
Jadwal ke Dokter kandungan yang sudah direncanakan matang-matang oleh Ando kini terpaksa Di undur.
Karena Sejak pukul 3 subuh dini hari, Nada terus mengeluh mual dan pusing, namun ia enggan untuk di bawa ke Dokter.
Dan Ando memutuskan untuk memanggil Dokter kerumahnya.
Untuk memeriksa keadaan istrinya yang terlihat sangat pucat.
"Sambil nunggu Dokternya datang, makan dulu ya yang, Aku suapin!"
Ando Menyodorkan satu sendok bubur kearah mulut Istrinya, Namun tanpa di Duga aroma bubur tersebut justru membuatnya malah semakin mual tak karuan.
Nada menutup mulutnya, dan bergegas ke kamar Mandi, memuntahkan sesuatu yang sebenarnya sudah tidak ada yang harus di muntahkan.
Karena seisi perutnya sudah ia keluarkan dari sejak subuh tadi.
Ando yang khawatir dengan keadaan istrinya berlari kecil mengikutinya ke kamar mandi.
5 menit Ando menunggu didepan kamar mandi, Namun Nada tak kunjung keluar, membuatnya bertambah khawatir dan uring-uringan.
Tok..tok..tok..
"Yang, sayang!"
"Kamu nggak apa-apa kan di dalem?"
Berusaha menempelkan kupingnya pada pintu kamar mandi yang terbuat dari bahan Pvc.
Di dorong dengan rasa khawatir yang berlebihan Ando akhirnya mendobrak pintu kamar mandi tersebut.
Brakkk...
Saat pintu berhasil di dobrak, mata Ando
terbelalak lebar, melihat sang istri yang dicintainya bersender di closet duduk dengan mata terpejam.
Dipeluknya tubuh Nada yang tak berdaya, kemudian digendongnya dan di letakan di atas kasur.
"Sayang, bangun! jangan bikin aku khawatir dong sayang." Ucapnya dengan bibir bergetar.
Bertepatan dengan suara pintu yang di ketuk dari arah luar.
"Den, ini dokternya udah datang!" Terdengar suara bi mimin memberi tahu.
"Suruh masuk aja bi!"
Detik kemudian pintu kamar pun terbuka, menampilkan sosok seseorang laki-laki paru baya, yang menggunakan setelan jas putih.
"Permisi, boleh saya masuk!"
"Silahkan Dok." Ando bangkit dari duduknya mempersilahkan Dokter tersebut untuk memeriksa keadaan istrinya.
"I-istri saya tiba-tiba pingsan Dok!" ucapnya dengan suara bergetar hampir menangis.
Membuat Sang Dokter melempar senyum kearahnya.
"Saya periksa dulu!" Mengeluarkan alat yang selalu dibawanya di dalam tas, saat hendak mengecek keadaan pasien.
"Darahnya Rendah, hanya 90/70. mungkin hal ini juga salah satu pemicu tubuhnya menjadi lemah." Seru sang Dokter setelah mengecek tensi Nada.
"Apa saja keluhan yang dialami istri Anda, sewaktu ia masih dalam keadaan sadar?" menoleh kearah Ando yang sejak tadi memperhatikannya.
"Mual, pusing gitu Dok, dari tadi muntah-muntah terus!"
"Baik!" Dokterpun kembali memeriksa keadaan Nada.
"Sepertinya istri anda sedang mengandung, tapi itu baru dugaan saya saja, disarankan untuk coba melakukan Test pack atau periksa ke Dokter Obgyn."
"Saya akan menuliskan resep, untuk mengurangi Rasa mualnya, Nanti tolong di tebus di apotek terdekat ya!" jelas Dokter.
Namun sepertinya Ando tidak fokus mendengarkan penjelasan Dokter yang lainnya.
Ia hanya Fokus pada kata mengandungnya saja.
....
