
Maya..
.
.
Wanita itu tengah mengobrol serius dengan ponsel yang menempel ditelinga kanannya.
Siang ini ia hendak mengunjungi salah satu butiknya yang sudah lama tidak ia kunjungi, karena ia tidak tinggal di daerah Bandung.
Obrolan yang semula serius, mendadak terhenti, ketika kilasan matanya tidak sengaja menangkap bayangan seorang remaja laki-laki sedang tersenyum, melayani pembeli diwarung nasi kecil dipinggir jalan.
"Nanti kita bahas lagi!" ucapnya menutup telpon, dan memasukannya kedalam tas.
"Pak Imam, berhenti sebentar!" ucapnya, pada sopir yang kini tengah mengemudikan mobilnya.
"Baik bu."
Ia pun turun dan bergegas menghampiri warung nasi tersebut.
"Dek, adek yang kemarin nggak sengaja nabrak saya kan?" ujarnya to the point.
Gilang meringis, " Betul bu, sekali lagi maaf ya!" balasnya tak enak hati.
Wanita iti terkekeh, "bukan itu masalahnya."
"Saya cuma mau mastiin kalau kamu masih mengenali saya." lanjutnya.
"Ehm, bagai mana saya bisa lupa, kejadiannya baru aja kemarin bu." balasnya pelan.
Membuat Wanita itu kembali terkekeh.
"Kamu kerja disini?" sambungnya, setelah menelisik warung nasi tersebut, dan pertanyaan itu sontak keluar dari mulutnya begitu saja.
"Oh, itu, ini warung nasi mama saya, saya hanya membantu bu, kebetulan mama dan abang saya sedang belanja."
Wanita itu menengok kanan dan kiri, sepi pikirnya.
Lalu ia pun memutuskan untuk mengobrol lebih banyak lagi dengan Gilang.
"Kalau nggak keberatan, boleh nggak kita ngobrol sebentar."
"Sebentar saja!" lanjutnya.
Gilang menggaruk tengkuknya bingung, bukankah sejak tadi wanita itu terus mengajaknya untuk mengobrol batin Gilang.
"Boleh bu." Gilangpun keluar dari kios, sembari membawa 2 kursi plastik.
"Silahkan duduk bu." Gilang mempersilahkan.
"Baik terimakasih."
"Ada apa ya bu?" ucap Gilang memecah keheningan, setelah wanita itu terdiam beberapa saat.
"Boleh saya tahu nama ayah kamu?"
Gilang menatapnya bingung, rasanya aneh, ketika ada seseorang yang baru saja mengenalnya, tiba-tiba bertanya tentang ayah.
__ADS_1
"Maaf ya dek, kalau saya terlalu lancang, tapi saat pertama kali kita bertemu, kamu sangat mengingatkan saya dengan seseorang." ucapnya yang berubah sendu.
"Saya punya dua ayah bu." jawab Gilang cepat, entah mengapa ada rasa tak tega dalam hatinya ketika melihat wanita asing dihadapannya terlihat sedih.
"D-dua ayah?"
Gilang mengangguk, " Betul bu, saya memiliki dua ayah, tapi salah satunya sudah meninggal."
"B-bagaimana bisa?" Wanita itu masih mencerna dengan baik ucapan Gilang.
"Memang seperti itu adanya, saya memiliki dua ayah."
"Siapa Nam-"
Ucapannya terpotong oleh kedatangan seorang pembeli yang sepertinya sedang terburu-buru.
"Dek, nasi sama ayam goreng 5, dibungkus ya!"
"Agak cepetan ya dek, saya lagi buru-buru." lanjut seorang pembeli bapak-bapak berusia 50 tahunan tersebut.
Setelah selesai melayani bapak-bapak tadi, kini datang lagi 4 orang pembeli, karena seperti biasa, warung itu semakin sore semakin ramai oleh pembeli.
Sedangkan wanita itu masih terduduk ditempat semula dengan wajah bingung.
Bingung antara harus menunggu Gilang selesai melayani pembeli yang bertambah banyak, atau pergi untuk melanjutkan kunjungannya ke butik miliknya.
Sesekali Gilangpun melirik kearahnya dengan perasaan tak enak.
Setelah lama bergelut dengan pikirannya, wanita itupun berpamitan pada Gilang, ia berjanji kalau besok akan kembali untuk menemuinya disini.
...
Ia bersandar pada jok mobil, memijit pelan kepalanya yang terasa pening, dalam hati ia bertekad akan terus mencari tahu, siapa sosok remaja itu sebenarnya.
Sesampainya di butik ia disapa hangat oleh karyawannya dengan riang.
