
Gilang.
.
Ia memilih diam dirumah, tak berkeinginan untuk ikut serta, hadir di acara pernikahan papa nya, meski berulang kali Rendra membujuknya agar ikut.
Ia merasa masih sangat asing, ketika harus berkumpul dengan keluarga baru papa nya.
Dan akhirnya hanya menghabiskan waktunya dengan bermain Game didalam kamar, dan diakhiri dengan berkeliling rumah.
.
.
Setelah acaranya selesai, Rendra dan mama Indri, memutuskan untuk pulang kerumah Rendra.
"Maaf ya In, Gilang nggak bisa ikut tadi, mungkin dia masih belum terbiasa dengan keadaan yang sekarang." seru Rendra, ketika ia sudah berada didalam kamarnya.
Mama Indri mengangguk, memaklumi.
"Yaudah, sekarang mandi dulu, bentar lagi kita temuin Gilang." sambung Rendra.
"Baik mas."
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, Rendra dan Indri memimpin langkahnya berjalan kearah kamar Gilang.
Tok..Tok..Tok..
Rendra mengetuk kamar Gilang, bersamaan dengan Gilang yang menyembul keluar dari balik pintu, sembari menutup mulutnya yang menguap beberapa kali.
"Eh maaf Pa, tadi Gilang ketiduran."
Rendra menggeleng, sembari tersenyum, "Nggak apa-apa, istirahatlah yang cukup selagi libur sekolah."
"Papa cuma mau mengenalkan mama Indri pada Gilang." sambung Rendra.
"Hallo Gilang, kenalin, saya Indri" Seru mama Indri mengulurkan tangannya.
"Kalau Gilang, nggak keberatan, Mulai sekarang, Gilang boleh panggil mama ya,"lanjut mama Indri sembari tersenyum lembut kearahnya.
Meski sedikit ragu dan canggung, namun akhirnya Gilang menerima uluran tangan mama Indri lalu di ciumnya, membuat Rendra kian semakin merasa bahagia berkali lipat.
"Baik ma." balas Gilang pelan.
"Gilang ganteng ya ternyata," puji mama Indri, karena Gilang memang terlihat tampan.
"Mama juga punya anak laki-laki, masih kelas 12 Sma, tapi udah nikah."
"Udah Nikah?" sebuah pertanyaan yang lolos begitu saja dari mulut Gilang.
"Iya, udah nikah, karena kesalah pahaman, Nanti kapan-kapan mama kenalin ya, tadi sih pas akad mama sama papa ikut, sayangnya Gilang nggak ikut sih, jadi nggak bisa ketemu deh!"
"Maaf ma!" balas Gilang, dengan perasaan menyesal.
__ADS_1
"Yaudah nggak apa-apa, tapi kapan-kapan mau ya, kalau mama ajak jalan ke Jakarta."
"Jakarta?"
"Iya nak, kejakarta mau kan?"
"Iya ma!" balas Gilang yang kemudian, terlihat berbinar.
...
"Mas, boleh aku tanya sesuatu?" seru mama Indri ketika keduanya sudah berbaring diatas tempat tidur, dengan perasaan canggung, dan suaranya pun terdengar sangat kaku.
Namun, ia harus mendapatkan jawaban yang bisa menghapus rasa penasarannya kali ini.
"Kenapa hm?" Rendra menggenggam tangannya, dan menatapnya dalam, rasanya ia seperti mengalami masa muda saat jatuh cinta, untuk yang kedua kalinya.
"I-itu mas, kenapa mas bisa kenal sama Riana dan Jordy?" ucapnya dengan suara bergetar, menyebutkan namanya saja sudah membuat perasaannya berkecamuk tak karuan.
"Memangnya kenapa hm?"
"Aku penasaran aja, pengen tahu!"
"Pak Jordy dan bu Riana, orang tua angkat Gilang."
"Apaa?!" mama Indri memekik kaget.
"Kenapa sih?" Rendra menatapnya bingung.
"Jordy, mantan suami aku mas." balasnya dengan suara yang terdengar serak.
.
Ditempat lain, Ando tak henti-hentinya mengelus perut Nada, yang masih terlihat rata.
"Yang!"
"Hmmm."
"Kok perutnya nggak gede, kaya orang hamil biasanya sih?" ucapnya, dengan wajah yang ia tempelkan diperut Nada.
Ck!
"Abang ihs, kok ngelawak sih, kan janinnya baru mau masuk bulan ketiga, masa harus langsung kelihatan buncit, entar dikira aku hamil bayi raksasa lagi, ih amit-amit." mengusap-usap perutnya.
