Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Semua Demi Kamu


__ADS_3

"A-apa?"


"Lo bercanda An?" tangisnya kian pecah..


"Gue serius Sa, lo sendiri tahukan? kalau gue nggak pernah main-main sama ucapan gue!"


Terpaksa, Ando harus membongkar rahasia yang selama ini, ia jaga rapat-rapat dari sahabatnya.


"G-gue nggak percaya An, lo pasti bohong kan, lo bohong kan An sama gue?" teriak Marissa histeris, sembari menjambak rambutnya frustasi.


"Terserah kalau lo nggak percaya, yang jelas itu kenyataannya."


"Jadi, gue mohon banget sama elo, tolong berhenti ganggu gue, gue udah punya kehidupan baru sekarang, gue udah jadi suami orang Sa, bahkan sebentar lagi gue bakalan jadi ayah, buat anak gue!"


Terang Ando, dan berlalu pergi, meninggalkan marissa yang membeku ditempatnya.


"A-apa?" gumamnya, dengan tubuh bergetar, lalu menghela nafas dalam, akibat sesak yang tiba-tiba menyumbat dadanya.


Tubuhnya lemas tak berdaya, mungkin saja jika ia tidak bersandar didinding dekat jendela kaca, tubuhnya sudah ambruk karena saking lemasnya.


Kini perasaannya terasa diselimuti awan hitam, Gelap, dan tak tentu arah.


"Sakit An," ucapnya dengan suara lirih, sembari memukuli dadanya yang semakin terasa sesak.


..


Sedangkan Ando, setelah menemui Marissa, ia bergegas kembali kekamar depan, tempat dimana istrinya sedang beristirahat.


Ia membuka pintu perlahan, dilihatnya Nada sedang tertidur dengan damainya, lalu ia berjalan menghampirinya dan duduk disisi ranjang.


Ia mengulurkan tangannya, mengelus pelan pipi lembut nan putih milik Nada, menggunakan ibu jarinya.


Nada yang merasa terusik, akhirnya membuka mata, dan mengerjap beberapa kali.


"Kenapa?" ucapnya, masih setengah ngantuk bercampur pusing.


"Maaf ya, kamu jadi kebangun kek gini yang," seru Ando, lalu membantu Nada untuk bersandar pada kepala ranjang, dengan diganjal menggunakan 2 bantal, untuk memberi kenyamanan pada sang istri.


"Abang kenapa sih, mukanya kok beda gitu, abis ngapain sih?" ucapnya dengan kesadaran yang sudah kembali sepenuhnya.


Membuat Ando mengerjap gugup.


"T-tadi aku abis ketemu marisa yang!"


Ando memperhatikan raut wajah Nada yang tak menunjukan reaksi apapun.


"Aku ngobrol berdua."


"Sama dia!"


Ando kembali menatap wajah Nada, yang tampak tenang.


"Aku udah kasih tahu dia yang sebenarnya, kalau kita udah nikah, dan sebentar lagi bakalan punya baby."


"Terus?" seru Nada.


"Terus?" tanyanya balik, dengan kening berkerut, bingung.

__ADS_1


"Terus gimana kalau semua teman-teman abang jadi tahu, belum lagi guru abang disekolah, abang bisa di keluarin bang." Nada tiba-tiba terisak, wajah yang tadi terlihat cerah dan tenang, kini terlihat penuh raut kekhawatiran.


"Tenang sayang," Ando memeluk Nada, menenangkan.


"Aku yakin Marissa nggak akan setega itu sama aku.!" mengelus rambut hitam panjang milik Nada, yang masih berada didalam pelukannya.


"Gimana kalau-"


"Shhtttt... jangan khawatir sayang, kamu nggak perlu terlalu memikirkan hal ini, semua yang terjadi pasti akan ada konsekuensinya, dan aku sudah siap sayang,"


"Abang?"


"Ini adalah salah satu bukti betapa besar cinta aku ke kamu sayang, semuanya demi kamu."


Dengan air mata yang berderai, Nada kembali memeluk Ando erat, setelah tadi sempat terlepas.


"Maafin aku, seharusnya abang nggak perlu ngelakuin ini, sampai-sampai harus ngorbanin masa depan abang."


"Udah ya sayang, kita nggak perlu bahas ini lagi, sekarang sayang istirahat lagi, karena aku mau bantu teman-teman, nyari kayu bakar buat bikin api unggun entar malem."


"Nggak apa-apa kan, kalau aku tinggal sebentar?"


