
"Kemana aja si lo, sekarang udah kagak pernah maen lagi kesini?" Bang Rasyid memeluknya.
"Sorry bang gue sibuk."
"Iya-iya gue ngerti, dua hari yang lalu si Gerry cerita sama gue, katanya lo lagi bikin Cafe baru katanya!"
"Gila, makin kesini lo makin giat aja, salut gue!"
"Harus dong bang, kalau gue males-malesan anak istri gue mau dikasih makan apa entar!"
"Gayanya sekarang udah berani ngomongin bini aja."
Ando hanya menyengir menanggapi, merekapun duduk di ruang khusus di Cafe bang Rasyid, tempat biasa mereka jika berkumpul.
Hari ini Ando mengosongkan aktifitasnya untuk menemui mereka, karena memang seperti biasanya setiap bulan mereka mempunyai acara kumpul bersama.
Meskipun awalnya ia menolak, dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Nada, karena saat ini acara main dan keluyuran bukan lagi prioritas utamanya.
Ada seseorang yang lebih penting dirumah, lebih nyaman dari segala-galanya.
Namun Nada bersikukuh menyuruhnya untuk berangkat, ia tak mau jika Ando jauh dari teman-temannya, dan ia tak mau di Cap sebagai istri yang mengekang suami.
Dan di waktu yang sama Nada juga meminta ijin main kerumah orang tuanya, agar Ando tidak merasa tidak enak jika dirinya keluar tanpa istrinya.
Dan pada akhirnya, Ando mengikuti saran istrinya, lalu mengantar Nada terlebih dahulu sebelum berangkat menuju Cafe bang Rasyid.
"Roman-romannya bakalan ada pengusaha muda sukses ni." sebuah suara terdengar dari belakang.
"Wihhh bang, sehat?" Ando menghampiri bang Gavin lalu memeluknya.
"Sehat sehat, lah lo sendiri gimana sehat? makin cakep aja lo!" bang Gavin mengacak pelan rambutnya.
Mereka selalu terlihat Akrab, layaknya adik dan kakak.
"Bang Raffan kemana nih nggak kelihatan."
"Biasalah, dia lagi sibuk sama dunianya." balas bang Gavin, sembari mencomot kue lapis legit yang berada diatas meja.
"Sorry nih gue telat!" ujar Pandu diikuti danang.
"Ah lo berdua si duo kecebong, kapan nggak telatnya!" cibir Ando.
"Enak aja duo kecebong, duo bintang kali kitamah." Ujar Danang sembari menyalami bang Gavin dan bang Rasyid.
"Iya duo Bintang redup lo mah." Timpal bang Gavin sembari terkekeh.
"Elaahh abang, matahin perasaan adeknya, kagak seru ah lo mah bang," Danang melemparkan punggungnya kesandaran sofa, membrengut kesal.
"Woyy bercanda gue!" bang Gavin menghampirinya, lalu mengacak rambutnya gemas.
"Yaelaahhh bang, Rambut gue!" Ia merapikan Rambutnya yang acak-acakan, akibat ulah bang Gavin.
"Yang lain kemana nih, belom pada nongol!" bang Rasyid bersuara.
"Tahu tuh bocah kebiasaan pada telat mulu," Pandu menggerutu.
"Sama kaya elo, sama si Danang tuh!" ujar bang Rasyid.
__ADS_1
"Beda lah bang, kita mah telatnya beralasan," balasnya so Cool.
"Semua orang juga begitu oncom!"
"Si Danang tuh, apes banget! tiap pergi-pergi motornya ngadat, syeett dah!"
"Tukerin sih Nang, bokap lo kan juragan buah, minta beliin baru kek, lo kan anak satu-satunya, pasti dikasih deh, yakin banget gue!"
"Bukan itu masalahnya bang, sebagai anak laki-laki yang sudah berpenghasilan, gue tuh ngerasa nggak gentle aja, masih minta-minta sama orang tua, Asli malu gue."
"Ah lebay lo!"
"Etdah serius gue!" Balasnya tak terima dikatain lebay.
"Seraahh lo lah!"
"Eh ngomong-ngomong kali ini siapa yang mau traktir?" Bang Gavin membawa 2 buku menu kearah mereka.
"Si Ando, lagi banyak rezeki dia." tunjuk Pandu.
"Ok gue bayarin, pilih aja apa yang kalian mau." Ujar Ando.
"Sepuasnya?" ucap Pandu dan Danang bersamaan.
Ando mengangguk. "Iya."
"Giliran geratisan aja, lo berdua paling semangat, emang bener-bener duo bintang Redup ya!" Canda bang Rasyid sembari terkekeh.
"Kapan lagi coba bang!"
