
Beberapa hari setelah kelahiran baby Syahki telah Ando lewati dengan sangat bahagia, meski setiap malam ia harus terjaga, karena sang bayi selalu mengajaknya untuk begadang.
Ia tidak mau terlalu membebankan Nada untuk mengasuhnya, kecuali jika bayinya haus ingin meminum ASI, karena menurut Ando, disiang hari kala ia meninggalkannya untuk kuliah, serta membantu pekerjaan di Cafe dan bengkel, Nada sudah kelelahan mengurusnya sendiri.
Jadi ia memutuskan untuk membagi waktu mengasuh sang buah hati, walau kadang Nada tidak setuju, dia tetap bersikukuh.
Meski belakangan ini Ando disibukan dengan kegiatan barunya, yaitu mengurus segala sesuatu untuk acara aqiqah baby Syahki.
Walaupun Berulang kali papa Abidzar dan mama Indri melarangnya, dan memberi tahu bahwa mereka yang akan bertanggung jawab penuh mengenai acara tersebut.
Namun Ando bersikukuh, karena ia ingin benar-benar menjadi sosok ayah seutuhnya bagi baby Syahki.
Ia merasa dirinya sudah mampu membuat acara sendiri, dan tentunya dengan uang sendiri juga.
Karena sejak SMP pun ia sudah bisa mandiri dalam segala hal.
....
Jelang pagi, barisan kursi yang disediakan khusus dihalaman rumahnya sudah hampir terisi penuh, karena acaranya dimulai pukul 8 pagi, dan kebanyakan tamunya adalah teman-temannya sendiri, termasuk karyawannya yang biasa disapa trio ubur-ubur.
Mereka merasa sangat rugi, jika satu acara yang diperankan Ando didalamnya, tidak bisa mereka hadiri.
Sedangkan Danang sendiri, yang beberapa waktu lalu sudah datang menjenguk baby Syahki dan memberi kado untuknya, kali ini pun tetap tidak mau ketinggalan, apapun yang terjadi, dalam hatinya bertekad, harus tetap hadir disana.
"Ah, sumpah ya gue kangen banget masa-masa begini, bisa bareng-bareng lagi kaya dulu."
"Berasa reunian nggak sih?" seru Danang, ketika mereka telah berkumpul diacara aqiqah baby Syahki.
"Yo'i bro, lo bener banget, asli gue kangen banget masa-masa begini." Timpal Pandu, dengan pikiran yang sudah menerawang jauh, mengingat saat-saat ketika mereka masih bersama.
"Andai bisa kaya dulu lagi ya, kumpul bareng, nyanyi bareng, galau bareng seru kali ya?" lanjut Pandu.
yang di iyakan oleh Danang.
"Lo sih pake acara kuliah di Jogja segala, kagak asyik lo!" sambung Pandu dengan gaya kesal yang dibuat-buat.
"Elaahhh, lo kaya kagak tahu aja hidup gue kek gimana, gue tuh bukan orang berada kaya lo pada, sedari gue kecil bokap aja gue kagak punya."
"Kalau gue kagak nurut sama mbah gue, gimana gue bisa lanjut kuliah, gue kasian sama ema gue, dia pengen banget lihat gue lulus kuliah, terus jadi sarjana."
"Intinya, gue pengen lihat ema gue bahagia, dengan cara buat dia bangga sama gue." lanjut Danang dengan tatapan yang berubah sendu.
Pandu pun ikut terdiam, merasa tidak enak hati atas ucapannya tadi.
"Sorry deh Nang, sumpah! gue kagak bermaksud bikin lo sedih asli, lo lupain aja ucapan gue yang tadi, anggap aja gue kagak ngomong apa-apa, sekali lagi sorry ya!" Pandu menepuk pelan pundak Danang.
"It's ok, kagak apa-apa."
"Gini aja deh, dari pada lo berdua galau, mendingan ngemil tuh, cemilannya banyak, gue jamin enak dah!" Ando menengahi pembicaraan kedua sahabatnya.
"Dari tadi kek lo nawarinnya, jadi gue kagak usah galau dulu kan."
"Elaaahhh, lebay lo! biasanya juga nyerobot sendiri tanpa di suruh." cibir Pandu, sedangkan Danang hanya menyengir kuda.
Kini Danang dan Pandu, berjalan kearah berbagai menu makanan yang sengaja dihidangkan di atas meja panjang, yang bersebelahan disamping kursi-kursi tamu, sedangkan Ando hanya mengekor dibelakang kedua sahabatnya.
"Eh Ndo, gue lupa nih dari kemarin mau ngomong ke elo," ucap Pandu dengan mulut penuh, mengunyah kue lapis yang baru saja diambilnya, dan dimasukan kedalam mulutnya, dalam satu suapan.
