Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Pesta Kong Gani


__ADS_3

"Hati-hati dirumah sayang, jangan lupa makan yang banyak, diminum juga susunya, biar dedenya sehat." seru Ando, mencium kening dan perut istrinya.


"Mungkin acaranya sampai malam, jangan di tungguin ya, tidur aja duluan." sambung Ando, memakai jaket serta mencangklong tasnya, dengan tangan kirinya yang menenteng helm.


"Iya, Abang hati-hati ya!" balasnya mencium punggung tangan Ando.


"Iya, by sayang!" mencium keningnya satu kali lagi.


...


"Tumben lo berdua datang pagi-pagi lebih dulu dari gue, biasanya kan lo berdua_"


"Telat terus." potong pandu cepat.


"Elaahh, gue sama si Pandu, mau ngomongin dulu acara entar sore, manggung dirumah kong Gani, lo siap kan bro, kalau acaranya nyampe larut malem." Seru Danang.


"Ok ok, aja sih kalau gue, lo berdua gimana?"


"Kalau elo ok, kita juga ok, ia kan bro!" menepuk pundak Pandu.


"Yo'i." balas Pandu.


*******


.


Bandung..


.


"Katanya ada hal penting yang mau mas omongin ke aku, apa mas?" seru mama Indri, saat Rendra datang mengunjunginya direstaurant miliknya.


"In, aku sudah menemukan anak kandungku." ucapnya, setelah terdiam beberapa saat.


"Alhamdulillah, ketemu dimana, dimana anaknya S-sekarang mas?" seru Mama Indri turut bahagia, ia tahu calon suaminya tersebut telah menceritakan semuanya, termasuk masalalunya, yang sudah bertahun-tahun kehilangan putranya.


"Aku bingung In, karena Gilang sudah di adopsi sepasang suami istri dari dia kecil, aku bingung harus menjelaskannya bagaimana, pada Gilang, maupun pada kedua orang tua angkatnya." ucap Rendra, dengan tatapan sendu.


"Yaudah mas tenang, nanti kita cari solusinya sama-sama ya mas," seru mama Indri, menggenggam tangan Rendra, menenangkan.


"Makasih banyak ya In, aku sangat beruntung bisa mengenal wanita sepengertian kamu, aku yakin mantan suami kamu pasti sangat menyesal telah meninggalkan kamu, demi perempuan lain."


"Mas?" Mama Indri menatapnya dengan tatapan tak suka, ia tak mau lagi membahas masalalunya.


"Iya, maaf ya!"


"Yaudah nggak apa-apa."


**********


"An, kita dipanggil bang Raffan tuh kedalem, katanya kong Gani mau ngobrol sebentar." Seru Pandu, yang baru saja kembali dari toilet.

__ADS_1


Usai manggung dengan membawakan 9 lagu sesuai Request bapak hajat, kini Ando dan ke 5 sahabatnya, beristirahat sejenak sebelum mereka pulang kerumahnya masing-masing.


"Wah Gajian dong kita ya!" seloroh Ramon, antusias.


"Elaahh, lo mah yang dipikirin duit mulu, sama kaya gue!" timpal Agil sembari tergelak.


"Dasar lo berdua, kalau ngomongin duit aja semangat." Seru Beny menyentil kuping kedua sahabatnya.


"Anjir, sakit woyyy!" Ramon menggosok-gosok kupingnya yang terasa panas, sementara Agil menggerutu pelan.


"Ck, Dasar trio ubur-ubur." seru Pandu menggeleng-gelengkan kepala, sembari mengikuti langkah Ando dan Danang yang sudah terlebih dulu masuk kedalam.


"Begini, gue mau ngucapin makasih banyak ame lu pada karena udah bantu gue ikut meriahin acara kawinan anak bungsu gue si Fika," seru kong Gani, saat mereka sudah duduk di sofa ruang keluarganya.


"Nih, bayarannya buat elu pada, lebihnya bonus, karena udah bikin acaranya tambah rame." lanjut kong Gani menyodorkan amplop coklat ke hadapan mereka.


"Gue kagak bisa lama-lama nih ngobrolnya, masih banyak tamu, pokoknye makasih banyak ye, gue musti tinggal dulu nih."


"Iya kong, makasih banyak ni, pake di bonusin segala lagi." seru Ando, saat kong Gani beranjak dari duduknya.


Kong Gani hanya mengangguk sembari tersenyum, lalu melangkah pergi.