"Assalamu alaikum?" Ucap 3 personil lainnya yang baru saja datang.
"Datang juga si trio ubur-ubur." Seru pandu.
"Sorry deh kita telat,"
"Udah biasa, kagak aneh! udah sini gabung, hari ini kita dapet geratisan tuh dari si babang tampan." tunjuk Danang kearah Ando.
Ramon, Beny, dan Agil bersalaman pada mereka yang sudah hadir disana, lalu ikut bergabung.
"Ndo, kapan-kapan anak bengkel ajakin juga lah kesini, biar tambah Rame gitu." seru bang Gavin.
"Pada nggak mau terus bang, gue bingung musti gimana bujuknya."
"Ah elaahh!"
"Rokoknya Abis nih!" Bang Gavin melemparkannya ketempat sampah, kemudian membawa 3 bungkus rokok yang masih baru, untuk dihisap bersama.
"Lo kagak ngerokok Ndo?" Pandu menatapnya heran, biasanya ia sudah menghabiskan beberapa batang Rokok.
"Gue udah nggak ngerokok!"
"Gila, serius lo! kagak percaya gue, waktu itu lo pernah bilang Rokok sahabat setia lo, sekarang, tiba-tiba bilang udah nggak ngerokok, yang bener aja!" Pandu mendengus tak percaya.
"Serius gue!"
Sejak menikah dengan Nada, ia berjanji tidak akan menyentuh rokok lagi, memang tak mudah bagi Ando untuk melepasnya, tapi ia mencoba perlahan, dan akhirnya bisa.
__ADS_1
Pikirannya menerawang jauh mengingat saat Nada tak mau di sentuhnya dengan Alasan bau Rokok.
"Ihs, mulut kamu bau Rokok!" Nada membrengut kesal.
"Nggak masalah kalau kamu suka ngerokok, aku nggak bakalan ngelarang, tapi Kalau mau cium-cium aku, bersihin dulu." gerutunya.
Ando terkekeh, "Kamu nggak suka Cowok ngerokok hmm?"
"Aku cuma nggak suka baunya!"
"Ok, demi kamu aku bakalan berhenti merokok!"
Nada memandangnya tak percaya, pasalnya kebanyakan orang tidak mudah terlepas dengan apa yang sudah menjadi candunya.
"Serius?"
"Iya!"
"Kamu yakin?"
"Akan aku coba, buat kamu apa sih yang nggak yang!"
Dan sejak saat itu Ando menyibukan dirinya, untuk mengalihkan dari hal yang akan ia jauhi, meskipun awalnya berat, namun akhirnya ia bisa.
"Alesan apa yang bikin lo ninggalin kebiasaan lo itu?" bang Rasyid menimpali, dengan tatapan yang sama tak percayanya seperti Pandu.
"Ya gue rasa udah waktunya aja, memulai hidup sehat!"
"Gaya lo, tapi gue salut An sama elo, kok bisa gitu, jujur gue juga pengen, tapi susah banget, beuuhh berat banget!"
"Kalau gue sih kayaknya kalau udah sakit parah dan kagak bisa ngisep lagi nih rokok, baru berhenti!" Ujar Pandu
Kluntaanngg...
Suara kaleng bekas minuman jatuh mengenai lantai, setelah mengenai kepala Pandu sebelumnya.
" Njirr..Sialan!" Pandu menggaruk kepalanya yang tertimpuk kaleng tadi.
"Makanya kalau ngomong tuh di Filter dulu sembarangan aja lo," ucap Danang.
"Itukan perumpamaan, saking susahnya gue ngelepasnya, busyet dah kagak ngarti pepatah lo ya."
"Kagak!" Balas Danang sambil beranjak dari duduknya.
"Sekolah dimana lo, kagak ngarti begituan!"
"Eropa." balasnya ngasal, sembari ngeloyor berjalan menuju kamar Mandi.
"Gue heran deh sama lo berdua Pan, lo itu dari rumah berangkat bareng, dijalan kalau motor si Danang ngadat, lo setia nemenin, tapi giliran sampe sini, berantemmm mulu lo berdua, pusing gue!" ujar bang Gavin.
"Nggak aneh namanya juga duo bintang Redup." timpal bang Rasyid.
"Udah ah ngomongin si duo nggak bakal ada habisnya, mendingan sekarang pada pilih menu tuh, udah lama kan kita nggak makan-makan bareng!" ujar Ando menghentikan kegaduhan.
"Iya nih, laper gue!" bang Gavin dan yang lainnya mulai memilih menu.
Termasuk bang Rasyid, si pemilik Cafe, karena kali ini semuanya Ando yang traktir.
__ADS_1
.
.