
"Anjirr, mendadak hareudang gue!" seloroh Agil, mengibas-ngibaskan tangan didepan dada, membuat yang lain menatap heran kearahnya.
"Dingin gini dibilang hareudang, Aneh lo!" Ramon menatapnya dengan kening berkerut.
"Lo terlalu fokus sih, sampai-sampai nggak lihat kalau barusan tuh ada drama romantis, beuhhh bikin gue ngiri aja sih."
"Apaan sih nggak jelas banget." timpal Beny, yang sama tidak tahunya dengan Ramon.
Begitupun dengan Danang, Pandu, Selli dan juga Steffy, mereka hanya saling pandang, bertanya dengan isyarat mata, tidak mengerti dengan ucapan Agil, Kecuali Marissa ia jelas sangat mengerti, karena diam-diam ia terus memperhatikan gerak-gerik Ando dan juga Nada, sesuatu hal yang dimaksudkan Agil.
Usai mengikuti acara api unggun yang di adakan di samping Villa, semuanya memilih untuk masuk karena jam sudah menunjukan pukul 21:00 malam.
Kecuali Marissa.
Ia duduk di teras, dengan tatapan kosong, sesekali menengadahkan wajahnya menatap kelap-kelip bintang dilangit yang terlihat bercahaya, mengisi gelapnya malam.
Hingga ada seseorang yang duduk disampingnya, membuat lamunannya buyar seketika.
"Indah ya!" ucapnya, dengan wajah yang mendongak menatap bintang.
Marissa bergeming, bukannya menjawab, ia malah memperhatikan wajah laki-laki disampingnya, Laki-laki yang paling heboh diantara yang lainnya, menurut marissa, ketika diacara api unggun tadi.
"Lo ngapain sih malem-malem duduk sendirian diluar kek gini, udaranya dingin, entar lo masuk angin." Seru Agil sembari melirik kearahnya.
Bolehkah kali ini ia merasa tersanjung, karena untuk pertama kalinya ada seorang laki-laki perhatian padanya. batin Marissa.
Marissa memang memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang tinggi, namun disekolah tidak ada yang mau mendekatinya.
Entah karena ia terlalu bar-bar, entah karena ia selalu menilai fisik laki-laki, atau karena mereka merasa minder karena selama ini mereka beranggapan bahwa marissa pacaran dengan Ando, laki-laki paling tampan di sekolah.
Sehingga tidak ada yang berani mendekatinya.
"Lo pasti lagi patah hati ya?"
"Bener kan tebakan gue." lanjutnya.
"Sok tahu banget sih lo!"
"Nggak usah bohong lah, semua orang juga tahu kali, kalau wajah lo itu sangat jelas memperlihatkan kalau elo itu lagi-"
"Stop...berhenti gue bilang, gue lagi males bahas ini." potong Marissa cepat, membuat Agil terkekeh.
"Gue tahu lo naksir berat kan sama si Ando, gue perhatiin elo ngelihatin dia sama ceweknya mulu kan tadi, bahkan gue lihat lo hampir nangis."
Marissa menatapnya kaget.
"Nggak usah masang muka kaget gitu juga kali." Agil kembali terkekeh.
"Gue tahu banget si Ando itu kaya apa, gue udah kenal dia lama banget, hampir 4 tahun lah kira-kira, saat gue diangkat jadi karyawannya di Arsenio Cafe."
Marissa menoleh dengan kening berkerut "Karyawan Cafe lo bilang, maksudnya?" ucapnya kemudian.
"Iya, karyawan Cafe milik si Ando!"
"A-ando punya Cafe?"
__ADS_1
Agil mengangguk, "Iya, emang lo nggak tahu?"
Marissa menggeleng.
"Berarti lo belum sepenuhnya kenal dia, dia itu calon pengusaha muda, dia juga punya satu bengkel gede banget, karyawannya juga semakin bertambah setiap bulannya."
Marissa terpaku menatapnya, menunggu cerita Agil tentang Ando selanjutnya.
"Dan bulan lalu si Ando, ngeresmiin Cafe keduanya, yang lebih gede dari Cafe sebelumnya, dan lo tahu Cafe yang baru itu dinamain apa?"
"Denada Cafe."
Deg!
"Di ambil dari nama ceweknya." lanjut Agil.
"Dari hal inipun harusnya udah jadi bukti nyata bukan, kalau perasaan si Ando ke ceweknya nggak main-main, gue yakin si Ando serius banget, makanya sampai segitunya."
Marissa terdiam, ucapan Ando tadi sore kembali terngiang di telinganya.
Gue sama Nada udah nikah
Tapi kenapa ucapan Agil, seolah hanya tahu kalau hubungan mereka hanya berstatus pacaran.
Apa memang semua ini dirahasiakan, dan hanya dirinya yang tahu. batin Marissa.