Setelah mengantar Dokter kedepan teras, Ando menghampiri bi Mimin, untuk menemani Nada, karena ia harus menebus obat ke apotek.
.
"Mbak, saya mau nebus obat!" Seru Ando saat sudah sampai di apotek, dengan sedikit tergesa.
"Baik kak, tunggu sebentar!" balas pelayan Apotek Ramah.
"Ini kak, semuanya jadi 120 ribu!"
__ADS_1
"Bentar mbak, ada test pack nggak?"
Pelayan Apotek menatapnya dengan kening berkerut, memikirkan kemungkinan-kemungkinan tentang lelaki muda dihadapannya.
"Mbak!" Mengibas-ngibas tangannya didepan wajah Pelayan tersebut, hingga ia tersentak dan kembali pada kesadaran semulanya.
"Oh, eh I-iya ada, tunggu sebentar!" Sedikit salah tingkah.
"Ini kak!"
"Ini, udah yang paling bagus?" tanyanya sembari membolak-balikan kertas yang berisi test pack dengan model segi empat biasa.
"Eh, yang bagus ada kak, tapi harganya lumayan!"
"Nggak masalah." Balasnya menyodorkan kembali test pack yang baru saja di pegangnya pada pelayan apotek.
"Saya mau yang bagus, yang hasilnya akurat!"
Pelayan tersebut hanya menurut, mengambilkan barang yang diminta Ando.
"Ini cara pakenya gimana?" Ando kembali bersuara, dengan santainya.
Membuat wajah sang pelayan Apotek memerah menahan malu, karena usianya memang terlihat masih muda, dan mungkin juga belum berpengalaman mengenai hal seperti itu.
"Ada kok kak diketerangan cara pemakaiannya!"
"Tolong jelasin dong mbak, biar Nanti bisa langsung di praktekin sama istri saya."
Lagi-lagi pelayan tersebut wajahnya bersemu memerah.
Kalau yang membelinya perempuan dia sudah biasa menjelaskan, tapi kalau seorang laki-laki muda seperti Ando, ia bingung harus menjelaskannya bagaimana.
"Kenapa win?"
Tiba-tiba salah satu pelayan yang jauh lebih dewasa menghampiri, menyelamatkan kegugupan luar biasa yang sedang di derita gadis tersebut.
"Ini mbak, cowok ini minta di jelasin cara makainya, aku malu mbak!" bisiknya tak enak hati.
"Oh yaudah biar saya yang urus, kamu bantuin si Hany sana, lagi bongkar barang yang baru datang dibelakang, sekalian cek apa yang kurang ya!"
"Makasih banyak ya mbak, maaf!"
"Udah udah, nggak apa-apa!"
Gadis itupun mengangguk dan bergegas pergi kebelakang.
"Ada yang bisa dibantu mas?"
"Tadi mbaknya kemana?"
"Dia lagi ada perlu dibelakang, Digantiin sama saya nggak apa-apa kan?"
"Ok nggak masalah, saya mau tanya ini cara menggunakan nya bagaimana?"
"Jadi begini mas, pertama-tama ambil urin si wanita yang sedang hamil menggunakan wadah, terus alat ini Nanti di celupin kedalam urin tersebut, sebatas garis sesuai yang ada di gambar!" seru wanita tersebut menjelaskan.
"Mengerti mas?" Lanjutnya.
Sementara Ando terdiam mencerna kata-kata yang dijelaskan oleh wanita dihadapannya, sembari mengangguk-anggukan kepala mengerti.
"Gitu doang?"
"Iya betul, tapi lebih bagus dilakukan di pagi hari ya, agar hasilnya lebih akurat!"
"Ok, kalau begitu saya beli 3."
"Baik, semuanya jadi 275 ribu ya!"
Ando membuka dompetnya, lalu menyerahkan nya pada wanita tersebut.
"Terimakasih!" Ucapnya dan bergegas menaiki motornya.
