Suamiku Anak SMA

Suamiku Anak SMA
Beautiful In White


__ADS_3

Marissa...


.


.


Setelah puas menangis akibat dari kejujuran Ando, Marissa memilih untuk keluar dari Villa, tanpa sepengetahuan teman-temannya.


Tidak ada yang istimewa, disekitar Villa tersebut, hanya ada kebun Mahony dan pohon jati, tidak ada pilihan lain lagi baginya untuk menenangkan diri selain empang yang terletak disamping kebun.


Ia berjalan dengan lemas menuju empang, lalu mendudukan diri dengan beralaskan sendal jepit yang dipakainya.


Hembusan angin menerpa wajahnya, membuat ia merasa lebih tenang dan memejamkan matanya berulang kali, menikmati semilir angin sore yang terasa menyejukan.


Menghirup udara sebanyak-banyaknya, mencoba melupakan perasaan sesak, yang baru saja dialaminya.


Ando, oh Ando, pergilah dari hati gue jika gue nggak bisa milikin elo, sungguh cinta ini terlalu menyiksa buat gue. batin Marissa.


Ia menengadahkan wajahnya memandang langit, tak terasa sinar mentari yang semula terik, perlahan meredup seiring dengan berjalannya waktu yang mulai semakin sore.


Gue sama Nada udah nikah.


Dan sebentar lagi gue jadi Ayah.


Perkataan Ando tadi, benar-benar meruntuhkan segala impiannya selama ini, apalah artinya jika ia terus mempertahankan perasaan pada seseorang yang bahkan tak pernah peduli sedikitpun, dengan perasaannya.


Meski sebelumnya ia masih memiliki tekad yang kuat untuk merebutnya dari Nada, namun, kini misinya ia urungkan.


Ia bukan mengalah pada Nada, bukan juga peduli padanya, tapi ia memikirkan janin yang berada didalam kandungan Nada, bagaimana mungkin ia tega memisahkan kedua orang tuanya, demi memenuhi egonya.


Ia tahu betul rasanya, sakitnya, hidup tanpa seorang ayah selama ini, karena Ayah berselingkuh dan menikahi wanita lain, hingga memutuskan untuk meninggalkan ia dan sang mama.


Hingga suara seseorang yang terdengar Familiar, memanggil namanya.


"Sa, lo ngapain duduk sendirian disini, lo nggak lagi mancing kan?" Seru Selli, sembari celingukan mencari-cari benda yang dimaksudnya.


"Ihs, paan sih lho, nggak lucu tahu nggak sih, elo nggak lihat apa, muka si Marissa merah gitu, abis nangis kayanya dia." bisik Steffy, di kuping Selli.


"Ya kali aja kan." Selli balas berbisik.


"Udah ah, kita coba hibur Marissa, kasian."


"Sa, lo kenapa lagi sih, cerita sama gue, elo nggak di apa-apain kan sama si Ando tadi, ngomong apa aja dia ke elo Sa,?" Selli menyentuh bahunya.


"Bantu gue, gimana caranya biar bisa move on dari si Ando, karena perasaan ini terlalu menyiksa buat gue." Balas Marissa menundukan wajahnya, sembari menatap kedua kakinya yang berselonjor dipinggir empang.


"Ok, kita berdua akan bantu lo, sebisa mungkin."


"Tapi apa lo udah yakin 100% dengan keputusan elo yang sekarang, karena kalau mengingat yang udah-udah, lo itu ngeyel Sa, bilangnya mau move on, nggak mau ganggu Ando lagi, nyatanya elo masih berharap banyak kan sama dia, lo deketin dia lagi, yang pada akhirnya memancing amarah dalam diri si Ando." lanjut Steffy, dengan suara penuh penekanan.


"Iya Sa, yang di bilang Steffy itu bener, apa elo udah yakin, karena emang selama ini kenyataannya selalu begitu, elo selalu mengulang kesalahan yang sama, iya kan?" sambung Selli, ikut membenarkan perkataan Steffy.


"Gue yakin, sangat yakin, tolong lo berdua bantu gue ya!" ucapnya dengan tatapan sendu.


Steffy dan Selli memandangnya lama, ada rasa kasihan dalam diri mereka, melihat keadaan sahabatnya yang terlihat sangat terluka.


Cinta memang tidak salah, karena kita tidak tahu, kapan, dan untuk siapa hati kita berlabuh.


Namun, mencintai kekasih seseorang dan berniat ingin merebutnya, jelas itu sesuatu yang sangat fatal.


dan..


Susah dimaafkan.

__ADS_1


Meski Marissa, tidak menceritakan apa yang dialaminya, namun mereka bisa melihat dengan jelas raut wajahnya yang terlihat terluka dan putus asa.


Akhirnya keduanya memeluk Marissa bersama-sama berharap bisa sedikit menyalurkan kekuatan serta kehangatan, dari kehampaannya.


..


..


"Kok udah balik sih neng, udah ketemu emang sama duyung bersisik emasnya?" seloroh Danang, ketika Marissa dan kedua sahabatnya memasuki Villa.


yang mendapat cubitan keras diperutnya oleh Pandu.


