Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Tidak cukup dengan kata maaf


__ADS_3

Sementara di rumah Utama. Bi mimin terlihat sangat panik melihat papa Jordy yang mematung dengan kedua lutut bertumpu diatas lantai, Dengan tatapan lurus kedepan. Serta darah segar yang mengalir dihadapannya.


"YaAllah bapakkkk..apa yang terjadi, kenapa banyak darah.?" teriaknya, sembari menghampiri papa Jordy yang masih diam mematung, seolah tidak terganggu oleh apapun disekitarnya.


Bi Mimin pun berlari tergopoh-gopoh menuruni anak tangga sambil berteriak memanggil-manggil mang Jajang dan mang Daman.


"Ujaaaannnng, Dammaaann!" Teriak bi mimin dengan wajah panik.


"Elaahhh ada apa sih bi, teriak-teriak segala." Ucap mang Jajang berlari kecil menghampiri bi Mimin.


"A-anu itu, bapak!"


"Husshhhh...Apa sih bi Mimin, anu bapak, anu bapak. Kalau ngomong yang jelas Napa?" Ucap mang jajang gemas.


"Ikut bibi deh jang, man!" Ucap bi Mimin sembari berlari terlebih dahulu. Membuat mang Jajang dan mang Daman saling pandang, lalu kemudian mengangkat bahu mengikuti langkah bi Mimin.


"Itu, itu!" Tunjuk Bi mimin pada mang Daman dan mang Jajang. Membuat keduanya melotot tak percaya.


"I-itu darah beneran, tapi darahnya siapa,?" Ujar mang Jajang.


Sementara mang Daman merinding ditempatnya.


"Ihh malah pada bengong," memukul bokong mang Daman dan mang Jajang bergantian.


"bantuin angkat si Bapak, dari tadi dia kaya gitu terus Bibi khawatir!"

__ADS_1


"Lah terus itu darahnya siapa?" Ujar mang Daman.


"Udah ah elu mah banyak tanya, Ayo angkat bapak dulu." Ucap mang Jajang menghampiri papa Jordy.


Setelah keduanya susah payah mengangkat tubuh papa jordy dan membaringkannya diatas tempat tidur, lalu ketiganya sama-sama membersihkan darah yang berceceran di Atas lantai.


............


"Ando, saya perhatikan dari tadi kamu sama sekali tidak fokus dengan pelajaran saya, apa kamu sedang sakit, saya lihat muka kamu juga pucat begitu?" ujar Bu lisa guru mata pelajaran matematika.


Ando menunduk, "Maaf bu saya hanya kurang tidur." Ucapnya lemas.


"Baiklah kali ini saya maafkan, tapi tidak untuk lain kali, dan saya ingatkan, kamu harus mengatur pola istirahat dengan benar, supaya saat mengikuti jam pelajaran saya bisa fokus, dan juga berlaku buat semuanya, mengerti!"


"Mengerti bu." Ucapnya serempak.


Hari ini memang Ando tidak berniat untuk masuk sekolah, tapi Mama Sarah dan papa Abidzar terus memaksanya untuk tetap masuk sekolah, mereka tidak mau Ando mendapat masalah dari pihak sekolah karena keseringan bolos, dan dengan berat hati Andopun mengikuti saran dari kedua mertuanya.


"Eh woyyy Ndo tunggu woyyy..!" Ucap pandu menghampirinya dengan Nafas tersengal-sengal setelah berlari mengejar langkah lebarnya.


"Eh busyet Ndo, buru-buru Amat sih lo, mau kemana?" Danang ikut menimpali.


"Sorry bro, lagi buru-buru nih gue, gue cabut dulu ya!" Ucap Ando sembari menaiki motornya lalu memakai helem.


"Kenapa sih lo, so sibuk banget!" Pandu kembali berucap.

__ADS_1


"Tar kapan-kapan gue ceritain, sekarang gue pergi dulu ya!" Ucapnya sembari melajukan motornya.


Saat sampai rumah sakit, ia segera memarkirkan motornya. Ia bahkan tidak sempat pulang dan mengganti seragam sekolahnya.


"Assalamu Alaikum?" uvapnya saat bertemu kedua orang tua Nada dan menyalaminya satu persatu.


"Gimana ma, pa keadaan Nada udah sadar belum?" Tanyanya dengan raut cemas.


Mama menggelengkan kepala, Namun masih memperlihatkan senyum di bibirnya, ia tidak mau jika Ando khawatir berlebihan terhadap putrinya.


"Makan dulu, dari semalem kamu belum makan, dan itu tangan kamu juga harus segera di ganti pake perban yang baru, takut Infeksi Ando, ayo mama temani kedalam."


"Ando belum lapar ma, Nanti aja ya kalau Nada udah sadar, soal tangan Ando ini bukan masalah besar, dibandingkan dengan Nada." Ucapnya sendu.


"Nggak, nggak bisa begitu, kamu harus makan dan ganti perban ditangan kamu, Ando kamu harus inget, kalau kamu sakit lalu bagaimana dengan Nada, kamu nggak bisa lagi jagain dia kan jadinya, Ayo sekarang kamu ikut mama."


Menarik paksa tangan Ando menuju kantin rumah sakit.


Setelah memesan menu makanan, kini mama Sarah dan Ando makan bersama, meski Ando terlihat malas saat menyentuh nasinya.


"Papa kamu gimana keadaannya?" tanya mama Sarah tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka.


"Mama nggak usah bahas dia mah, dia udah bikin Nada celaka," ucap Ando dengan nada


sebal.

__ADS_1


Bahkan saat tadi pagi pulang mengambil seragam sekolahnya pun ia berdoa agar tidak dipertemukan dengan papa nya.


karena kata Maaf aja nggak cukup.


__ADS_2