"Nada udah bangun bi?" ucapnya saat sudah sampai dirumah, dan berpapasan dengan bi Mimin yang membawa segelas teh hangat ditangannya.
"Udah den, ini bibi mau nganterin tehnya, soalnya Non Nada lemes banget pusing katanya."
"Yaudah biar saya aja yang bawa bi, sekalian kekamar."
"Nggak apa-apa emang den?"
"Nggak apa-apa."
"Yaudah, kalau begitu bibi pamit kebelakang lagi." ucapnya saat sudah menyerahkan tehnya ke tangan Ando.
Cklekk..
__ADS_1
Ando membuka pintu melangkah menghampiri istrinya yang terlihat lebih pucat dari sebelumnya.
"Yang minum dulu tehnya ya, mumpung masih anget biar segeran dikit badannya."
Nada hanya mengangguk, lalu meminum setengah gelas teh yang dibawakan suaminya.
"Masih pusing ya?"
Tangannya terulur menyentuh kening istrinya menggunakan punggung tangannya.
"makan dulu ya!"
Ia pun menggeleng, "Udah makan roti tadi di bawain bibi."
"Beneran?" tanyanya tak percaya.
"Ihs beneran!"
"Yaudah kalau gitu minum dulu vitaminnya ya, biar sehat!"
Lagi-lagi Nada menurut, dan Ando sendiri begitu telaten meminumkan obat untuk istrinya.
"Aku mau kekamar mandi dulu." hendak beranjak dari duduknya.
"Yang!"
Nada menoleh pada suaminya yang terlihat gugup.
"Kenapa?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Mau ya coba pake ini!" mengulurkan sebush test pack yang dibelinya tadi.
"Apa ini?"
"Test pack!"
Nada terdiam memandangi suaminya yang terlihat lebih gugup.
"Tapi aku kan nggak Ha-"
"Coba aja dulu yang, positif atau nggaknya kita kan masih bisa coba lagi nanti, masih banyak waktu kok." Ia memperlihatkan senyum terbaiknya, agar Nada bersuka rela mengabulkan permintaannya.
"Ok, tapi kamu jangan marah kalau hasilnya tidak sesuai yang diinginkan!"
"Nggak akan, aku nggak akan marah kok yang, apapun hasilnya aku terima, yang penting sekarang kamu mau nyoba dulu!"
"Ok!"
"Kuat jalannya?"
"Kuat."
"Cara makenya Ur-"
"Aku tahu kok," potongnya cepat, meskipun baru pertama kali menggunakan barang tersebut, tapi ia yakin pasti ada petunjuk cara memakainya.
Ando mondar-mandir menunggunya diluar kamar Mandi, 10 menit bagaikan satu jam baginya.
Nada keluar dari kamar Mandi, dengan wajah yang sedikit lebih segar.
"Dari tadi kamu nungguin?" Nada menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.
"Gimana yang?" Wajahnya terlihat tegang.
Nada mengambil benda tersebut, dari saku piyamanya, lalu menyerahkannya pada Ando.
Lalu berjalan pelan kearah kasur dan kembali membaringkan tubuhnya disana.
Ando menghampiri Nada dan duduk disebelahnya.
Lalu Nada mendongak menatap suaminya, yang sedang menatapnya dengan expresi yang sulit diartikan.
"Aku bilang juga apa, kamu pasti kecewa kan?"
"Kamu belum lihat hasilnya?" Tanya Ando dengan kening berkerut.
"Buat apa? toh sudah bisa di pastikan kalau hasilnya pasti negatif."
"Serius belum lihat?" ujar Ando seakan tak percaya.
"Kenapa sih, mukanya kok jadi serius gitu!"
balas Nada mulai sebal dengan tingkah Ando.
Tanpa menjawab celotehan Nada Ando menunduk, mencium perut rata istrinya, membuat Nada menatapnya bingung.
__ADS_1
"Hallo anak ayah, baik-baik ya di perut bunda!"