"Elo, kalau mau bercanda lihat-lihat dulu mukanya kenapa sih? dia itu keknya lagi sedih banget deh." bisik Pandu.


Sementara Marissa nampak acuh, lebih memilih untuk terus berjalan memasuki Villa, yang diikuti kedua sahabatnya.


Ia sempat tertegun, kala berpapasan dengan Ando, yang sedang membawa segelas susu ditangannya.


Ia sudah bisa menebak, pasti untuk Nada dan calon bayinya. batin Marissa.


Steffy dan selli, saling berpandangan, ketika melihat reaksi Marissa yang hanya diam ketika berpapasan dengan Ando, yang tidak seperti biasanya.


Karena yang mereka tahu, selama ini Marissa, bisa dikatakan sangat tergila-gila pada Ando, yang dengan tidak tahu malunya menembak Ando, didepan seluruh anak-anak disekolah, hingga berulang kali, meski sebelumnya selalu mendapat penolakan.


Dan dimanapun ia berpapasan dengan Ando, langsung antusias untuk menyapa, bahkan langsung menggamit dan bergelayut manja ditangannya.


Tapi tidak untuk sekarang!


Mungkin Marissa benar-benar ingin move on, batinnya.


"Lo rajin minum susu ternyata ya An, pantesan cakep!" seloroh Selli.


"Buat Nada." balasnya datar.


"Gila ya si Ando, kalau ngomong sama kita jutek banget, parah!" Selli, menghentak-hentakan kakinya dengan bibir mengerucut sebal.


"Iya sih, yang elo bilang emang bener, tapi lho lihat nggak sih, kalau dia lagi bareng ceweknya, suaranya mendadak lembut, apalagi tatapannya beuuuhhh, bikin klepek-klepek." balas Steffy.


"Ada ya model cowok kek si Ando, yang punya


kepribadian ganda kek gitu," seru Selli, gemas.


"Ya buktinya itu ada."


"Udah ah, jangan ngomongin si Ando mulu, lo nggak kasian sama Marissa yang lagi berjuang keras, buat move on!" lanjut Steffy.


"Iya, iya."


*********


.


"Nyanyi dong An, biar suasananya tambah anget!" seru Pandu sembari menyodorkan Gitar yang dipegangnya kearah Ando.


Tempat yang terasa begitu dingin ketika dimalam hari, kini terasa hangat ketika berkumpul, duduk melingkar dengan api unggun yang menyala terang ditengah-tengah mereka.


"Iya bener tuh, biar suasananya tambah asyek." timpal Ramon, yang terlihat paling semangat diantara yang lainnya.


Ando tidak mengangguk atau mengiyakan, tapi iya meraih Gitar tersebut, memposisikan ditubuhnya, lalu memetiknya dan mulai bernyanyi.


.


.

__ADS_1


Not sure if you know this


But when we first met


I got so nervous


I couldn't speak


In that very moment I found the one and


My life had found its missing piece


So as long as I live I'll love you


Will have and hold you


You look so beautiful in white


And from now to my very last breath


This day I'll cherish


You look so beautiful in white


Tonight.


Beautiful In White-Shane Filan.


.


Dan seluruhnya ikut bernyanyi, dan bertepuk tangan, kecuali Marissa. yang sejak tadi hanya Fokus memperhatikan Ando, yang selalu tersenyum kearah Nada, ketika ia menyanyikan per bait lagu tersebut.


"Seru kali ya, kalau kita sering-sering main api unggun begini,"


"Berasa lagi berkemah." seru Agil sembari terkekeh.


"Gantian, minggu depan kita main ke Villa kakek si Ando." seru Pandu.


"Ok ok aja, tapi kalau minggu depan kek nya belom bisa, masih proses Renovasi soalnya." balas Ando.


"Ok nggak masalah, kita tunggu sampe selesai, iya nggak bro!"


"Yo'i" balas mereka serempak.


"Dingin yang?" seru Ando, ketika melihat Nada yang terlihat sedikit menggigil meski menggunakan piyama serba panjang.


"Iya, disini lumayan dingin ya bang?"


Ando tersenyum, sembari membuka jaket jeansnya, lalu di pakaikannya ditubuh Nada, kemudian menggenggam tangannya.


"Udah nggak dingin kan?"


Nada mengangguk, "Terus abang sekarang yang kedinginan kan?" seru Nada, yang merasa tak enak, karena Ando telah melepas jaketnya, untuk dipakaikan padanya.


"Nggak kok sayang, lihat mata kamu yang bersinar aja udah buat aku merasa terpancar oleh kehangatan."


"Apalagi ngegenggam tangan kamu kaya gini."


"Lagian aku kan masih pake kemeja sayang, nggak usah khawatir ya." menunjuk kemeja kotak-kotak putih dengan garis hitam yang sedang dikenakannya.


Dan gerak-gerik keduanya, tidak pernah luput dari pandangan Marissa.


.

__ADS_1


.


__ADS_2