut, menghadapi orang terlanjur sakit seperti Maya, memang butuh kesabaran yang cukup. batinnya
"Kamu lupa Lin, kalau dulu kamu pergi karena uang, harta dan sebagainya, lalu sekarang tiba-tiba kamu bilang nggak butuh uang, benar-benar sulit di percaya!" ucap Rendra mencibir.
__ADS_1
"Itu dulu mas."
"May?" tiba-tiba suara lain menyapanya, sebuah suara yang terdengar familiar Ditelinga Maya.
Ia menoleh secepat kilat, dan tubuhnya mematung seketika, dengan mulut menganga, menyaksikan siapa yang datang.
"M-mas Rizal?" ucapnya dengan suara tercekat, bahkan nyaris tak terdengar.
Sedangkan Rendra, menatapnya tanpa ekpresi.
"Apa urusan anda dengan istri saya?" ucapan spontan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
"Oh, jadi dia istri anda!" Rendra menunjuk Maya menggunakan dagunya dengan santai.
"Lain kali, tolong awasi dia, karena dia sudah mengganggu kenyamanan orang lain."
"Maksud anda siapa, yang sudah dia ganggu?"
"Saya, saya sendiri yang merasa terganggu, andai anda tahu, istri anda itu tak bosan-bosannya setiap hari datang menemui saya, dan membahas masa lalu, yang menurut saya tidak pantas untuk di bahas kembali."
"Masa lalu?"
"Kami pernah berhubungan di masa lalu, tapi sekarang saya sudah punya kehidupan baru, yang musti saya jaga keutuhannya, jadi saya harap kedepannya Anda bisa membimbing dan menasehati istri anda dengan baik,"
"Karena saya tidak mau, kehadiran istri anda menjadi pemicu, retaknya hubungan saya dan keluarga baru saya."
"Bagi saya, masa lalu tetaplah masa lalu, mengulang hal yang sama, bukan sipat saya sama sekali."
"Dan maaf, saya harus pergi, karena banyak sekali pekerjaan saya yang menumpuk." lanjut Rendra, dan melengos pergi begitu saja, meninggalkan keduanya.
Setelah kepergian Rendra dari hadapan mata, kini Rizal mengarahkan tatapannya pada Maya, yang sedang bergetar menahan tangis.
Maya merasa sedih, bukan karena ketahuan Rizal, atau takut Rizal akan memarahinya, bukan!
Tapi ia merasakan sesak, dengan seluruh ucapan Rendra, yang dilontarkan padanya.
Apa sebegitu sudah tak berartinya, dirinya dalam hidup mantan suaminya, ia merasa terbuang, dan tak diharapkan kehadirannya. sama sekali!
"Jelaskan, may!" ucap Rizal tiba-tiba, dengan rahang mengeras.
Maya terdiam, lebih memilih memalingkan wajah, ketimbang menatap wajah suaminya yang sedang di liputi amarah.
"Ayo kita pulang!"
Merasa kesal dengan resfon sang istri, Rendra pun menarik tangannya, mendesak, dan memasukannya kedalam mobil miliknya.
Didalam mobil,
Hening..
Baik Rizal maupun maya sama-sama bungkam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
.
.