"Apaan?" tanyanya, dengan kening berkerut.
"Kemarin, pas elo kagak masuk kuliah, didepan kampus ada cewek nyariin elo."
"Siapa?" Ando, semakin mengerutkan keningnya.
"Cewek cakep, rambutnya pirang, terus warna kulitnya kebule-bulean gitu, kalau nggak salah namanya J-ju..ju-"
"Juwita." potong Ando yang terdengar sangat malas ketika menyebutkan nama tersebut.
"Oh iya bener banget, Juwita namanya, lo kenal dia, ada hubungan apa lo sama dia?" Pandu menatapnya curiga.
"Jangan berpikir macem-macem, dia cuma temen gue dimasa lalu,"
"Tapi keknya dia suka deh sama elo, beda aja gitu menurut gue!"
"Udahlah, kagak usah bahas begituan, kalau bini gue denger entar bisa salah paham terus,"
"Tapi lo yakin, sebelum lo ketemu Nada, kagak punya hubungan spesial sama tuh cewek?"
"Elaahh, lo kagak percaya sama gue?"
__ADS_1
"Kok gue kagak tahu ya, kalau selama ini lo punya temen cewek, karena yang gue tahu, selama ini lo sama sekali kagak mau tersentuh dengan makhluk yang namanya cewek, iya kan?"
"Makanya, begitu gue tahu lo punya cewek, gue sama sekali kagak percaya." sambung Pandu.
"Dan sekarang lo percaya?"
"Iyalah, udah ada buktinya, baby Syahki." balasnya cengengesan.
"Gue temenan sama dia, waktu masih kecil, terus disaat gue mau masuk SMP, dia pindah ke Surabaya,
karena nyokapnya married lagi sama orang sana."
"Habis itu, gue sama dia los kontek, kagak pernah ketemu lagi."
"Dan ketika dia balik lagi kesini, keadaannya udah berbeda, gue udah married, dan gue juga udah nggak berminat punya temen cewek." lanjut Ando.
"Kasian ya tuh cewek!"
"Gue sih kagak."
"Elo emang sadis banget ya sama perasaan cewek lain."
"Yang penting hubungan gue sama bini gue selalu terlindungi dan baik-baik aja, karena lo harus tahu, ketenangan hati istri itu yang utama."
"Lagian mereka sendiri juga sih, yang bikin gue jadi kasar sama mereka, kagak bisa di sabarin, selalu maksain apa maunya."
"Jadi, intinya kalau gue bersikap kasar, itu bukan salah gue sepenuhnya, karena gue cuma ngelindungin keluarga kecil gue dari hal-hal yang berakibat buruk buat hubungan gue dan bini gue kedepannya!"
"Ok bro, gue ngerti, mungkin kalau gue diposisi lo juga, gue bakal ngelakuin hal yang sama."
Ando mengangguk, dengan mata lurus kedepan, memperhatikan seseorang yang familiar diingatannya, sedang berjalan menuju kearahnya.
"Gue perhatiin lo dari tadi makan mulu Nang, itu doyan apa laper lo! udah berapa hari lo kagak makan?" seru Pandu, yang memperhatikan 2 piring kosong yang tadinya terisi penuh dengan kue lapis dan bolu susu.
"Laper gue, lo tahu kan perjalan Jogja Jakarta tuh lumayan jauh, terus gue kagak sempet makan dijalan."
"Terus kagak sempet mandi juga kan lo!" tuduh Pandu.
Sedangkan Danang hanya cengengesan, sembari menempelkan telunjuk dibibirnya, mengisyaratkan Pandu, agar diam dan berhenti berbicara.
.
"Selamat ya?" Devan mengulurkan tangannya, ketika Ando masih asik mengobrol dengan kedua sahabatnya di kursi tamu.
"Gue kesini, pengen lihat ponakan gue, sekaligus mau ngucapin terimakasih banyak, karena elo udah berbaik hati mau bebasin gue dari jeruji besi." ujarnya.
"Gue mau bebasin elo, karena emang elo nggak sepenuhnya salah, terus karena gue kasian aja sama nyokap lo yang hidup sendiri, tanpa seorangpun anggota keluarga yang mendampinginya."
"Gue kagak mau, hal yang dialamin nyokap gue dulu, terulang kembali, cukup nyokap gue aja yang menderita selama ini."
Dan ucapan Ando barusan, sontak membuat hati Devan merasa terenyuh.
Seharusnya Ando senang, dan membiarkan ia dan mamanya menderita, bukan malah membantunya, batin Devan.
"Bro, gue tinggal kedalam dulu ya!" pamitnya pada kedua sahabatnya, yang sejak tadi saling pandang, mendengar obrolan Ando dan Devan.
"Ayo ikut gue!"
Ando berjalan terlebih dulu, yang diikuti Devan dibelakangnya.
