Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Eye of the tiger


__ADS_3

Maya..


.


.


.


Jakarta..


.


"Ma, ayo main ma!" gadis kecil dengan rambut di kuncir dua tersebut terus merengek, menarik-narik tangan sang mama, namun sang mama seperti tak peduli, ia hanya diam, dengan tatapan yang lurus kedepan.


"Ma, lulu pengen nasi goreng bikinan mama!" ucapnya untuk yang kesekian kali, sambil menangis. namun lagi-lagi sang mama tidak menggubrisnya.


"Maya!" bentak seorang laki-laki yang berstatus suaminya, dengan amarah yang meluap.


Selama 3 hari ia menahan rasa kesal dengan sikap sang istri yang tak lagi hangat, setelah kepulangannya dari bandung 3 hari yang lalu.


Bahkan ia sama sekali tidak mempedulikan kedua putrinya, yang sangat merindukan kasih sayangnya.


"Kamu tuli, apa gimana sih?" lanjutnya, membuat Maya pada akhirnya tersadar, dan terlonjak kaget mendengar ucapan tinggi sang suami.


Pasalnya selama 12 tahun ia menikah dengan Rizal sang suami, tak pernah sekalipun ia membentak dirinya, meski melakukan kesalahan fatal.


"Racun apa sih, yang memenuhi isi kepala dan hati kamu, sampai kamu berubah kaya gini, ok jika kamu mengabaikan aku, aku masih bisa terima, tapi ini kamu mengabaikan anak-anak, aku sama sekali tidak bisa terima May, kali ini kamu sudah keterlaluan!" lanjut Rizal, sembari merangkul kedua putrinya yang sedang menangis sesenggukan.


"Aku mau cerai!"


Jderrr..


Rizal terperangah, dengan tubuh membeku.


"Kamu mabuk?"


Rizal menggelengkan kepala, antara kaget dan tak percaya, dengan apa yang di ucapkan istrinya barusan.


"Aku rasa, nggak ada lagi yang bisa kita pertahanin mas, aku ingin bebas,"


Rizal kembali menggeleng, "May, kamu jangan keterlaluan dong bercandanya, apa maksud kamu, apanya yang nggak bisa di pertahanin,?"


"kamu nggak lihat apa, ini anak-anak lagi pada nangis may, kamu nggak kasihan sama mereka?"


"Aku nggak bercanda mas, aku serius, aku mau kita pisah!" ucapnya, sembari beranjak dari duduknya.


"May, kenapa?"


"Apa yang terjadi, apa salah aku may?" lanjut Rizal dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Selama ini mereka jarang sekali berantem, bahkan Maya selalu menunjukan kasih sayangnya didepan ia dan kedua putri mereka, Zahra dan Lulu.


Dan ketika kini, maya mengatakan ingin pisah, rasanya ia seperti ditelan badai seketika, tanpa peringatan apapun.


"May, aku rasa kamu sedang kecapean, jadi lebih baik, sekarang kamu istirahat aja, biar anak-anak sama aku dulu." ucapnya, berharap sang istri mau sedikit luluh.


"Mas?"


"May, aku mohon!"


Dengan perasaan kesal, Maya berjalan kearah kamarnya, membuka lalu membanting pintu dengan kerasnya.


Membuat Rizal memejamkan mata, sekaligus menghela nafasnya.


Kemudian menggiring kedua putrinya untuk bermain bersama, ia bertekad dalam hati, akan terus mempertahankan rumah tangganya, bagaimanapun caranya.


Dan ia akan mencari tahu, hal yang telah membuat sang istri, yang sikapnya berubah akhir-akhir ini.


..


..


Di bengkel,


.


"Gila, kagak nyangka gue bang, elo bakal married lebih cepat dari yang gue kira, padahal gue memprediksikan, kalau elo bakal nikah 5 atau 7 tahun lagi!"


"Anjirrr, jadi selama ini lo nyumpahin gue, biar kagak laku, dan kagak kawin-kawin gitu, dasar adek kagak ada ahlak lo!" bang Fajar melemparkan bantal sofa kearah Pandu, tepat sasaran.


"Aelaahhh, jidat mulus gue!" pandu mengusap pelan dahinya yang terkena lemparan bantal.


"Bukan doain bang, gue cuma memprediksi gitu lho."


"Prediksi apaan? Kaya cenayang aja lo." Sergah Danang.


"Itu sama aja lo doain gue njir, adek durhaka lo," bang Fajar tak terima.


"Iya deh iya, sorry bang, salah mulu gue."


"Emang!" timpal Agil.


"Berhubung hati gue lagi bahagia, kali ini lo gue maafin dah, tapi kagak ada lain kali lho ya!" ucap bang Fajar, dengan memasang muka tak bersahabat.


"Iya deh ampun bang, kagak lagi-lagi gue" Pandu mengangkat dua jarinya.


"Ngomong-ngomong, calon bininya abang siapa sih, kok gue kagak pernah tahu." Seloroh Danang, yang memancing yang lainnya untuk mengangguk, tanda sependapat dengannya.


"Kasih tahu jangan nih?"


"Elahhhh, pelit lo bang."