"Ibu, apa kabar, lama banget ya nggak kesini?"
"Ibu makin cantik aja bu."
"Awet muda ih si ibu." lanjut karyawan lainnya, yang merasa senang dengan kedatangan bos nya tersebut.
Maya tersenyum menanggapi sapaan hangat dari mereka, lalu ia mulai berjalan mengelilingi butik tersebut, sembari mendengarkan laporan-laporan dari karyawan seniornya, yang ikut berjalan disampingnya.
Ia menghela nafas, setelah memasuki ruangannya.
Setelah 15 tahun berlalu, kini kehidupannya sudah berubah drastis, kemewahan serta kekayaan yang dulu di dambakannya sudah ia miliki, bahkan tak terhitung saking banyaknya.
Namun, hidupnya kini terasa hampa dan kosong, rupanya memiliki harta berlimpah tak membuatnya bahagia, seperti dalam impiannya dulu.
Justru kini ia berpikir ingin kembali ke masa lalu, menikmati hidup dengan kesederhanaan namun dipenuhi cinta tulus dari orang terkasih.
Langkah yang salah di masa lalu, membuat masa depannya kian sengsara.
Kini ia merasa, bahwa karma sedang mengikutinya, untuk menenggelamkan dirinya pada lautan penderitaan yang tiada habisnya.
Ia terisak, memandangi kalung liontin yang berisi foto bayi mungil didalamnya.
__ADS_1
15 tahun ia menjalani hidup dengan hati yang tak tenang, perasaan bersalah selalu menghantuinya setiap hari, bahkan perbuatannya di masalalu kerap kali muncul dalam mimpinya.
Seperti selalu mengingatkan!
Suara tangis bayi yang ditinggalkannya dulu, masih terngiang-ngiang jelas ditelinganya hingga saat ini.
Bahkan kesibukan yang dia miliki setiap hari, tidak bisa memudarkan bayang-bayangnya di masa lalu, melekat dalam diri, tak mau pergi.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan maya.
"Masuk!" ucapnya, sembari menyeka sisa air bening disudut matanya.
"Maaf bu, saya bawa semua laporan yang masuk selama 2 tahun ini, ibu boleh cek dari awal." ujarnya ramah.
Meskipun setiap bulannya laporan mengenai pemasukan dan pengeluaran butik tersebut selalu dikirimkan lewat email, namun karyawannya itu tetap mencatatnya disebuah buku tebal bersampul biru, karena bagi mereka, terasa kurang detail jika tidak mencatatnya juga.
"Terimakasih Mel, kamu memang karyawan teladan saya." ucapnya tersenyum puas, setelah melihat lembar demi lembar buku catatan tersebut.
"Tidak cuma saya bu, tapi semua karyawan disini ikut berperan." balasnya merendah.
"Iya, kalau begitu saya bangga memiliki kalian semua." lanjut maya.
..
..
"Wihhh papa muda akhirnya datang juga," seloroh Agil, ketika Ando baru sampai di depan Cafenya.
"Tambah cakep aja lo, makin bersinar nggak sih?" timpal Ramon.
"Emangnya matahari bersinar." sahut Ando.
"Kagak percaya? asli seriusan gue!"
"Gimana Cafe rame, semuanya aman?" seru Ando pada ketiga sahabatnya.
"Selama ada kita, semua aman terkendali!" balas Beny dengan gaya sok kerennya.
Ando pun berjalan kearah belakang, mengecek keadaan Cafe, tidak ada yang beda masih sama seperti biasa, keadaannya pun rapi dan bersih.
Ketiga sahabatnya, memang sangat bisa di andalkan, meski ia tidak mengunjungi Cafe tersebut sesering dulu.
"Anak-anak baru udah pada ngerti kan sama kerjaannya?" ucapnya ketika sudah kembali menemui ketiga sahabatnya yang sedang membersihkan meja depan Cafe.
"Aman! lo tenang aja, mereka semua gesit, dan gampang di atur." balas Ramon, yang jaraknya paling dekat dengannya.
"Ok, gue percaya 100% sama kalian, tapi gue nggak bisa lama-lama nih, khawatir anak bini udah nungguin dirumah."
"Iyadeh iya, yang punya anak bini mah, buruan pulang sono, kagak pulang-pulang, bisa-bisa entar malem kagak dapet jatah lo."
"Kan berabe." lanjut Ramon.
Ando terkekeh, sembari berjalan kearah dimana motornya terparkir.
Ia tersenyum sendiri, kala mengingat wajah sang istri, meski sudah ada baby Syahki di antara mereka, namun tak sedikitpun menghilangkan kebiasaan mereka untuk selalu bermesraan.
.
__ADS_1
.