
Dengan Kondisi perut Nada yang semakin membesar, kini Ando semakin posesif, dan selalu memilih menghabiskan waktu dirumah menemani Nada, kecuali jika ia sedang keluar untuk kuliah.
Seperti pagi ini Pukul 4:47, Ando mengajak Nada untuk berkeliling berjalan melewati beberapa rumah tempat tinggalnya, tanpa beralaskan sendal.
"Abang, kakinya sakit!" Ujar Nada sembari berjinjit, ketika baru saja melangkah beberapa meter, diatas paving block yang dipasang diseluruh area perumahan elit tersebut.
"Semangat dong sayang, kata mama kebanyakan ibu hamil memang harus begini, karena berjalan-jalan di pagi hari itu bagus dan banyak manfaatnya untuk ibu hamil jelang persalinan." balas Ando, semakin mempererat genggaman tangannya, membimbing langkah kakinya.
"Kata siapa?" Nada menatapnya tak percaya.
"Mama yang bilang sih!" menggaruk tengkuknya, sembari menyengir kuda.
"Untuk mencegah Varises, menurunkan resiko preeklampsia, serta untuk mempermudah persalinan."
"Dan masih banyak manfaat lainnya yang." Lanjut Ando.
Alih-alih protes, justru kini Nada mengangguk, melanjutkan langkahnya tanpa mengeluh lagi.
Setelah hampir satu jam berjalan, mengitari tempat yang sama, kini Ando mengajak Nada untuk beristirahat, duduk di depan pos security, setelah meminta izin pada petugas keamanan tersebut.
"Cape ya?" seru Ando, sembari mengelap titik-titik keringat yang mulai bermunculan di dahi istrinya.
"Dikit!" jawabnya, dengan raut wajah penuh semangat.
"Makin gede aja ya, bikin gemes!" sambung Ando, menyentuh perut Nada yang berlapis daster tipis yang dikenakannya, sehingga memperlihatkan dengan sangat jelas bentuk perutnya yang sudah terlihat semakin merosot kebawah.
"Kok kenceng gini sih yang, sakit nggak?" Ando sudah mulai panik, menatap Nada penuh rasa kasihan.
"Apaan sih abang, ini tuh udah biasa lagi."
"Beneran?"
"Ihs, beneran abang, pulang yuk lapar!" ucapnya sembari beranjak dan melangkah terlebih dahulu.
Sedangkan Ando hanya melongo, menatap tubuh istrinya yang berjalan semakin jauh.
"Tunggu dong sayang, aku heran deh sama kamu yang, perut segede gitu tapi jalannya masih kenceng aja!" ucapnya sembari terkekeh.
"Aku kelihatan gendutan nggak sih bang?" tiba-tiba Nada menghentikan langkahnya.
"Dikit!" balas Ando singkat.
"Abang serius ihs?" Nada masih berdiri ditempatnya menunggu jawaban dari Ando.
"Yaampun nggak sayang, lagian ni ya, kalaupun kamu gemuk juga, aku nggak bakalan berpaling yang, bagi aku kamu tuh tetap yang tercantik dari sekian banyaknya wanita di dunia ini, percaya deh sama aku!"
"Jadi aku beneran gemuk?" matanya sudah berkaca-kaca, dan bergegas melanjutkan kembali langkahnya dengan tergesa-gesa.
"Eh, nggak! bukan gitu yang."
"Anjirrr, salah lagi kan gue!" gumamnya, sembari berlari mengejar Nada.
"Yang, kok malah nangis sih, maaf deh kalau aku salah ngomong tadi." rupanya berbicara dengan ibu hamil, memang harus extra hati-hati, kalau nggak jadi kacau semua Batin Ando, menyesali.
"Aduh si abangnya gimana sih, jangan dibikin nangis dong istrinya, kasian tuh! mana lagi hamil besar lagi." seloroh ibu-ibu yang juga sedang berlari pagi, karena hari ini memang hari minggu.
"Iya tuh nggak kasian apa sama istrinya."
__ADS_1
"Cowok mah kebanyakan pada kaya gitu ya, nggak tua nggak muda, nggak ganteng, nggak jelek, seneng banget bikin istri nangis." timpal ibu-ibu yang lainnya.
"Cakep-cakep, kok kaya gitu." lanjut ibu-ibu disebelahnya.
Sedangkan Ando hanya meringis, sembari menggaruk tengkuknya, bingung harus berbicara apa?
.
...
Tidak terasa kini usia kandungan Nada sudah memasuki 9 bulan, dan Dokter Erin memprediksi HPL (Hari perkiraan lahir) tanggal 21 september.
"Abang, nanti pulang kuliah jangan kemana-mana, langsung pulang!" seru Nada, ketika Ando mengenakan Sneakersnya diteras rumah.
"Iya sayang, aku berangkat dulu ya!" mencium keningnya.
"Dah sayang!" ia pun sempat mengelus perut Nada sebelum menaiki motornya, dan meninggalkan pekarangan rumahnya.
Setelah kepergian suaminya, Nada mulai menyirami tanaman-tanaman bunga mawar dan rosella kesayangannya, yang baru berumur 3 minggu ini di belikan Ando untuknya.
"Ini aku beliin bunga mawar sama rosella, di jaga baik-baik ya sayang, hitung-hitung buat menghilangkan kejenuhan kamu selama dirumah." Seru Ando saat pertama kali membawa 10 pot bibit mawar dan rosella tersebut.
"Aduh non, non istirahat aja, mamang khawatir non kepeleset, licin non, biar mamang aja!" mang Daman menatapnya khawatir, pasalnya cipratan air yang berasal dari selang menggenang dibawah kaki Nada.