__ADS_1


"Iya deh iya, gue kasih tahu, cewek gue anaknya pak Bahari, yang punya warung soto depan pangkalan ojek."


"Ah seriusan bang, kalau nggak salah, yang suka dipanggil mpok Lely kan ya?" ujar Ando, sembari mengingat-ingat.


"1000 buat lo!" bang Fajar mengacungkan jempol pada Ando.


"Anjiirr, mpok Lely, Asoy!"


"Setuju dah gue kalau sama mpok Lely," lanjut Pandu.


"Tapi, bukannya mpok Lely itu jendes ya ba_ ahwww"


Ucapan Pandu terpotong kala merasakan kakinya yang terasa nyeri akibat diinjak Danang.


"Sakit Anjirr!"


"Makanya kalau ngomong tuh di rem dikit, kaya rem blong aja sih lo!" bisik Danang kesal.


"Salah gue dimana coba?" Pandu pun balik berbisik.


"Banyak!"


"Nggak jelas lo."


"Lely emang janda, tapi kagak masalah kok buat gue, dengan dia nerima gue aja, gue tuh udah seneng banget luar biasa."


"Elo semua tahu sendiri kan, masa lalu gue tuh kaya gimana,?"


"Kagak ada baek-baek nya banget." lanjut bang Fajar, dengan nada yang berubah sendu.


Membuat Ando, dan yang lainnya ikut terhanyut dalam suasana hening tersebut.


Terutama Ando, yang masih begitu mengingat dengan jelas, kehidupan bang Fajar sebelumnya.


"Siapapun pilihan abang, kita bakalan selalu dukung kok bang, yang terpenting abang selalu bahagia."


ucap Ando kemudian, yang diangguki oleh yang lainnya.


"Kira-kira acaranya kapan nih bang?" seru Ramon ingin tahu,


"Semingguan lagi, tapi gue kagak ngadain acara gede-gedean, cuma akad sama syukuran kecil-kecilan doang, tapi gue berharap lo semua pada datang ya,!"


"Dampingin gue."


"Siappp bang siappp, kali aja kan nular ke gue gitu!" seloroh Ramon sembari menyengir kuda.


"Kita semua bakal usahain buat datang, apa sih yang nggak buat abang!" timpal Agil penuh semangat.


"Eh bro, lebih rame kalau kita nyumbang suara kali ya, pas nikahan bang Fajar nanti," Danang berseloroh.


"Iya tuh, gue setuju banget, lagian udah lama nih kita kagak manggung, kangen gue!" Sambar Pandu, sembari membayangkan.


"Boleh tuh boleh." Ando manggut-manggut.


Dan hal kecil yang diucapkan bang Fajar barusan, memancing mereka untuk saling berpelukan, dengan penuh rasa haru.


Minggu ini masing-masing dari mereka, sengaja mengosongkan jadwalnya untuk bertemu, membahas acara pernikahan bang Fajar yang akan diselenggarakan satu minggu lagi.


..


..


Ditempat lain, Gilang tengah tertawa lepas, bersama mama Indri, menonton kelucuan, yang di perankan oleh seorang pelawak bule yang berasal dari Britania Raya.


Kini keduanya semakin dekat satu sama lain, bahkan Gilang maupun mama Indri tidak lagi merasa sungkan, keduanya kini selalu kompak dalam segala hal.


.


.


Setelah melalui berbagai macam pertimbangan, kini Maya memutuskan untuk kembali menemui Rendra di Bandung.


tanpa sepengetahuan Rizal sang suami, karena ia pergi secara diam-diam.


Maya pergi, Dengan mengendarai mobilnya kali ini tanpa supir, karena untuk menghindari berbagai pertanyaan dari Rizal.


"Mas?" ucapnya kembali menyapa Rendra, yang kala itu baru saja sampai di Restaurant miliknya.


Mendengar namanya dipanggil, Rendra menoleh dengan perasaan jengah.


Ia berdecak, tak habis pikir dengan sikap Maya sekarang ini.


Dia masih sama egoisnya seperti dulu, selalu mengambil keputusan sepihak, dan semaunya sendiri, Batin Rendra.


"Mas, aku mau ngomong."


"Saya sibuk nggak ada waktu, lagi pula harus berapa kali saya ingatkan kamu, bahwa diantara kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun, mengerti?"


"Bagi aku, diantara kita nggak akan ada kata selesai mas,"


"Terserah.. terserah kamu, percuma ngomong sama orang yang sakit seperti kamu, susah memahami." Kesal Rendra, dan meninggalkan Maya begitu saja.


.


.


Tak berhasil membujuk Rendra, kini ia memarkirkan mobilnya didepan kios tempat biasa Gilang berjualan, namun hampir satu jam ia menunggu, warung nasi tersebut tak kunjung buka.


Ia mencoba terus menghubungi Gilang berulang kali, namun tak ada jawaban dari sebrang sana, membuatnya kini kesal dan frustasi.


Dan akhirnya memilih mampir ke sebuah Cafe, untuk mengisi perutnya yang memang belum diisi sejak pagi.

__ADS_1


Saat ia menikmati makanannya yang hampir habis, ponselnya berbunyi, dan nama Gilang terpampang jelas dilayar ponselnya.