Nada mengangguk, "Iya nggak apa-apa, abang hati-hati ya!"


"Iya sayang, istirahat ya," mencium kening Nada, lalu bergegas keluar dari kamar.


...


"Jadi nggak Pan, katanya mau nyari kayu bakar." Seru Ando, menghampiri Pandu, yang sedang mengobrol santai dengan Ramon dan Beny, di teras Villa.


"Jadi lah, ayo sekarang aja, keburu sore!" seru Pandu beranjak dari duduknya, kemudian mengambil topi yang sudah ia siapkan sejak tadi.


"Gue suruh ngambil Gitar, dirumahnya cang Na'im, deket gang sebelum masuk area sini." balas Pandu, sembari memimpin langkahnya menuju kebun Jati dan Mahony, milik neneknya.


"Sebenernya, gue bisa aja sih nyuruh mang Sapri buat ngambilin kayunya, tapi kasian, kata bi Ijah bininya baru lahiran, elo semua nggak apa-apa kan, gue bawa-bawa ke kebun." seru Pandu merasa tak enak pada sahabatnya.


"Santai aja lagi Pan."


Akhirnya mereka mengambil masing-masing satu ikat kayu bakar yang sudah bertumpuk disana, karena setiap hari mang sapri selalu mengumpulkannya dipinggir kebun.


"Seger nggak sih, kalau seandainya di jakarta masih banyak pohon begini, bawaannya ademmm banget!" seloroh Ramon.


"Iya, adem banget Asli!" balas Beny.


Sedangkan Ando dan Pandu, sudah berjalan terlebih dulu menuju Villa.


"Eh, itu cewek yang katanya naksir sama si Ando bukan sih?" seru Ramon, yang hendak melangkahkan kakinya.


"Yang mana?" Beny celingukan mencari-cari cewek yang dimaksudkan Ramon.


"Noh!" tunjuknya


"Ngapain ya dia sendirian disana?"


"Elo nanya ke gue, terus gue nanya ke siapa? mana gue tahu lah dia lagi ngapain." balas Ramon jengah.


"Udah ah yuk balik, gatel nih badan gue di gigitin semut." lanjut Ramon, sembari menggaruk-garuk pahanya yang kemasukan semut.

__ADS_1


...


...


"Steff, elo lihat si Marissa nggak sih, gue udah cari dia kemana-mana nggak ada, tadi kan terakhir si Ando mau nyamperin dia." ujar Selli khawatir.


"Yaudah kita tanya si Ando aja yu?" ajak Steffy.


"Itu dia masalahnya, dirumah nggak ada siapa-siapa, cuman ada si Agil sama si Danang, yang baru pulang ngambil gitar."


"Lah terus tuh anak kemana coba?"


"Entahlah, coba kita kedepan aja, siapa tahu mereka udah pada pulang." seru Selli.


"Eh itu dia si Ando," berjalan menghampiri Ando yang sedang mencuci tangannya didepan teras.


"An, lo lihat Marissa nggak?"


"Tadi sih lihat, kan gue sempet ngobrol juga, tapi abis itu gue nggak tahu lagi, soalnya gue langsung berangkat ke kebun, nyari kayu bakar."


"Aduuh, terus Marissa dimana, bantuin gue nyari dia dong An, khawatir nih gue!"


"Dikamar nggak ada?"


"Ihs, udah gue cari ke semua sudut nggak ada." Steffy semakin cemas.


"Pada kenapa sih, mukanya tegang begitu?" seru Ramon, yang baru saja datang dengan Beny.


"Si Marissa hilang, lo berdua ada yang lihat nggak?" seru Ando menatap keduanya.


"Oh, jadi cewek itu Marissa namanya!" balas Ramon santai.


"Lo lihat dia?" Ando kembali bertanya.


Yang kemudian diangguki keduanya. "Lagi nongkrong tuh, diempang yang deket kebun tadi, tau nyari apaan, nyari ikan bersisik emas kali." jawab Ramon asal.


"Beneran?" ucap Steffy.


"Elaahh..beneranlah!"


"Yaudah, ayo Sell, kita samperin si Marissa!" menarik tangan Selli menuju empang yang dimaksud Ramon.


"Sa!" seru Steffy dan Selli bersamaan ketika sudah berada tepat dibelakang Marissa.


...


Jangan lupa like, komen, dan votenya sayang-sayangku๐Ÿ˜


Author lanjut nanti malam ya!๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š


.


.


Semoga selalu setia menunggu..


.

__ADS_1


.


__ADS_2