"Wah, besok pesta nih kita." seloroh Danang.


"Yo'i bro!" timpal pandu dengan semangat 45.


Mereka bersorak riang, lalu pulang kerumahnya masing-masing, setelah berpamitan pada kong Gani selaku bapak hajat, serta bang Raffan selaku Mc di acara tersebut.


Seru Pandu, saat mereka ber 6 mampir di sebuah warung kopi langganannya yang terletak dipinggir jalan, serta buka 24 jam.


"Wiihhh.. asik tuh, dimana bro?" seloroh Danang.


"Dibandung, mau ikut nggak lo?"


"Enak nggak tuh tempatnya, gue tuh kalau berhubungan dengan yang namanya Villa, suka kebayang tempatnya serem-serem, kek di film-film horor gitu nggak sih?" balas Danang.


"Elaaahhh lo mah kebanyakan nonton film setan." timpal Ando, sembari melemparnya dengan kulit kacang.


"Tahu tuh, penakut banget sih lo!" balas Pandu mengejek.


"Bukan penakut, gue tuh lagi ngebayangin!"


"Terus lo nggak mau ikut gitu?" lanjut Pandu, sembari menerima secangkir Kopi pesanannya dari tangan mang Agus.


"Mau pada ikut nggak lo?" bisik Danang pada Ramon, Beny, dan Agil.


"Gue sih gimana bos aja!" seru ketiganya, menunjuk Ando menggunakan Dagunya.


"Woyy Ndo, kasih libur tuh mereka, katanya mau ikut ke Villa neneknya si Pandu yang di bandung."


"Kasian tuh bocah butuh liburan, tiap hari mondar-mandir didalam Cafe lo doang, kerjaannya." seru Danang.

__ADS_1


"Gue sih terserah mereka, tiap minggu juga gue kasih libur, mereka aja yang mau kerja terus."


"Kan lumayan, banyak bonusnya!" seloroh Ramon, cengengesan.


"Mayan, buat tambah-tambah tabungan, buat modal kawin." timpal Agil.


"Kalau gue sih, time is money!" timpal Beny.


"Gila ya, lo bertiga benar-benar mata duitan." Pandu mencibir.


"Eh tapi, si trio ubur-ubur patut dicontoh tuh, gue juga mau dong Ndo, kerja di Cafe lo, ya hitung-hitung buat tambahan uang jajan, biar emak gue juga seneng, gue punya kerjaan sampingan." seru Danang.


"Nggak ah, Rugi gue punya karyawan model lo, telat mulu kerjaannya!" Canda Ando.


"Lagian, kalau buat jajan, hasil dari lo manggung cukup kali Nang, apalagi job kita semakin hari semakin banyak,"


"Tapi gue juga pengen ngerasain jadi karyawan gitu, punya kerjaan tetap, kaya si trio itu."


"Mereka kan bisa full kerja, lah elo kan sekolah, gimana bagi waktunya, belum lagi kalau ada job banyak, bisa gempor lo!"


Danang meringis, "Iya juga sih!"


"Ini gimana sih, gue kan tadi ngajakin ke Villa minggu depan, kok jadinya malah pada bahas kerjaan, elaaahhh, pusing gue jadinya!"


"Tahu tuh si Danang!"


"Kalau cewek gue pengen ikut gimana Pan, kamarnya banyak nggak?"


"Gampang itumah, Nada mau ikut emang? yaudah ide bagus tuh, biar tambah rame, lo nggak usah khawatir, ada bi Ijah kok disana, entar biar sekamar sama dia, aman kan sama-sama cewek."


"Ok deh, sip kalau gitu, gue ikut!"


"Jadi gimana nih, keputusan lo berempat, ikut juga nggak?" Ucap pandu kearah Danang, Ramon, Agil, dan Benny.


"Ikutlah, sayang, liburan geratis kok di tolak."


"Iya nggak bro?" sambung Danang.


"Yo'i."


"Mata gue kok udah sepet gini, jam berapa sih?" Danang mengucek kedua bola matanya.


"Baru juga jam 2," Seloroh Pandu santai.


"Oh!"


"Eh, serius lo jam 2, eh busettt..di amuk emak gue entar." Danang panik sendiri.


"Berisik banget bocah, santai aja, emak lo kagak bakalan marah kalau elo balik bawa duit banyak, percaya deh sama gue."


.

__ADS_1


.


__ADS_2