"Emang harus berapa bulan, kalau pengen kelihatan buncitnya?" lanjut Ando, mendongak sekilas menatap Nada, kemudian kembali menempelkan wajahnya di perut Nada.
"Ya minimal 5 bulanlah, baru kelihatan, kalau mau kelihatan buncit banget ya kira-kira usia janinnya sudah memasuki bulan 8 dan 9."
"Oh gitu ya yang." Ando mengangguk-angguk mengerti.
"Ihs abang! bukannya ada ya, dipelajaran disekolah,"
"Eh iya sih, tapi kok aku malah nggak ingat kebagian situnya ya!" menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Kebanyakan mikirin marissa kali, jadi nggak fokus!"
balas Nada, sembari membalikan badannya, bersiap akan tidur.
"Eh, kok jadi bahas dia, nggak ada hubungannya sayang, suka mulai deh!" mencoba meraih tubuh Nada kedalam dekapannya.
"Ya kali aja!"
"Eh nggak ada ya, akutuh sama sekali nggak pernah mikirin dia, jangankan sengaja mikirin, niat mau mikirnya aja nggak pernah terlintas yang!"
"Oh iya bang, rasanya aku ikut bahagia banget, melihat mama Indri nikah sama om Rendra, kaya serasi gitu, terus kelihatan om Rendra itu sayang banget sama mama," seru Nada, tersenyum sendiri membayangkan wajah mama dan om Rendra tersenyum penuh kebahagiaan tadi pagi.
"Iya sayang, aku juga ngerasa lega, mama udah nikah lagi, ada yang dampingin mama disaat dia merasa sepi dan sendiri, aku berharap kedepannya mama bisa terus bahagia, sama seperti kita." balas Ando.
Nada membalikan kembali tubuhnya dengan posisi miring, menghadap kearah Ando, yang juga tengah menatapnya penuh cinta.
"Abang nggak ada perasaan nyesel gitu udah nikah sama aku?"
"Nyesel banget." balasnya, ia merasa semakin hari istrinya semakin terlihat menggemaskan menurut Ando, entah dari cara ia berbicara, dari tingkahnya, kemudian sikap manjanya yang membuat cintanya semakin bertumbuh dengan kuatnya.
"Ihs abang, jadi gitu, selama ini abang nyesel udah nikah sama aku?" ucapnya dengan suara yang bergetar hampir menangis, terkadang iapun merasa benci dengan perasaannya sendiri, yang akhir-akhir ini terasa sensitif dan mudah menangis.
"Eh tunggu dong sayang, akutuh belum selesai ngomong ya Ampun, gampang banget sih ngambeknya." seru Ando dengan senyum di kulum.
"Aku tuh nyesel, nyesel banget, nggak dari dulu ketemu kamu, nyesel banget, karena ketemunya baru sekarang." lanjut Ando, yang mulai menelusuri garis wajah Nada menggunakan punggung tangannya.
"Aku rela kok, meskipun harus melakukan hal yang sama, yang penting pada akhirnya, kita berdua di persatukan dalam ikatan suci dan sakral"
"Abang janji ya, jangan tergoda sama wanita lain, nantinya." seru Nada dengan bibir yang mengerucut.
"Iya sayang, mana mungkin sih aku bisa tergoda dengan wanita lain, sedangkan dirumah udah ada bidadari cantik begini." balasnya sembari tersenyum senang, karena berhasil mencuri satu ciuman di pipinya.
"Abang ihs!"
"Apa?" ucapnya, sembari mendekatkan wajahnya, membuat Nada Repleks berpaling.
"Kangen yang!" bisiknya, sembari memeluk erat tubuh Nada, yang terasa nyaman, dan menghangatkan.
"Boleh ya." lanjutnya dengan suara yang mulai terdengar parau.
"Apaan tuh?" Nada pura-pura tak mengerti, dengan keinginan suaminya.
"Sayang!" ucapnya dengan mata yang terlihat sudah di penuhi oleh Gairah.
"Kemarin Ab- hmmmmpp.." Ucapannya terputus ketika benda kenyal dan lembut telah membungkamnya dengan perasaan menggebu.
Dan ia hanya melepaskan sesaat, hanya untuk bernafas, dan kemudian melanjutkannya kembali, hingga mencapai di titik kepuasannya.
.
Jangan lupa likenya sayang-sayangku😘
Author usahakan sehari up 2 Bab, semoga selalu sabar menunggu, terimakasih😊
__ADS_1
.