"Nggak apa-apa mang, udah selesai kok!" balasnya, sembari meletakkan kembali selang airnya di tempat semula.
"Hati-hati Non," mang Daman masih terlihat khawatir, terutama dengan cara berjalan Nada yang mulai tak seimbang.
Selesai dengan aktifitas menyirami tanaman Nada mendudukan dirinya di sofa ruang tamu.
Namun, ia mencoba untuk terus menahan, hingga pukul 11 siang, ia tak sanggup menahannya, karena nyerinya semakin sering dan bertambah kuat.
Sedangkan Ando, dari sejak pertama memasuki kampus pagi tadi, pikiran dan hatinya terus tertuju pada Nada, hingga tak dapat terfokus sedikitpun dengan mata kuliah yang sedang di pelajarinya.
Dan pukul 10:37 Ando memutuskan untuk izin pulang dan tidak mengikuti mata kuliah selanjutnya pada dosennya, dengan alasan istrinya sedang sakit.
"Bi, Nada dimana?"ucap Ando dengan perasaan cemas, saat berpapasan dengan bi Mimin.
"Dikamar den,"
"Yaudah bi!" ia pun bergegas berlari kecil menuju kamarnya, tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu.
"Sayang!" mata Ando terbelalak lebar, ketika melihat Nada sedang meringis memegangi perutnya dengan berurai air mata, duduk dipinggir ranjang.
"Kenapa sayang,?" Ando berjongkok dihadapannya.
"Sakit abang!" balas Nada dengan suara terisak.
"Mana yang sakit, ini?!" menyentuh perut Nada dengan tangan bergetar.
"Kayanya udah waktunya bang!" Nada meringis, sembari menunjuk kakinya yang meneteskan cairan bening.
"Bukannya masih 10 hari lagi ya yang?!" Ando kembali bertanya dengan raut bingung.
"Mana aku tahu abang!" desis Nada.
"Yaudah ayo kerumah sakit sekarang!" hendak menggendong Nada.
__ADS_1
"Tas perlengkapannya ambil dulu di lemari bang." Ando pun menurut, dan bergegas mengambil tas yang sudah disiapkan Nada dari jauh-jauh hari.
"Ayo!"
"Aku jalan aja pelan-pelan, abang kasih tahu bibi aja, aku pengen di temenin bibi, kalau nelpon mama nanti lama lagi nunggunya."
"Iya, iya sayang!" secepat kilat Ando berlari menuruni tangga untuk menemui bi Mimin, dengan menenteng tas tadi ditangan kanannya.
"B-hi?" ucapnya dengan Nafas tersengal, ketika berada didekat bi Mimin yang sedang membersihkan kulkas.
"Aduh kenapa sih den, ngos-ngosan gitu, bawa-bawa tas gede segala lagi, mau kemana?" tanya bi Mimin, heran.
"I-itu bi ayo bi, Nada mau lahiran, di kakinya netes-netes, kaya udah keluar cairan gitu bi, aduh saya nggak ngerti, pokoknya sekarang kita kerumah sakit, Nada minta supaya bibi ikut nemenin." balas Ando panik, tanpa sadar meletakan tasnya diatas meja makan disamping kulkas.
"Astagfirullah, yang bener den? hayu atuh harus buru-buru berangkat kalau gitu mah." dan keduanya berjalan tergopoh-gopoh kelantai Atas, untuk memapah Nada.
"Mang buka gerbang!" teriak Ando ketika sampai di teras depan.
"Siap den!" meski bingung, mang Jajang tetap melaksanakan tugasnya.
Sedangkan Ando berlari untuk memanaskan motornya, membuat semuanya menatap heran kearahnya.
"Abang ngapain manasin motor?" seru Nada disela rasa sakitnya, disaat yang lain masih terbengong, dan tidak ada yang bertanya terlebih dahulu.
"Eh?" Ando pun melirik motornya bingung, kemudian menggaruk kepalanya frustasi.
"Jangan bilang, abang mau bawa aku kerumah sakit pakai motor abang yang tinggi itu, abang kira-kira dong, lagian kan kita berangkat bertiga mana bisa naik motor." Nada menatapnya dengan tatapan horor.
"Iya sayang iya, aku lupa!" ia pun mencabut kunci motornya, dan hendak memasukan kunci tersebut ke arah lubang kunci mobil, namun urung, kala mang Jajang terlebih dahulu berteriak membawa kunci mobil yang aslinya.
"Ini den, kunci mobilnya!" ujar mang jajang berlari menyerahkan kunci tersebut.
"Udah deh mang, mamang yang bawa aja mobilnya, saya udah nggak kuat!" ucap Nada merintih lemas dipelukan bi Mimin.
"S-siap Non!"
Mang Jajangpun bergegas masuk dan menyalakan mobilnya terlebih dulu, sedangkan Ando membantu bi Mimin, untuk membantu memapah Nada memasuki mobil.
"Abang tadi tas perlengkapannya dimana?" seru Nada, ketika semuanya sudah berada didalam mobil.
"Eh," iapun celingukan mencari-cari barang yang dimaksudkan istrinya, lalu mengingat-ingat kembali, dimana ia meletakan tasnya tadi.
"Di meja makan yang!" ucapnya sembari meringis.
"Ya'Allah Abaaaangggggg!" jeritnya kesal.
.
.
Jangan lupa like, komen, dan dukungannya ya, Readers tercinta πππ
Terimakasihπππ
.
.
__ADS_1