Ia ingin bertanya namun enggan, ia takut jika hal ini memang masih menjadi rahasia Ando.
Ia bisa saja menyebarkan berita ini pada seluruh teman sekolah bahkan Guru, namun rupanya Marissa lebih memilih untuk menyimpannya sendiri, meski cintanya pada Ando sangatlah besar, namun ia tak berniat berbuat hal sejahat itu.
"Gue udah nggak sekolah!" Agil memaksakan senyum, yang terlihat menyimpan banyak kepahitan disana.
Marissa mengerutkan kening.
"Udah lulus Smp aja gue seneng banget,"
"K-kenapa?" Marissa kembali bertanya dengan ragu-ragu.
"Gue bukan orang mampu seperti lo, bahkan orang tua gue meninggal sebelum gue lulus Smp."
"Untuk melanjutkan hidup, setelah lulus gue mutusin buat kerja." ia tersenyum kecut sebelum kemudian melanjutkan ceritanya.
"Tapi, mana ada yang percaya sama tenaga bocah model gue, gue udah berusaha mengelilingi warung makan, toko baju, bahkan toko sembako, buat ngelamar kerja, tapi hasilnya nihil, kagak ada yang mau nerima gue!"
"Dan pada akhirnya gue mutusin buat jadi pengamen jalan didekat lampu merah, dan bersyukurnya lagi, ternyata bukan cuma gue yang bernasib begini, tapi banyak diantara mereka yang bernasib sama, seperti si Ramon, dan si Beny."
"Hingga suatu hari gue ketemu sama si Ando bocah, yang pada waktu itu lagi bikin pengumuman penerimaan karyawan didepan Cafenya."
"Terus?" Ucap Marissa penasaran.
"Gue nyamperin dia, niat mau ngamen aja, karena sama sekali gue nggak kepikiran buat ngelamar kerja disana, karena nggak mungkin juga body kucel kek gue cocok kerja di tempat berkelas kek gitu."
"Selesai gue nyanyi, nggak nyangka banget dia ngasih gue selembar uang 100 ribu, gue sampe kek orang bego waktu itu, saking kagak percayanya."
"Dan diluar dugaan gue, dia nawarin gue kerja disana, dan nyuruh gue bawa 2 teman lagi."
__ADS_1
"Dan akhirnya, gue jadi karyawan sekaligus sahabat baik dia sampai sekarang, sumpah enak banget punya bos model dia, kagak pernah ngeluh, kagak pernah beda-bedain, dan masih banyak lainnya, semua yang baik-baik tentang dia."
"Gue juga berharap suatu saat bisa jadi gembel sukses!" ucapnya disertai kekehan.
"Beruntung banget ya jadi si Nada!" ucap Marissa tanpa sadar.
"Gimana perasaan lo setelah tahu gue siapa, tambah jijik, ilfil, benci?" seru Agil.
"Eh, nggak kok!" Marissa menggeleng, ia sedikit tersentuh melihat Agil yang terlihat santai ketika mengobrol dengannya.
Menciptakan kenyamanan tersendiri baginya,
Kalau di lihat-lihat si Agil lumayan tampan juga! batin Marissa, yang kemudian ditepisnya jauh-jauh.
"Udah masuk yo, udah malem, kagak baik lo, cewek diluar sendirian malem-malem, diculik makhluk terbang baru tahu rasa lo!" ucapnya, yang langsung bergegas masuk terlebih dahulu.
Dan detik kemudian Marissa ikut menyusul.
...
"Abang keluar, nggak enak sama yang lain!" Nada berusaha mendorong pelan tubuh Ando dari kamarnya.
Malam ini ia tidak jadi tidur bareng bi Ijah, karena anak bungsunya menangis minta di temani.
"Elaahhh kenapa sih yang, udah halal ini kan, nggak dosa kok kalau berduaan terus juga."
"Abang Ihs, mereka kan nggak tahu kalau-"
"Kita belum nikah." potong Ando cepat.
Nada mengangguk.
"Yaudah, kalau gitu aku kasih tahu aja sekarang ya!" hendak membuka pintu kamar.
"Abang ihs,"
"Kenapa lagi si sayang?" membalikan kembali tubuhnya.
"Jangan, jangan dulu, abang ini ceroboh banget sih, aku nggak mau pokoknya kalau sampai abang harus dikeluarin dari sekolah, nanggung bang sebentar lagi lulus."
"Ok, aku nggak ngomong ke mereka, tapi ada syaratnya." balas Ando, sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih pake syarat segala!" gerutunya.
"Mau nggak?" tawarnya.
"Ok, apa?"
Ando mengunci pintu, lalu menggendongnya keatas kasur, dan malam panjangpun kembali terjadi.
Niat ingin mengusirnya dari dalam kamar, justru malah bertahan sampai pagi.
.
.
__ADS_1