Gilang Calling...


Cepat-cepat ia meraih ponselnya, lalu menekan tanda hijau, lalu segera menempekannya di kuping miliknya.


"Hallo, Gilang dimana?" tanyanya to the point.


"Kayaknya kita lagi ditempat yang sama deh!" balas Gilang.


"Eh, emang Gilang lagi dimana?"


"Coba ibu nengok kesebelah kanan pojok,"


Maya pun segera mengikuti arahan dari Gilang, dan ketika menoleh ia pun tersenyum.


"Sini gabung!"


"Ok.!"


Dan setelah sambungan terputus, Gilangpun bergegas menghampirinya.


"Sama siapa disini?" ujar Maya bertanya terlebih dulu, ketika Gilang baru saja sampai dihadapannya.


"Tadi bareng mama, tapi tiba-tiba mama di telpon karyawannya, ada hal penting yang musti cepat diselesaikan katanya."


"Terus dia ninggalin kamu sendiri gitu aja?" ucap Maya, ada rasa tak rela dalam hatinya, ketika wanita yang kini dicintai mantan suaminya tersebut, meninggalkan Gilang sendirian.


"Nggak kok, tadi mama ngajak saya berkunjung kesana bu, tapi saya nya nggak mau,"


"Kenapa?" tanyanya penasaran.


"Lagi pengen santai aja disini."


"Mama Gilang baik nggak?" lanjut Maya ingin tahu.


"Biarpun dia bukan ibu kandung Gilang, tapi dia baik banget bu, orangnya ramah dan perhatian."


Maya terdiam, ia selalu merasa muak jika Rendra dan Gilang membahas hal manis tentang Mama Indri.


..


..



Ando..


Si Laki-laki tampan dengan sejuta pesona tersebut, sore ini mengajak sang istri untuk berjalan-jalan memasuki area pasar malam, untuk mengenang moment masa lalu, ketika mereka belum memiliki seorang bayi.


"Abang, nggak apa-apa Syahki di tinggal?" ucap Nada untuk yang kesekian kalinya, hingga kini keduanya sampai di area pasar malam, dan hendak turun dari motor.


"Nggak apa-apa sayang, kan ada bibi yang jagain, lagian kita kan cuma sebentar, nggak sampai nginep kok!" balas Ando sembari terkekeh, menenangkan hati sang istri agar tidak terlalu cemas memikirkan putranya.


Ando ingin istrinya mendapat sedikit hiburan diluar, karena semenjak ia melahirkan putra pertamanya, Nada tak pernah kemanapun, selain mengunjungi toko kuenya, dan itupun hanya sesekali.


Ando menggenggam tangan Nada, memasuki pasar malam yang sudah dipenuhi para pengunjung, terutama para pedagang yang sedang menjajakan dagangannya.


Ia menggenggam tangan Nada semakin erat, di tengah lalu lalang orang, yang mulai memenuhi area pasar tersebut, seakan takut hilang dan terlepas.


Lalu ia membawa Nada memasuki tenda yang bertuliskan Pecel Lele.


Saat sudah menduduki kursi kayu panjang Didalam tenda, Nada memutar bola mata memperhatikan sekitarnya.


Sedangkan Ando, terus bersenandung mengikuti lirik lagu berjudul, Eye of the tiger_Survivor.


Yang terdengar jelas dari arah wahana permainan.


"Bang?" bisiknya, pelan.


"Kenapa sayang."


"Kok dipasar malam ada pecel lele, nggak salah?" ucapnya, yang berhasil memancing gelak tawa Ando.


"Ya buktinya ini ada sayang, emangnya kenapa?"


"Ya aneh aja gitu bang!"


"Udah nggak aneh!" balasnya, dengan mata berbinar, melihat pesananya sudah tersaji di depan mata.


2 porsi pecel lele, yang digoreng kering, dengan dihiasi sambal serta lalapan dipinggirnya.


"Beuh, mantep!" ucapnya, dan bergegas mencuci tangan.


Lalu Ando menyodorkan satu porsi pecel lelenya kehadapan Nada.


"Makan pake tangan, lebih nikmat yang!" ujarnya, ketika melirik kearah Nada yang sedang mengambil sendok.


"Atau mau aku suapin?" Ando mengerlingkan mata.


Nada tidak menjawab, namun ia menurut, mengikuti saran Ando.


"Kita, berasa lagi pacaran nggak sih?" lanjut Ando sembari terkekeh.


"Apaan sih abang!" Nada masih menunjukan sipat malu-malunya, yang membuat Ando merasa gemas.


"Berhubung kita pacarannya udah halal, jadi nanti nyampe rumah di terusinnya dikamar ya yang." sambung Ando santai, dengan menaik turunkan sebelah alisnya.


"Abang ihs, apaan sih malu tahu bahas gituan!" balas Nada, dengan memasang wajah cemberut, menengok kiri dan kanan, khawatir ada orang yang mendengar, ucapan Absurd suaminya.


"Nggak ada yang denger sayang," ucap Ando seolah mengerti kecemasan yang dirasakan istrinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2