
"Bi, Nada dirumah?" tanya Ando, sembari meletakkan sepatu sekolahnya diatas Rak.
"Ada den, lagi istirahat dikamar, tadi abis bantuin bibi masak, katanya biar nanti bisa masakin den Ando kalau udah punya rumah sendiri." ucap bi Mimin seraya tersenyum.
"Oh gitu bi, yaudah saya keatas dulu bi."
"iya den!"
Ando bersiul riang sembari menaiki satu persatu Anak tangga, sesekali bibirnya melengkung membentuk senyuman.
Hal-hal kecil yang dilakukan Nada untuknya selalu membuatnya berbunga-bunga.
"Hai sayang," ucap Ando saat melihat istrinya sedang terbengong dengan kaki berselonjor diatas kasur.
"Eh, udah pulang?" Ucapnya, meraih tangan Ando lalu menciumnya.
"Kok bete gitu sih yang, mukanya?" mengusap pelan pipi Nada menggunakan punggung tangannya.
"Ganti baju dulu sana, terus makan!" Nada mendorong pelan tubuh Ando.
"Bentar lagi deh yang,"
"Ih sekarang,"
"Bentar lagi ya sayang," menggenggam tangan Nada menciumnya berulang kali.
"Ando, emmh aku mau tanya sesuatu boleh nggak?"
"Soal?" ucap Ando, dengan kening berkerut.
"Nggak jadi deh, Nanti kamunya marah lagi!" ucapnya sembari menatap lurus kedepan
"Nggak, mana mungkin aku bisa marah sama kamu yang!"
"Buktinya kemarin!" ucap Nada mendelik kearahnya. membuat Ando meringis sekaligus menyengir kuda.
"Janji deh, kali ini nggak akan marah!"
"Bener?"
"Iya, sayang!" Kembali menciumi tangannya tanpa henti.
__ADS_1
Nada terdiam menimbang-nimbang hal yang akan diucapkannya pada Ando.
"Mmmz..Dulu Mama sama papa suka berantem nggak.?" tanyanya ragu-ragu sembari menggigit bibir bawahnya.
Ando mengetuk-ngetuk dagunya seperti mengingat-ingat sesuatu.
"Pernah!"
"Kapan?"
"Kalau nggak salah sih, waktu aku umur 7 tahun, kenapa sih yang nanya-nanya begituan?"
"Emmz, itu aku pengen tahu aja, maksudnya aku pengen belajar menyikapi segala hal dalam berumah tangga!" jawabnya Asal. membuat Ando mengerutkan kening bingung.
Apa hubungannya?batin Ando, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ehmz, aku kangen sama mama Indri, boleh minta nomor handphone nya nggak?" ucap Nada berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku nggak punya!" ucapnya malas.
"Ish, kamu itu! masa nomor mama sendiri nggak punya." Nada memukul pelan lengan Ando.
"Nggak penting!" ucapnya, merebahkan kepalanya diatas paha Nada.
"Kamu nggak boleh gitu dong, bagaimanapun dia mama kamu, yang melahirkan kamu kedunia ini, jangan jadikan suatu masalah menutupi hati kamu."
Nada menghela nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan ucapannya.
"Aku tahu kamu sangat merindukan mama, tapi ego dan rasa kecewa kamu sudah melahirkan kebencian yang mendalam buat mama, please Ando aku mohon berhenti membenci mama, buka hati kamu, mulailah belajar melihat sisi lain dari diri mama."
"Aku yakin, kamu tidak tahu alasan yang sesungguhnya tentang kepergian mama,"
Ando mendongak, mendengar kata-kata terakhir yang diucapkan Nada.
"Alasan nya cuma satu, dia serakah dan selalu merasa kurang!" ucap Ando ketus, membahas tentang mamanya membuat moodnya berubah memburuk.
"Andooo!" ucap Nada setengah membentak, tidak suka dengan Anggapan buruk Ando terhadap mamanya.
Namun Ando terlihat acuh, dan tidak mau mendengar.
Nada memindahkan kepala Ando keatas bantal, lalu beringsut turun dari tempat tidur bergegas keluar kamar mencari bi Mimin.
__ADS_1
"Bi." panggilnya saat sudah menemukan Bi mimin.
"Eh si Non, kenapa Non?" tanyanya, dengan tangan yang sibuk mengaduk adonan Bakwan .
"Bibi punya nomor handphonenya mama Indri?"
"Oh nomor ibu, punya Non! Non Nada mau?"
"Iya bi mau, kalau bisa sekarang boleh?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Apa sih yang nggak boleh buat si Non cantik, sebentar bibi Ambil handphone bibi dulu ya!"
"Iya bi." ucapnya semangat.
Nada menggantikan mengaduk-aduk adonan bakwan, sembari menunggu bi Mimin kembali.
"Ini Non nomornya, bibi sebutin ya, 085712××××××."
"Makasih banyak ya bi." ucapnya sumringah. setelah mengetik dan menyimpan nomor tersebut.
"Iya Non sama-sama."
Nada membawa langkah kakinya menuju ruang tamu, lalu mencoba untuk menelpon mama Indri.
"Hallo!"
"Assalamu alaikum ma!"
"waalaikum salam, maaf ini dengan siapa ya?"
Nada terdiam menggigit bibir bawahnya, suara mama indri disebrang sana terdengar begitu rapuh bagi Nada, Atau memang perasaannya saja setelah mengetahui cerita tentang mertuanya tersebut di masa lalu.
"hallo, dengan siapa? tanya mama indri karena Nada tak kunjung merespon.
"Ini Nada istrinya Ando ma, mama apa kabar, kapan pulang,? Nada kangen ma!" ucapnya hampir menangis.
"Eh sicantik rupanya, mama juga kangen banget sama menantu cantik mama ini, mama akhir-akhir ini lagi sibuk sayang. tapi mama usahain Nanti mama pulang ya, kita ketemu.
"Iya ma, mama jaga kesehatan ya disana, Nada tunggu kepulangan mama."
"iya sayang, Nada juga jaga kesehatan baik-baik sama Ando disana ya!"
__ADS_1
"Iya ma."
"yaudah mama tutup dulu telpon nya ya nak, assalamualaikum."