Sesampainya didepan kamar, Ando mengetuk pintu, lalu membukanya.
"Ayo masuk!" ucapnya datar, namun Devan tetap nurut, dan mengikuti langkah Ando.
"Ini bini gue, dan ini anak gue!"
Devan terdiam sesaat, mengingat-ingat kembali, kapan pernah bertemu dengan wanita cantik dihadapannya, yang kini sedang menggunakan gamis dan hijab berwarna putih, sembari menggendong anaknya, yang memakai baju warna yang senada.
"Denada Sena Gantari namanya." lanjut Ando, yang sedikit kesal, karena Devan terus memandang lekat wajah sang istri.
"I-iya, kenalin saya Devan!" Devan hendak mengulurkan tangannya.
"Apa sebelumnya kita pernah ketemu?" tanyanya, karena sudah tak tahan diliputi perasaan penasaran yang sangat tinggi.
"Iya kita pernah ketemu kok, dirumah almarhum papa Jordy di Bandung."
"Saya yang waktu itu mengaku sebagai keponakan papa!" lanjut Nada, yang seketika membuat Devan membelalakan matanya.
"O-oh jadi kamu istrinya Ando?"
__ADS_1
"Iya."
Setelah sedikit mengobrol dengan penuh kecanggungan, akhirnya Devan pamit pulang terlebih dulu, padahal acara baru akan dimulai setengah jam lagi, dengan alasan ia mau membantu mamanya berjualan.
Namun sebelum pergi, ia sempat memberikan bingkisan untuk baby Syahki.
"Abang ngerasa nggak sih, kalau bang Devan sekarang, terlihat lebih kalem, nggak seketus dulu gitu bang!" ucap Nada, sembari mengelus rambut baby Syahki yang sedang meminum ASI.
"Apa tadi, abang siapa?"
"Bang Devan kan?"
"Aku nggak suka lho yang, panggilan kamu ke aku disamain sama orang lain." Ando mendengus sebal.
"Iya deh kak Devan aja, kalau abang, cuma bua bang Ando seorang,"
"Yang cemburuan, dan suka ngambekan!" lanjutnya.
"Cemburu tanda cinta sayang!"
"Iya bang iya." Nada membalas dengan memberikan senyum terbaiknya.
"Inget, senyum kamu juga cuma buat aku doang yang, sama orang lain nggak boleh senyum-senyum."
"Iya bang, kalau buat orang lain, aku mau ketus dan cemberut." ucapnya, sembari beranjak meninggalkan kamar.
Sedangkan Ando, terkekeh gemas, dengan kelakuan istri tercintanya.
....
....
"Hallo ganteng, sama om yu?" Raffa menguyel-uyel gemas pipi baby Syahki, yang kemudian mendapat cubitan keras dipinggangnya.
"Anjirrr, sakit banget woyyy, aduduuu pinggang gue!" Raffa mengusap-usap pinggangnya yang terasa perih.
"Udah jadi ibu lo tambah ganas ya Nad, gila lo!" seru Raffa tak terima.
"Salah lo, anak gue di uyel-uyel, lo nggak lihat apa, ini bayi masih merah?" kesal Nada.
"Elaahhh, gue kan gemas, lagian nih ya hitung-hitung buat ganti rugi, karena dulu udah ngerjain gue makan-makanan yang aneh, sampe gue muntah-muntah lemas nggak berdaya, lo inget kan waktu ngidam dulu?"
"Elo perhitungan banget sih Raff jadi orang!"
"Karena didunia ini kagak ada yang geratis, cantik!"
Raffa mengedipkan sebelah matanya, sedangkan Nada mendengus kesal kearahnya.
...
...
"Ketemu lagi kita, ganteng?" seru Bianca antusias, mengambil alih baby Syahki dari pangkuan Nada.
"Eh Bi, hati-hati lo, takut gue!" ucap Chaca khawatir ketika melihat Bianca menggendong baby Syahki dengan santainya.
"Dih apaan sih lo, udah biasa kali gue mah gendong bayi kecil begini, gue juga kan udah punya ponakan." balas Bianca.
"Gue mau dong Nad, nyobain gendong, kali aja nular punya baby gitu!"
"Baby apaan lo, pacar kagak ada, laki apa lagi, terus elo mau bunting sama siapa, genderewo?" seloroh Bianca.
"Ih amit-amit, omongan lo serem banget tahu nggak?"
"Lagian."
.
.
Hallo apakabar Readers tercinta🤗
semoga selalu dalam keadaan sehat semua ya😊
mohon maaf Author baru sempet Up lagi, karena beberapa hari kemarin Author sedang sibuk mempersiapkan mudik😊
terimakasih yang masih selalu setia menunggu😘😘
Big Hug,😘😘😘
__ADS_1
.
.